Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
☰
  • Home
  • Opini
  • Kuliah ▼
  • Publikasi ▼
  • SINTA
  • Scholar
  • About Me
  • Labuhan Batu
  • Login

View : 394 kali.

Bagikan:
Home > Pokok Bahasan Sistem Informasi Manajemen > Week Materi Kuliah Sistem Informasi Manajemen

Week 2 - Organisasi, Manajemen, dan Proses Bisnis

Capaian Pembelajaran Matakuliah:

Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan konsep organisasi, manajemen, dan proses bisnis dalam konteks Sistem Informasi Manajemen.
  2. Memahami hubungan antara organisasi, fungsi manajemen, dan sistem informasi dalam mendukung pencapaian tujuan organisasi.
  3. Mengidentifikasi struktur organisasi, fungsi bisnis, serta peran setiap unit kerja dalam proses bisnis.
  4. Menjelaskan konsep proses bisnis (business process) dan pentingnya integrasi proses bisnis melalui sistem informasi.
  5. Menganalisis aktivitas utama dan aktivitas pendukung organisasi menggunakan konsep Value Chain.
  6. Memahami konsep Business Process Management (BPM) sebagai pendekatan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses bisnis.
  7. Menganalisis pengaruh transformasi digital terhadap organisasi, manajemen, dan proses bisnis.
  8. Menyusun analisis sederhana mengenai proses bisnis suatu organisasi sebagai dasar pengembangan Sistem Informasi Manajemen.
Materi:
1. Konsep Organisasi
2. Konsep Manajemen
3. Fungsi-Fungsi Manajemen
3. Struktur Organisasi
4. Jenis-Jenis Organisasi
5. Konsep Proses Bisnis (Business Process)
6. Business Process Management (BPM)
7. Value Chain (Rantai Nilai)
8. Hubungan Organisasi, Manajemen, dan Sistem Informasi
9. transformasi digital dalam Organisasi
10. Integrasi Proses Bisnis
11. Studi Kasus Organisasi Modern

1. Konsep Organisasi
a. Apa itu Organisasi? (Definisi Sederhana)
Secara sederhana, Organisasi adalah wadah perkumpulan dua orang atau lebih yang bekerja sama secara terstruktur untuk mencapai tujuan yang sama.
Dalam dunia nyata, organisasi memiliki dua sudut pandang:
  • Pandangan Teknis (Statis): Organisasi adalah struktur sosial formal yang stabil, yang mengambil sumber daya (input) dari lingkungan dan memprosesnya untuk menghasilkan keluaran (output).
  • Pandangan Perilaku (Dinamis): Organisasi adalah sekumpulan hak, hak istimewa, kewajiban, dan tanggung jawab yang dikelola oleh manusia melalui hubungan kerja dan komunikasi sehari-hari.

b. Hubungan Organisasi dan Sistem (Siklus IPO)
Mengapa organisasi dibahas dalam kuliah Sistem Informasi? Karena Organisasi adalah sebuah Sistem. Organisasi bekerja menggunakan siklus Input ( ightarrow ) Proses ( ightarrow ) Output (IPO) yang dikendalikan oleh manajemen.


  • Input: Organisasi mengambil modal, tenaga kerja, bahan baku, dan data dari lingkungan luar.
  • Proses: Organisasi mengubah input tersebut melalui aktivitas kerja, teknologi, dan manajemen.
  • Output: Organisasi mengembalikan hasil proses berupa produk, layanan, dan informasi kembali ke lingkungan/pasar.

c. Karakteristik Struktur Organisasi Formal
Setiap organisasi formal (seperti perusahaan tempat SIM diterapkan) pasti memiliki 5 karakteristik utama berikut:
  • Pembagian Kerja (Division of Labor): Setiap orang memiliki job deskripsi dan keahlian yang spesifik (contoh: bagian Akuntansi, bagian IT, bagian Pemasaran).
  • Hierarki Wewenang (Hierarchy): Struktur kekuasaan berbentuk piramida. Atasan mengawasi bawahan (Direktur ( ightarrow ) Manajer ( ightarrow ) Supervisor ( ightarrow ) Staf).
  • Aturan dan Prosedur (Rules & SOP): Aturan tertulis yang wajib diikuti agar perilaku karyawan seragam dan standar kualitas terjaga.
  • Prinsip Imparsialitas: Keputusan bisnis dan penilaian kinerja diambil secara objektif berdasarkan data, bukan karena kedekatan personal.
  • Kualifikasi Teknis: Penerimaan dan promosi karyawan didasarkan pada kompetensi dan kemampuan profesional.

d. Mengapa Organisasi Sering Menolak Sistem Informasi Baru? (Inersia Organisasi)
Sebagai mahasiswa SIM, Anda harus tahu bahwa membangun sistem informasi baru bukan sekadar masalah membeli komputer atau software canggih. Masalah terbesar justru ada pada manusianya.
Organisasi memiliki sifat Inersia Organisasi (keengganan untuk berubah). Ketika SIM baru diterapkan, struktur kekuasaan, kebiasaan kerja, dan aturan lama akan terusik. Akibatnya, muncul penolakan dari karyawan maupun manajemen.
Oleh karena itu, penerapan SIM selalu membutuhkan Manajemen Perubahan (Change Management) agar organisasi bisa beradaptasi dengan teknologi baru.

2. Konsep Manajemen
a. Apa itu Manajemen?  
Secara praktis, Manajemen adalah seni dan ilmu untuk merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, dan mengendalikan seluruh sumber daya organisasi (manusia, uang, mesin, data) untuk mencapai tujuan secara efektif (tepat sasaran) dan efisien (hemat biaya/waktu).
Hubungan SIM dan Manajemen: Sistem Informasi Manajemen (SIM) diciptakan bukan untuk menggantikan manajer, melainkan sebagai alat bantu utama bagi manajer dalam mengambil keputusan terbaik berdasarkan data yang akurat.

b. Fungsi Utama Manajemen (POAC)
Dalam teori manajemen klasik, tugas seorang manajer dirangkum dalam siklus POAC. Sistem Informasi (SI) berperan besar di setiap tahapnya:
  • Planning (Perencanaan)
    • Tugas Manajer: Menentukan tujuan perusahaan ke depan dan strategi untuk mencapainya.
    • Peran SI: Menyediakan data peramalan tren pasar (forecasting) dan analisis kompetitor.
  • Organizing (Pengorganisasian)
    • Tugas Manajer: Membagi tugas, menyusun tim, dan mengalokasikan sumber daya.
    • Peran SI: Manajemen proyek pintar (Project Management Software) untuk memantau beban kerja tim.
  • Actuating / Leading (Pengarahan)
    • Tugas Manajer: Memotivasi karyawan, memimpin, dan mengoordinasikan kegiatan sehari-hari.
    • Peran SI: Media komunikasi internal seperti Slack, Microsoft Teams, atau portal karyawan.
  • Controlling (Pengendalian)
    • Tugas Manajer: Mengevaluasi apakah hasil kerja tim sudah sesuai dengan rencana awal.
    • Peran SI: Menampilkan grafik pencapaian (Dashboard KPI). Jika target tidak tercapai, sistem memberikan peringatan otomatis (feedback loop).

c. Tingkatan Manajemen & Kebutuhan Informasinya
Kebutuhan informasi setiap manajer berbeda tergantung pada posisinya di dalam organisasi. Struktur ini berbentuk piramida:
A. Manajemen Tingkat Atas (Top Management)
  • Siapa mereka: CEO, Direktur, CFO.
  • Tugas: Mengambil keputusan jangka panjang (3?"5 tahun ke depan). Contoh: Membuka cabang baru atau akuisisi perusahaan lain.
  • Kebutuhan Informasi: Informasi global, ringkas, eksternal, dan berupa prediksi masa depan (didukung oleh Executive Support System / ESS).
B. Manajemen Tingkat Menengah (Middle Management)
  • Siapa mereka: Manajer Wilayah, Manajer Divisi, Kepala Cabang.
  • Tugas: Menjabarkan strategi dari Direktur menjadi rencana kerja bulanan/tahunan. Contoh: Menentukan target penjualan wilayah.
  • Kebutuhan Informasi: Laporan berkala, tren kinerja, dan perbandingan target vs realisasi (didukung oleh Management Information System / MIS).
C. Manajemen Tingkat Bawah/Operasional (Operational Management)
  • Siapa mereka: Supervisor, Kepala Gudang, Koordinator Tim.
  • Tugas: Mengawasi pekerjaan teknis sehari-hari. Contoh: Memastikan produksi pabrik berjalan lancar hari ini.
  • Kebutuhan Informasi: Data transaksi harian yang sangat detail, spesifik, dan real-time (didukung oleh Transaction Processing System / TPS).

d. Peran Manajer di Era Digital (Menurut Henry Mintzberg)
Di era modern, peran manajer bergeser dari sekadar "memberi perintah" menjadi "mengelola informasi". Ada 3 peran utama manajer:
  1. Peran Antarpribadi (Interpersonal): Menjadi figur pemimpin dan penghubung organisasi.
  2. Peran Informasi (Informational): Menjadi pusat penerima, pemroses, dan penyebar informasi. Di sinilah SIM berperan sebagai "sistem saraf" manajer.
  3. Peran Pengambil Keputusan (Decisional): Menangani masalah, mengalokasikan anggaran, dan bernegosiasi berdasarkan data SIM.

3. Fungsi-Fungsi Manajemen
a. Inti dari Fungsi Manajemen
Fungsi manajemen adalah tahapan sistematis yang wajib dilakukan manajer. Tahapan ini bertujuan untuk mengelola seluruh aset organisasi.
Dalam implementasi SIM, fungsi-fungsi ini saling terhubung membentuk siklus berkelanjutan. Sistem informasi bertindak sebagai penyedia bahan bakar data untuk setiap fungsi tersebut.

b. Pendalaman Fungsi POAC & Dukungan Sistem Informasi
Berikut adalah rincian mendalam mengenai empat fungsi utama manajemen beserta peranan teknologi informasi di dalamnya:
A. Planning (Perencanaan)
Fungsi ini menetapkan arah kompas organisasi sebelum memulai tindakan.
  • Aktivitas Manajer: Menetapkan visi, misi, target laba, dan strategi pemasaran.
  • Jenis Keputusan: Bersifat visioner dan jangka panjang.
  • Dukungan SIM: Menggunakan Business Intelligence (BI) dan Data Analytics.
  • Contoh Nyata: Sistem menganalisis tren pasar historis untuk memprediksi penjualan tahun depan.
B. Organizing (Pengorganisasian)
Fungsi ini menyusun struktur kerja agar tidak terjadi tumpang tindih tugas.
  • Aktivitas Manajer: Mendelegasikan wewenang, membagi divisi, dan mengalokasikan anggaran.
  • Jenis Keputusan: Bersifat struktural dan alokatif.
  • Dukungan SIM: Menggunakan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) modul Human Resources.
  • Contoh Nyata: Manajer melihat beban kerja staf via software manajemen proyek untuk membagi tugas baru.
C. Actuating (Pengarahan / Pelaksanaan)
Fungsi ini menggerakkan seluruh elemen manusia agar bekerja sesuai rencana.
  • Aktivitas Manajer: Memotivasi karyawan, menyelesaikan konflik, dan memimpin rapat koordinasi.
  • Jenis Keputusan: Bersifat interpersonal dan taktis harian.
  • Dukungan SIM: Menggunakan platform kolaborasi digital dan Knowledge Management Systems (KMS).
  • Contoh Nyata: Manajer menyebarkan instruksi kerja baru melalui portal intranet perusahaan agar cepat dibaca karyawan.
D. Controlling (Pengendalian)
Fungsi ini menjaga agar operasional perusahaan tidak keluar dari jalur.
  • Aktivitas Manajer: Membandingkan hasil kerja riil dengan standar target awal perusahaan.
  • Jenis Keputusan: Bersifat korektif dan evaluatif.
  • Dukungan SIM: Menggunakan Executive Dashboard dan indikator kinerja utama (KPI) otomatis.
  • Contoh Nyata: Sistem otomatis mengirim notifikasi merah jika angka kecacatan produk pabrik melebihi batas 1%.

c. Matriks Hubungan Fungsi Manajemen dan Level Organisasi
Setiap level manajemen porsinya berbeda-beda dalam menjalankan fungsi ini:
Level ManajemenFokus Utama FungsiContoh Dukungan Aplikasi SIM
Top ManagementDominan di PlanningExecutive Support System (ESS)
Middle ManagementDominan di Organizing & ControllingDecision Support System (DSS)
Operational ManagementDominan di ActuatingTransaction Processing System (TPS)

3. Struktur Organisasi
a. Apa itu Struktur Organisasi?
Struktur Organisasi adalah susunan formal yang menentukan bagaimana tugas dibagi, siapa melapor kepada siapa, dan bagaimana alur komunikasi serta data berjalan di dalam perusahaan.
Hubungan SIM dan Struktur Organisasi: Struktur organisasi menentukan arah aliran informasi. Sistem Informasi Manajemen dirancang untuk mengikuti jalur struktur ini agar data transaksi dari bawah bisa mengalir rapi menjadi laporan strategis bagi atasan.

b. Jenis-Jenis Struktur Organisasi & Karakteristik SIM-nya
Setiap perusahaan memilih bentuk struktur yang berbeda tergantung pada skala bisnisnya. Perbedaan bentuk struktur ini memengaruhi bagaimana SIM diterapkan:
A. Struktur Fungsional (Functional Structure)
Perusahaan dikelompokkan berdasarkan keahlian atau fungsi kerja spesifik.
  • Contoh Divisi: Departemen Keuangan, Pemasaran, HRD, dan IT.
  • Karakteristik SIM: Sistem informasi biasanya terfragmentasi menjadi modul khusus (misal: Software Akuntansi hanya diakses tim Keuangan). Tantangan terbesarnya adalah ego sektoral, di mana antar sistem sulit bertukar data (data silo).
B. Struktur Divisional (Divisional Structure)
Perusahaan dibagi menjadi unit-unit mandiri berdasarkan jenis produk, jenis pasar, atau wilayah geografis.
  • Contoh Divisi: PT Unilever memiliki Divisi Home Care, Divisi Food & Refreshment, atau pembagian wilayah (Divisi Jawa Barat, Divisi Jawa Timur).
  • Karakteristik SIM: Setiap divisi memiliki basis data operasional sendiri, namun pimpinan pusat menggunakan sistem konsolidasi (seperti Enterprise Resource Planning / ERP) untuk melihat performa total seluruh divisi.
C. Struktur Matriks (Matrix Structure)
Struktur kombinasi di mana karyawan memiliki dua jalur komando (melapor kepada dua atasan sekaligus, misalnya Manajer Fungsional dan Manajer Proyek).
  • Contoh Kasus: Seorang Programmer IT berkedudukan di bawah Departemen IT (Fungsional), tetapi sehari-hari diperbantukan untuk proyek pembuatan aplikasi Bank X di bawah Project Manager.
  • Karakteristik SIM: Membutuhkan sistem koordinasi dan manajemen proyek digital yang sangat kuat (seperti Asana atau Jira) agar tidak terjadi bentrok penugasan antar atasan.
D. Struktur Datar / Horizontal (Flat Structure)
Struktur modern yang memangkas level manajemen menengah sehingga jarak antara staf operasional dan pimpinan tertinggi sangat dekat. Biasanya digunakan oleh perusahaan rintisan (startup).
  • Karakteristik SIM: Sangat bergantung pada platform kolaborasi real-time seperti Slack atau Google Workspace. Aliran informasi bergerak sangat cepat tanpa birokrasi yang rumit.

c. Dampak Sistem Informasi Terhadap Struktur Organisasi
Menurut teori Laudon dalam manajemen modern, penerapan teknologi informasi membawa perubahan besar pada bentuk struktur organisasi:
  1. Merampingkan Organisasi (Flattening): Dulu, perusahaan butuh banyak manajer menengah hanya untuk mengawasi staf dan membuat laporan manual. Sekarang, SIM dapat memantau kinerja staf secara otomatis, sehingga organisasi menjadi lebih ramping dan hemat biaya.
  2. Meningkatkan Fleksibilitas: Sistem informasi berbasis cloud memungkinkan koordinasi jarak jauh, sehingga perusahaan dapat bekerja dengan struktur tim lintas fungsional yang tersebar di berbagai kota atau negara.

4. Jenis-Jenis Organisasi
a. Mengapa Jenis Organisasi Memengaruhi SIM?
Setiap organisasi memiliki budaya, tujuan, ukuran, dan struktur kekuasaan yang berbeda. Seorang ahli manajemen bernama Henry Mintzberg mengklasifikasikan organisasi menjadi beberapa jenis utama.
Dalam studi SIM, pemahaman ini sangat penting karena tidak ada satu sistem informasi yang cocok untuk semua jenis organisasi (No one-size-fits-all). Desain SIM harus beradaptasi dengan jenis organisasinya.

b. Jenis Klasifikasi Organisasi (Teori Henry Mintzberg)
Berikut adalah lima jenis organisasi yang paling sering muncul dalam studi kasus Sistem Informasi Manajemen:
A. Struktur Wirausaha / Startup (Entrepreneurial Structure)
Organisasi muda yang skalanya masih kecil dan dikelola langsung oleh pemiliknya.
  • Karakteristik: Aturan formal sangat sedikit, pengambilan keputusan cepat, dan tersentralisasi pada satu orang pemimpin.
  • Penerapan SIM: Menggunakan sistem yang murah, fleksibel, dan berbasis cloud (seperti Google Workspace atau software akuntansi sederhana). Tidak membutuhkan sistem birokrasi yang rumit.
B. Birokrasi Mesin (Machine Bureaucracy)
Organisasi skala besar yang beroperasi di lingkungan yang stabil dan menjalankan pekerjaan rutin.
  • Contoh: Pabrik manufaktur tradisional, perusahaan otomotif, atau kantor pemerintahan.
  • Karakteristik: Sangat bergantung pada pembagian kerja yang ketat, standarisasi prosedur (SOP), dan hierarki formal.
  • Penerapan SIM: Sangat cocok menggunakan sistem terintegrasi skala besar seperti Enterprise Resource Planning (ERP) untuk mengotomatisasi proses produksi dan inventarisasi yang kaku.
C. Birokrasi Profesional (Professional Bureaucracy)
Organisasi yang digerakkan oleh para ahli profesional yang memiliki otonomi tinggi dalam bekerja.
  • Contoh: Rumah sakit (dokter), universitas (dosen), atau kantor hukum (pengacara).
  • Karakteristik: Kontrol tidak berpusat pada manajer, melainkan pada keahlian individu masing-masing profesional.
  • Penerapan SIM: Membutuhkan sistem khusus yang mendukung keahlian mereka, seperti Hospital Information System (HIS) untuk rekam medis pasien atau Learning Management System (LMS) untuk perkuliahan.
D. Struktur Divisional (Divisionalized Structure)
Organisasi raksasa yang memiliki banyak unit bisnis atau divisi mandiri yang bergerak di bawah satu payung perusahaan induk.
  • Contoh: PT Astra International (memiliki divisi otomotif, jasa keuangan, agribisnis, dll).
  • Karakteristik: Setiap divisi berjalan seperti perusahaan sendiri, namun dipantau kinerjanya oleh kantor pusat.
  • Penerapan SIM: Setiap divisi memiliki SIM operasionalnya sendiri. Kantor pusat menggunakan Business Intelligence (BI) atau Executive Support System (ESS) untuk mengonsolidasikan laporan keuangan dari seluruh divisi.
E. Adhokrasi (Adhocracy)
Organisasi berbasis proyek yang sangat dinamis, fleksibel, dan cepat beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang ekstrem.
  • Contoh: Agensi periklanan digital, konsultan IT, atau studio pembuat game.
  • Karakteristik: Struktur formal hampir tidak ada. Tim kerja dibentuk secara temporer berdasarkan proyek yang sedang dikerjakan.
  • Penerapan SIM: Sangat bergantung pada platform kolaborasi tingkat tinggi, manajemen pengetahuan (Knowledge Management), dan software pengelolaan proyek agile seperti Jira atau Trello.

c. Rangkuman Kebutuhan SIM Berdasarkan Jenis Organisasi
Jenis OrganisasiFokus Utama SIMKompleksitas Sistem
Wirausaha / StartupKecepatan & Efisiensi BiayaRendah
Birokrasi MesinStandarisasi & Kontrol KetatTinggi
Birokrasi ProfesionalAkses Data Keahlian & SpesifikSedang - Tinggi
DivisionalKonsolidasi & Pelaporan GlobalSangat Tinggi
AdhokrasiKolaborasi Tim & Berbagi PengetahuanSedang

5. Konsep Proses Bisnis (Business Process)
a. Apa itu Proses Bisnis? (Definisi Sederhana)
Secara sederhana, Proses Bisnis adalah kumpulan aktivitas atau tugas terstruktur dan saling berhubungan yang dilakukan oleh manusia atau sistem untuk menghasilkan produk atau layanan tertentu demi mencapai tujuan organisasi.
Jika dikaitkan kembali dengan konsep dasar sistem (Input-Proses-Output):
  • Input: Bahan baku, pesanan pelanggan, atau data mentah.
  • Proses Bisnis: Langkah-langkah kerja yang mengubah input tersebut.
  • Output: Produk jadi, layanan yang selesai, atau kepuasan pelanggan.
Hubungan SIM dan Proses Bisnis: Sistem Informasi Manajemen (SIM) adalah enabler (pengaktif/pendorong). SIM masuk ke dalam proses bisnis untuk mengotomatisasi tugas manual, mempercepat aliran data, dan memangkas birokrasi agar proses berjalan lebih efisien.

b. Tingkatan Proses Bisnis di Dalam Perusahaan
Proses bisnis tidak berdiri sendiri, melainkan dibagi menjadi tiga tingkatan utama berdasarkan ruang lingkupnya:
  1. Proses Fungsional (Single-Function): Proses yang hanya terjadi di dalam satu departemen saja.
    • Contoh: Departemen HRD melakukan proses penggajian (payroll) karyawan setiap akhir bulan.
  2. Proses Lintas Fungsional (Cross-Functional): Proses besar yang membutuhkan kerja sama dan aliran informasi antar beberapa departemen sekaligus.
    • Contoh: Proses pemenuhan pesanan pelanggan (Order Fulfillment). Proses ini membutuhkan validasi dari tim Sales, pengecekan barang oleh tim Gudang, penagihan oleh tim Keuangan, dan pengiriman oleh tim Logistik.
  3. Proses Inter-Organisasional: Proses bisnis yang melibatkan pihak luar seperti pemasok (supplier) atau mitra bisnis.

c. Contoh Alur Proses Bisnis Kontemporer (Cross-Functional)
Mari kita bedah bagaimana sebuah proses bisnis lintas fungsional bekerja dan bagaimana SIM menjembataninya:
Tanpa SIM, alur di atas membutuhkan kertas disposisi manual yang dibawa dari satu meja ke meja lain (lambat dan rawan hilang). Dengan SIM, begitu tim Sales mengklik "Submit", tim Finance dan Gudang bisa melihat data tersebut secara real-time.

d. Bagaimana teknologi informasi (SIM) Mengubah Proses Bisnis?
Menurut pakar manajemen James Hammer, teknologi informasi mengubah proses bisnis melalui tiga tahapan evolusi:
  • Otomatisasi (Automation): Menggantikan tahapan manual manusia dengan komputer untuk mempercepat efisiensi harian. (Contoh: Cetak struk otomatis, pemindai barcode gudang).
  • Rasionalisasi (Rationalization): Menyederhanakan prosedur kerja (SOP) dengan menghilangkan tahapan atau birokrasi yang tidak efisien setelah sistem digital diterapkan.
  • Rekayasa Ulang Proses Bisnis (Business Process Reengineering - BPR): Merombak total alur kerja lama yang lambat dan mendesain ulang proses baru berbasis teknologi dari nol demi lompatan kinerja yang radikal. (Contoh: Transformasi bank konvensional menjadi digital banking di mana pembukaan rekening tidak perlu lagi datang ke cabang).

6. Business Process Management (BPM)
a. Apa itu Business Process Management (BPM)?
Business Process Management (BPM) adalah sebuah metodologi dan pendekatan disiplin ilmu yang digunakan oleh perusahaan untuk mengidentifikasi, mendesain, mengeksekusi, mendokumentasikan, mengukur, memantau, dan mengendalikan proses bisnis (baik yang otomatis maupun manual) agar selaras dengan strategi dan tujuan perusahaan.
Hubungan SIM dan BPM: BPM bukan sekadar software, melainkan kombinasi antara strategi manajemen dan teknologi informasi. Sistem Informasi Manajemen (melalui BPM Software/BPMS) menyediakan infrastruktur digital untuk memetakan alur kerja, mendeteksi hambatan (bottleneck), dan mengotomatisasi proses secara end-to-end.

b. Siklus Hidup BPM (The BPM Lifecycle)
BPM bukanlah proyek sekali selesai, melainkan sebuah siklus perbaikan terus-menerus (continuous improvement). Siklus ini umumnya terdiri dari 5 tahapan utama:
  1. Analisis & Desain (Design): Memahami proses bisnis yang ada saat ini (As-Is process) dan merancang proses ideal baru (To-Be process) untuk mengatasi masalah yang ada.
  2. Pemodelan (Modeling): Menggambarkan alur kerja secara visual menggunakan standar grafis, seperti BPMN (Business Process Model and Notation), agar mudah dipahami oleh tim bisnis maupun tim IT.
  3. Eksekusi (Execution): Menjalankan proses baru tersebut di dunia nyata. Pada tahap ini, BPM Software digunakan untuk mengotomatisasi tugas dan mengalirkan data antar-karyawan atau antar-sistem.
  4. Pemantauan (Monitoring): Mengawasi jalannya proses secara real-time. Manajer melihat metrik kinerja, seperti waktu penyelesaian dan biaya, untuk memastikan tidak ada hambatan (bottleneck).
  5. Optimasi (Optimization): Menganalisis data dari tahap pemantauan untuk menemukan area yang bisa ditingkatkan lagi, lalu siklus kembali ke tahap awal untuk perbaikan berikutnya.

c. Manfaat Utama Implementasi BPM Bagi Organisasi
Ketika perusahaan menerapkan BPM yang didukung oleh SIM yang kuat, mereka akan mendapatkan keuntungan kompetitif berikut:
  • Agilitas Tinggi (Agility): Perusahaan dapat dengan cepat mengubah alur kerja digitalnya saat terjadi perubahan regulasi pemerintah atau pergeseran tren pasar.
  • Efisiensi Biaya dan Waktu: Otomatisasi mengurangi kesalahan manusia (human error), memangkas dokumen kertas, dan mempercepat waktu tunggu operasional.
  • Transparansi & Akuntabilitas: Manajer dapat melihat dengan jelas siapa yang sedang mengerjakan tugas tertentu dan di mana posisi dokumen/proses tersebut tersendat.
  • Kepatuhan Regulaif (Compliance): Aturan hukum atau standar industri (seperti ISO) dapat langsung "ditanamkan" ke dalam sistem, sehingga karyawan tidak bisa melompati prosedur wajib.

d. Perbedaan BPM, Otomatisasi (Automation), dan BPR
Mahasiswa sering kali tertukar antara tiga istilah ini. Berikut adalah tabel pembedanya untuk mempermudah ujian:
KriteriaOtomatisasi Bisnis (Automation)Business Process Management (BPM)Rekayasa Ulang (BPR)
Fokus UtamaMengubah tugas manual menjadi digital/mesin.Mengelola, memantau, dan memperbaiki alur proses secara berkala.Merombak total alur kerja dari nol secara radikal.
Sifat PerubahanTaktis & SpesifikBerkelanjutan (Continuous)Radikal & Sekali Waktu
ContohMenggunakan sistem cetak resi otomatis.Memantau seluruh siklus pemesanan barang dari hulu ke hilir secara digital.Mengubah model bisnis restoran konvensional menjadi 100% cloud kitchen berbasis aplikasi.

7. Value Chain (Rantai Nilai)
a. Apa itu Model Value Chain?
Model Value Chain (Rantai Nilai) adalah konsep manajemen yang diperkenalkan oleh Michael Porter. Model ini memandang perusahaan sebagai serangkaian aktivitas dasar yang menambahkan nilai (value) pada produk atau layanan yang dihasilkan, mulai dari penerimaan bahan baku hingga pelayanan setelah penjualan.
Hubungan SIM dan Value Chain: Tujuan akhir dari rantai nilai adalah menciptakan Keunggulan Kompetitif (Competitive Advantage). Sistem Informasi Manajemen (SIM) berperan sebagai "lem" yang mengintegrasikan setiap aktivitas ini agar data mengalir lancar, memangkas biaya operasional, dan mempercepat respons ke pasar.

b. Dua Aktivitas Utama dalam Value Chain
Michael Porter membagi aktivitas organisasi menjadi dua kategori besar: Aktivitas Utama (Primary Activities) dan Aktivitas Pendukung (Support Activities).
A. Aktivitas Utama (Primary Activities)
Aktivitas yang berhubungan langsung dengan pembuatan fisik produk, penjualan, pengiriman, dan layanan purna jual.
  1. Inbound Logistics (Logistik Masuk): Penerimaan, penyimpanan, dan distribusi bahan baku. (Contoh SIM: Sistem Manajemen Gudang / Warehouse Management System).
  2. Operations (Operasi/Produksi): Mengubah bahan baku menjadi produk jadi. (Contoh SIM: Sistem manufaktur otomatis dibantu komputer).
  3. Outbound Logistics (Logistik Keluar): Mendistribusikan produk jadi ke distributor atau konsumen. (Contoh SIM: Sistem pelacakan pengiriman / Fleet Management System).
  4. Marketing & Sales (Pemasaran & Penjualan): Menarik konsumen untuk membeli produk. (Contoh SIM: Sistem Manajemen Hubungan Pelanggan / Customer Relationship Management - CRM).
  5. Service (Pelayanan): Memberikan layanan purna jual atau perbaikan untuk menjaga kepuasan pelanggan. (Contoh SIM: Aplikasi Helpdesk atau Customer Support Ticketing).
B. Aktivitas Pendukung (Support Activities)
Aktivitas yang menyediakan infrastruktur dan bahan bakar agar aktivitas utama dapat berjalan dengan lancar.
  1. Procurement (Pengadaan): Proses pembelian barang, mesin, atau bahan baku dari pihak luar. (Contoh SIM: Sistem E-Procurement).
  2. Technology Development (Pengembangan Teknologi): Riset dan pengembangan produk baru serta pengelolaan infrastruktur IT/SIM itu sendiri.
  3. Human Resource Management (Manajemen SDM): Perekrutan, pelatihan, dan penggajian karyawan. (Contoh SIM: Portal HRIS / Human Resource Information System).
  4. Firm Infrastructure (Infrastruktur Perusahaan): Manajemen umum, perencanaan strategis, akuntansi, keuangan, dan aspek hukum. (Contoh SIM: Sistem ERP keuangan terintegrasi).

c. Bagaimana SIM Menciptakan Nilai Lebih? (Value Web)
Di era digital modern, konsep rantai nilai linear Porter berkembang menjadi Value Web (Jaring Nilai).
Teknologi internet dan cloud memungkinkan rantai nilai internal perusahaan terhubung secara real-time dengan rantai nilai milik pemasok (supplier), distributor, dan pelanggan secara global.
  • Contoh: Ketika pelanggan membeli barang di kasir Alfamart, sistem POS secara otomatis memberi tahu gudang (Logistik Keluar), memotong stok di pabrik (Operasi), dan mengirim pesanan otomatis ke pemasok bahan baku (Pengadaan). Sinkronisasi ini menciptakan efisiensi yang ekstrem.

8. Hubungan Organisasi, Manajemen, dan Sistem Informasi
a. Segitiga Emas SIM (The Golden Triangle)
Sistem Informasi Manajemen (SIM) tidak dapat berdiri sendiri di dalam ruang hampa. Keberhasilan teknologi di dalam perusahaan sangat bergantung pada dua faktor lainnya: Organisasi dan Manajemen.
Ketiganya membentuk hubungan timbal balik yang sangat erat. Jika salah satu pilar pincang, maka penerapan sistem teknologi informasi di perusahaan tersebut dipastikan akan gagal.

b. Saling Ketergantungan Dua Arah (Two-Way Relationship)
Hubungan antara Organisasi/Manajemen dengan Sistem Informasi adalah hubungan dua arah yang saling memengaruhi:
A. Pengaruh Organisasi & Manajemen terhadap Sistem Informasi
Organisasi dan para manajernya menentukan teknologi apa yang harus dibangun. Mereka memberikan batasan dan arah melalui:
  • Strategi Bisnis: Menentukan tujuan apa yang ingin dicapai lewat teknologi (misal: ingin menjadi yang termurah atau yang paling cepat pelayanannya).
  • Struktur dan Budaya: Menentukan siapa saja yang boleh mengakses data dan bagaimana sistem tersebut harus didesain agar tidak ditolak oleh karyawan.
  • Proses Bisnis: Menentukan aturan main dan alur kerja (SOP) yang akan diotomatisasi oleh software.
B. Pengaruh Sistem Informasi terhadap Organisasi & Manajemen
Setelah sistem informasi diterapkan, teknologi tersebut akan mengubah cara kerja organisasi dan manajernya melalui:
  • Membuka Batas Baru: Memungkinkan model bisnis baru yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan tanpa teknologi (seperti bank digital tanpa kantor cabang).
  • Meningkatkan Akurasi Keputusan: Manajer tidak lagi mengambil keputusan berdasarkan "perasaan" (feeling), melainkan berdasarkan data real-time yang disajikan sistem.
  • Merampingkan Struktur: Menghapus birokrasi yang berbelit-belit karena data mengalir otomatis antar-divisi.

c. Faktor Mediasi (Faktor Penengah)
Dalam kenyatannya, hubungan antara teknologi dan organisasi tidak selalu berjalan mulus. Ada banyak faktor penengah (mediating factors) yang memengaruhi seberapa efektif sistem informasi dapat mengubah organisasi:
  1. Budaya Organisasi: Keyakinan dan kebiasaan karyawan. Jika budaya organisasi sangat kaku dan menolak digitalisasi, sistem secanggih apa pun tidak akan terpakai.
  2. Lingkungan: Tekanan dari kompetitor, regulasi pemerintah, dan tuntutan konsumen digital memaksa organisasi untuk terus memperbarui sistemnya.
  3. Proses Politik Intern: Perebutan pengaruh atau kekuasaan di dalam perusahaan. Kadang suatu divisi menolak sistem baru karena merasa kontrol datanya diambil alih oleh divisi lain.

9. transformasi digital dalam Organisasi
a. Apa itu transformasi digital?
transformasi digital adalah proses integrasi teknologi digital ke dalam seluruh area bisnis organisasi yang mengubah secara fundamental cara perusahaan beroperasi, berinovasi, dan memberikan nilai (value) kepada pelanggan.
Poin Kunci Mahasiswa: Banyak orang salah mengira bahwa transformasi digital hanya sekadar membeli komputer baru atau membuat aplikasi. Faktanya, transformasi digital adalah perubahan budaya organisasi yang menuntut perusahaan untuk terus menantang status quo, bereksperimen, dan menjadi nyaman dengan kegagalan.

b. Tiga Fase Evolusi Perubahan Digital
Untuk memahami tingkatan adopsi teknologi di dalam organisasi, para akademisi membaginya ke dalam tiga tahapan evolusi yang berurutan:
  1. Digitization (Digitisasi): Mengubah informasi dari format fisik/analog menjadi format digital.
    • Contoh: Mengubah dokumen kertas atau arsip fisik menjadi file PDF yang disimpan di komputer.
  2. Digitalization (Digitalisasi): Menggunakan data digital dan teknologi informasi untuk menyederhanakan, memperbaiki, dan mengotomatisasi proses bisnis yang sudah ada agar lebih efisien.
    • Contoh: Menggunakan formulir online dan LinkedIn untuk menyaring kandidat karyawan baru secara digital, menggantikan proses pengiriman surat fisik.
  3. Digital Transformation (transformasi digital): Tahap tertinggi di mana teknologi mengubah keseluruhan model bisnis, strategi, budaya organisasi, dan cara berinteraksi dengan ekosistem luar.
    • Contoh: Perusahaan taksi konvensional yang beralih total menjadi platform ride-hailing berbasis aplikasi (seperti Gojek atau Grab), di mana orientasi bisnis mereka bergeser dari aset fisik (mobil) menjadi aset data (aplikasi/algoritma).

c. Elemen Kunci Keberhasilan transformasi digital
Menurut studi tata kelola organisasi, agar teknologi baru tidak ditolak oleh internal perusahaan, transformasi digital wajib menyentuh 4 elemen internal dan eksternal ini secara seimbang:
  • Elemen Organisasional (Budaya & SDM): Melakukan upskilling atau pelatihan kompetensi digital kepada karyawan. Manajemen harus membangun kepemimpinan digital yang terbuka terhadap inovasi.
  • Elemen Teknologi: Membangun arsitektur teknologi yang adaptif, aman dari ancaman siber, dan berbasis teknologi masa depan seperti Cloud Computing, Big Data Analytics, dan Artificial Intelligence (AI).
  • Elemen Proses Bisnis: Mendesain ulang alur kerja (Business Process Redesign) agar menjadi lebih ramping, berbasis data (Data-Driven), dan berfokus pada pengalaman pengguna (Customer Experience).
  • Elemen Masyarakat/Pasar: Menyelaraskan inovasi perusahaan dengan tingkat literasi digital masyarakat pengguna agar layanan dapat diadopsi dengan mudah.

Ingat 3 fase evolusi digital dengan rumus 3-Si: Digitisasi (Ubah data jadi file), Digitalisasi (Ubah proses jadi online), Transformasi (Ubah total model bisnisnya).

Latihan Soal Evaluasi Mandiri 
Untuk menguji penguasaan materi Anda dari Sub-Materi 1 hingga 9 yang telah kita pelajari, silakan kerjakan kuis evaluasi akademis di bawah ini:
  • Bagaimana sistem informasi mengubah cara organisasi menjalankan proses bisnisnya?
    • Pilihan Benar: Dengan memungkinkan otomatisasi proses yang sebelumnya dilakukan secara manual sehingga meningkatkan efisiensi dan akurasi.
    • Alasan: Salah satu peran utama sistem informasi adalah mengotomatisasi langkah-langkah dalam proses bisnis, yang sebelumnya dilakukan secara manual, untuk mengurangi kesalahan dan mempercepat penyelesaian tugas.
  • Sistem informasi apa yang biasanya digunakan oleh manajemen tingkat menengah (middle management) untuk mendukung keputusan yang bersifat semi-terstruktur?
    • Pilihan Benar: Decision Support Systems (DSS).
    • Alasan: Decision Support Systems (DSS) dirancang khusus untuk membantu manajemen tingkat menengah dalam menganalisis data dan memecahkan masalah yang bersifat semi-terstruktur.
  • Mengapa implementasi sistem informasi baru sering kali menghadapi resistensi (penolakan) dari karyawan dalam suatu organisasi?
    • Pilihan Benar: Karena sistem baru mengharuskan karyawan mempelajari keterampilan baru dan mengubah rutinitas kerja yang sudah mapan.
    • Alasan: Perubahan sistem seringkali mengganggu zona nyaman karyawan karena mengharuskan mereka mempelajari hal baru (kurva pembelajaran) dan mengubah kebiasaan kerja lama yang sudah biasa mereka lakukan.
  • Dalam konteks transformasi digital, apa perbedaan utama antara sekadar "digitasi" (digitization) dan "digitalisasi" (digitalization)?
    • Pilihan Benar: Digitasi adalah proses mengubah informasi analog menjadi digital, sedangkan digitalisasi adalah pemanfaatan teknologi digital untuk mengubah proses dan model bisnis.
    • Alasan: Digitasi hanyalah konversi media (misal: scan dokumen kertas ke PDF), sementara digitalisasi menggunakan data digital tersebut untuk menciptakan nilai baru, mengubah proses, atau bahkan model bisnis perusahaan.
  • Menurut model rantai nilai (Value Chain Model) dari Michael Porter, aktivitas utama (primary activities) dalam organisasi mencakup hal-hal berikut, KECUALI:
    • Pilihan Benar: Manajemen Sumber Daya Manusia (Human Resources).
    • Alasan: Manajemen Sumber Daya Manusia diklasifikasikan sebagai aktivitas pendukung (support activities) yang memfasilitasi aktivitas utama, bukan sebagai aktivitas utama itu sendiri.


10. Integrasi Proses Bisnis
a. Apa itu Integrasi Proses Bisnis?
Integrasi Proses Bisnis adalah menghubungkan berbagai aktivitas, data, dan sistem IT dari departemen-departemen yang berbeda di dalam organisasi agar dapat beroperasi sebagai satu kesatuan yang selaras dan berjalan secara otomatis.
Poin Penting untuk Mahasiswa: Sebelum era integrasi, setiap departemen (Keuangan, SDM, Gudang) bekerja menggunakan sistem mereka sendiri-sendiri tanpa terhubung. Kondisi ini disebut sebagai Data Silo (pulau informasi), yang menyebabkan data menjadi tidak sinkron, lambat diolah, dan rawan salah input.

b. Metode Utama Integrasi Proses Bisnis
Organisasi modern menggunakan dua teknologi utama dalam menyatukan proses bisnis mereka:
A. Enterprise Resource Planning (ERP)
Sistem perangkat lunak terintegrasi berskala besar yang menggunakan satu basis data terpusat untuk melayani seluruh departemen di perusahaan.
  • Cara Kerja: Saat tim Penjualan mencatat order baru, saldo kas di sistem Keuangan dan sisa stok di sistem Gudang otomatis terbarui pada detik yang sama.
  • Contoh Software: SAP, Oracle ERP, atau Odoo.
B. Enterprise Application Integration (EAI) / API
Pendekatan yang menggunakan lapisan software penengah (middleware) untuk menghubungkan beberapa aplikasi berbeda yang sudah ada di perusahaan tanpa harus mengganti aplikasi tersebut.
  • Cara Kerja: Menghubungkan software CRM milik tim marketing dengan software akuntansi milik tim finance menggunakan API (Application Programming Interface) agar kedua sistem bisa saling "berbicara".

c. Tantangan Nyata dalam Mengintegrasikan Proses Bisnis
Mengintegrasikan proses bisnis bukan sekadar masalah teknis atau instalasi software, melainkan tantangan manajerial yang berat:
  • Standardisasi Data: Menyamakan format data antar-divisi. (Contoh: Menentukan apakah format nama pelanggan ditulis menggunakan huruf kapital semua atau tidak).
  • Restrukturisasi Organisasi: Integrasi sering kali memaksa karyawan mengubah cara kerja mereka yang sudah berjalan bertahun-tahun, sehingga memicu penolakan internal (resistance to change).
  • Biaya dan Kompleksitas: Implementasi sistem integrasi seperti ERP membutuhkan biaya investasi yang sangat besar dan waktu bertahun-tahun untuk migrasi data.

11. Studi Kasus Organisasi Modern
a. Latar Belakang Objek Studi
Amazon berkembang dari toko buku online kecil menjadi raksasa teknologi dan e-commerce global. Keberhasilan Amazon bukan hanya karena ukuran modalnya, melainkan karena kemampuan mereka dalam menyelaraskan Struktur Organisasi, Fungsi Manajemen, dan Sistem Informasi menjadi satu kesatuan yang sangat kompetitif.

b. Bedah Kasus Berdasarkan 4 Pilar Utama SIM
Mari kita bedah operasional Amazon menggunakan konsep-konsep yang telah dipelajari sepanjang Week 2 ini:
A. Konsep Organisasi & Struktur (Poin 1, 3, & 4)
  • Karakteristik: Amazon menggunakan kombinasi Struktur Divisional (berdasarkan lini bisnis: retail, AWS/Cloud, dan streaming) serta budaya Adhokrasi dalam tim risetnya.
  • Aturan Dua Piza (Two-Pizza Team Rule): Pendiri Amazon, Jeff Bezos, menerapkan aturan bahwa setiap tim inovasi tidak boleh memiliki anggota lebih banyak dari jumlah orang yang bisa diberi makan oleh dua piza (sekitar 5?"10 orang).
  • Dampak SIM: Struktur datar pada tim kecil ini membuat aliran informasi sangat cepat dan adaptif terhadap perubahan teknologi tanpa birokrasi kaku.
B. Fungsi Manajemen & Tingkatan Informasi (Poin 2 & 3)
  • Operational Management: Pengawas gudang Amazon menggunakan Transaction Processing System (TPS) berbasis AI bernama Amazon Kiva Robots untuk mengatur aliran barang masuk dan keluar secara real-time.
  • Middle Management: Manajer regional menggunakan Dashboard KPI otomatis untuk memantau waktu pengiriman barang di tiap wilayah.
  • Top Management: Eksekutif Amazon menggunakan data prediksi pasar (Big Data Analytics) untuk memutuskan kapan harus mengakuisisi perusahaan baru (seperti Whole Foods) atau membuka layanan baru.
C. Integrasi Proses Bisnis (Poin 5, 6, & 10)
  • Siklus Lintas Fungsional: Proses bisnis pemenuhan pesanan (Order Fulfillment) di Amazon terintegrasi secara total tanpa sekat kertas.
  • Begitu pelanggan menekan tombol "Buy Now", sistem secara otomatis memotong saldo (Finance), menggerakkan robot di gudang untuk mengambil barang (Logistics), memperbarui stok di web (Sales), dan mengirimkan email pelacakan ke pelanggan (Service).
D. Rantai Nilai Porter (Value Chain - Poin 7)
Amazon berinvestasi besar-besaran pada Aktivitas Utama untuk memotong biaya:
  • Inbound/Outbound Logistics: Amazon memiliki armada pesawat dan truk sendiri (Amazon Air) yang dikendalikan oleh algoritma kecerdasan buatan untuk menentukan rute terpendek demi menghemat bahan bakar.

c. Pembelajaran Penting (Key Takeaways untuk Mahasiswa)
Dari studi kasus Amazon, mahasiswa dapat menyimpulkan tiga hal penting untuk ujian:
  1. Teknologi adalah Pendorong (Enabler): Amazon tidak melihat IT sebagai pusat biaya (cost center), melainkan sebagai alat utama pemotong biaya operasional.
  2. Hancurnya Data Silo: Kunci kecepatan pengiriman Amazon terletak pada integrasi data mutlak antara sistem web konsumen dan sistem fisik robotik di gudang.
  3. Budaya Data-Driven: Setiap keputusan manajemen di Amazon, dari bawah hingga atas, wajib didukung oleh metrik data akurat yang disediakan oleh SIM.




Week 2 - Organisasi, Manajemen, dan Proses Bisnis