WA: 0812 8595 8481
⋮
View : 677 kali.
Materi Kuliah Filsafat Dan Pengetahuan Modern
02.02 Empirisme
# paham ilmu pengetahuan yang beroposisi terhadap rasionalisme
Empirisme berasal dari bahasa Yunani, empirea, diterjemahkan Latin menjadi experientia, yang darinya diturunkan kata dalam bahasa Inggris experience (pengalaman). Dalam kajian filsafat, empirisme adalah sebuah aluran filsafat yang meyakini bahwa pengetahuan manusia diperoleh dari pengalaman. Pengalaman memainkan peranan penting dalam proses terciptanya pemahaman; munculnya pengetahuan didapat dari hasil observasi inderawi; kebenaran didapat dari analisis dan penelusuran fakta-fakta. Di zaman klasik, pandangan semacam ini dijelaskan secara sistematis dalam pemikiran Aristoteles (384- 322 SM).
Konsep Empirisme
Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia dan mengecilkan peranan akal. Empirisme dari bahasa Yunani empeiria yang berarti coba-coba atau pengalaman. Sebagai suatu doktrin empirisme adalah lawan dari rasionalisme. Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan tentang kebenaran yang sempurna tidak diperoleh melalui akal, melainkan di peroleh atau bersumber dari panca indera manusia, yaitu mata, lidah, telinga, kulit dan hidung.
Dengan kata lain, kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan pengalaman manusia. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Paham empirisme ini mempunyai ciri-ciri pokok yaitu:
1. Teori tentang makna
Teori pada aliran empirisme biasanya dinyatakan sebagai teori tentang asal pengetahuan yaitu asal usul ide atau konsep. Pada abad pertengahan, teori ini diringkaskan dalam rumus Nihil Est in Intellectu Quod Non Prius Feurit in Sensu (tidak ada sesuatu di dalam pikiran kita selain didahului oleh pengalaman). Pernyataan ini merupakan tesis Locke yang terdapat dalam bukunya "An Essay Concerning Human Understanding" yang dikeluarkan tatkala ia menentang ajaran ide bawaan (Innate Idea) kepada orang-orang rasional. Jiwa (Mind) itu tatkala dilahirkan keadaannya kosong laksana kertas putih yang belum ada tulisan di atasnya dan setiap ide yang diperolehnya mestinya datang melalui pengalaman, yang dimaksud di sini adalah pengalaman indrawi. Hume mempertegas teori ini dalam bab pembukaan bukunya "Treatise of Human Nature (1793)" dengan cara membedakan antara ide dan kesan. Semua ide yang kita miliki itu datang dengan kesan-kesan, dan kesan itu mencakup penginderaan, passion dan emosi.
2. Teori pengetahuan
Menurut rasionalis ada beberapa kebenaran umum seperti setiap kejadian tertentu mempunyai sebab, dasar-dasar matematika dan beberapa prinsip dasar etika dan kebenaran-kebenaran itu benar dengan sendirinya yang dikenal dengan istilah kebenaran a priori yang diperoleh keluar intuisi rasional. Empirisme menolak hal demikian karena tidak ada kemampuan intuisi rasional itu. Semua kebenaran yang disebut tadi adalah kebenaran kebenaran yang diperoleh lewat observasi, jadi ia kebenaran a posteriori.
Poedjawijatna (1997) menyatakan bahwa empirisme berguna dalam filsafat pada umumnya karena dengan empirisme ini filsafat memperhatikan lebih cermat lagi manusia sebagai keseluruhan.
Ajaran-ajaran pokok empirisme yaitu:
Contoh aliran empirisme adalah TEORI A POSTERIORI yang menyatakan bahwa semua kebenaran dalam pengetahuan adalah kebenaran a posteriori yakni kebenaran yang didapatlan lewat observasi atau pengamatan. ... Kepandaian atau kecakapan atau pengetahuan tersebut bukan muncul begitu saja pada dirinya.
02.02 Empirisme
# paham ilmu pengetahuan yang beroposisi terhadap rasionalisme
Empirisme adalah paham ilmu pengetahuan yang beroposisi terhadap rasionalisme. Rasionalisme mengatakan bahwa rasio adalah satu-satunya sumber pengetahuan; jadi pengetahuan bersifat apriori (mendahului pengalaman). Sementara empirisme mengatakan bahwa pengalaman indrawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan; jadi pengetahuan bersifat aposteriori (setelah pengalaman). Secara harafiah, empiris berarti berada di dalam ruang dan waktu.
Empirisme berasal dari bahasa Yunani, empirea, diterjemahkan Latin menjadi experientia, yang darinya diturunkan kata dalam bahasa Inggris experience (pengalaman). Dalam kajian filsafat, empirisme adalah sebuah aluran filsafat yang meyakini bahwa pengetahuan manusia diperoleh dari pengalaman. Pengalaman memainkan peranan penting dalam proses terciptanya pemahaman; munculnya pengetahuan didapat dari hasil observasi inderawi; kebenaran didapat dari analisis dan penelusuran fakta-fakta. Di zaman klasik, pandangan semacam ini dijelaskan secara sistematis dalam pemikiran Aristoteles (384- 322 SM).
Konsep Empirisme
Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia dan mengecilkan peranan akal. Empirisme dari bahasa Yunani empeiria yang berarti coba-coba atau pengalaman. Sebagai suatu doktrin empirisme adalah lawan dari rasionalisme. Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan tentang kebenaran yang sempurna tidak diperoleh melalui akal, melainkan di peroleh atau bersumber dari panca indera manusia, yaitu mata, lidah, telinga, kulit dan hidung.
Dengan kata lain, kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan pengalaman manusia. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Paham empirisme ini mempunyai ciri-ciri pokok yaitu:
1. Teori tentang makna
Teori pada aliran empirisme biasanya dinyatakan sebagai teori tentang asal pengetahuan yaitu asal usul ide atau konsep. Pada abad pertengahan, teori ini diringkaskan dalam rumus Nihil Est in Intellectu Quod Non Prius Feurit in Sensu (tidak ada sesuatu di dalam pikiran kita selain didahului oleh pengalaman). Pernyataan ini merupakan tesis Locke yang terdapat dalam bukunya "An Essay Concerning Human Understanding" yang dikeluarkan tatkala ia menentang ajaran ide bawaan (Innate Idea) kepada orang-orang rasional. Jiwa (Mind) itu tatkala dilahirkan keadaannya kosong laksana kertas putih yang belum ada tulisan di atasnya dan setiap ide yang diperolehnya mestinya datang melalui pengalaman, yang dimaksud di sini adalah pengalaman indrawi. Hume mempertegas teori ini dalam bab pembukaan bukunya "Treatise of Human Nature (1793)" dengan cara membedakan antara ide dan kesan. Semua ide yang kita miliki itu datang dengan kesan-kesan, dan kesan itu mencakup penginderaan, passion dan emosi.
2. Teori pengetahuan
Menurut rasionalis ada beberapa kebenaran umum seperti setiap kejadian tertentu mempunyai sebab, dasar-dasar matematika dan beberapa prinsip dasar etika dan kebenaran-kebenaran itu benar dengan sendirinya yang dikenal dengan istilah kebenaran a priori yang diperoleh keluar intuisi rasional. Empirisme menolak hal demikian karena tidak ada kemampuan intuisi rasional itu. Semua kebenaran yang disebut tadi adalah kebenaran kebenaran yang diperoleh lewat observasi, jadi ia kebenaran a posteriori.
Poedjawijatna (1997) menyatakan bahwa empirisme berguna dalam filsafat pada umumnya karena dengan empirisme ini filsafat memperhatikan lebih cermat lagi manusia sebagai keseluruhan.
Ajaran-ajaran pokok empirisme yaitu:
- Pandangan bahwa semua ide atau gagasan merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami.
- Pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal atau rasio.
- Semua yang kita ketahui pada akhirnya bergantung pada data inderawi.
- Semua pengetahuan turun secara langsung, atau di simpulkan secara tidak langsung dari data inderawi (kecuali beberapa kebenaran definisional logika dan matematika).
- Akal budi sendiri tidak dapat memberikan kita pengetahuan tentang realitas tanpa acuan pada pengalaman inderawi dan penggunaan panca indera kita. Akal budi mendapat tugas untuk mengolah bahan bahan yang di peroleh dari pengalaman.
- Empirisme sebagai filsafat pengalaman, mengakui bahwa pengalaman sebagai satu- satunya sumber pengetahuan.
Contoh aliran empirisme adalah TEORI A POSTERIORI yang menyatakan bahwa semua kebenaran dalam pengetahuan adalah kebenaran a posteriori yakni kebenaran yang didapatlan lewat observasi atau pengamatan. ... Kepandaian atau kecakapan atau pengetahuan tersebut bukan muncul begitu saja pada dirinya.
Materi Kuliah:
