WA: 0812 8595 8481
ā‹®
View : 296 kali.
Materi Kuliah Filsafat Dan Pengetahuan Modern
11.02 Langkah-langkah Metode Ilmiah
#
4. Pengujian Hipotesis (langkah-4)
Pengujian hipotesis merupakan tindak lanjut dan konsekwensi logis dari fungsi dan peran hipotesis, yaitu sebagai jawaban tentatif terhadap masalah yang digarap. Lain daripada itu di dalam hipotesis terkandung acuan-acuan landasan teoritis yang memandu ke arah persiapan penelitian untuk mengungkap data-data empiris pendukung. Ini berarti mengundang langkah lanjut untuk membuat rancangan penelitian, sesuai dengan faktor-faktor yang terlibat, sifat pengaruh masing-masing faktor, hubungan pengaruh gabungan faktor. Sekaligus menentukan metode penelitian dan teknik pengambilan datanya.
11.02 Langkah-langkah Metode Ilmiah
#
Dari skema pada bagian 4.2. (Sistematika keilmuan) terdapat lima langkah pokok dengan urutan logis yang searah, namun tidak perlu langkah demi langkah terikat seketat itu, melainkan dapat saja terjadi lompatan atau jalan potong kompas. Yang terpelihara konsistensi antara langkah yang satu dengan langkah berikutnya atau lazim disebut "benang merah". Adapun langkah-langkah pokok tersebut adalah unsur-unsur peristiwa dalam struktur penelitian ilmiah atau mempunyai analogi dengan "events" di dalam suatu "networkplanning"..
1. Penetapan Masalah (Langkah -1)
Sebagaimana telah disinggung terdahulu metode ilmiah mempunyai dwitujuan, yaitu menata data hasil penemuan dan menghasilkan penemuan-penemuan baru antara lain berupa teori baru yang teruji kebenaran ilmiahnya dalam rangka pemecahan suatu masalah melaluipenelitian dengan metode tertentu.
Sebagaimana telah disinggung terdahulu metode ilmiah mempunyai dwitujuan, yaitu menata data hasil penemuan dan menghasilkan penemuan-penemuan baru antara lain berupa teori baru yang teruji kebenaran ilmiahnya dalam rangka pemecahan suatu masalah melaluipenelitian dengan metode tertentu.
Suatu masalah dapat berupa gejala alam atau gejala sosial yang menarik perhatian seseorang ilmuwan peneliti yang menggugahnya untuk diselami lebih lanjut. Langkah pertama ia harus yakin bahwa gejala atau fenomena yang diobservasinya itu masih aktual dan relevan untuk diteliti. Dalam hal ini ia dapat berpaling kepada dua sumber, yaitu khazanah ilmu berupa kepustakaan atau literatur. Ini berarti menyangkut penguasaan mengenai tingkat perkembangan disiplin ilmu terkait dengan masalah yang digarap. Demikian pula ia akan memperoleh konfirmasi apakah masalah yang dihadapi itu masih memiliki aktualitas dan relevansi untuk diteliti, atau jangan-jangan sudah usang dan pernah diteliti sampai tuntas. Sumber lain untuk memperoleh tujuan yang sama adalah melalui konsultasi dengan tokoh ilmuwan senior, terlebih-lebih yang dipandang telah memiliki otoritas wibawa akademik dalam disiplin ilmunya. Dengan segera pakar seperti itu dapat memberikan status masalah yang dimaksudkan dari segi aktualitas dan relevansi berdasarkan penguasaan tingkat perkembangan disiplin ilmu yang terkait.
Setelah aktualitas dan relevansinya dikonfirmasi, maka perlu masalahnya dirumuskan dalam bentuk tema sentral masalah. Sinonim untuk itu lazim dikenal sebagai "problem issue" atau masalah pokok. Namun bila disebut masalah pokok secara psikologis kurang efektif daya tarik perhatiannya, padahal secara material sama dengan tema sentral masalah.
Untuk menemukan tema sentral masalah, macam-macam sumber yang dapat kita ikuti.Yang bersifat akademik melalui majalah ilmiah. Sedang yang bersifat sosial-ekonomi-politik melalui media masa, dalam aneka ragam bentuk dan cara. Diantaranya dapat diturunkan satu contoh sebagai berikut:
Untuk menemukan tema sentral masalah, macam-macam sumber yang dapat kita ikuti.Yang bersifat akademik melalui majalah ilmiah. Sedang yang bersifat sosial-ekonomi-politik melalui media masa, dalam aneka ragam bentuk dan cara. Diantaranya dapat diturunkan satu contoh sebagai berikut:
"Sistem penerimaan mahasiswa baru berdasarkan PMDK menimbulkan ekses ketidakjujuran dalam memberikan nilai pada tingkat SLTA dengan meninggikannya dari yang seharusnya, sehingga pada gilirannya menyalahi objektivitas dan ketidakadilan yang merugikan SLTA lainyang berprilaku penuh kejujuran"
Dari contoh perumusan tema sentral masalah dapat disimak beberapa faktor yang esensial. Pertama, betapa pentingnya untuk dilakukan penelitian, bahkan dalam waktu dekat. Kedua, masalahnya menyangkut kepentingan bukan saja beberapa pihak, melainkan masyarakat yang sedang membangun. Ketiga, tujuan positifnya dapat diamankan. Keempat,dampak negatifnya dapat ditekan dan tidak menjadi berlarut-larut.
Tentu saja tidak setiap penelitian mempunyai ruang lingkup kepentingan regional atau nasional secara langsung. Hal-hal yang bersifat mikro seperti pada suatu unit sosial, unit usaha, unit program, unit pembangunan dan sebagainya tetap mempunyai saham yang penting dalam konteks dukungan bagi tujuan makro regional atau nasional. Hal ini akan terlihat dari segi relevansinya dengan salah atu aspek: sosial, ekonomi, budaya, politik, ideologi, kebijaksanaan atau teknis. Dalam hal ini aspek apapun yang digarap, yang hendaknya jelas adalah nilai manfaat praktisnya. Tak jarang pula terkait dengan aspek  heuristik , yaitu manfaat tambahan berupa penemuan sesuatu metode atau ikut membantu menemukan atau mempelajari sesuatu yang menolong diri lebih lanjut. Disamping nilai manfaat praktis, tak kalah pentingnya segi sumbangan ilmiahnya.
Argumentasi nilai kegunaan penelitian dan tingkat urgensi dilakukannya penelitian, secara implisit harus terkandung dalam jiwa perumusan tema sentral masalah. Adapaun eksplisitasinya dilakukan di dalam sub-bab khusus nanti
2 Menyusun Kerangka Pemikiran dan Premis-Premis (Langkah-2)
Setelah masalah yang dihadapi dikonfirmasi aktualitas dan relevansinya dari kepustakaan, kemudian dirumuskan pula tema sentral masalahnya, maka kita kembali menelusuri kepustakaan untuk mengungkap hal-hal yang esensial dukungan dasar teoritis
dalam rangka pendekatan pemecahan masalah yang dihadapi. Perlu diingatkan bahwa ilmu tidak dimulai dengan halaman kosong melainkan merupakan lanjutan dari akumulasi saham hasil karya ilmiah para pakar terdahulu. Sejalan dengan itu teori demi teori diuji ketahanan kebenaran ilmiahnya, sehingga ada yang berguguran dan silih berganti diisi oleh yang baru, namun ada pula yang bertahan terus menjadi hukum.
Setelah masalah yang dihadapi dikonfirmasi aktualitas dan relevansinya dari kepustakaan, kemudian dirumuskan pula tema sentral masalahnya, maka kita kembali menelusuri kepustakaan untuk mengungkap hal-hal yang esensial dukungan dasar teoritis
dalam rangka pendekatan pemecahan masalah yang dihadapi. Perlu diingatkan bahwa ilmu tidak dimulai dengan halaman kosong melainkan merupakan lanjutan dari akumulasi saham hasil karya ilmiah para pakar terdahulu. Sejalan dengan itu teori demi teori diuji ketahanan kebenaran ilmiahnya, sehingga ada yang berguguran dan silih berganti diisi oleh yang baru, namun ada pula yang bertahan terus menjadi hukum.
Dengan sendirinya, dalam menyusun kerangka pemikiran itu, hanya menggunakan teori-teori yang paling relevan dan masih berlaku. Adapun pilihan teori tersebut dipandu oleh kata-kata kunci, yaitu faktor-faktor yang terlibat sebagaimana yang tersurat dan tersirat dalam perumusan tema sentral masalah. Dengan lain perkataan kerangka pemikiran itu merupakan rangkuman ringkas mengenai faktor-faktor yang terlibat, karakteristik masing-masing dan sifat pengaruhnya terhadap masalah. Juga meliputi bagaimana hubungan faktor yang satu dengan yang lain dalam pengaruh gabungannya terhadap masalah.
Dari uraian di atas tampak bahwa masalah tersebut dapat digolongkan ke dalam esei (assay) argumentasi. Yang dimaksud dengan esei-argumentasi adalah yang menampilkan sikap dan pandangan peneliti yang kritis dan analitik dalam mengkaji masalah yang bersangkutan. Dengan demikian, kerangka pemikiran itu benar-benar merupakan argumrntasi dasar dukungan dasar teoritis yang kuat. Keyakinan akan logika kerangka teoritis ilmiah yang mendasari esei argumentasi tersebut menjadi makin kuat dengan menyajikan premis-premis yang bersangkut secara eksplisit. Ini berarti seolah-olah kerangka pemikiran itu menjadi pengantar ke arah kelengkapan dan ketajaman penguasaan masalah yang dihadapi dan tingkat perkembangan disiplin ilmu dan teknologi. Kemudian tuangkanlah secara kronologis serangkaian premis.
Adapun materi premis itu berupa pernyataan tentang essensi hasil penelitian pakar terdahulu yang telah teruji kebenaran ilmiahnya, lagi pula belum dibantah pihak lain. Untuk lengkapnya disebut pula siapa tokoh peneliti tersebut dan pada tahun berapa pernyataan itu dikemukakan. Contoh bagannya dapat diikuti sebagai berikut:
Premis-1:
Pernyataan
(Collins, 1980)
Premis-2:
Pernyataan
(Alders, 1982)
Premis-n:
Pernyataan
(Sutopo, 1984)
Sebagaimana telah disinggung terdahulu, premis-premis itu adalah sumber yang sudah
teruji kebenaran ilmiahnya untuk mengembangkan teori baru atau hipotesis.
3. Perumusan Hipotesis (Langkah-3)
Bila kerangka pemikiran berfungsi sebagai argumentasi dukungan dasar teoritis dalam pengkajian masalah, dalam bentuk essei yang sekaligus bersifat eksplanatoris (menjelaskan), maka hipotesis pada asasnya sama. Dalam hal ini khususnya berfungsi juga sebagai landasan teoritis yang memendu kearah persiapan operasionalisasi penelitian dalam rangka menungkap data empiris, relevan dengan pengaruh dan keterlibatan faktor-faktor yang terkandung dalam hipotesis yang bersangkutan. Bedanya hanya dalam perumusannya saja, yaitu hipotesis berupa perumusan eksplisit dan sederhana yang bersifat deklaratif (menyatakan) tentang apa yang diantisipasinya sebagai jawaban tentatif (sementara) terhadap masalah yang digarap.
Premis-1:
Pernyataan
(Collins, 1980)
Premis-2:
Pernyataan
(Alders, 1982)
Premis-n:
Pernyataan
(Sutopo, 1984)
Sebagaimana telah disinggung terdahulu, premis-premis itu adalah sumber yang sudah
teruji kebenaran ilmiahnya untuk mengembangkan teori baru atau hipotesis.
3. Perumusan Hipotesis (Langkah-3)
Bila kerangka pemikiran berfungsi sebagai argumentasi dukungan dasar teoritis dalam pengkajian masalah, dalam bentuk essei yang sekaligus bersifat eksplanatoris (menjelaskan), maka hipotesis pada asasnya sama. Dalam hal ini khususnya berfungsi juga sebagai landasan teoritis yang memendu kearah persiapan operasionalisasi penelitian dalam rangka menungkap data empiris, relevan dengan pengaruh dan keterlibatan faktor-faktor yang terkandung dalam hipotesis yang bersangkutan. Bedanya hanya dalam perumusannya saja, yaitu hipotesis berupa perumusan eksplisit dan sederhana yang bersifat deklaratif (menyatakan) tentang apa yang diantisipasinya sebagai jawaban tentatif (sementara) terhadap masalah yang digarap.
Makin banyak premis yang tersedia, makin banyak pula peluang untuk mengembangkan hepotesis merupakan upaya sumbangan teori baru kepada pengembangan ilmu yang harus diuji lebih lanjut malalui penelitian. Di samping itu memberi identitas kepada peneliti dalam spesifikasi tingkat orisinilitas penelitiannya yang membedakannya dari penelitian-penelitian terdahulu.
Di atas telah disinggung bagaimana hendaknya merumuskan hipotesis yang efektif dan efisien. Di antara unsur sifatnyaa adalah: ekspilit, kongkret, sederhana, deklaratif dan sekaligus presiktif (meramalkan) atau antisipasif (menduga kejadian). Berarti harus
dihindarkan bentuk yang berbelit-belit dan mengandai-andai atau yang ngambang.
dihindarkan bentuk yang berbelit-belit dan mengandai-andai atau yang ngambang.
4. Pengujian Hipotesis (langkah-4)
Pengujian hipotesis merupakan tindak lanjut dan konsekwensi logis dari fungsi dan peran hipotesis, yaitu sebagai jawaban tentatif terhadap masalah yang digarap. Lain daripada itu di dalam hipotesis terkandung acuan-acuan landasan teoritis yang memandu ke arah persiapan penelitian untuk mengungkap data-data empiris pendukung. Ini berarti mengundang langkah lanjut untuk membuat rancangan penelitian, sesuai dengan faktor-faktor yang terlibat, sifat pengaruh masing-masing faktor, hubungan pengaruh gabungan faktor. Sekaligus menentukan metode penelitian dan teknik pengambilan datanya.
Setelah data hasil penelitian dianalisis dan diinterpretasi, kemudian dikelompokkan mana yang mendukung dan mana yang tidak mendukung hipotesis. Proses menata data empiris yang tersebar dan kini terhimpun ke dalam kelompok yang memungkinkan dilakukan suatu generalisasi disebut logika induktif yang menganut asas korespondensi. Adapun asas korespondensi ialah kesesuaian antara hipotesis sebagai hasil pemikiran rasional (bersifatabstrak) dengan dukungan data empiris.
Bila semua data empiris mendukung berarti hipotesis diverifikasi sebagai dapat diterima. Sebaliknya bila data empiris tidak mendukungnya maka hipotesis difalsifikasi atau ditolak. Adakalanya bahwa sebagian data empiris itu mendukung dan sebagian lagi tidak. Adapun hipotesis yang diterima berarti menambah kekayaan teori baru. Sedang hipotesis yang ditolak seluruhnya atau sebagian, merupakan sumbangan korektif kepada peneliti untuk meninjau kembali proses persiapan penelitiannya. Khususnya, apakah ada premis yang tidak lengkap, atau harus menyusun hipotesis baru untuk penelitian berikutnya.
5. Penarikan Kesimpulan (langkah-5)
Pengujian hipotesis mengundang untuk melakukan langkah terakhir metode ilmiah untuk menarik kesimpulan yang menentukan kesahan ilmiahnya. Dalam hal ini hipotesis yang diterima beserta dukungan fakta lain yang koheren memberikan kelayakan inferensi ilmiah berupa kesimpulan umum. Sesuai ruang lingkup penelitiannya, maka kesimpulan dapat lebih dari satu jumlahnya, untuk selanjutnya dijabarkan menjadi kesimpulan-kesimpulan khusus. Perlu dikemukakan bahwa kesimpulan umum itu sifatnya cenderung kualitatif, sedang kesimpulan khusus merupakan penjabaran yang bersifat kuantitatif.
Setelah penarikan kesimpulan dilakukan, maka berakhirlah proses penelitian beserta langkah-langkah metode penelitiannya. Namun, pada saat yang sama mulai memasuki siklus empiris metode ilmiah.
Pengujian hipotesis mengundang untuk melakukan langkah terakhir metode ilmiah untuk menarik kesimpulan yang menentukan kesahan ilmiahnya. Dalam hal ini hipotesis yang diterima beserta dukungan fakta lain yang koheren memberikan kelayakan inferensi ilmiah berupa kesimpulan umum. Sesuai ruang lingkup penelitiannya, maka kesimpulan dapat lebih dari satu jumlahnya, untuk selanjutnya dijabarkan menjadi kesimpulan-kesimpulan khusus. Perlu dikemukakan bahwa kesimpulan umum itu sifatnya cenderung kualitatif, sedang kesimpulan khusus merupakan penjabaran yang bersifat kuantitatif.
Setelah penarikan kesimpulan dilakukan, maka berakhirlah proses penelitian beserta langkah-langkah metode penelitiannya. Namun, pada saat yang sama mulai memasuki siklus empiris metode ilmiah.
Materi Kuliah:
