Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
☰
  • Home
  • Opini
  • Kuliah â–¼
  • Publikasi â–¼
  • SINTA
  • Scholar
  • About Me
  • Labuhan Batu
  • Login

View : 735 kali.

Bagikan:
Materi Kuliah Filsafat Dan Pengetahuan Modern

14.02 Filsafat Sebagai Landasan Ilmu dalam Pengembangan Sains
#

Filsafat  merupakan  cabang  ilmu  pengetahuan  yang  yang menyelidiki  atau  mengkaji  tentang  kebenaran  yang  sesungguhnya.  Hal  ini  menunjukkan  bahwa berfilsafat  merupakan  cara  dan  upaya  dalam  melaksanakan  penyelidikan  yang  meliputi  tentang apa, bagaimana, dan untuk apa, dalam konteks berpikir, yang apabila dikaitkan dengan terminologi

Filsafat tercakup dalam aspek berikut ini, yaitu; ontologi yang mengkaji tentang apa, epistemologi yang  mengkaji  tentang  bagaimana,  dan  aksiologi  yang  mengungkapkan  untuk  apa  sebuah  ilmu dipelajari.

Filsafat  dilihat  dari  aktivitasnya,  merupakan  cara  berpikir  yang  mempunyai  karakteristik tertentu.  Hal  ini  dapat  dipelajari  berdasarkan  pendapat  para  ahli  berikut  :  (1)  Sutan  Takdir Alisjahbana  (dalam  Hamdani;  2011:72)  :  Syarat  berpikir  yang  termasuk  berfilsafat  yaitu  berpikir dengan  teliti  dan  berpikir  menurut  aturan  yang  pasti.  (2)  Sidi  Gazalba  (1976,dalam Hamdani; 2011:73):
Ciri berfilsafat atau berpikir filsafat adalah radikal, sistematis dan universal. (3) Sudarto (1996,dalam  Hamdani;  2011:73):  Ciri  berpikir  filsafat  meliputi  :  metodis,  sistematis,  koheren, rasional, komprehensif, radikal, universal.

Sejalan  dengan  pendapat  para  ahli  tersebut,  maka  berfilsafat  atau  berpikir  filsafat  pada dasarnya merupakan cara berpikir yang mengacu pada kaidah-kaidah tertentu secara disiplin dan bersifat  menyeluruh  atau  mendalam.  Berpikir  filsafat  memerlukan  latihan  dan  pembiasaan  yang dilakukan  secara  terus-menerus  sehingga  dalam  setiap  pemikiran  setiap  permasalahan  atau subtansi  akan mendapatkan pencermatan yang mendalam untuk mencapai kebenaran jawaban, dengan cara yang benar sebagai bentuk kecintaan terhadap kebenaran.

Filsafat  dalam  kasusnya,  memiliki  dua  objek  kajian,  yaitu  objek  materiil  dan  objek  formil. Objek materiil merupakan objek yang secara wujudnya dapat digunakan sebagai bahan telaahan dalam  berpikir  filsafat,  sedangkan  objek  formal  dalam  filsafat  adalah  objek  yang  menyangkut sudut pandang atau menggambarkan cara dan sifat berpikir dalam melihat objek materiil. Memahami  filsafat  dapat  dilakukan  dengan  berbagai  pendekatan  maupun  sudut  pandang. Pendekatan yang secara umum dimaksudkan adalah sudut pandang filsafat sebagai proses dan filsafat sebagai produk. Filsafat sebagai proses menggambarkan suatu cara atau metode berpikir sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir filsafat, sedangkan filsafat sebagai  produk dapat dimaknai sebagai sekumpulan pemikiran dan pendapat yang dikemukakan oleh para filsuf. Melalui dua sudut pandang ini akan didapatkan pemahaman tentang filsafat yang sesungghnya.

Menurut  Donny  Gahral  Adian  (dalam  Hamdani;  2011:71),  terdapat  4  pendekatan  dalam memahami filsafat diantaranya yaitu: (1) Pendekatan Definisi : Filsafat dipahami melalui pendapat yang dikemukakan oleh para ahli atau filsuf. Penelusuran asalkata menjadis sesuatu yang sangat penting  karena  kata  filsafat  pada  dasarnya  merupakan  kristalisasi  dari  konsep-konsep  yang terdapat dalam definisi tersebut. (2) Pendekatan Sistematika: Objek materiil filsafat adalah segala sesuatu  yang  ada  dengan  berbagai  substansi  dan  tingkatan.  Objek  materiil  dapat  ditelaah  dari berbagai sudut sesuai dengan fokus keterangan yang diinginkan atau diharapkan. Fokus telaahan yang  mengacu  pada  objek  formal  akan  melahirkan  berbagai  bidang  kajian  dalam  filsafat  yang menggambarkan  sistematika  filsafat.  (3)  Pendekatan  Tokoh  :  Pada  umumnya  para  filsuf  jarang membahas secara tuntas seluruh wilayah dalam filsafat. Seorang filsuf biasanya akan membahas fokus utama dalam pemikiran filsafatnya. Seorang filsuf dengan pendekatan ini akan mendalami filsafat  melalui  penelaahan  pada  pemikiran-pemikiran  yang  dikemukakan  oleh  para  filsuf,  yang kadang  memiliki  kekhasan  tersendiri,  sehingga  melahirkan  aliran  filsafat  tertentu,  yang  berdeda dengan  filsuf  lainnya.  Berdasarkan  pemikiran  tersebut,  pendekatan  tokoh  sering  juga  dikenal dengan  pendekatan  aliran.  (4)  Pendekatan  Sejarah:  Pndekatan  ini  berusha  mempelajari  filsafat dengan melihat aspek sejarah dan perkembangan  pemikiran filsafat dari waktu ke waktu dengan melihat  kecenderungan-kecenderungan  umum  sesuai  dengan  semangat  zamannya,  kemudian dilakukan periodisasi untuk melihat perkembangan pemikiran filsafat secara kronologis

Hakikat Sains
Ilmu Pengetahuan Alam atau Sains sebagai salah satu ilmu yang berkembang dari filsafat ilmu,  merupakan  ilmu  yang  sangat  diperlukan  dalam  kehidupan  manusia.  Pengertian  sains menurut beberapa ahli antara lain : (1) Menurut Amien ( Windari; 2013) , IPA sebagai bidang ilmu ilmiah dengan ruang lingkup zat dan energi, baik yang terdapat pada makhluk hidup maupun tak hidup, lebih banyak mendiskusikan tentang alam (natural science) seperti fisika, kimia dan biologi, (2).Menurut  Wahyana  (Windiantari;  2012),  IPA  merupakan  kumpulan  ilmu  pengetahuan  yang tersususun  secara  sistematis  dan  dalam  penggunaannya  secara  umum  terbatas  pada  gejala-gejala  alam  .Perkembangan  IPA  tidak  hanya  ditandai  oleh  adanya  kumpulan  fakta,  tetapi  juga adanya  metode  ilmiah  dan  sikap  ilmiah,  (3).  Colle  dan  Chiapetta  (1994),  menyatakan bahwa “ science  should  viewed  as  a  was  of  thinking  in  pursuit  of  understanding  nature,  as  the  way of investigation claim about fphenomena, and as a body of knowledge that has resulted from inquiry  “, Sains harus dipikir sebagai suatu cara berpikir dalam upaya memahami alam , sebagai suatu cara  penyelidikan  tentang  gejala,  dan  sebagai  suatu  kumpulan  pengetahuan  yang  didapatkan dari proses penyelidikan.

Hakikat  sains  merupakan  akumulasi  dari  content,  process  dan  context.  Content  meliputi hal-hal  yang  berkaitan  denga  fakta,  definisi,  konsep,  model,  teori  dan  terminologi.  Process berkaitan  dengan  keterampilan  ataukegiatan  untuk  mendapatkan  atau  menemukan  prinsip  dan konsep. Context meliputi 3 hal yaitu i: ndividu, masyarakat, dan lingkungan sekitar. Sains dipandang sebagai a body of knowledge (sains sebagai sekumpulan ilmu), a way of thinking (sains sebagai cara berpikir), dan a way of investigating (sains sebagai cara penyelidikan). Secara  singkat  IPA  atau  sains  merupakan  kumpulan  pengetahuan  yang  berkaitan  dengan  cara mencari tahu dan mendiskusikan alam.

Melalui berbagai kegiatan atau penelitian yang dilakukan, manusia  berusaha  untuk  dapat  menjawab  fenomena  alam,  mendapatkan  kepuasan  memenuhi kebutuhan hidup dan sekaligus menjaga alam semesta. Komponen dalam sains meliputi 3 bagian yaitu  :  (1)  Sikap  ilmiah  antara  lain  :  rasa  ingin  tahu,  kerendahan  hati,  keterbukaan,  jujur,  teliti, cermat,  disiplin,  memisahkan  antara  fakta  dengan  pendapat,  hati-hati,  sabar.  (2)  Proses  Ilmiah merupakan  serangkaian  kegiatan  yang  dilakukan  selama  penelitian  yang  bersifat  sistematis, konsisten,  dan  operasional  .  Hal  ini  ditunjukkan  dengan  langkah-langkah  ilmiah  yang  dikenal dengan metode ilmiah. (3) Produk ilmiah meliputi fakta, konsep, prinsip, hukum dan teori. Produk ilmiah  ini pada akhirnya diakui  kebenarannya  setelah dilakukan  pengujian berulang-ulang. Komponen tersebut yang dilakukan para ilmuwan atau peneliti yang akhirnya mampu memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan fenomena alam sesuai dengan kenyataan.

Sains alam kehidupan,  memiliki kegunaan di berbagai bidang. Kehidupan manusia yang selalu  mengalami  perubahan  seiring  perkembangan  zaman,  memerlukan  banyak  hal  untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sesuai dengan pemahaman tersebut, sains memberikan kontribusi yang besar, pada beberapa sektor yang vital bagi manusia, antara lain: Bidang  Pangan  :  ditemukannya  berbagai  jenis  tumbuhan  dan  hewan  varietas  unggul, didapatkannya  berbagai  jenis  makanan  baru  hasil  pengolahan  secara  biologis,  pengelolaan lingkungan dengan  tanaman yang  bermanfaat,  ditemukannya  berbagai jenis  obat penyakit atau hama tanaman, cara penanaman, penyediaan pupuk , dan lain-lain. Salah satu contoh, pada saat ini  kita  sering mendapatkan  buah-buahan  hasil perkembangan teknologi  melalui  rekayasa genetika,  yang  mempunyai  ciri  atau  sifat  yang  sudah  berbeda  dengan  buah  asalnya.

Buah semangka  tanpa  biji,  merupakan  contoh  konkrit,  yang  mudah  kita  temukan.  Biji  pada  suatu tanaman  merupakan  alat  reproduksi  secara  generatif,  sehingga  apabila  biji  pada  buah  tersebut tidak lagi ditemukan, maka perkembangbiakan secara generatif juga tudak dapat dilakukan. Hal ini  harus  menjadi  dasar  pemikiran,  agar  ada  pembatasan  atau  pengendalian  pengadaan  buah tanpa biji, sehingga perkembangan secara generatif tetap dapat berlangsung.

Bidang Sandang : dihasilkannya berbagai jenis bahan sandang yang diolah dari tanaman (  kapas,  kulit  tanaman/pohon),  dari  hewan  (  sutera,  wool).  Pemanfaatan  kulit  tanaman  pisang misalnya, sebagai bentuk perkembangan sains, memberikan peluang yang besar untuk pemanfaatan batang tanaman pisang. Hal ini dapat dilakukan dengan baik dengan tetap menjaga popolasi  tanaman  pisang  tetap  lestari.  Kegiatan  pengolahan  pelepah  batang  pisang  harus seimbang dengan regenerasi populasi tanaman tersebut, untuk menjaga terjadinya kepunahan. Bidang  Papan  :  diubahnya  beberapa  daerah  perairan  menjadi  lahan  untuk  memenuhi kebutuhan papan, seirama dengan pertambahan jumlah manusia.

Bidang  Kesehatan  atau  Kedokteran  :  adanya  peralatan  yang  serba  canggih,  penemuan berbagai jenis obat, rekayasa genetika, berbagai jenis pengobatan. Penemuan berbagai jenis obat untuk  mengobati  suatu  penyakit,  diusahakan  tidak  menimbulkan  dampak  negatif  bagi  pemakaipada sistem atau organ yang lain. Diharapkan juga tidak disalahgunakan untuk kepentingan yang bersifat negatif, yang berakibat merugikan manusia maupun lingkungan.

Bidang  Astronomi  :  memperkirakan  terjadinya  fenomena-fenomena  alam  yang  mungkin terjadi seperti gerhana matahari, gerhana bulan, atau bahkan kemungkinan terjadinya kehidupan pada  planet  lain.  Dan  masih  banyak  contoh  lain  yang  merupakan  bukti  bahwa  sains  sangat  penting  
dan diperlukan dalam kehidupan manusia


Filsafat dan Perkembangan Sains

Perkembangan sains pada saat ini sangat nyata dan dapat kita rasakan. Perkembangan tersebut  pada  beberapa  sisi  sangat  menguntungkan  manusia.  Manusia  dimanjakan  dengan berbagai hasil dari kemajuan sains, sehingga terbenuhi sebagian besar kebutuhannya. Perkembangan yang sangat pesat ini, seringkali tidak disadari membawa pengaruh yang bersifat negatif bagi manusia, yang mungkin merupakan awal dari kemusnahan manusia. Sains terbebas dari moral, yang dapat dimaknai bahwa baik buruknya hasil perkembangan sains, tidak tergantung dari sains, tetapi tergantung pada manusia. Manusia memegang peranan utama dalam pengendalian,  pengaturan,  pengarahan  perkembangan  sains.  Oleh  katena  itu,manusia  khususnya ilmuwan harus memegang teguh tiga komponen dalam sains dalam melakukan penelitian untuk mengembangkannya.

Filsafat sangat diperlukan kehadirannya pada saat perkembangan sains yang semakin menunjukkan spesialisasi keilmuannya. Para ilmuwan yang mengembangkan ilmu pengetahuan , dengan mendalami tentang filsafat diharapkan mampu memahami keterbatasan diri dan lingkungan,  sehingga  pemikiran  dan  tindakannya  tidak  terperangkap  oleh  arogansi  intelektual yang dimiliki. Sikap keterbukaan sesama ilmuwan sangat diperlukan agar dapat saling menyapa, berkomunikasi,  mengingatkan  dan  mengarahkan  seluruh  potensi  ilmu  yang  dimilikinya  untuk kepentingan umat manusia. Menurut Sulhatul Habibah, metode ilmiah dan sikap ilmiah yang harus dikembangkan  oleh  para  ilmuwan  mengandung  tujuan  sebagai  berikut: 

(1)  Filsafat  merupakan sarana  pengujian  penalaran  ilmiah,  sehingga  orang  menjadi  kritis  terhadap  kegiatan  ilmiah. Seorang  ilmuwan  harus  memiliki  sifat  kritis  terhadap  bidang  ilmunya  sendiri,  sehingga  dapat menghindarkan  diri  dari  sikap  solipsistik,  menganggap  bahwa  pendapatnya  paling  benar. 
(2) Filsafat  merupakan  usaha  merefleksi,  menguji  dan  mengkritik,  terhadap  asumsi  dan  metode keilmuan. Kecenderungan yang terjadi di antara di kalangan ilmuwan modern adalah menerapkan metode  ilmiah  tanpa  memperhatikan  strutuk  ilmu  pengetahuannya.  Satu  sikap  yang  sangat diperlukan pada saat seperti sekarang ini adalah menerapkan metode ilmiah yang sesuai dengan aturan yang  ditentukan,  bukan sebaliknya sesuai dengan keinginan sendiri. Metode  merupakan sarana  berpikir  bukan  hakikat  ilmu.  (3)  Filsafat  memberikan  landasan  logis  terhadap  metode keilmuan. Setiap bentuk metode ilmiah yang dikembangkan harus dapat dipertanggungjawabkan secara logis-rasional, agar dapat dipahami dan digunakan secara umum. Semakin luas penerimaan  dan  penggunaan  metode  ilmiah,  maka  semakin  valid  metode  tersebut.  Penelitian yang  benar-benar  memenuhikaidan  dan  metode  penelitian,  akan  berdampakpositif  bagi  ilmu tersebut.

Melihat kenyataan tersebut, maka implikasi filsafat terhadap perkembangan sains memberikan pedoman bahwa;

Pertama, seorang ilmuwan harus memahami pengetahuan dasar yang memadai tentang sains secara mendalam sehingga memiliki landasan berpijak yang kuat. Berbekal pemahaman yang ini maka ilmuwan akan melakukan penelitian dan penyelidikan untuk mengembangkan sains, dengan tetap pada jalur yang benar. Penelitian yang dilakukan berdasarkan  pemikiran  logis,  prosedur  yang  benar,  diharapkan  mampu  memberikan  hasil  yang berkontribusi  positif  bagi  perkembangan  ilmu  pengetahuan  tersebut  dan  bermanfaat  bagi  manusia.

Kedua,  Ilmuwan  harus  memahami ilmu  lain  yang terkait  dengan  sains,  sehingga  mampu mengkaitkan satu sama  lain untuk saling mendukung demi perkembangan sains dan  ilmu yang lain.  Perkembangan  suatu  ilmu  akan  didukung  oleh  ilmu  lain  yang  saling  berkaitan.Perkembangan sains tentu memerlukan ilmulain misal: agama, sosial, geografi, matematika dan lainnya. 

Ketiga, Ilmuwan  harus  menyadari  akan  pentingnya  sikap  ilmiah  yang  menjadi  komponen  dalam  sains, agar tidak terjebak dalam suatu pemikiran bahwa pendapat dan pemikiran diri sendiri yang paling benar, tanpa mempertimbangkan kenyataan yang ada maupun keberadaan ilmu lain.

Kenyataannya  semua  aktivitas  ilmuwan  tidak  akan  terlepas  dari  ilmu  yang  lain  dan  konteks kehidupan manusia, karena tidak ada ilmu yang dapat beridiri sendiri tanpa ilmu lain. Perkembangan sains dalam perjalanannya sangat membutuhkan dimensi etis dan estetika,  yang  terdapat  dalam  filsafat  sebagai  pertimbangan  dan  mempengaruhi  proses perkembangan  tersebut.  Tanggung  jawab  etis  menjadi  sesuatu  yang  menyangkut  kegiatan  penelitian dan penggunaan hasilnya untuk kepentingan manusia. Ilmuwan dalam mengembangkan sains harus mempertimbangkan harkat, martabat dan kodrat manusia, menjaga keseimbangan  dan  kelestarian  ekosistem,  bertanggung  jawab  terhadap generasiyang  akan datang, dan bersifat universal.

Tanggung  jawab  etis  ini  tidak  hanya  menyangkut  upaya  untuk  memenuhi  kepentingan manusia, tetapi terlebih untuk mengangkat harkat dan martabat manusia, sehingga semua yang dipikirkan  dan  dilakukan  harus  tepat  dan  benar,  sehingga  dapat  memperkuat  hubungan  pribadi dengan sesama manusia sebagai makhluk sosial maupun sebagai bentuk tanggung jawab dirinya terhadap Allah Swt.

Kendali etis sangat diperlukan dalam pengembangan sains untuk mencegah degeneratif lebih  lanjut.  Dampak  negatif  perkembangan  sains  dapat  diminimalisir  atau  bahkan  mungkin dihilangkan. Hal ini akan dapat terwujud demi kehidupan manusia, jika ilmuwan memahami dan memegang  teguh  komponen  sains  dalam  aktivitasnya,  dan  pengguna  hasil  penelitian  dapat memahami penggunaannya, menghindari penggunaan yang tidak pada tempat yang seharusnya. Hubungan yang harmonis antara ilmuwan selaku peneliti dan manusia yang lain selaku pengguna hasil penelitian , sangatlah diperlukan, agar tujuan penelitian tetap pada lingkup yang benar.
 
 Kesimpulan
Filsafat yang merupakan dasar dari semua ilmu yang ada pada saat ini, dengan kajian epistemolosi,  ontologi,  dan  aksiologi  sangat  diperlukan  dalam  perkembangan  sains.  Berbekal pemahaman tentang filsafat seorang ilmuwan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar  manusia,  sehingga  tidak  terperangkap  oleh  metode  khusus  yang  tidak  lagi  sesuai dengan ketentuan dan komponen sains. Ilmuwan dalam melakukan penelitian untuk mengembangkan  sains  ,  harus  : 

1)  menguasai  pengetahuan  dasar  tentang  sains  sebagai  ilmu penegetahuan bidang garapannya, 
2)  memahami keterkaitan  ilmu sains dengan ilmu-ilmu yang lain,
3). memahami dengan sepenuhnya bahwa sikap ilmiah merupakan komponen dalam sains yang  harus  dipatuhi.  Filsafat  yang  meliputi  epistemologi,  metafisika,  logika,  estetika  dan  etika  akan membantu manusia khususnya ilmuwan dalam mengembangkan sains, agar tetap mengutamakan  tanggung  jawabnya  untuk  memenuhi  kepentingan  manusia  tanpa  memberikan dampak  negatif  bagi  manusia  maupun  lingkungan,  sekaligus  bentuk  pertanggungjawaban  atas aktivitasnya kepada Sang Khalik.