WA: 0812 8595 8481
â‹®
View : 723 kali.
Materi Kuliah Filsafat Dan Pengetahuan Modern
14.02 Filsafat Sebagai Landasan Ilmu dalam Pengembangan Sains
#
Filsafat tercakup dalam aspek berikut ini, yaitu; ontologi yang mengkaji tentang apa, epistemologi yang mengkaji tentang bagaimana, dan aksiologi yang mengungkapkan untuk apa sebuah ilmu dipelajari.
Filsafat dilihat dari aktivitasnya, merupakan cara berpikir yang mempunyai karakteristik tertentu. Hal ini dapat dipelajari berdasarkan pendapat para ahli berikut : (1) Sutan Takdir Alisjahbana (dalam Hamdani; 2011:72) : Syarat berpikir yang termasuk berfilsafat yaitu berpikir dengan teliti dan berpikir menurut aturan yang pasti. (2) Sidi Gazalba (1976,dalam Hamdani; 2011:73):
Sejalan dengan pendapat para ahli tersebut, maka berfilsafat atau berpikir filsafat pada dasarnya merupakan cara berpikir yang mengacu pada kaidah-kaidah tertentu secara disiplin dan bersifat menyeluruh atau mendalam. Berpikir filsafat memerlukan latihan dan pembiasaan yang dilakukan secara terus-menerus sehingga dalam setiap pemikiran setiap permasalahan atau subtansi akan mendapatkan pencermatan yang mendalam untuk mencapai kebenaran jawaban, dengan cara yang benar sebagai bentuk kecintaan terhadap kebenaran.
Filsafat dalam kasusnya, memiliki dua objek kajian, yaitu objek materiil dan objek formil. Objek materiil merupakan objek yang secara wujudnya dapat digunakan sebagai bahan telaahan dalam berpikir filsafat, sedangkan objek formal dalam filsafat adalah objek yang menyangkut sudut pandang atau menggambarkan cara dan sifat berpikir dalam melihat objek materiil. Memahami filsafat dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan maupun sudut pandang. Pendekatan yang secara umum dimaksudkan adalah sudut pandang filsafat sebagai proses dan filsafat sebagai produk. Filsafat sebagai proses menggambarkan suatu cara atau metode berpikir sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir filsafat, sedangkan filsafat sebagai produk dapat dimaknai sebagai sekumpulan pemikiran dan pendapat yang dikemukakan oleh para filsuf. Melalui dua sudut pandang ini akan didapatkan pemahaman tentang filsafat yang sesungghnya.
Menurut Donny Gahral Adian (dalam Hamdani; 2011:71), terdapat 4 pendekatan dalam memahami filsafat diantaranya yaitu: (1) Pendekatan Definisi : Filsafat dipahami melalui pendapat yang dikemukakan oleh para ahli atau filsuf. Penelusuran asalkata menjadis sesuatu yang sangat penting karena kata filsafat pada dasarnya merupakan kristalisasi dari konsep-konsep yang terdapat dalam definisi tersebut. (2) Pendekatan Sistematika: Objek materiil filsafat adalah segala sesuatu yang ada dengan berbagai substansi dan tingkatan. Objek materiil dapat ditelaah dari berbagai sudut sesuai dengan fokus keterangan yang diinginkan atau diharapkan. Fokus telaahan yang mengacu pada objek formal akan melahirkan berbagai bidang kajian dalam filsafat yang menggambarkan sistematika filsafat. (3) Pendekatan Tokoh : Pada umumnya para filsuf jarang membahas secara tuntas seluruh wilayah dalam filsafat. Seorang filsuf biasanya akan membahas fokus utama dalam pemikiran filsafatnya. Seorang filsuf dengan pendekatan ini akan mendalami filsafat melalui penelaahan pada pemikiran-pemikiran yang dikemukakan oleh para filsuf, yang kadang memiliki kekhasan tersendiri, sehingga melahirkan aliran filsafat tertentu, yang berdeda dengan filsuf lainnya. Berdasarkan pemikiran tersebut, pendekatan tokoh sering juga dikenal dengan pendekatan aliran. (4) Pendekatan Sejarah: Pndekatan ini berusha mempelajari filsafat dengan melihat aspek sejarah dan perkembangan pemikiran filsafat dari waktu ke waktu dengan melihat kecenderungan-kecenderungan umum sesuai dengan semangat zamannya, kemudian dilakukan periodisasi untuk melihat perkembangan pemikiran filsafat secara kronologis
Hakikat Sains
Ilmu Pengetahuan Alam atau Sains sebagai salah satu ilmu yang berkembang dari filsafat ilmu, merupakan ilmu yang sangat diperlukan dalam kehidupan manusia. Pengertian sains menurut beberapa ahli antara lain : (1) Menurut Amien ( Windari; 2013) , IPA sebagai bidang ilmu ilmiah dengan ruang lingkup zat dan energi, baik yang terdapat pada makhluk hidup maupun tak hidup, lebih banyak mendiskusikan tentang alam (natural science) seperti fisika, kimia dan biologi, (2).Menurut Wahyana (Windiantari; 2012), IPA merupakan kumpulan ilmu pengetahuan yang tersususun secara sistematis dan dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam .Perkembangan IPA tidak hanya ditandai oleh adanya kumpulan fakta, tetapi juga adanya metode ilmiah dan sikap ilmiah, (3). Colle dan Chiapetta (1994), menyatakan bahwa “ science should viewed as a was of thinking in pursuit of understanding nature, as the way of investigation claim about fphenomena, and as a body of knowledge that has resulted from inquiry “, Sains harus dipikir sebagai suatu cara berpikir dalam upaya memahami alam , sebagai suatu cara penyelidikan tentang gejala, dan sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang didapatkan dari proses penyelidikan.
Hakikat sains merupakan akumulasi dari content, process dan context. Content meliputi hal-hal yang berkaitan denga fakta, definisi, konsep, model, teori dan terminologi. Process berkaitan dengan keterampilan ataukegiatan untuk mendapatkan atau menemukan prinsip dan konsep. Context meliputi 3 hal yaitu i: ndividu, masyarakat, dan lingkungan sekitar. Sains dipandang sebagai a body of knowledge (sains sebagai sekumpulan ilmu), a way of thinking (sains sebagai cara berpikir), dan a way of investigating (sains sebagai cara penyelidikan). Secara singkat IPA atau sains merupakan kumpulan pengetahuan yang berkaitan dengan cara mencari tahu dan mendiskusikan alam.
Sains alam kehidupan, memiliki kegunaan di berbagai bidang. Kehidupan manusia yang selalu mengalami perubahan seiring perkembangan zaman, memerlukan banyak hal untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sesuai dengan pemahaman tersebut, sains memberikan kontribusi yang besar, pada beberapa sektor yang vital bagi manusia, antara lain: Bidang Pangan : ditemukannya berbagai jenis tumbuhan dan hewan varietas unggul, didapatkannya berbagai jenis makanan baru hasil pengolahan secara biologis, pengelolaan lingkungan dengan tanaman yang bermanfaat, ditemukannya berbagai jenis obat penyakit atau hama tanaman, cara penanaman, penyediaan pupuk , dan lain-lain. Salah satu contoh, pada saat ini kita sering mendapatkan buah-buahan hasil perkembangan teknologi melalui rekayasa genetika, yang mempunyai ciri atau sifat yang sudah berbeda dengan buah asalnya.
Bidang Sandang : dihasilkannya berbagai jenis bahan sandang yang diolah dari tanaman ( kapas, kulit tanaman/pohon), dari hewan ( sutera, wool). Pemanfaatan kulit tanaman pisang misalnya, sebagai bentuk perkembangan sains, memberikan peluang yang besar untuk pemanfaatan batang tanaman pisang. Hal ini dapat dilakukan dengan baik dengan tetap menjaga popolasi tanaman pisang tetap lestari. Kegiatan pengolahan pelepah batang pisang harus seimbang dengan regenerasi populasi tanaman tersebut, untuk menjaga terjadinya kepunahan. Bidang Papan : diubahnya beberapa daerah perairan menjadi lahan untuk memenuhi kebutuhan papan, seirama dengan pertambahan jumlah manusia.
Bidang Kesehatan atau Kedokteran : adanya peralatan yang serba canggih, penemuan berbagai jenis obat, rekayasa genetika, berbagai jenis pengobatan. Penemuan berbagai jenis obat untuk mengobati suatu penyakit, diusahakan tidak menimbulkan dampak negatif bagi pemakaipada sistem atau organ yang lain. Diharapkan juga tidak disalahgunakan untuk kepentingan yang bersifat negatif, yang berakibat merugikan manusia maupun lingkungan.
Bidang Astronomi : memperkirakan terjadinya fenomena-fenomena alam yang mungkin terjadi seperti gerhana matahari, gerhana bulan, atau bahkan kemungkinan terjadinya kehidupan pada planet lain. Dan masih banyak contoh lain yang merupakan bukti bahwa sains sangat penting
dan diperlukan dalam kehidupan manusia
Filsafat dan Perkembangan Sains
Perkembangan sains pada saat ini sangat nyata dan dapat kita rasakan. Perkembangan tersebut pada beberapa sisi sangat menguntungkan manusia. Manusia dimanjakan dengan berbagai hasil dari kemajuan sains, sehingga terbenuhi sebagian besar kebutuhannya. Perkembangan yang sangat pesat ini, seringkali tidak disadari membawa pengaruh yang bersifat negatif bagi manusia, yang mungkin merupakan awal dari kemusnahan manusia. Sains terbebas dari moral, yang dapat dimaknai bahwa baik buruknya hasil perkembangan sains, tidak tergantung dari sains, tetapi tergantung pada manusia. Manusia memegang peranan utama dalam pengendalian, pengaturan, pengarahan perkembangan sains. Oleh katena itu,manusia khususnya ilmuwan harus memegang teguh tiga komponen dalam sains dalam melakukan penelitian untuk mengembangkannya.
Filsafat sangat diperlukan kehadirannya pada saat perkembangan sains yang semakin menunjukkan spesialisasi keilmuannya. Para ilmuwan yang mengembangkan ilmu pengetahuan , dengan mendalami tentang filsafat diharapkan mampu memahami keterbatasan diri dan lingkungan, sehingga pemikiran dan tindakannya tidak terperangkap oleh arogansi intelektual yang dimiliki. Sikap keterbukaan sesama ilmuwan sangat diperlukan agar dapat saling menyapa, berkomunikasi, mengingatkan dan mengarahkan seluruh potensi ilmu yang dimilikinya untuk kepentingan umat manusia. Menurut Sulhatul Habibah, metode ilmiah dan sikap ilmiah yang harus dikembangkan oleh para ilmuwan mengandung tujuan sebagai berikut:
Melihat kenyataan tersebut, maka implikasi filsafat terhadap perkembangan sains memberikan pedoman bahwa;
Kenyataannya semua aktivitas ilmuwan tidak akan terlepas dari ilmu yang lain dan konteks kehidupan manusia, karena tidak ada ilmu yang dapat beridiri sendiri tanpa ilmu lain. Perkembangan sains dalam perjalanannya sangat membutuhkan dimensi etis dan estetika, yang terdapat dalam filsafat sebagai pertimbangan dan mempengaruhi proses perkembangan tersebut. Tanggung jawab etis menjadi sesuatu yang menyangkut kegiatan penelitian dan penggunaan hasilnya untuk kepentingan manusia. Ilmuwan dalam mengembangkan sains harus mempertimbangkan harkat, martabat dan kodrat manusia, menjaga keseimbangan dan kelestarian ekosistem, bertanggung jawab terhadap generasiyang akan datang, dan bersifat universal.
Tanggung jawab etis ini tidak hanya menyangkut upaya untuk memenuhi kepentingan manusia, tetapi terlebih untuk mengangkat harkat dan martabat manusia, sehingga semua yang dipikirkan dan dilakukan harus tepat dan benar, sehingga dapat memperkuat hubungan pribadi dengan sesama manusia sebagai makhluk sosial maupun sebagai bentuk tanggung jawab dirinya terhadap Allah Swt.
Kendali etis sangat diperlukan dalam pengembangan sains untuk mencegah degeneratif lebih lanjut. Dampak negatif perkembangan sains dapat diminimalisir atau bahkan mungkin dihilangkan. Hal ini akan dapat terwujud demi kehidupan manusia, jika ilmuwan memahami dan memegang teguh komponen sains dalam aktivitasnya, dan pengguna hasil penelitian dapat memahami penggunaannya, menghindari penggunaan yang tidak pada tempat yang seharusnya. Hubungan yang harmonis antara ilmuwan selaku peneliti dan manusia yang lain selaku pengguna hasil penelitian , sangatlah diperlukan, agar tujuan penelitian tetap pada lingkup yang benar.
Kesimpulan
Filsafat yang merupakan dasar dari semua ilmu yang ada pada saat ini, dengan kajian epistemolosi, ontologi, dan aksiologi sangat diperlukan dalam perkembangan sains. Berbekal pemahaman tentang filsafat seorang ilmuwan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar manusia, sehingga tidak terperangkap oleh metode khusus yang tidak lagi sesuai dengan ketentuan dan komponen sains. Ilmuwan dalam melakukan penelitian untuk mengembangkan sains , harus :
14.02 Filsafat Sebagai Landasan Ilmu dalam Pengembangan Sains
#
Filsafat merupakan cabang ilmu pengetahuan yang yang menyelidiki atau mengkaji tentang kebenaran yang sesungguhnya. Hal ini menunjukkan bahwa berfilsafat merupakan cara dan upaya dalam melaksanakan penyelidikan yang meliputi tentang apa, bagaimana, dan untuk apa, dalam konteks berpikir, yang apabila dikaitkan dengan terminologi
Filsafat tercakup dalam aspek berikut ini, yaitu; ontologi yang mengkaji tentang apa, epistemologi yang mengkaji tentang bagaimana, dan aksiologi yang mengungkapkan untuk apa sebuah ilmu dipelajari.
Filsafat dilihat dari aktivitasnya, merupakan cara berpikir yang mempunyai karakteristik tertentu. Hal ini dapat dipelajari berdasarkan pendapat para ahli berikut : (1) Sutan Takdir Alisjahbana (dalam Hamdani; 2011:72) : Syarat berpikir yang termasuk berfilsafat yaitu berpikir dengan teliti dan berpikir menurut aturan yang pasti. (2) Sidi Gazalba (1976,dalam Hamdani; 2011:73):
Ciri berfilsafat atau berpikir filsafat adalah radikal, sistematis dan universal. (3) Sudarto (1996,dalam Hamdani; 2011:73): Ciri berpikir filsafat meliputi : metodis, sistematis, koheren, rasional, komprehensif, radikal, universal.
Sejalan dengan pendapat para ahli tersebut, maka berfilsafat atau berpikir filsafat pada dasarnya merupakan cara berpikir yang mengacu pada kaidah-kaidah tertentu secara disiplin dan bersifat menyeluruh atau mendalam. Berpikir filsafat memerlukan latihan dan pembiasaan yang dilakukan secara terus-menerus sehingga dalam setiap pemikiran setiap permasalahan atau subtansi akan mendapatkan pencermatan yang mendalam untuk mencapai kebenaran jawaban, dengan cara yang benar sebagai bentuk kecintaan terhadap kebenaran.
Filsafat dalam kasusnya, memiliki dua objek kajian, yaitu objek materiil dan objek formil. Objek materiil merupakan objek yang secara wujudnya dapat digunakan sebagai bahan telaahan dalam berpikir filsafat, sedangkan objek formal dalam filsafat adalah objek yang menyangkut sudut pandang atau menggambarkan cara dan sifat berpikir dalam melihat objek materiil. Memahami filsafat dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan maupun sudut pandang. Pendekatan yang secara umum dimaksudkan adalah sudut pandang filsafat sebagai proses dan filsafat sebagai produk. Filsafat sebagai proses menggambarkan suatu cara atau metode berpikir sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir filsafat, sedangkan filsafat sebagai produk dapat dimaknai sebagai sekumpulan pemikiran dan pendapat yang dikemukakan oleh para filsuf. Melalui dua sudut pandang ini akan didapatkan pemahaman tentang filsafat yang sesungghnya.
Menurut Donny Gahral Adian (dalam Hamdani; 2011:71), terdapat 4 pendekatan dalam memahami filsafat diantaranya yaitu: (1) Pendekatan Definisi : Filsafat dipahami melalui pendapat yang dikemukakan oleh para ahli atau filsuf. Penelusuran asalkata menjadis sesuatu yang sangat penting karena kata filsafat pada dasarnya merupakan kristalisasi dari konsep-konsep yang terdapat dalam definisi tersebut. (2) Pendekatan Sistematika: Objek materiil filsafat adalah segala sesuatu yang ada dengan berbagai substansi dan tingkatan. Objek materiil dapat ditelaah dari berbagai sudut sesuai dengan fokus keterangan yang diinginkan atau diharapkan. Fokus telaahan yang mengacu pada objek formal akan melahirkan berbagai bidang kajian dalam filsafat yang menggambarkan sistematika filsafat. (3) Pendekatan Tokoh : Pada umumnya para filsuf jarang membahas secara tuntas seluruh wilayah dalam filsafat. Seorang filsuf biasanya akan membahas fokus utama dalam pemikiran filsafatnya. Seorang filsuf dengan pendekatan ini akan mendalami filsafat melalui penelaahan pada pemikiran-pemikiran yang dikemukakan oleh para filsuf, yang kadang memiliki kekhasan tersendiri, sehingga melahirkan aliran filsafat tertentu, yang berdeda dengan filsuf lainnya. Berdasarkan pemikiran tersebut, pendekatan tokoh sering juga dikenal dengan pendekatan aliran. (4) Pendekatan Sejarah: Pndekatan ini berusha mempelajari filsafat dengan melihat aspek sejarah dan perkembangan pemikiran filsafat dari waktu ke waktu dengan melihat kecenderungan-kecenderungan umum sesuai dengan semangat zamannya, kemudian dilakukan periodisasi untuk melihat perkembangan pemikiran filsafat secara kronologis
Hakikat Sains
Ilmu Pengetahuan Alam atau Sains sebagai salah satu ilmu yang berkembang dari filsafat ilmu, merupakan ilmu yang sangat diperlukan dalam kehidupan manusia. Pengertian sains menurut beberapa ahli antara lain : (1) Menurut Amien ( Windari; 2013) , IPA sebagai bidang ilmu ilmiah dengan ruang lingkup zat dan energi, baik yang terdapat pada makhluk hidup maupun tak hidup, lebih banyak mendiskusikan tentang alam (natural science) seperti fisika, kimia dan biologi, (2).Menurut Wahyana (Windiantari; 2012), IPA merupakan kumpulan ilmu pengetahuan yang tersususun secara sistematis dan dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam .Perkembangan IPA tidak hanya ditandai oleh adanya kumpulan fakta, tetapi juga adanya metode ilmiah dan sikap ilmiah, (3). Colle dan Chiapetta (1994), menyatakan bahwa “ science should viewed as a was of thinking in pursuit of understanding nature, as the way of investigation claim about fphenomena, and as a body of knowledge that has resulted from inquiry “, Sains harus dipikir sebagai suatu cara berpikir dalam upaya memahami alam , sebagai suatu cara penyelidikan tentang gejala, dan sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang didapatkan dari proses penyelidikan.
Hakikat sains merupakan akumulasi dari content, process dan context. Content meliputi hal-hal yang berkaitan denga fakta, definisi, konsep, model, teori dan terminologi. Process berkaitan dengan keterampilan ataukegiatan untuk mendapatkan atau menemukan prinsip dan konsep. Context meliputi 3 hal yaitu i: ndividu, masyarakat, dan lingkungan sekitar. Sains dipandang sebagai a body of knowledge (sains sebagai sekumpulan ilmu), a way of thinking (sains sebagai cara berpikir), dan a way of investigating (sains sebagai cara penyelidikan). Secara singkat IPA atau sains merupakan kumpulan pengetahuan yang berkaitan dengan cara mencari tahu dan mendiskusikan alam.
Melalui berbagai kegiatan atau penelitian yang dilakukan, manusia berusaha untuk dapat menjawab fenomena alam, mendapatkan kepuasan memenuhi kebutuhan hidup dan sekaligus menjaga alam semesta. Komponen dalam sains meliputi 3 bagian yaitu : (1) Sikap ilmiah antara lain : rasa ingin tahu, kerendahan hati, keterbukaan, jujur, teliti, cermat, disiplin, memisahkan antara fakta dengan pendapat, hati-hati, sabar. (2) Proses Ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan selama penelitian yang bersifat sistematis, konsisten, dan operasional . Hal ini ditunjukkan dengan langkah-langkah ilmiah yang dikenal dengan metode ilmiah. (3) Produk ilmiah meliputi fakta, konsep, prinsip, hukum dan teori. Produk ilmiah ini pada akhirnya diakui kebenarannya setelah dilakukan pengujian berulang-ulang. Komponen tersebut yang dilakukan para ilmuwan atau peneliti yang akhirnya mampu memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan fenomena alam sesuai dengan kenyataan.
Sains alam kehidupan, memiliki kegunaan di berbagai bidang. Kehidupan manusia yang selalu mengalami perubahan seiring perkembangan zaman, memerlukan banyak hal untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sesuai dengan pemahaman tersebut, sains memberikan kontribusi yang besar, pada beberapa sektor yang vital bagi manusia, antara lain: Bidang Pangan : ditemukannya berbagai jenis tumbuhan dan hewan varietas unggul, didapatkannya berbagai jenis makanan baru hasil pengolahan secara biologis, pengelolaan lingkungan dengan tanaman yang bermanfaat, ditemukannya berbagai jenis obat penyakit atau hama tanaman, cara penanaman, penyediaan pupuk , dan lain-lain. Salah satu contoh, pada saat ini kita sering mendapatkan buah-buahan hasil perkembangan teknologi melalui rekayasa genetika, yang mempunyai ciri atau sifat yang sudah berbeda dengan buah asalnya.
Buah semangka tanpa biji, merupakan contoh konkrit, yang mudah kita temukan. Biji pada suatu tanaman merupakan alat reproduksi secara generatif, sehingga apabila biji pada buah tersebut tidak lagi ditemukan, maka perkembangbiakan secara generatif juga tudak dapat dilakukan. Hal ini harus menjadi dasar pemikiran, agar ada pembatasan atau pengendalian pengadaan buah tanpa biji, sehingga perkembangan secara generatif tetap dapat berlangsung.
Bidang Sandang : dihasilkannya berbagai jenis bahan sandang yang diolah dari tanaman ( kapas, kulit tanaman/pohon), dari hewan ( sutera, wool). Pemanfaatan kulit tanaman pisang misalnya, sebagai bentuk perkembangan sains, memberikan peluang yang besar untuk pemanfaatan batang tanaman pisang. Hal ini dapat dilakukan dengan baik dengan tetap menjaga popolasi tanaman pisang tetap lestari. Kegiatan pengolahan pelepah batang pisang harus seimbang dengan regenerasi populasi tanaman tersebut, untuk menjaga terjadinya kepunahan. Bidang Papan : diubahnya beberapa daerah perairan menjadi lahan untuk memenuhi kebutuhan papan, seirama dengan pertambahan jumlah manusia.
Bidang Kesehatan atau Kedokteran : adanya peralatan yang serba canggih, penemuan berbagai jenis obat, rekayasa genetika, berbagai jenis pengobatan. Penemuan berbagai jenis obat untuk mengobati suatu penyakit, diusahakan tidak menimbulkan dampak negatif bagi pemakaipada sistem atau organ yang lain. Diharapkan juga tidak disalahgunakan untuk kepentingan yang bersifat negatif, yang berakibat merugikan manusia maupun lingkungan.
Bidang Astronomi : memperkirakan terjadinya fenomena-fenomena alam yang mungkin terjadi seperti gerhana matahari, gerhana bulan, atau bahkan kemungkinan terjadinya kehidupan pada planet lain. Dan masih banyak contoh lain yang merupakan bukti bahwa sains sangat penting
dan diperlukan dalam kehidupan manusia
Filsafat dan Perkembangan Sains
Perkembangan sains pada saat ini sangat nyata dan dapat kita rasakan. Perkembangan tersebut pada beberapa sisi sangat menguntungkan manusia. Manusia dimanjakan dengan berbagai hasil dari kemajuan sains, sehingga terbenuhi sebagian besar kebutuhannya. Perkembangan yang sangat pesat ini, seringkali tidak disadari membawa pengaruh yang bersifat negatif bagi manusia, yang mungkin merupakan awal dari kemusnahan manusia. Sains terbebas dari moral, yang dapat dimaknai bahwa baik buruknya hasil perkembangan sains, tidak tergantung dari sains, tetapi tergantung pada manusia. Manusia memegang peranan utama dalam pengendalian, pengaturan, pengarahan perkembangan sains. Oleh katena itu,manusia khususnya ilmuwan harus memegang teguh tiga komponen dalam sains dalam melakukan penelitian untuk mengembangkannya.
Filsafat sangat diperlukan kehadirannya pada saat perkembangan sains yang semakin menunjukkan spesialisasi keilmuannya. Para ilmuwan yang mengembangkan ilmu pengetahuan , dengan mendalami tentang filsafat diharapkan mampu memahami keterbatasan diri dan lingkungan, sehingga pemikiran dan tindakannya tidak terperangkap oleh arogansi intelektual yang dimiliki. Sikap keterbukaan sesama ilmuwan sangat diperlukan agar dapat saling menyapa, berkomunikasi, mengingatkan dan mengarahkan seluruh potensi ilmu yang dimilikinya untuk kepentingan umat manusia. Menurut Sulhatul Habibah, metode ilmiah dan sikap ilmiah yang harus dikembangkan oleh para ilmuwan mengandung tujuan sebagai berikut:
(1) Filsafat merupakan sarana pengujian penalaran ilmiah, sehingga orang menjadi kritis terhadap kegiatan ilmiah. Seorang ilmuwan harus memiliki sifat kritis terhadap bidang ilmunya sendiri, sehingga dapat menghindarkan diri dari sikap solipsistik, menganggap bahwa pendapatnya paling benar.
(2) Filsafat merupakan usaha merefleksi, menguji dan mengkritik, terhadap asumsi dan metode keilmuan. Kecenderungan yang terjadi di antara di kalangan ilmuwan modern adalah menerapkan metode ilmiah tanpa memperhatikan strutuk ilmu pengetahuannya. Satu sikap yang sangat diperlukan pada saat seperti sekarang ini adalah menerapkan metode ilmiah yang sesuai dengan aturan yang ditentukan, bukan sebaliknya sesuai dengan keinginan sendiri. Metode merupakan sarana berpikir bukan hakikat ilmu. (3) Filsafat memberikan landasan logis terhadap metode keilmuan. Setiap bentuk metode ilmiah yang dikembangkan harus dapat dipertanggungjawabkan secara logis-rasional, agar dapat dipahami dan digunakan secara umum. Semakin luas penerimaan dan penggunaan metode ilmiah, maka semakin valid metode tersebut. Penelitian yang benar-benar memenuhikaidan dan metode penelitian, akan berdampakpositif bagi ilmu tersebut.
Melihat kenyataan tersebut, maka implikasi filsafat terhadap perkembangan sains memberikan pedoman bahwa;
Pertama, seorang ilmuwan harus memahami pengetahuan dasar yang memadai tentang sains secara mendalam sehingga memiliki landasan berpijak yang kuat. Berbekal pemahaman yang ini maka ilmuwan akan melakukan penelitian dan penyelidikan untuk mengembangkan sains, dengan tetap pada jalur yang benar. Penelitian yang dilakukan berdasarkan pemikiran logis, prosedur yang benar, diharapkan mampu memberikan hasil yang berkontribusi positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan tersebut dan bermanfaat bagi manusia.
Kedua, Ilmuwan harus memahami ilmu lain yang terkait dengan sains, sehingga mampu mengkaitkan satu sama lain untuk saling mendukung demi perkembangan sains dan ilmu yang lain. Perkembangan suatu ilmu akan didukung oleh ilmu lain yang saling berkaitan.Perkembangan sains tentu memerlukan ilmulain misal: agama, sosial, geografi, matematika dan lainnya.
Ketiga, Ilmuwan harus menyadari akan pentingnya sikap ilmiah yang menjadi komponen dalam sains, agar tidak terjebak dalam suatu pemikiran bahwa pendapat dan pemikiran diri sendiri yang paling benar, tanpa mempertimbangkan kenyataan yang ada maupun keberadaan ilmu lain.
Kenyataannya semua aktivitas ilmuwan tidak akan terlepas dari ilmu yang lain dan konteks kehidupan manusia, karena tidak ada ilmu yang dapat beridiri sendiri tanpa ilmu lain. Perkembangan sains dalam perjalanannya sangat membutuhkan dimensi etis dan estetika, yang terdapat dalam filsafat sebagai pertimbangan dan mempengaruhi proses perkembangan tersebut. Tanggung jawab etis menjadi sesuatu yang menyangkut kegiatan penelitian dan penggunaan hasilnya untuk kepentingan manusia. Ilmuwan dalam mengembangkan sains harus mempertimbangkan harkat, martabat dan kodrat manusia, menjaga keseimbangan dan kelestarian ekosistem, bertanggung jawab terhadap generasiyang akan datang, dan bersifat universal.
Tanggung jawab etis ini tidak hanya menyangkut upaya untuk memenuhi kepentingan manusia, tetapi terlebih untuk mengangkat harkat dan martabat manusia, sehingga semua yang dipikirkan dan dilakukan harus tepat dan benar, sehingga dapat memperkuat hubungan pribadi dengan sesama manusia sebagai makhluk sosial maupun sebagai bentuk tanggung jawab dirinya terhadap Allah Swt.
Kendali etis sangat diperlukan dalam pengembangan sains untuk mencegah degeneratif lebih lanjut. Dampak negatif perkembangan sains dapat diminimalisir atau bahkan mungkin dihilangkan. Hal ini akan dapat terwujud demi kehidupan manusia, jika ilmuwan memahami dan memegang teguh komponen sains dalam aktivitasnya, dan pengguna hasil penelitian dapat memahami penggunaannya, menghindari penggunaan yang tidak pada tempat yang seharusnya. Hubungan yang harmonis antara ilmuwan selaku peneliti dan manusia yang lain selaku pengguna hasil penelitian , sangatlah diperlukan, agar tujuan penelitian tetap pada lingkup yang benar.
Kesimpulan
Filsafat yang merupakan dasar dari semua ilmu yang ada pada saat ini, dengan kajian epistemolosi, ontologi, dan aksiologi sangat diperlukan dalam perkembangan sains. Berbekal pemahaman tentang filsafat seorang ilmuwan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar manusia, sehingga tidak terperangkap oleh metode khusus yang tidak lagi sesuai dengan ketentuan dan komponen sains. Ilmuwan dalam melakukan penelitian untuk mengembangkan sains , harus :
1) menguasai pengetahuan dasar tentang sains sebagai ilmu penegetahuan bidang garapannya,
2) memahami keterkaitan ilmu sains dengan ilmu-ilmu yang lain,
3). memahami dengan sepenuhnya bahwa sikap ilmiah merupakan komponen dalam sains yang harus dipatuhi. Filsafat yang meliputi epistemologi, metafisika, logika, estetika dan etika akan membantu manusia khususnya ilmuwan dalam mengembangkan sains, agar tetap mengutamakan tanggung jawabnya untuk memenuhi kepentingan manusia tanpa memberikan dampak negatif bagi manusia maupun lingkungan, sekaligus bentuk pertanggungjawaban atas aktivitasnya kepada Sang Khalik.
Materi Kuliah:
