Selasa, 25 Agustus 2026
Tugas Final Bisnis Digital
Soal Latihan Final Praktikum Bisnis Digital
Edisi Gen-Z: Belajar Sambil Ngonten
Lengkap dengan langkah pengerjaan dan contoh jawaban
Modul 1: Analisis Model Bisnis Digital
Studi Kasus: "War" Live Shopping
Kamu adalah analis bisnis yang diminta membandingkan strategi live shopping antara TikTok Shop, Shopee Live, dan Instagram Live Shopping.
Tugas:
- Pilih satu produk (skincare, fashion, atau makanan/snack) dan amati satu sesi live shopping dari masing-masing platform (boleh via rekaman/video arsip).
- Bandingkan: gimmick host, teknik "checkout FOMO" (flash sale, countdown, limited stock), dan cara interaksi dengan penonton.
- Buat tabel perbandingan (minimal 5 aspek) lalu simpulkan platform mana yang paling efektif "menjual" dan kenapa.
Deliverable: Laporan 1-2 halaman plus screenshot pendukung.
Langkah Praktik
- Buka TikTok Shop, Shopee Live, dan Instagram Live secara bergantian. Cari kata kunci produk yang sama, misalnya "skincare local brand".
- Tonton masing-masing minimal 5-10 menit, catat jam tayang, jumlah penonton real-time, dan kalimat yang diulang host untuk mendorong checkout.
- Screenshot momen kunci: harga coret, timer flash sale, jumlah keranjang kuning terjual.
- Susun tabel perbandingan di Word atau Google Docs dengan kolom: Aspek, TikTok Shop, Shopee Live, Instagram Live.
- Tulis 1 paragraf kesimpulan di akhir laporan.
Contoh Jawaban (Kunci Penilaian)
| Aspek | TikTok Shop | Shopee Live | Instagram Live |
|---|---|---|---|
| Gimmick host | Interaktif, banyak candaan, respon komentar cepat | Fokus demo produk, agak formal | Storytelling, dekat dengan followers |
| Teknik FOMO | Countdown timer plus voucher kejutan | Flash sale terjadwal plus stok terbatas | Diskon khusus yang nonton sekarang |
| Interaksi | Reply komentar real-time, game tebak-tebakan | Polling dan tanya jawab | DM dan komentar personal |
| Kemudahan checkout | 1 klik dalam app | 1 klik dalam app | Harus swipe ke link atau DM |
| Algoritma distribusi | Sangat mendukung, lewat FYP | Sedang | Terbatas ke followers |
Contoh kesimpulan: TikTok Shop cenderung paling efektif karena kombinasi distribusi algoritmik (FYP) dan proses checkout yang mulus, sehingga impulse buying lebih tinggi dibanding platform lain.
Nilai penuh diberikan bila mahasiswa menyertakan data riil dari pengamatan sendiri, bukan hanya menyalin tabel ini.
Modul 2: Bikin Strategi Konten Digital Marketing
Brief Klien Fiktif:
"Halo, aku owner brand minuman kekinian "Boba Bestie". Target market aku Gen-Z usia 18-24. Aku mau naikin awareness lewat TikTok dan Instagram Reels, budget promosi Rp2.000.000 per bulan."
Tugas:
- Tentukan 3 pilar konten (misalnya edukasi, hiburan, behind-the-scenes) lengkap dengan contoh judul atau hook untuk 5 video.
- Rancang kalender konten 2 minggu (posting schedule, platform, dan format: Reels, TikTok, atau Carousel).
- Alokasikan budget Rp2.000.000 tersebut ke ads atau endorse micro-influencer, dengan justifikasi.
Deliverable: Content plan dalam bentuk tabel plus mockup 1 caption lengkap dengan hashtag.
Langkah Praktik
- Riset tren audio dan format Reels/TikTok yang sedang naik di niche F&B, gunakan tab Discover atau Explore.
- Brainstorm 3 pilar konten, lalu turunkan masing-masing jadi minimal 1-2 judul video konkret.
- Buat kalender di spreadsheet dengan kolom: tanggal, pilar, judul/hook, platform, format, CTA.
- Hitung alokasi budget, bandingkan biaya endorse 1 micro-influencer (sekitar 50rb-100rb followers) dengan boost ads di TikTok/Instagram, pilih kombinasi paling efisien.
- Tulis 1 contoh caption lengkap untuk salah satu video di kalender.
Contoh Jawaban (Kunci Penilaian)
3 Pilar Konten:
- Edukasi - "3 Fakta Boba yang Jarang Kamu Tau"
- Hiburan - "POV: Kamu Anak Boba Sejati Kalau..."
- Behind-the-scenes - "Proses Bikin Bubble dari Nol"
Contoh alokasi budget Rp2.000.000:
- Rp1.200.000 untuk endorse 2 nano-influencer kampus (followers 3rb-8rb) sesuai niche kuliner lokal.
- Rp800.000 untuk boost ads TikTok pada video dengan performa organik terbaik di minggu pertama.
Contoh caption:
"POV: kamu udah nyoba semua boba di kota tapi baru nemu yang bikin nagih. Boba Bestie, teman ngerjain tugas paling ngerti. Cobain varian best seller kami minggu ini, DM "BESTIE" buat promo spesial! #BobaBestie #MinumanKekinian #NgabubuBoba"
Poin utama ada di logika alokasi budget (bukan sekadar dibagi rata) dan relevansi hook dengan gaya bahasa Gen-Z yang natural, bukan kaku.
Modul 3: Simulasi Jualan Online dari Nol
Skenario: Kamu punya modal Rp500.000 dan ingin memulai bisnis dropship atau reseller di marketplace pilihanmu (Shopee, Tokopedia, atau TikTok Shop).
Tugas:
- Riset 3 produk kandidat menggunakan fitur trending/terlaris di marketplace pilihan. Sertakan data harga modal vs harga jual kompetitor.
- Buat listing produk lengkap: judul SEO-friendly, deskripsi, dan 3 keyword pencarian yang relevan.
- Hitung proyeksi BEP (Break Even Point) sederhana: berapa unit harus terjual agar modal balik?
Deliverable: Mock listing (boleh screenshot draft di aplikasi) plus perhitungan BEP.
Langkah Praktik
- Buka marketplace pilihan, cek kategori Terlaris/Trending untuk cari 3 kandidat produk yang punya permintaan tinggi tapi kompetisi belum terlalu jenuh.
- Bandingkan harga supplier (cek di 1688 atau aplikasi supplier dropship) dengan harga jual kompetitor di marketplace.
- Tulis judul listing dengan pola: [Nama Produk] + [Keunggulan] + [Kata Kunci Pencarian], contoh "Case HP Silikon Anti Pecah Motif Y2K".
- Hitung BEP dengan rumus: BEP (unit) = Biaya Tetap dibagi (Harga Jual dikurangi Harga Modal per unit).
- Simulasikan draft listing di aplikasi (boleh disimpan sebagai draft, tidak perlu dipublikasikan).
Contoh Jawaban (Kunci Penilaian)
Contoh produk: Case HP motif Y2K, modal Rp15.000 per unit, dijual Rp35.000 per unit.
Biaya tetap (kuota, biaya desain, dll) misalnya Rp200.000.
BEP = Rp200.000 dibagi (Rp35.000 - Rp15.000) = Rp200.000 dibagi Rp20.000 = 10 unit.
Artinya modal balik setelah terjual 10 unit case HP.
Contoh keyword: "case hp y2k", "case anti pecah motif retro", "case hp kekinian murah".
Yang dinilai bukan angka persisnya (karena tiap mahasiswa beda produk), tapi ketepatan rumus BEP dan kelogisan riset harga modal vs jual.
Modul 4: Personal Branding dan Jadi Nano-Influencer
Tantangan: Banyak Gen-Z memulai karier digital lewat personal branding sebelum jualan produk.
Tugas:
- Tentukan niche personal branding-mu (contoh: study tips, thrifting, review kuliner kampus).
- Buat bio Instagram/TikTok yang persuasif (maksimal 150 karakter) plus 3 ide konten pembuka yang bisa viral.
- Jelaskan strategi kolaborasi dengan 1 brand lokal seandainya followers-mu sudah mencapai 5.000 - apa yang kamu tawarkan dan berapa rate card wajar untuk nano-influencer di Indonesia (boleh riset singkat)?
Deliverable: Draft bio plus storyboard 1 video pendek (per scene).
Langkah Praktik
- Pilih niche berdasarkan sesuatu yang kamu benar-benar kuasai atau senangi, biar konsisten posting.
- Tulis bio dengan struktur: siapa kamu, value yang kamu kasih, dan CTA singkat.
- Buat storyboard sederhana dalam tabel: Scene, Visual, Voice-over/Teks, Durasi.
- Cari referensi rate card nano-influencer Indonesia lewat pencarian singkat (biasanya berkisar ratusan ribu rupiah untuk 1 post/video, tergantung engagement).
Contoh Jawaban (Kunci Penilaian)
Contoh bio:
"Sharing tips kuliah anti stres. Rekomendasi jajan kampus terenak. DM buat kolab!"
3 ide konten pembuka:
- "3 Tempat Makan Kampus di Bawah 15rb yang Wajib Dicoba"
- "Rutinitas Belajar 2 Jam Sebelum UAS yang Beneran Works"
- "Barang Wajib Anak Kos yang Baru Nyadar Pas Semester 3"
Contoh strategi kolaborasi: Menawarkan paket 1 video review plus 2 story highlight ke brand F&B lokal, dengan rate card sekitar Rp150.000-Rp300.000 per konten untuk followers 5.000 dengan engagement rate di atas 3%.
Fokus penilaian pada konsistensi niche dan kelayakan rate card, jangan asal pasang angka tinggi tanpa dasar engagement.
Modul 5: Baca Data, Jangan Cuma Baca Vibes
Studi Kasus Angka: Akun bisnis kamu bulan ini punya data berikut:
- Followers: 10.000, naik 5% dari bulan lalu
- Reach rata-rata per post: 8.000
- Engagement rate: 2,1%
- Klik ke link bio: 320
- Konversi jadi pembeli: 12 orang
Tugas:
- Hitung conversion rate dari klik-ke-pembeli, dan bandingkan apakah termasuk sehat untuk industri e-commerce (cari benchmark umum via riset singkat).
- Identifikasi di tahap funnel mana (awareness, interest, konversi) bisnis ini paling lemah.
- Berikan 2 rekomendasi konkret untuk memperbaiki titik lemah tersebut.
Deliverable: Analisis singkat dalam bentuk poin-poin plus 1 grafik/funnel visual sederhana.
Langkah Praktik
- Hitung rumus: Conversion Rate = (Jumlah Pembeli dibagi Jumlah Klik) dikali 100%.
- Bandingkan hasilnya dengan rata-rata industri e-commerce (umumnya sekitar 1-3%, tergantung sumber riset).
- Gambar funnel sederhana: Reach menuju Klik menuju Pembeli, lalu lihat di titik mana penurunan (drop-off) paling besar terjadi.
- Susun rekomendasi berdasarkan titik lemah tersebut. Jika drop-off besar di reach ke klik, perbaiki CTA; jika di klik ke beli, perbaiki landing page atau harga.
Contoh Jawaban (Kunci Penilaian)
Conversion rate = (12 dibagi 320) dikali 100% = 3,75% - tergolong cukup sehat, bahkan di atas rata-rata industri (1-3%).
Namun titik lemah justru di tahap reach ke klik: dari 8.000 reach hanya 320 yang klik ke link bio (rasio klik hanya 4%), menandakan CTA kurang kuat atau link bio kurang menarik perhatian.
Rekomendasi 1: Perjelas CTA di setiap post, misalnya "klik link di bio buat cek promo hari ini", agar audiens lebih terdorong klik.
Rekomendasi 2: Gunakan tools link-in-bio yang lebih menarik (misalnya Linktree dengan preview produk) agar rasio klik naik.
Yang dinilai adalah ketepatan rumus dan logika funnel, bukan hanya angka akhir.
Modul 6: Business Model Canvas ala UMKM Digital
Pilih satu UMKM lokal di sekitarmu (warung, laundry, jasa desain, dan lain-lain) yang belum go digital.
Tugas:
- Petakan 9 elemen Business Model Canvas versi digitalnya, misalnya channel-nya lewat WhatsApp Business dan Instagram.
- Usulkan 1 fitur digital yang bisa langsung diterapkan minggu ini tanpa biaya besar, contoh katalog di WhatsApp, QRIS, atau highlight Instagram.
- Presentasikan dalam 3 slide singkat (boleh dibuat di Canva atau PowerPoint).
Deliverable: File BMC plus 3 slide presentasi.
Langkah Praktik
- Wawancarai singkat pemilik UMKM (atau amati langsung) untuk memahami cara mereka jualan saat ini.
- Isi 9 kotak BMC satu per satu: Customer Segments, Value Proposition, Channels, Customer Relationships, Revenue Streams, Key Resources, Key Activities, Key Partnerships, Cost Structure, versi digital.
- Pilih 1 fitur digital termudah untuk diterapkan minggu ini, prioritaskan yang gratis atau murah.
- Susun 3 slide: profil UMKM dan masalah, BMC digital, dan rekomendasi fitur beserta cara menerapkannya.
Contoh Jawaban (Kunci Penilaian)
Contoh UMKM: Warung nasi Padang dekat kampus.
- Customer Segments: Mahasiswa dan pekerja kantoran sekitar kampus
- Value Proposition: Nasi Padang cepat saji, harga bersahabat
- Channels (digital): WhatsApp Business, GoFood/GrabFood, story Instagram harian
- Revenue Streams: Penjualan langsung plus delivery
Fitur digital yang diusulkan: Buat katalog menu di WhatsApp Business Catalog dan aktifkan QRIS agar pembayaran lebih cepat, tanpa biaya tambahan berarti.
Fokus pada relevansi solusi dengan kondisi UMKM riil, bukan solusi generik yang tidak sesuai skala usaha kecil.
Modul 7: Etika dan Perlindungan Konsumen Digital
Diskusi Kasus: Sebuah online shop ketahuan menggunakan "fake urgency" (tulisan "stok tinggal 2!" padahal stok masih banyak) dan review palsu untuk mendongkrak penjualan.
Tugas:
- Identifikasi pelanggaran etika bisnis digital apa saja yang terjadi, kaitkan dengan UU ITE atau UU Perlindungan Konsumen (riset singkat).
- Diskusikan dampak jangka panjang praktik ini terhadap kepercayaan konsumen Gen-Z, yang notabene mudah cross-check review di media sosial.
- Usulkan 3 praktik jualan online yang etis tapi tetap persuasif.
Deliverable: Esai reflektif 300-400 kata.
Langkah Praktik
- Cari referensi singkat mengenai UU Perlindungan Konsumen (UU No. 8/1999) dan UU ITE terkait informasi menyesatkan dalam transaksi elektronik.
- Buat outline esai: paragraf 1 identifikasi masalah dan dasar hukum, paragraf 2 dampak ke kepercayaan konsumen, paragraf 3 rekomendasi praktik etis.
- Tulis esai dengan bahasa reflektif, boleh sertakan opini pribadi berdasarkan pengalaman sebagai konsumen digital.
Contoh Jawaban (Poin Inti, Bukan Esai Penuh)
Pelanggaran: Fake urgency dan review palsu berpotensi melanggar UU Perlindungan Konsumen terkait informasi yang tidak benar atau menyesatkan, serta prinsip itikad baik dalam transaksi elektronik menurut UU ITE.
Dampak: Gen-Z cenderung cepat mengecek ulang lewat review independen atau TikTok/Twitter; jika ketahuan menipu, reputasi brand rusak lebih cepat karena viral secara sosial.
3 praktik etis alternatif:
- Tampilkan stok asli, tapi highlight kelebihan produk
- Gunakan testimoni asli dengan bukti (foto/video pembeli)
- Buat urgency yang jujur, seperti "promo berakhir tanggal tertentu" bukan klaim stok palsu
Esai dinilai dari kedalaman argumen dan keterkaitan dengan dasar hukum/etika, bukan sekadar opini tanpa dasar.
Bonus Challenge (Opsional, Poin Tambahan)
Buat 1 video pendek (30-60 detik) mempromosikan produk fiktif kelompokmu sendiri, lengkap dengan hook 3 detik pertama yang catchy. Upload sebagai draft (tidak perlu publish ke publik) dan kumpulkan link Google Drive/file-nya.
Kriteria penilaian: Kekuatan hook 3 detik pertama, kejelasan CTA di akhir video, dan konsistensi gaya bahasa dengan target audiens Gen-Z.
Catatan untuk pengumpulan: setiap modul boleh dikerjakan individu atau kelompok (maksimal 3 orang), disesuaikan kebijakan dosen pengampu. Contoh jawaban di atas adalah acuan penilaian (rubrik), bukan jawaban tunggal yang harus disalin persis - mahasiswa tetap didorong berkreasi sesuai riset dan konteks masing-masing.
Tugas Final Bisnis Digital
PREV:
