Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
☰
  • Home
  • Opini
  • Kuliah ▼
  • Publikasi ▼
  • SINTA
  • Scholar
  • About Me
  • Labuhan Batu
  • Login

View : 250 kali.

Bagikan:
Home > Opinion   Kategori: Iman dan Spiritualitas
Rabu, 04 Maret 2026

Bukan Karena Roh Kudus Pergi, Tetapi Karena Manusia Berhenti Mendengar

ilustrasi refleksi rohani tentang manusia yang berhenti mendengar suara Roh Kudus
ilustrasi refleksi rohani tentang manusia yang berhenti mendengar suara Roh Kudus

Oleh: Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom

Dunia bukan semakin gelap karena Roh Kudus pergi.
Dunia gelap karena manusia berhenti mendengar suara-Nya.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh kekerasan, ketidakadilan, dan krisis moral, tidak sedikit orang Kristen yang mengucapkan kalimat ini dengan nada pasrah: "Mungkin Roh Kudus sudah ditarik dari bumi.”
Kalimat tersebut terdengar rohani, tetapi jika ditelaah lebih dalam, justru menyimpan persoalan teologis yang serius.

Benarkah dunia semakin gelap karena Roh Kudus pergi?
Ataukah kegelapan itu muncul karena manusia, termasuk umat beriman, tidak lagi mau mendengar suara-Nya?

Baca Juga:
  • KHOTBAH SANGKAKALA KE-5 (Untuk Remaja): Jangan Terjebak Dalam Asap Dunia

Sejak awal Alkitab, Roh Kudus digambarkan bukan sebagai Pribadi yang mundur ketika keadaan memburuk. Dalam Kejadian 1:2, Roh Allah justru hadir di tengah kekacauan. Artinya, kekacauan bukan alasan bagi Roh Kudus untuk pergi; sebaliknya, Ia bekerja justru di situasi yang paling tidak tertata.

Yesus sendiri menegaskan bahwa Roh Kudus akan menyertai orang percaya selama-lamanya (Yohanes 14:16). Pernyataan ini penting, sebab menegaskan bahwa kehadiran Roh Kudus tidak bergantung pada stabilitas dunia, kekuatan politik, atau kemajuan moral manusia. Jika Roh Kudus adalah Allah, maka Ia bukan Pribadi yang meninggalkan ciptaan-Nya hanya karena dunia menjadi semakin rusak.

Namun, mengapa realitas yang kita lihat hari ini seolah menunjukkan sebaliknya? Kejahatan meningkat, kebenaran dipermainkan, dan iman banyak orang menjadi dingin. Di sinilah letak kekeliruan kita dalam membaca tanda zaman. Dunia bukan menjadi gelap karena Roh Kudus pergi, melainkan karena manusia menolak terang.

Yesus pernah berkata bahwa terang telah datang ke dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan. Bukan karena terang itu redup, melainkan karena mata yang sengaja dipejamkan. Dalam konteks ini, Roh Kudus tidak berhenti berbicara; manusialah yang berhenti mendengar.

Ayat dalam 2 Tesalonika 2:6—7 sering ditafsirkan sebagai bukti bahwa Roh Kudus akan "ditarik” dari bumi pada akhir zaman. Padahal teks tersebut tidak pernah secara eksplisit menyatakan bahwa Roh Kudus lenyap dari dunia. Yang berubah adalah fungsi penahanan terhadap kejahatan, bukan kehadiran Allah sendiri. Kejahatan dilepaskan bukan karena Allah pergi, melainkan karena manusia memilih untuk berjalan tanpa ketaatan.

Ironisnya, di titik inilah gereja kerap terjebak pada sikap menyalahkan zaman. Ketika iman melemah, kita berkata: "Sekarang berbeda, Roh Kudus tidak seperti dulu.” Padahal pertanyaan yang lebih jujur seharusnya adalah: apakah kita masih menyediakan ruang bagi Roh Kudus untuk berbicara?

Roh Kudus tidak bekerja di tengah kebisingan hati yang keras, kesombongan rohani, dan iman yang hanya bersifat simbolik. Ia lembut, tetapi bukan lemah. Ia setia, tetapi tidak memaksa. Ketika suara-Nya diabaikan terus-menerus, yang tersisa bukanlah ketiadaan Roh, melainkan kekosongan makna iman.

Menariknya, bahkan di bagian penutup Alkitab, Roh Kudus masih digambarkan aktif memanggil manusia. Dalam Wahyu 22:17, Roh dan mempelai perempuan berseru: "Marilah!” Ini bukan suara Roh yang kelelahan, apalagi Roh yang hendak meninggalkan dunia, melainkan Roh yang terus mengundang, bahkan di saat akhir.

Karena itu, persoalan utama zaman ini bukanlah absennya Roh Kudus, melainkan hilangnya kepekaan rohani manusia. Dunia tidak kekurangan hadirat Allah; dunia kekurangan hati yang mau taat.

Maka panggilan gereja hari ini bukanlah menunggu Roh Kudus "kembali”, melainkan bertobat, merendahkan diri, dan kembali belajar mendengar. Sebab kegelapan terbesar bukan terjadi saat Roh Kudus pergi, tetapi saat manusia berkata: "Aku tidak perlu mendengar-Nya lagi.”

---

Murdan Sianturi
Penulis adalah dosen bidang akuntansi dan sistem informasi, pemerhati teologi Kristen, serta aktif menulis refleksi iman, pendidikan, dan isu-isu sosial dari perspektif Alkitab.
Website :  https://murdansianturi.com 



Bukan Karena Roh Kudus Pergi, Tetapi Karena Manusia Berhenti Mendengar








NEXT:

Elam, Iran, dan Cara Membaca Gejolak Dunia


PREV:

Penutupan Selat Hormuz: Skenenario Terburuk vs Skenario Realistis

NEXT:

Elam, Iran, dan Cara Membaca Gejolak Dunia


PREV:

Penutupan Selat Hormuz: Skenenario Terburuk vs Skenario Realistis

Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom., adalah dosen dan penulis opini yang mengajar Bisnis Digital dan Akuntansi di STIE Mulia Pratama Bekasi. Ia aktif menulis tentang teknologi, perubahan sosial, geopolitik, dan refleksi iman di tengah dinamika dunia modern.
About me selengkapnya...




Iman dan Spiritualitas :
  • KHOTBAH SANGKAKALA KE-5 (Untuk Remaja): Jangan Terjebak Dalam Asap Dunia
  • ALIEN Menurut Alkitab: Benarkah Ada Makhluk Selain Manusia?
  • Bukan Karena Roh Kudus Pergi, Tetapi Karena Manusia Berhenti Mendengar
  • Saat Dunia Terguncang oleh RAPTURE
  • Nikki Glaser: The Comedian Who Made `God Angry` and Burned `Los Angeles`
  • Some conspiracy theories the causes of wildfires in Los Angeles
  • The comparison between Sodom Gomorrah and Los Angeles

Pencarian E-DDC 23
Electronic Dewey Decimal Classification untuk Perpustakaan