Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
☰
  • Home
  • Opini
  • Kuliah ▼
  • Publikasi ▼
  • SINTA
  • Scholar
  • About Me
  • Labuhan Batu
  • Login

View : 33 kali.

Bagikan:
Home > Opinion   Kategori: Seputar Perkebunan Teh
Jumat, 03 Juli 2026

Cara Memulihkan Pohon Teh Setelah Petik Mesin agar Produktif Kembali

Pohon teh yang mengalami penurunan produktivitas akibat petik mesin dan proses pemulihan melalui corrective skiff serta perawatan intensif.
Pohon teh yang mengalami penurunan produktivitas akibat petik mesin dan proses pemulihan melalui corrective skiff serta perawatan intensif.

Pertanyaan:
Persoalan yang sering terjadi. Ketika teh di pangkas dengan mesin, maka dapat dipastikan tidak tumbuh lagi pucuk. Atau akan sangat lama tumbuh pucuk. Menjadi tidak produktif. Apakah solusinya harus selalu dipangkas lalu menunggu berbulan bulan pucuk? Atau adakah hasil penelitian yang memberikan cara memulihkan pohon teh yang rusak karena petik mesin ini?

Jawaban:
Pertanyaan yang sangat menarik, bro. Ini memang salah satu persoalan besar di perkebunan teh modern. Banyak penelitian di India, Sri Lanka, Kenya, China, dan Indonesia membahas dampak pemetikan mesin terhadap produktivitas teh.

Mengapa petik mesin bisa merusak tanaman?

Camellia sinensis menghasilkan pucuk baru dari tunas aksiler (mata tunas) yang berada tepat di bawah daun.

Pada petik manual:
  • pemetik memilih pucuk "pekoe + 2 daun",
  • mata tunas tetap utuh,
  • beberapa hari kemudian muncul pucuk baru.
Sedangkan petik mesin sering:
  • memotong terlalu dalam,
  • merusak mata tunas,
  • memotong cabang-cabang muda,
  • menghasilkan luka yang tidak rata.
Akibatnya:
  • tunas baru sedikit,
  • percabangan menjadi kasar,
  • permukaan petikan ("plucking table") menjadi tidak rata,
  • tanaman membutuhkan energi besar untuk membentuk cabang baru.
Karena itulah setelah beberapa tahun petik mesin, hasil panen biasanya menurun.

Apakah harus dipangkas total?


Tidak selalu.

Di perkebunan besar dikenal beberapa tingkat pemangkasan.
  • Light Skiff
  • hanya meratakan permukaan petik.
  • Medium Skiff
  • membuang ranting-ranting tua.
  • Deep Skiff
  • lebih dalam tetapi tidak sampai pangkas berat.
  • Pruning
  • pangkas berat untuk membentuk kerangka baru.
Idealnya tidak langsung melakukan pangkas berat setiap kali produktivitas turun.

Hasil penelitian menunjukkan apa?

Banyak penelitian menunjukkan bahwa tanaman yang rusak karena petik mesin masih bisa dipulihkan tanpa langsung dipangkas habis.

Beberapa teknik yang terbukti membantu antara lain:

1. Recovery period


Ini yang paling sering dilakukan.

Petik dihentikan sekitar:
  • 4 minggu
  • 6 minggu
  • bahkan 8 minggu
Supaya tanaman mengumpulkan cadangan karbohidrat.

Sesudah itu baru dilakukan petikan ringan.

2. corrective skiff

Daripada dipangkas sampai batang tua,

permukaan tanaman hanya diratakan sekitar 3-5 cm di bawah bidang petik.

Hasilnya:
  • banyak tunas baru muncul,
  • kehilangan produksi lebih kecil dibanding pangkas total.

3. Pemupukan tinggi nitrogen

Sesudah corrective skiff biasanya diberikan:
  • Nitrogen lebih tinggi
  • Kalium
  • Magnesium
Karena tunas baru memerlukan nitrogen cukup besar.

4. Irigasi

Tanaman yang kekurangan air akan jauh lebih lambat membentuk pucuk.

Bahkan penelitian menunjukkan air sering lebih menentukan dibanding pupuk.

5. Zat Pengatur Tumbuh (ZPT)

Beberapa penelitian mencoba:
  • sitokinin,
  • giberelin,
  • ekstrak rumput laut (seaweed extract).
Hasilnya cukup baik pada beberapa lokasi, tetapi belum menjadi standar karena efektivitasnya bergantung pada varietas, kondisi tanah, dan iklim.

Ada penelitian yang menarik

Di Kenya dan India ditemukan bahwa:
tanaman teh yang dipetik mesin selama bertahun-tahun tetap bisa produktif apabila setiap beberapa tahun dilakukan rejuvenation skiff, bukan selalu pangkas berat.

Jadi bukan siklus:
petik → rusak → pangkas → kehilangan produksi 1 tahun

melainkan:
petik → corrective skiff → pemupukan → recovery → petik lagi

Siklus ini mengurangi kehilangan hasil secara signifikan.

Bagaimana kalau tanaman sudah benar-benar "mati pucuk"?

Kalau kondisi seperti ini:
  • permukaan petik sudah keras,
  • cabang tua mendominasi,
  • mata tunas hampir habis,
maka memang sulit menghindari pruning/rejuvenation pruning. Tanaman membutuhkan pembentukan kerangka baru agar kembali menghasilkan pucuk yang sehat.

Menurut saya masih ada peluang penelitian baru

Saya justru melihat ada celah riset yang sangat menarik, khususnya jika dikaitkan dengan latar belakang Anda di bidang sistem informasi dan akuntansi yang juga sering terlibat dalam penelitian terapan.

Pertanyaan risetnya bisa berupa:
Bagaimana mempercepat pemulihan tanaman teh setelah pemetikan mesin tanpa kehilangan produksi yang panjang?

Beberapa kombinasi yang layak diuji antara lain:
  • corrective skiff dibanding pangkas berat,
  • aplikasi pupuk nitrogen bertahap,
  • pemberian biostimulan (misalnya ekstrak rumput laut atau asam amino),
  • inokulasi mikroba menguntungkan di daerah perakaran,
  • penggunaan sensor atau citra drone untuk mendeteksi kapan tanaman siap dipetik kembali.
Jika kombinasi tersebut mampu mempercepat keluarnya pucuk baru sekaligus mempertahankan hasil, dampaknya bisa sangat besar bagi industri teh karena mengurangi masa tidak produktif setelah peremajaan.

Jadi, jawabannya adalah tidak harus selalu dipangkas habis lalu menunggu berbulan-bulan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pendekatan pemulihan bertahap-melalui corrective skiff, masa istirahat tanaman, pemupukan yang tepat, pengelolaan air, dan dalam beberapa kasus biostimulan-dapat memperbaiki produktivitas tanpa kehilangan hasil sebesar yang terjadi pada pangkas berat. Namun, bila kerusakan sudah mencapai tingkat yang sangat parah dan mata tunas produktif hampir habis, pemangkasan peremajaan tetap menjadi pilihan yang paling efektif.


Cara Memulihkan Pohon Teh Setelah Petik Mesin agar Produktif Kembali








NEXT:

Prof. Jiang yang Bukan Profesor: Mengapa Pemikirannya Mendunia?


PREV:

Eropa Tidak Terbiasa dengan AC, Kini Bingung Pilih AC atau Selamatkan Iklim?

NEXT:

Prof. Jiang yang Bukan Profesor: Mengapa Pemikirannya Mendunia?


PREV:

Eropa Tidak Terbiasa dengan AC, Kini Bingung Pilih AC atau Selamatkan Iklim?

Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom., adalah dosen dan penulis opini yang mengajar Bisnis Digital dan Akuntansi di STIE Mulia Pratama Bekasi. Ia aktif menulis tentang teknologi, perubahan sosial, geopolitik, dan refleksi iman di tengah dinamika dunia modern.
About me selengkapnya...




Seputar Perkebunan Teh :
  • Cara Memulihkan Pohon Teh Setelah Petik Mesin agar Produktif Kembali

Pencarian E-DDC 23
Electronic Dewey Decimal Classification untuk Perpustakaan