View : 48 kali.
Home >
berita-labuhan-batu
Sabtu, 15 Agustus 2026

Opini | Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom.Ada satu kebiasaan yang sering muncul ketika musim kemarau datang.
Kita melihat langit cerah, matahari terasa menyengat, tanah mulai kering, tetapi masih berkata:
"Paling nanti hujan.”
Masalahnya, api tidak pernah menunggu hujan.
Ketika kondisi semakin kering, satu percikan kecil dapat berubah menjadi persoalan besar. Dan bagi pemilik serta pengelola perkebunan kelapa sawit, kondisi seperti sekarang tidak boleh dianggap sebagai kemarau biasa.
El Niño 2026 semakin menguat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 14 Agustus 2026 melaporkan bahwa curah hujan pada Dasarian I Agustus didominasi kategori rendah yang mencakup sekitar 90,79 persen wilayah Indonesia. Kondisi kering diperkirakan masih berlanjut dan meningkatkan potensi kekeringan meteorologis serta risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah.
Sebelumnya, pada 30 Juli 2026, BMKG memperkirakan El Niño akan bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama 2027, dengan puncak intensitas yang berpotensi melebihi kategori kuat. BMKG juga memperingatkan bahwa musim kemarau yang berada di bawah normal meningkatkan kebutuhan mitigasi lintas sektor.
Agustus 2026 bukan waktunya perkebunan sawit merasa aman.
Justru sekarang adalah waktunya meningkatkan kewaspadaan.
El Niño Tidak Membawa Api, Tetapi Membuat Api Lebih Mudah Menjadi Bencana
Perlu kita pahami dengan benar.
El Niño tidak berarti "El Niño membawa api”.
Bukan begitu.
El Niño merupakan fenomena iklim yang dapat mengurangi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia dan memperkuat kondisi kering. Ketika musim kemarau bertemu dengan kondisi tersebut, tanah, rumput, semak, pelepah, daun kering dan bahan organik lainnya dapat menjadi jauh lebih mudah terbakar.
BMKG sendiri telah mengingatkan bahwa fenomena El Niño kuat pada 2026, ditambah kondisi kemarau, meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla.
Di sinilah persoalan perkebunan kelapa sawit menjadi penting.
Sebab sawit boleh saja terlihat hijau.
Tetapi hijau tidak selalu berarti aman dari kebakaran.
kebun sawit Jangan Dianggap Aman Hanya Karena Pohonnya Hijau
Ini salah satu kesalahan cara berpikir yang harus kita tinggalkan.
Orang melihat pohon sawit yang masih hijau lalu berpikir:
"Ah, kebun ini tidak mungkin terbakar.”
Yang terbakar bukan hanya pohonnya.
Di sekitar tanaman terdapat pelepah kering, daun kering, rumput, semak, gulma, sisa pemangkasan dan bahan organik lainnya.
Dalam kondisi kering, semua itu dapat menjadi bahan bakar.
semak belukar;
hutan;
lahan gambut;
permukiman;
jalan;
perkebunan lain;
atau kawasan yang aktivitas manusianya tinggi.
Satu puntung rokok.
Satu pembakaran sampah.
Satu percikan mesin.
Satu kabel yang korsleting.
Satu knalpot panas.
Satu aktivitas pembakaran lahan.
Kelihatannya kecil.
Tetapi dalam kondisi sangat kering, api kecil bisa menjadi masalah besar.
Jangan sampai ketika asap sudah mengepul kita baru berkata:
"Kok bisa terbakar?”
Kadang jawabannya sederhana:
Karena kita terlalu lama merasa aman.
Pemilik dan Pengelola Kebun Harus Mengubah Cara Berpikir
Menghadapi El Niño, pengelolaan perkebunan tidak cukup hanya berbicara tentang produksi tandan buah segar.
Produksi penting.
Harga sawit penting.
Pupuk penting.
Tenaga kerja penting.
Tetapi keselamatan kebun juga merupakan bagian dari bisnis.
Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan juga menekankan bahwa investasi dalam sistem pencegahan karhutla merupakan langkah strategis untuk melindungi keberlanjutan usaha perkebunan, lingkungan dan reputasi komoditas Indonesia.
Jadi jangan melihat pompa air, alat pemadam, patroli, pelatihan pekerja dan sistem komunikasi sebagai biaya tambahan semata.
Itu adalah investasi untuk menyelamatkan aset.
Kebun terbakar berarti bukan hanya tanaman yang hilang.
Ada kemungkinan kehilangan produksi.
Ada biaya pemadaman.
Ada kerusakan infrastruktur.
Ada gangguan terhadap pekerja.
Ada dampak terhadap masyarakat.
Ada kerusakan lingkungan.
Dan dalam kondisi tertentu dapat muncul persoalan hukum apabila terjadi pelanggaran atau kelalaian.
Karena itu:
Mencegah kebakaran jauh lebih masuk akal daripada menunggu kebakaran kemudian menghitung kerugian.
Nasihat Pertama: Jangan Gunakan Api sebagai Cara Membersihkan Kebun
Ini harus menjadi aturan paling dasar.
Jangan menggunakan pembakaran sebagai cara cepat membersihkan lahan.
Memang terlihat praktis.
Rumput dibakar.
Semak dibakar.
Sampah dibakar.
Sisa tanaman dibakar.
Kemudian semuanya terlihat bersih.
Tetapi masalahnya:
api tidak mempunyai tombol "stop” yang selalu bekerja sesuai keinginan manusia.
Ketika tanah kering dan angin bertiup, api dapat bergerak melewati area yang diperkirakan.
Karena itu, pemilik dan pengelola perkebunan harus memiliki SOP yang jelas mengenai aktivitas yang berpotensi menimbulkan api.
Pekerja juga harus memahami bahwa:
"Saya hanya membakar sedikit” bukan alasan ketika api kemudian menyebar.
Nasihat Kedua: Kurangi "Bahan Bakar” di Sekitar Kebun
Api membutuhkan bahan bakar.
Karena itu, salah satu strategi pencegahan adalah mengurangi bahan yang mudah terbakar pada lokasi-lokasi kritis.
Perhatikan terutama:
sekitar kantor kebun;
gudang;
tangki bahan bakar;
rumah pekerja;
tempat parkir kendaraan;
jalan kebun;
jembatan;
tempat penyimpanan alat;
batas perkebunan;
area berbatasan dengan semak atau hutan;
dan lokasi yang sering digunakan pekerja.
Jangan sampai pelepah kering dan rumput tinggi menjadi karpet merah bagi api.
Tetapi pengelolaan vegetasi harus dilakukan dengan cara yang aman.
Jangan membersihkan bahan mudah terbakar dengan cara membakarnya.
Ini penting.
Jangan menyelesaikan masalah bahan bakar dengan menciptakan sumber api baru.
Nasihat Ketiga: Pastikan Sekat dan Jalur Pengendali Benar-Benar Berfungsi
Sekat pengendali kebakaran jangan hanya ada di peta atau laporan.
Harus ada di lapangan.
Dan harus diperiksa.
Kalau jalurnya sudah dipenuhi rumput kering dan semak, maka efektivitasnya perlu dievaluasi dan dipelihara kembali sesuai kondisi serta karakteristik lahan.
Jangan sampai ketika api datang baru diketahui:
"Oh, sekatnya ada, tetapi tidak bisa digunakan.”
Itu bukan kesiapsiagaan.
Itu administrasi.
Nasihat Keempat: Air Harus Siap Sebelum Api Datang
Dalam menghadapi kemarau dan El Niño, air adalah aset strategis.
Pemilik dan pengelola kebun harus tahu:
Di mana sumber air?
Berapa kapasitasnya?
Apakah sumber air tetap tersedia ketika kemarau panjang?
Apakah pompa berfungsi?
Apakah selang tersedia dan layak?
Apakah kendaraan bisa mencapai lokasi?
Apakah ada alternatif sumber air?
Jangan menunggu api membesar kemudian baru bertanya:
"Airnya di mana?”
"Di sana.”
"Bisa diambil?”
"Tidak tahu.”
Kalau begitu, api sudah mendapatkan teman.
Kementan juga menekankan pentingnya mitigasi kemarau melalui pengelolaan kebun yang adaptif, konservasi sumber daya dan perencanaan yang konsisten.
Nasihat Kelima: Periksa Mesin, Kendaraan dan Instalasi Listrik
Sumber api tidak selalu berasal dari manusia yang membakar lahan.
Mesin dan kendaraan juga perlu diperhatikan.
Periksa:
kebocoran bahan bakar;
kondisi mesin;
suhu mesin;
sistem kelistrikan;
kabel;
baterai;
knalpot;
area penyimpanan bahan bakar;
dan peralatan yang menghasilkan panas.
Jangan hanya memeriksa kendaraan ketika sudah mogok.
Periksa sebelum bekerja.
Apalagi jika kendaraan masuk ke area yang sangat kering.
Nasihat Keenam: Puntung Rokok Jangan Disepelekan
Puntung rokok memang kecil.
Tetapi kebakaran juga dapat dimulai dari sesuatu yang kecil.
Karena itu, aturan merokok harus jelas.
Lokasi berisiko tinggi harus memiliki pembatasan yang tegas.
Pekerja juga harus memiliki tempat pembuangan puntung rokok yang aman.
Jangan hanya mengandalkan mandor.
Bangun budaya:
"Saya menjaga kebun ini meskipun tidak ada yang mengawasi.”
Itulah budaya keselamatan yang sebenarnya.
Nasihat Ketujuh: Patroli Jangan Menunggu Ada Api
Dalam kondisi normal, patroli mungkin berjalan seperti biasa.
Tetapi ketika kondisi semakin kering, kewaspadaan harus dinaikkan.
Pantau:
kondisi rumput;
semak;
kelembapan lahan;
ketersediaan air;
arah dan kecepatan angin;
asap;
aktivitas manusia;
titik rawan;
serta kondisi lahan di sekitar perkebunan.
Jangan menunggu api.
Asap adalah peringatan.
Dan jangan hanya melihat ke dalam kebun.
Perhatikan juga kawasan di sekitar kebun.
Karena api tidak mengenal batas sertifikat tanah.
Nasihat Kedelapan: Bentuk Tim Tanggap Kebakaran yang Jelas
Kalau kebakaran terjadi, jangan baru bertanya:
"Siapa yang bertanggung jawab?”
Jawabannya harus sudah diketahui sebelumnya.
Harus jelas:
siapa menerima laporan;
siapa memimpin respons awal;
siapa menuju lokasi;
siapa mengoperasikan pompa;
siapa membawa peralatan;
siapa menghubungi pemadam;
siapa mengamankan pekerja;
siapa berkomunikasi dengan pemerintah desa;
dan siapa mencatat serta mengevaluasi kejadian.
Semua harus jelas sebelum kebakaran terjadi.
Karena ketika api datang, bukan waktunya mengadakan rapat:
"Sekarang kita mau bagaimana?”
Rapatnya harus dilakukan sebelum api datang.
Nasihat Kesembilan: Jangan Jadi Pahlawan di Depan Api
Api kecil memang lebih mudah dikendalikan.
Tetapi bukan berarti setiap orang harus langsung masuk memadamkan api.
Keselamatan manusia tetap nomor satu.
Pemadaman awal harus dilakukan oleh orang yang terlatih dan menggunakan peralatan yang sesuai.
Jika api membesar, asap pekat, arah angin berubah atau kondisi menjadi tidak aman:
jangan memaksakan diri.
Evakuasi dan hubungi pihak yang berkompeten.
Jangan sampai karena ingin menyelamatkan tanaman, manusia justru menjadi korban.
Nasihat Kesepuluh: Bangun Sistem Komunikasi dengan Masyarakat Sekitar
Perkebunan tidak berdiri sendiri.
Di luar pagar kebun ada masyarakat.
Ada petani.
Ada desa.
Ada jalan.
Ada hutan.
Ada lahan lain.
Karena itu, pemilik dan pengelola perkebunan harus memiliki komunikasi yang baik dengan masyarakat sekitar.
Bangun jalur komunikasi dengan:
pemerintah desa;
masyarakat;
kelompok tani;
pemadam kebakaran;
BPBD;
aparat keamanan;
dan instansi terkait.
Masyarakat harus tahu:
Jika melihat asap, siapa yang harus dihubungi?
Jangan sampai warga melihat asap dari kejauhan, tetapi tidak tahu harus menelepon siapa.
Deteksi dini adalah salah satu kunci.
Tujuh Tindakan yang Harus Dilakukan dalam Tujuh Hari
Kalau artikel ini hanya berhenti pada nasihat, pembaca mungkin berkata:
"Bagus.”
Tetapi saya ingin lebih dari itu.
Saya ingin pemilik dan pengelola kebun selesai membaca artikel ini lalu benar-benar bergerak.
Karena itu, berikut tujuh tindakan yang sebaiknya dilakukan dalam tujuh hari ke depan.
Hari Pertama: Petakan Titik Rawan
Kelilingi kebun.
Tandai lokasi yang paling mudah terbakar.
Jangan hanya mengandalkan ingatan.
Buat peta sederhana.
Hari Kedua: Periksa Sumber Air
Periksa embung, kolam, kanal, sumur atau sumber air lain.
Pastikan kapasitas dan aksesnya.
Hari Ketiga: Uji Pompa dan Peralatan
Jangan menunggu keadaan darurat untuk mengetahui pompa ternyata tidak hidup.
Tes sekarang.
Hari Keempat: Periksa Sekat dan Jalur Pengendali
Pastikan jalur benar-benar dapat membantu menghambat penjalaran api sesuai kondisi lahan.
Hari Kelima: Evaluasi Kendaraan dan Mesin
Periksa kendaraan operasional, mesin, kabel dan komponen yang berpotensi menjadi sumber panas atau percikan.
Hari Keenam: Briefing Semua Pekerja
Sampaikan larangan pembakaran, bahaya puntung rokok, prosedur pelaporan asap dan tindakan darurat.
Hari Ketujuh: Simulasi
Lakukan simulasi sederhana:
"Kalau pukul 14.00 ditemukan asap di blok X, siapa melakukan apa?”
Kalau jawabannya masih:
"Nanti kita pikirkan.”
Berarti kebun belum siap.
Terapkan Status: Normal, Waspada, Siaga dan Darurat
Kebun juga perlu memiliki sistem sederhana untuk menentukan tingkat kesiapsiagaan.
Normal
Kondisi cuaca dan lahan masih relatif aman.
Patroli dilakukan sesuai jadwal.
Waspada
Kemarau semakin terasa.
Bahan bakar vegetasi mulai mengering.
Patroli ditingkatkan.
Aktivitas yang berpotensi menimbulkan api diperketat.
Siaga
Kondisi sangat kering, sumber air mulai terbatas atau indikator risiko kebakaran meningkat.
Patroli diperketat.
Peralatan harus dalam kondisi siap.
Personel harus siap merespons.
Darurat
Api ditemukan atau terjadi kebakaran yang berpotensi meluas.
Prioritas:
keselamatan manusia, pelaporan cepat, pengendalian dan koordinasi dengan pihak berwenang.
BMKG sendiri kini mendorong pendekatan Impact Based Forecast (IBF), yaitu informasi cuaca dan iklim diterjemahkan menjadi tindakan nyata sesuai potensi dampaknya. Bagi perkebunan, prinsip ini sangat relevan: ketika risiko meningkat, tindakan juga harus berubah.
Jangan Menunggu Hujan Menyelamatkan Kita
Kita tentu berharap hujan turun.
Kita berharap kemarau segera berakhir.
Tetapi:
"Semoga hujan turun” bukanlah sistem mitigasi.
Kita harus bekerja dengan kondisi yang ada sekarang.
Kalau air terbatas, kelola air.
Kalau lahan kering, tingkatkan patroli.
Kalau angin menguat, hentikan aktivitas yang berpotensi menimbulkan api.
Kalau muncul asap, segera periksa.
Kalau titik rawan ditemukan, segera amankan.
Kalau pekerja belum terlatih, latih sekarang.
Kalau pompa rusak, perbaiki sekarang.
Jangan menunggu kebakaran untuk mencari peralatan.
Jangan Hanya Menjaga Sawit, Jagalah Lingkungan
Ada sesuatu yang lebih besar daripada menyelamatkan tanaman sawit.
Kita harus menjaga lingkungan.
Perkebunan bukan sebuah pulau yang berdiri sendirian.
Di sekelilingnya ada:
masyarakat,
sungai,
udara,
tanah,
hutan,
satwa,
dan kehidupan.
Ketika kebakaran terjadi, asap tidak bertanya:
"Ini warga yang punya kebun atau bukan?”
Asap akan bergerak.
Dampaknya dapat dirasakan masyarakat yang jauh dari sumber api.
Karena itu, tanggung jawab pemilik dan pengelola perkebunan bukan hanya kepada perusahaan atau dirinya sendiri.
Ada tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Kebun yang baik bukan hanya kebun yang menghasilkan banyak buah.
Kebun yang baik adalah kebun yang produktif, aman, tertib, bertanggung jawab dan mampu hidup berdampingan dengan lingkungan.
Sawit Jangan Menjadi Korban Kelalaian
Sawit merupakan salah satu komoditas penting bagi perekonomian Indonesia.
Karena itu, menjaga perkebunan sawit dari kebakaran bukan hanya kepentingan pemilik kebun.
Ada kepentingan pekerja.
Ada kepentingan masyarakat.
Ada kepentingan ekonomi daerah.
Ada kepentingan lingkungan.
Dan ada kepentingan Indonesia.
Kementerian Pertanian sendiri pada 2026 menekankan bahwa mitigasi kemarau perlu dilakukan secara terencana dan konsisten agar perubahan iklim tidak otomatis diterjemahkan menjadi penurunan produktivitas perkebunan.
Artinya, adaptasi harus menjadi bagian dari tata kelola kebun.
Jangan menunggu bencana baru belajar beradaptasi.
Jangan Berpikir "Nanti Kalau Terbakar Baru Dipadamkan”
Pola pikir ini harus ditinggalkan.
Pemadam kebakaran adalah pertahanan terakhir.
Pertahanan pertama adalah:
pencegahan.
Pertahanan kedua:
deteksi dini.
Pertahanan ketiga:
respons cepat.
Barulah pemadaman menjadi langkah berikutnya.
Semakin lama api dibiarkan, semakin sulit pengendaliannya.
Karena itu, investasi pada:
sumber air;
pompa;
alat pemadam;
kendaraan;
alat komunikasi;
jalur pengendalian;
pelatihan;
patroli;
pemetaan risiko;
dan sistem pemantauan
bukan pemborosan.
Itulah investasi untuk menyelamatkan kebun.
El Niño Bukan Alasan untuk Panik, Tetapi Alasan untuk Bersiap
Kita tidak perlu menakut-nakuti masyarakat dengan El Niño.
Tetapi kita juga tidak boleh meremehkannya.
Data BMKG terbaru menunjukkan bahwa kondisi kering memang sedang menjadi perhatian. Pada awal Agustus 2026, sekitar 90,79 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah, dan BMKG memperingatkan risiko kekeringan meteorologis serta karhutla di sejumlah wilayah.
BMKG juga memperkirakan El Niño dapat bertahan hingga awal 2027, dengan puncak intensitas yang berpotensi melampaui kategori kuat.
Jadi, ini bukan persoalan:
"Apakah kebun saya akan terbakar?”
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
"Apakah kebun saya sudah siap jika risiko kebakaran meningkat?”
Itulah pertanyaan seorang pengelola kebun yang bertanggung jawab.
Jangan Tunggu Api Membesar
Kita sering berpikir bahwa bencana selalu dimulai dengan sesuatu yang besar.
Padahal sering kali tidak.
Kebakaran bisa dimulai dari sesuatu yang sangat kecil.
Satu puntung.
Satu percikan.
Satu kelalaian.
Satu pembakaran.
Satu mesin yang tidak diperiksa.
Satu keputusan:
"Ah, tidak apa-apa.”
Karena itu, keselamatan perkebunan dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang benar.
Mematikan sumber api.
Memeriksa mesin.
Membersihkan lokasi rawan.
Memastikan air tersedia.
Menghubungi petugas.
Melaporkan asap.
Melatih pekerja.
Hal-hal kecil itulah yang dapat mencegah bencana besar.
Kesimpulan: Jangan Menunggu Kebun Menjadi Ladang Api
Pemilik dan pengelola perkebunan kelapa sawit menghadapi tantangan yang tidak boleh dianggap ringan.
El Niño menguat.
Musim kemarau masih berlangsung.
Kondisi kering meluas di berbagai wilayah.
Risiko kebakaran meningkat.
Dalam situasi seperti ini, kita tidak membutuhkan kepanikan.
Kita membutuhkan kesiapsiagaan.
Bukan hanya pemilik perkebunan.
Tetapi juga manajer.
Mandor.
Pekerja.
Masyarakat sekitar.
Pemerintah desa.
Dan seluruh pihak yang berada di sekitar kawasan perkebunan.
Jangan tunggu asap mengepul baru bergerak.
Periksa kebun hari ini.
Siapkan air hari ini.
Periksa pompa hari ini.
Periksa mesin hari ini.
Amankan titik rawan hari ini.
Latih pekerja hari ini.
Bangun komunikasi dengan masyarakat hari ini.
Karena ketika api sudah membesar, penyesalan biasanya datang terlambat.
Dan akhirnya, kita harus mengubah pertanyaan.
Bukan:
"Bagaimana kita memadamkan kebakaran?”
Tetapi:
"Bagaimana kita memastikan kebakaran tidak terjadi?”
Itulah pertanyaan yang jauh lebih penting.
Kepada seluruh pemilik dan pengelola perkebunan kelapa sawit:
Jangan biarkan El Niño mengubah kebun yang produktif menjadi ladang api.
Lebih baik mengeluarkan biaya untuk pencegahan daripada kehilangan kebun karena kebakaran.
Lebih baik melakukan patroli daripada mengejar api.
Lebih baik memeriksa pompa sekarang daripada mencari pompa ketika api sudah membesar.
Lebih baik waspada sekarang daripada menyesal kemudian.
Lebih baik lelah mencegah kebakaran daripada lelah mengejar api.
Mari jaga sawit.
Mari jaga tanah.
Mari jaga air.
Mari jaga udara.
Mari jaga masyarakat.
Dan yang paling penting:
jangan memberi kesempatan kepada api untuk menjadi bencana.
Penulis opini dan dosen yang menaruh perhatian pada teknologi, ekonomi, perubahan sosial, lingkungan, dan dinamika kehidupan masyarakat.
El Niño Menguat, Kebun Sawit Jangan Sampai Jadi Ladang Api
Sabtu, 15 Agustus 2026
El Niño Menguat, Kebun Sawit Jangan Sampai Jadi Ladang Api

El Niño 2026 meningkatkan risiko kebakaran di perkebunan kelapa sawit saat musim kemarau
Opini | Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom.Ada satu kebiasaan yang sering muncul ketika musim kemarau datang.
Kita melihat langit cerah, matahari terasa menyengat, tanah mulai kering, tetapi masih berkata:
"Paling nanti hujan.”
Masalahnya, api tidak pernah menunggu hujan.
Ketika kondisi semakin kering, satu percikan kecil dapat berubah menjadi persoalan besar. Dan bagi pemilik serta pengelola perkebunan kelapa sawit, kondisi seperti sekarang tidak boleh dianggap sebagai kemarau biasa.
El Niño 2026 semakin menguat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 14 Agustus 2026 melaporkan bahwa curah hujan pada Dasarian I Agustus didominasi kategori rendah yang mencakup sekitar 90,79 persen wilayah Indonesia. Kondisi kering diperkirakan masih berlanjut dan meningkatkan potensi kekeringan meteorologis serta risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah.
Sebelumnya, pada 30 Juli 2026, BMKG memperkirakan El Niño akan bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama 2027, dengan puncak intensitas yang berpotensi melebihi kategori kuat. BMKG juga memperingatkan bahwa musim kemarau yang berada di bawah normal meningkatkan kebutuhan mitigasi lintas sektor.
Artinya sederhana:
Justru sekarang adalah waktunya meningkatkan kewaspadaan.
El Niño Tidak Membawa Api, Tetapi Membuat Api Lebih Mudah Menjadi Bencana
Perlu kita pahami dengan benar.
El Niño tidak berarti "El Niño membawa api”.
Bukan begitu.
El Niño merupakan fenomena iklim yang dapat mengurangi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia dan memperkuat kondisi kering. Ketika musim kemarau bertemu dengan kondisi tersebut, tanah, rumput, semak, pelepah, daun kering dan bahan organik lainnya dapat menjadi jauh lebih mudah terbakar.
BMKG sendiri telah mengingatkan bahwa fenomena El Niño kuat pada 2026, ditambah kondisi kemarau, meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla.
Di sinilah persoalan perkebunan kelapa sawit menjadi penting.
Sebab sawit boleh saja terlihat hijau.
Tetapi hijau tidak selalu berarti aman dari kebakaran.
Ini salah satu kesalahan cara berpikir yang harus kita tinggalkan.
Orang melihat pohon sawit yang masih hijau lalu berpikir:
"Ah, kebun ini tidak mungkin terbakar.”
Yang terbakar bukan hanya pohonnya.
Di sekitar tanaman terdapat pelepah kering, daun kering, rumput, semak, gulma, sisa pemangkasan dan bahan organik lainnya.
Dalam kondisi kering, semua itu dapat menjadi bahan bakar.
Risiko semakin besar apabila perkebunan berdekatan dengan:
lahan kosong;semak belukar;
hutan;
lahan gambut;
permukiman;
jalan;
perkebunan lain;
atau kawasan yang aktivitas manusianya tinggi.
Satu puntung rokok.
Satu pembakaran sampah.
Satu percikan mesin.
Satu kabel yang korsleting.
Satu knalpot panas.
Satu aktivitas pembakaran lahan.
Kelihatannya kecil.
Tetapi dalam kondisi sangat kering, api kecil bisa menjadi masalah besar.
Jangan sampai ketika asap sudah mengepul kita baru berkata:
"Kok bisa terbakar?”
Kadang jawabannya sederhana:
Karena kita terlalu lama merasa aman.
Menghadapi El Niño, pengelolaan perkebunan tidak cukup hanya berbicara tentang produksi tandan buah segar.
Produksi penting.
Harga sawit penting.
Pupuk penting.
Tenaga kerja penting.
Tetapi keselamatan kebun juga merupakan bagian dari bisnis.
Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan juga menekankan bahwa investasi dalam sistem pencegahan karhutla merupakan langkah strategis untuk melindungi keberlanjutan usaha perkebunan, lingkungan dan reputasi komoditas Indonesia.
Jadi jangan melihat pompa air, alat pemadam, patroli, pelatihan pekerja dan sistem komunikasi sebagai biaya tambahan semata.
Itu adalah investasi untuk menyelamatkan aset.
Kebun terbakar berarti bukan hanya tanaman yang hilang.
Ada kemungkinan kehilangan produksi.
Ada biaya pemadaman.
Ada kerusakan infrastruktur.
Ada gangguan terhadap pekerja.
Ada dampak terhadap masyarakat.
Ada kerusakan lingkungan.
Dan dalam kondisi tertentu dapat muncul persoalan hukum apabila terjadi pelanggaran atau kelalaian.
Karena itu:
Mencegah kebakaran jauh lebih masuk akal daripada menunggu kebakaran kemudian menghitung kerugian.
Nasihat Pertama: Jangan Gunakan Api sebagai Cara Membersihkan Kebun
Ini harus menjadi aturan paling dasar.
Jangan menggunakan pembakaran sebagai cara cepat membersihkan lahan.
Memang terlihat praktis.
Rumput dibakar.
Semak dibakar.
Sampah dibakar.
Sisa tanaman dibakar.
Kemudian semuanya terlihat bersih.
Tetapi masalahnya:
api tidak mempunyai tombol "stop” yang selalu bekerja sesuai keinginan manusia.
Ketika tanah kering dan angin bertiup, api dapat bergerak melewati area yang diperkirakan.
Karena itu, pemilik dan pengelola perkebunan harus memiliki SOP yang jelas mengenai aktivitas yang berpotensi menimbulkan api.
Pekerja juga harus memahami bahwa:
"Saya hanya membakar sedikit” bukan alasan ketika api kemudian menyebar.
Api membutuhkan bahan bakar.
Karena itu, salah satu strategi pencegahan adalah mengurangi bahan yang mudah terbakar pada lokasi-lokasi kritis.
Perhatikan terutama:
sekitar kantor kebun;
gudang;
tangki bahan bakar;
rumah pekerja;
tempat parkir kendaraan;
jalan kebun;
jembatan;
tempat penyimpanan alat;
batas perkebunan;
area berbatasan dengan semak atau hutan;
dan lokasi yang sering digunakan pekerja.
Jangan sampai pelepah kering dan rumput tinggi menjadi karpet merah bagi api.
Tetapi pengelolaan vegetasi harus dilakukan dengan cara yang aman.
Jangan membersihkan bahan mudah terbakar dengan cara membakarnya.
Ini penting.
Jangan menyelesaikan masalah bahan bakar dengan menciptakan sumber api baru.
Sekat pengendali kebakaran jangan hanya ada di peta atau laporan.
Harus ada di lapangan.
Dan harus diperiksa.
Kalau jalurnya sudah dipenuhi rumput kering dan semak, maka efektivitasnya perlu dievaluasi dan dipelihara kembali sesuai kondisi serta karakteristik lahan.
Jangan sampai ketika api datang baru diketahui:
"Oh, sekatnya ada, tetapi tidak bisa digunakan.”
Itu bukan kesiapsiagaan.
Itu administrasi.
Dalam menghadapi kemarau dan El Niño, air adalah aset strategis.
Pemilik dan pengelola kebun harus tahu:
Di mana sumber air?
Berapa kapasitasnya?
Apakah sumber air tetap tersedia ketika kemarau panjang?
Apakah pompa berfungsi?
Apakah selang tersedia dan layak?
Apakah kendaraan bisa mencapai lokasi?
Apakah ada alternatif sumber air?
Jangan menunggu api membesar kemudian baru bertanya:
"Airnya di mana?”
"Di sana.”
"Bisa diambil?”
"Tidak tahu.”
Kalau begitu, api sudah mendapatkan teman.
Kementan juga menekankan pentingnya mitigasi kemarau melalui pengelolaan kebun yang adaptif, konservasi sumber daya dan perencanaan yang konsisten.
Sumber api tidak selalu berasal dari manusia yang membakar lahan.
Mesin dan kendaraan juga perlu diperhatikan.
Periksa:
kebocoran bahan bakar;
kondisi mesin;
suhu mesin;
sistem kelistrikan;
kabel;
baterai;
knalpot;
area penyimpanan bahan bakar;
dan peralatan yang menghasilkan panas.
Jangan hanya memeriksa kendaraan ketika sudah mogok.
Periksa sebelum bekerja.
Apalagi jika kendaraan masuk ke area yang sangat kering.
Puntung rokok memang kecil.
Tetapi kebakaran juga dapat dimulai dari sesuatu yang kecil.
Karena itu, aturan merokok harus jelas.
Lokasi berisiko tinggi harus memiliki pembatasan yang tegas.
Pekerja juga harus memiliki tempat pembuangan puntung rokok yang aman.
Jangan hanya mengandalkan mandor.
Bangun budaya:
"Saya menjaga kebun ini meskipun tidak ada yang mengawasi.”
Itulah budaya keselamatan yang sebenarnya.
Dalam kondisi normal, patroli mungkin berjalan seperti biasa.
Tetapi ketika kondisi semakin kering, kewaspadaan harus dinaikkan.
Pantau:
kondisi rumput;
semak;
kelembapan lahan;
ketersediaan air;
arah dan kecepatan angin;
asap;
aktivitas manusia;
titik rawan;
serta kondisi lahan di sekitar perkebunan.
Jangan menunggu api.
Asap adalah peringatan.
Dan jangan hanya melihat ke dalam kebun.
Perhatikan juga kawasan di sekitar kebun.
Karena api tidak mengenal batas sertifikat tanah.
Kalau kebakaran terjadi, jangan baru bertanya:
"Siapa yang bertanggung jawab?”
Jawabannya harus sudah diketahui sebelumnya.
Harus jelas:
siapa menerima laporan;
siapa memimpin respons awal;
siapa menuju lokasi;
siapa mengoperasikan pompa;
siapa membawa peralatan;
siapa menghubungi pemadam;
siapa mengamankan pekerja;
siapa berkomunikasi dengan pemerintah desa;
dan siapa mencatat serta mengevaluasi kejadian.
Semua harus jelas sebelum kebakaran terjadi.
Karena ketika api datang, bukan waktunya mengadakan rapat:
"Sekarang kita mau bagaimana?”
Rapatnya harus dilakukan sebelum api datang.
Api kecil memang lebih mudah dikendalikan.
Tetapi bukan berarti setiap orang harus langsung masuk memadamkan api.
Keselamatan manusia tetap nomor satu.
Pemadaman awal harus dilakukan oleh orang yang terlatih dan menggunakan peralatan yang sesuai.
Jika api membesar, asap pekat, arah angin berubah atau kondisi menjadi tidak aman:
jangan memaksakan diri.
Evakuasi dan hubungi pihak yang berkompeten.
Jangan sampai karena ingin menyelamatkan tanaman, manusia justru menjadi korban.
Perkebunan tidak berdiri sendiri.
Di luar pagar kebun ada masyarakat.
Ada petani.
Ada desa.
Ada jalan.
Ada hutan.
Ada lahan lain.
Karena itu, pemilik dan pengelola perkebunan harus memiliki komunikasi yang baik dengan masyarakat sekitar.
Bangun jalur komunikasi dengan:
pemerintah desa;
masyarakat;
kelompok tani;
pemadam kebakaran;
BPBD;
aparat keamanan;
dan instansi terkait.
Masyarakat harus tahu:
Jika melihat asap, siapa yang harus dihubungi?
Jangan sampai warga melihat asap dari kejauhan, tetapi tidak tahu harus menelepon siapa.
Deteksi dini adalah salah satu kunci.
Tujuh Tindakan yang Harus Dilakukan dalam Tujuh Hari
Kalau artikel ini hanya berhenti pada nasihat, pembaca mungkin berkata:
"Bagus.”
Tetapi saya ingin lebih dari itu.
Saya ingin pemilik dan pengelola kebun selesai membaca artikel ini lalu benar-benar bergerak.
Karena itu, berikut tujuh tindakan yang sebaiknya dilakukan dalam tujuh hari ke depan.
Hari Pertama: Petakan Titik Rawan
Kelilingi kebun.
Tandai lokasi yang paling mudah terbakar.
Jangan hanya mengandalkan ingatan.
Buat peta sederhana.
Hari Kedua: Periksa Sumber Air
Periksa embung, kolam, kanal, sumur atau sumber air lain.
Pastikan kapasitas dan aksesnya.
Hari Ketiga: Uji Pompa dan Peralatan
Jangan menunggu keadaan darurat untuk mengetahui pompa ternyata tidak hidup.
Tes sekarang.
Hari Keempat: Periksa Sekat dan Jalur Pengendali
Pastikan jalur benar-benar dapat membantu menghambat penjalaran api sesuai kondisi lahan.
Hari Kelima: Evaluasi Kendaraan dan Mesin
Periksa kendaraan operasional, mesin, kabel dan komponen yang berpotensi menjadi sumber panas atau percikan.
Hari Keenam: Briefing Semua Pekerja
Sampaikan larangan pembakaran, bahaya puntung rokok, prosedur pelaporan asap dan tindakan darurat.
Hari Ketujuh: Simulasi
Lakukan simulasi sederhana:
"Kalau pukul 14.00 ditemukan asap di blok X, siapa melakukan apa?”
Kalau jawabannya masih:
"Nanti kita pikirkan.”
Berarti kebun belum siap.
Terapkan Status: Normal, Waspada, Siaga dan Darurat
Kebun juga perlu memiliki sistem sederhana untuk menentukan tingkat kesiapsiagaan.
Normal
Kondisi cuaca dan lahan masih relatif aman.
Patroli dilakukan sesuai jadwal.
Waspada
Kemarau semakin terasa.
Bahan bakar vegetasi mulai mengering.
Patroli ditingkatkan.
Aktivitas yang berpotensi menimbulkan api diperketat.
Siaga
Kondisi sangat kering, sumber air mulai terbatas atau indikator risiko kebakaran meningkat.
Patroli diperketat.
Peralatan harus dalam kondisi siap.
Personel harus siap merespons.
Darurat
Api ditemukan atau terjadi kebakaran yang berpotensi meluas.
Prioritas:
keselamatan manusia, pelaporan cepat, pengendalian dan koordinasi dengan pihak berwenang.
BMKG sendiri kini mendorong pendekatan Impact Based Forecast (IBF), yaitu informasi cuaca dan iklim diterjemahkan menjadi tindakan nyata sesuai potensi dampaknya. Bagi perkebunan, prinsip ini sangat relevan: ketika risiko meningkat, tindakan juga harus berubah.
Jangan Menunggu Hujan Menyelamatkan Kita
Kita tentu berharap hujan turun.
Kita berharap kemarau segera berakhir.
Tetapi:
"Semoga hujan turun” bukanlah sistem mitigasi.
Kita harus bekerja dengan kondisi yang ada sekarang.
Kalau air terbatas, kelola air.
Kalau lahan kering, tingkatkan patroli.
Kalau angin menguat, hentikan aktivitas yang berpotensi menimbulkan api.
Kalau muncul asap, segera periksa.
Kalau titik rawan ditemukan, segera amankan.
Kalau pekerja belum terlatih, latih sekarang.
Kalau pompa rusak, perbaiki sekarang.
Jangan menunggu kebakaran untuk mencari peralatan.
Jangan Hanya Menjaga Sawit, Jagalah Lingkungan
Ada sesuatu yang lebih besar daripada menyelamatkan tanaman sawit.
Kita harus menjaga lingkungan.
Perkebunan bukan sebuah pulau yang berdiri sendirian.
Di sekelilingnya ada:
masyarakat,
sungai,
udara,
tanah,
hutan,
satwa,
dan kehidupan.
Ketika kebakaran terjadi, asap tidak bertanya:
"Ini warga yang punya kebun atau bukan?”
Asap akan bergerak.
Dampaknya dapat dirasakan masyarakat yang jauh dari sumber api.
Karena itu, tanggung jawab pemilik dan pengelola perkebunan bukan hanya kepada perusahaan atau dirinya sendiri.
Ada tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Kebun yang baik bukan hanya kebun yang menghasilkan banyak buah.
Kebun yang baik adalah kebun yang produktif, aman, tertib, bertanggung jawab dan mampu hidup berdampingan dengan lingkungan.
Sawit Jangan Menjadi Korban Kelalaian
Sawit merupakan salah satu komoditas penting bagi perekonomian Indonesia.
Karena itu, menjaga perkebunan sawit dari kebakaran bukan hanya kepentingan pemilik kebun.
Ada kepentingan pekerja.
Ada kepentingan masyarakat.
Ada kepentingan ekonomi daerah.
Ada kepentingan lingkungan.
Dan ada kepentingan Indonesia.
Kementerian Pertanian sendiri pada 2026 menekankan bahwa mitigasi kemarau perlu dilakukan secara terencana dan konsisten agar perubahan iklim tidak otomatis diterjemahkan menjadi penurunan produktivitas perkebunan.
Artinya, adaptasi harus menjadi bagian dari tata kelola kebun.
Jangan menunggu bencana baru belajar beradaptasi.
Jangan Berpikir "Nanti Kalau Terbakar Baru Dipadamkan”
Pola pikir ini harus ditinggalkan.
Pemadam kebakaran adalah pertahanan terakhir.
Pertahanan pertama adalah:
pencegahan.
Pertahanan kedua:
deteksi dini.
Pertahanan ketiga:
respons cepat.
Barulah pemadaman menjadi langkah berikutnya.
Semakin lama api dibiarkan, semakin sulit pengendaliannya.
Karena itu, investasi pada:
sumber air;
pompa;
alat pemadam;
kendaraan;
alat komunikasi;
jalur pengendalian;
pelatihan;
patroli;
pemetaan risiko;
dan sistem pemantauan
bukan pemborosan.
Itulah investasi untuk menyelamatkan kebun.
El Niño Bukan Alasan untuk Panik, Tetapi Alasan untuk Bersiap
Kita tidak perlu menakut-nakuti masyarakat dengan El Niño.
Tetapi kita juga tidak boleh meremehkannya.
Data BMKG terbaru menunjukkan bahwa kondisi kering memang sedang menjadi perhatian. Pada awal Agustus 2026, sekitar 90,79 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah, dan BMKG memperingatkan risiko kekeringan meteorologis serta karhutla di sejumlah wilayah.
BMKG juga memperkirakan El Niño dapat bertahan hingga awal 2027, dengan puncak intensitas yang berpotensi melampaui kategori kuat.
Jadi, ini bukan persoalan:
"Apakah kebun saya akan terbakar?”
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
"Apakah kebun saya sudah siap jika risiko kebakaran meningkat?”
Itulah pertanyaan seorang pengelola kebun yang bertanggung jawab.
Jangan Tunggu Api Membesar
Kita sering berpikir bahwa bencana selalu dimulai dengan sesuatu yang besar.
Padahal sering kali tidak.
Kebakaran bisa dimulai dari sesuatu yang sangat kecil.
Satu puntung.
Satu percikan.
Satu kelalaian.
Satu pembakaran.
Satu mesin yang tidak diperiksa.
Satu keputusan:
"Ah, tidak apa-apa.”
Karena itu, keselamatan perkebunan dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang benar.
Mematikan sumber api.
Memeriksa mesin.
Membersihkan lokasi rawan.
Memastikan air tersedia.
Menghubungi petugas.
Melaporkan asap.
Melatih pekerja.
Hal-hal kecil itulah yang dapat mencegah bencana besar.
Kesimpulan: Jangan Menunggu Kebun Menjadi Ladang Api
Pemilik dan pengelola perkebunan kelapa sawit menghadapi tantangan yang tidak boleh dianggap ringan.
El Niño menguat.
Musim kemarau masih berlangsung.
Kondisi kering meluas di berbagai wilayah.
Risiko kebakaran meningkat.
Dalam situasi seperti ini, kita tidak membutuhkan kepanikan.
Kita membutuhkan kesiapsiagaan.
Bukan hanya pemilik perkebunan.
Tetapi juga manajer.
Mandor.
Pekerja.
Masyarakat sekitar.
Pemerintah desa.
Dan seluruh pihak yang berada di sekitar kawasan perkebunan.
Jangan tunggu asap mengepul baru bergerak.
Periksa kebun hari ini.
Siapkan air hari ini.
Periksa pompa hari ini.
Periksa mesin hari ini.
Amankan titik rawan hari ini.
Latih pekerja hari ini.
Bangun komunikasi dengan masyarakat hari ini.
Karena ketika api sudah membesar, penyesalan biasanya datang terlambat.
Dan akhirnya, kita harus mengubah pertanyaan.
Bukan:
"Bagaimana kita memadamkan kebakaran?”
Tetapi:
"Bagaimana kita memastikan kebakaran tidak terjadi?”
Itulah pertanyaan yang jauh lebih penting.
Kepada seluruh pemilik dan pengelola perkebunan kelapa sawit:
Jangan biarkan El Niño mengubah kebun yang produktif menjadi ladang api.
Lebih baik mengeluarkan biaya untuk pencegahan daripada kehilangan kebun karena kebakaran.
Lebih baik melakukan patroli daripada mengejar api.
Lebih baik memeriksa pompa sekarang daripada mencari pompa ketika api sudah membesar.
Lebih baik waspada sekarang daripada menyesal kemudian.
Lebih baik lelah mencegah kebakaran daripada lelah mengejar api.
Mari jaga sawit.
Mari jaga tanah.
Mari jaga air.
Mari jaga udara.
Mari jaga masyarakat.
Dan yang paling penting:
jangan memberi kesempatan kepada api untuk menjadi bencana.
Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom.
Penulis opini dan dosen yang menaruh perhatian pada teknologi, ekonomi, perubahan sosial, lingkungan, dan dinamika kehidupan masyarakat.
El Niño Menguat, Kebun Sawit Jangan Sampai Jadi Ladang Api
