Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
☰
  • Home
  • Opini
  • Kuliah ▼
  • Publikasi ▼
  • SINTA
  • Scholar
  • About Me
  • Labuhan Batu
  • Login

View : 256 kali.

Bagikan:
Home > Opinion   Kategori: Lingkungan Hidup
Rabu, 22 April 2026

Ikan Sapu-Sapu, Antara Solusi Lingkungan dan Ancaman Kepercayaan Konsumen

Ilustrasi ikan sapu-sapu di sungai Jakarta yang tercemar dan kaitannya dengan isu keamanan pangan pedagang somay
Ilustrasi ikan sapu-sapu di sungai Jakarta yang tercemar dan kaitannya dengan isu keamanan pangan pedagang somay

Apakah benar somay yang kita makan aman, atau justru menyimpan risiko dari ikan yang hidup di sungai tercemar? Pertanyaan ini mungkin terdengar berlebihan, tetapi di tengah maraknya pemberitaan tentang ikan sapu-sapu di Jakarta, kekhawatiran publik mulai tumbuh dan berdampak nyata pada perilaku konsumsi masyarakat.

Fenomena pemberantasan ikan sapu-sapu di Jakarta bukan sekadar isu lingkungan, tetapi telah merembet ke ranah ekonomi rakyat kecil, terutama pedagang makanan seperti somay. Persoalan ini tidak lagi berdiri sendiri sebagai problem ekologi, melainkan berkembang menjadi isu sosial-ekonomi yang menyentuh aspek kepercayaan publik terhadap keamanan pangan.

Penelitian juga menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu termasuk spesies invasif yang mampu mendominasi perairan dan berdampak pada penurunan hasil tangkapan nelayan serta keseimbangan biodiversitas.

Secara ilmiah, ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) dikenal sebagai spesies invasif dengan kemampuan adaptasi yang sangat tinggi terhadap lingkungan tercemar. Karakteristik ini membuatnya mampu berkembang pesat di perairan dengan kualitas rendah, sekaligus mengancam keseimbangan ekosistem lokal. Dalam beberapa pemberitaan, disebutkan bahwa populasi ikan ini di perairan Jakarta telah mendominasi hingga sekitar 60% di titik tertentu. Kondisi ini mendorong pemerintah melakukan penangkapan massal sebagai upaya pengendalian populasi. Laporan dari IDN Times dan Detik menegaskan bahwa keberadaan ikan ini tidak hanya mengganggu habitat ikan lokal, tetapi juga berpotensi merusak struktur ekosistem sungai.

Namun, persoalan menjadi lebih kompleks ketika isu ini bersinggungan dengan sektor pangan. Muncul kekhawatiran di masyarakat bahwa ikan sapu-sapu digunakan sebagai bahan baku makanan, termasuk somay. Dugaan ini sempat diangkat oleh media seperti NU Online Jakarta yang mendorong perlunya pengawasan ketat terhadap rantai pasok bahan pangan. Kekhawatiran tersebut tidak sepenuhnya tanpa dasar, mengingat pemerintah daerah juga menegaskan bahwa ikan sapu-sapu yang hidup di sungai tercemar, seperti di Jakarta, berpotensi mengandung logam berat dan tidak dianjurkan untuk dikonsumsi, sebagaimana diberitakan oleh Detik dan Kumparan.

Dalam perspektif ekonomi, kondisi ini dapat dijelaskan melalui konsep asymmetric information, yaitu ketidakseimbangan informasi antara produsen (pedagang) dan konsumen. Konsumen tidak memiliki informasi yang cukup mengenai asal bahan baku makanan, sehingga ketika muncul isu negatif, mereka cenderung mengambil sikap defensif dengan mengurangi konsumsi. Akibatnya, terjadi krisis kepercayaan (trust crisis) yang berdampak langsung pada pelaku usaha kecil, termasuk pedagang somay yang sebenarnya tidak terlibat dalam praktik tersebut.

Di sisi lain, jika dilihat secara global, ikan sapu-sapu bukanlah ikan yang secara alami berbahaya. Di beberapa negara seperti Meksiko, Filipina, dan Brasil, ikan ini telah dimanfaatkan sebagai sumber pangan alternatif. Di Meksiko, misalnya, ikan ini dikenal sebagai "pez diablo” dan bahkan didorong untuk dikonsumsi sebagai bagian dari strategi pengendalian populasi. Hal ini menunjukkan bahwa secara ilmiah, permasalahan utama bukan terletak pada jenis ikan itu sendiri, melainkan pada kualitas lingkungan tempat ikan tersebut hidup.

Dengan demikian, narasi yang lebih proporsional adalah bahwa ikan sapu-sapu dapat menjadi solusi di satu konteks, namun menjadi masalah di konteks lain. Di negara dengan pengelolaan lingkungan yang baik, ikan ini berpotensi menjadi sumber ekonomi baru. Sebaliknya, di wilayah dengan tingkat pencemaran tinggi seperti beberapa sungai di Jakarta, pemanfaatannya sebagai bahan pangan justru berisiko dan memperburuk persepsi publik.

Kesimpulannya, penanganan isu ikan sapu-sapu tidak seharusnya berhenti pada pemberantasan atau larangan semata. Diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif, meliputi edukasi masyarakat, transparansi dalam rantai pasok bahan pangan, serta pengawasan yang ketat terhadap kualitas produk yang beredar di pasar. Tanpa langkah-langkah tersebut, yang terjadi bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga kerugian ekonomi bagi pelaku usaha kecil yang sebenarnya tidak bersalah.  
Tanpa kejelasan informasi dan pengawasan yang kuat, yang hancur bukan hanya ekosistem sungai, tetapi juga kepercayaan publik terhadap makanan yang mereka konsumsi setiap hari.

Daftar Pustaka:
IDN Times. (2024). Populasi ikan sapu-sapu kuasai hingga 60% perairan Jakarta. Diakses dari https://www.idntimes.com/news/indonesia

Detik.com. (2024a). Penangkapan massal ikan sapu-sapu di Jakarta mencapai beberapa ton. Diakses dari https://news.detik.com

Detik.com. (2024b). Pemprov DKI: ikan sapu-sapu dari sungai tercemar tidak aman dikonsumsi. Diakses dari https://news.detik.com

Kumparan. (2024). Belum ada regulasi khusus larangan konsumsi ikan sapu-sapu. Diakses dari https://kumparan.com

NU Online Jakarta. (2024). Dugaan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku siomay dan dorongan pengawasan. Diakses dari https://jakarta.nu.or.id

Food and Agriculture Organization. (2020). Invasive aquatic species and their utilization. Diakses dari https://www.fao.org



Ikan Sapu-Sapu, Antara Solusi Lingkungan dan Ancaman Kepercayaan Konsumen








NEXT:

Harusnya Apa yang Perlu Dilakukan Bank Indonesia?


PREV:

7 Kesalahan dalam Beternak Lele yang Harus Dihindari Pemula

NEXT:

Harusnya Apa yang Perlu Dilakukan Bank Indonesia?


PREV:

7 Kesalahan dalam Beternak Lele yang Harus Dihindari Pemula

Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom., adalah dosen dan penulis opini yang mengajar Bisnis Digital dan Akuntansi di STIE Mulia Pratama Bekasi. Ia aktif menulis tentang teknologi, perubahan sosial, geopolitik, dan refleksi iman di tengah dinamika dunia modern.
About me selengkapnya...




Lingkungan Hidup :
  • Ikan Sapu-Sapu, Antara Solusi Lingkungan dan Ancaman Kepercayaan Konsumen
  • Sampai Kapan Gunung Kita Dibunuh Demi Sawit?

Pencarian E-DDC 23
Electronic Dewey Decimal Classification untuk Perpustakaan