View : 51 kali.
Home >
berita-labuhan-batu
Kategori: Aku Cinta Labuhan Batu
Jumat, 04 September 2026

Oleh: Murdan SianturiAda sesuatu yang menarik kalau kita berbicara tentang labuhanbatu.
labuhanbatu bukan hanya sebuah wilayah administratif di Sumatera Utara. Ia adalah sebuah ruang perjumpaan manusia.
Di tanah ini, orang batak bertemu orang melayu. Orang Jawa hidup berdampingan dengan mandailing. Orang Toba bertetangga dengan angkola. Orang Minangkabau berdagang bersama masyarakat setempat. Orang Nias, Aceh, Tionghoa dan berbagai kelompok lainnya ikut membangun kehidupan sosial dan ekonomi.
Dan di balik kata "batak”, ternyata terdapat begitu banyak nama marga.
Karena itu, kalau ada yang bertanya:
"Suku apa saja yang ada di labuhanbatu?”
Jawabannya tidak cukup hanya:
batak, Jawa dan melayu.
Itu benar, tetapi belum menggambarkan kekayaan masyarakat labuhanbatu yang sebenarnya.
labuhanbatu adalah Tanah Pertemuan
Secara sosial, labuhanbatu adalah sebuah mosaik.
Ada masyarakat batak Toba, angkola, mandailing, Simalungun, Karo dan Pakpak.
Ada masyarakat melayu yang mempunyai akar sejarah kuat di kawasan Sumatera Timur.
Ada masyarakat Jawa yang kedatangannya berkaitan erat dengan perkembangan perkebunan dan kemudian berkembang menjadi komunitas besar.
Ada pula Minangkabau, Aceh, Nias, Tionghoa, Banjar, Sunda, Bugis dan kelompok masyarakat lainnya.
Mereka datang melalui sejarah yang berbeda.
Ada yang lahir di sana.
Ada yang datang karena pekerjaan.
Ada yang mengikuti keluarga.
Ada yang datang sebagai pedagang.
Ada yang datang melalui program transmigrasi.
Ada pula yang datang karena perkawinan.
Tetapi setelah puluhan tahun, satu hal terjadi:
mereka sama-sama menjadi bagian dari labuhanbatu.
Kalau batak, Jangan Hanya Menyebut "batak”
Inilah yang sering menarik perhatian saya.
Ketika orang luar mengatakan:
"Di labuhanbatu banyak orang batak.”
Itu memang benar.
Tetapi bagi orang batak sendiri, pertanyaan berikutnya biasanya:
"batak apa?”
he he
Sebab batak bukan sebuah identitas yang sederhana.
Ada Toba.
Ada angkola.
Ada mandailing.
Ada Simalungun.
Ada Karo.
Ada Pakpak.
Dan di dalamnya terdapat begitu banyak marga.
batak Toba
Di antara marga yang dapat ditemukan dalam masyarakat batak Toba dan persebarannya di Sumatera Utara antara lain:
Ambarita, Aritonang, Aruan, Banjarnahor, Baringbing, Batubara, Bondar, Butarbutar, Gultom, Gurning, Habeahan, Harianja, Hasibuan, Hutabarat, Hutagalung, Hutahaean, Hutajulu, Hutapea, Hutasoit, Hutauruk, Limbong, Lubis, Lumbanbatu, Lumbangaol, Lumbanraja, Lumbantobing, Lumbantoruan, Mahulae, Malau, Manalu, Manihuruk, Manullang, Manurung, Marbun, Marpaung, Munte/Munthe, Nababan, Nadeak, Naibaho, Nainggolan, Naipospos, Napitupulu, Pakpahan, Pandiangan, Pangaribuan, Panggabean, Panjaitan, Parapat, Pardede, Pasaribu, Pohan, Purba, Rambe, Ritonga, Sagala, Samosir, Sarumpaet, Siagian, Siahaan, Siallagan, Sianturi, Sibagariang, Sibarani, Sibuea, Siburian, Sidabutar, Sidabalok, Sigalingging, Sihite, Sihombing, Sihotang, Sijabat, Silaban, Silaen, Silalahi, Silitonga, Simamora, Simanjuntak, Simangunsong, Simanullang, Simanungkalit, Simaremare, Simarmata, Simatupang (Togatorop, Sianturi, Siburian), Simbolon, Simorangkir, Sinaga, Sinambela, Sinurat, Sipahutar, Sirait, Siregar, Siringoringo, Sitanggang, Sitindaon, Sitio, Sitohang, Sitompul, Sitorus, Situmeang, Situmorang, Situngkir, Tamba, Tambunan, Tampubolon, Tanjung, Tarihoran, Togatorop, Turnip, dan masih banyak lagi.
Kalau ada pembaca bermarga tertentu lalu berkata:
"Marga au ise? Kok ndang adong?”
he he
Itulah sebabnya daftar seperti ini harus dibaca sebagai daftar penggambaran, bukan daftar administrasi resmi.
Persebaran marga batak tidak berhenti di batas kabupaten.
Daulay dan Dalimunthe
Sekarang kita masuk ke bagian yang mungkin paling menarik bagi sebagian pembaca labuhanbatu.
Daulay.
Dalimunthe.
Keduanya harus disebut.
Dalam komunitas angkola-mandailing, kita mengenal berbagai marga seperti:
Dalimunthe, Daulay, Harahap, Hasibuan, Hutasuhut, Lubis, Matondang, Nasution, Pane, Parinduri, Pulungan, Rambe, Rangkuti, Ritonga, Siregar, Batubara, Pohan, Pakpahan, Munthe, Dongoran, dan lainnya.
Penelitian mengenai masyarakat mandailing di Panai Tengah juga menunjukkan keberadaan berbagai marga mandailing di kawasan tersebut.
Tetapi di sini kita harus berhati-hati.
Marga tidak selalu dapat dikunci secara sederhana hanya kepada satu sub-etnis.
Ada marga yang ditemukan pada lebih dari satu kelompok batak.
Ada pula perbedaan dalam tradisi genealogis dan klasifikasi menurut masyarakat.
Karena itu, lebih tepat mengatakan:
"Marga tersebut ditemukan dalam komunitas tertentu.”
Daripada mengatakan:
"Marga ini hanya milik kelompok X.”
Simalungun, Karo dan Pakpak Juga Bagian dari Cerita
Masyarakat Simalungun juga mempunyai persebaran di berbagai wilayah Sumatera Utara.
Beberapa nama marga yang dikenal antara lain:
Damanik, Girsang, Purba, Saragih, Sinaga, Sipayung, Sumbayak, Manik, Sidabalok, Sidagambir, Sidahapintu, Sidasuha, Sihaloho, Silalahi, Simarmata, Simanjorang, Tambak, Tarigan, dan lainnya.
Sementara masyarakat Karo mempunyai lima kelompok marga utama:
Ginting, Karo-karo, Perangin-angin, Sembiring dan Tarigan, dengan berbagai submarga.
Masyarakat Pakpak juga memiliki sejumlah marga, antara lain:
Angkat, Bancin, Banurea, Berampu, Capah, Cibro, Dabutar, Lingga/Linggah, serta berbagai marga lainnya.
Jadi ketika kita berbicara mengenai masyarakat batak di labuhanbatu, gambarnya memang jauh lebih luas daripada yang sering kita bayangkan.
Lalu Datanglah Orang Jawa
Ini bagian sejarah labuhanbatu yang sangat menarik.
Kehadiran masyarakat Jawa di Sumatera tidak dapat dilepaskan dari perkembangan perkebunan di Sumatera Timur pada masa kolonial.
Pada masa awal perkembangan perkebunan, tenaga kerja didatangkan dari luar Sumatera, termasuk dari Pulau Jawa. Perkebunan tembakau di Deli menjadi salah satu pusat penting kedatangan buruh Jawa. Mereka bekerja sebagai buruh kontrak dalam sistem perkebunan kolonial.
Kemudian perkembangan perkebunan meluas ke berbagai wilayah Sumatera Timur.
Dan labuhanbatu termasuk di dalam wilayah perkembangan perkebunan tersebut.
Yang menarik, penelitian sejarah mengenai Padang Halaban, labuhanbatu, mencatat bahwa pembukaan perkebunan kelapa sawit sejak sekitar 1915 menjadi salah satu faktor yang mendorong migrasi masyarakat Jawa ke kawasan tersebut.
Jadi ketika kita mengatakan:
"Orang Jawa datang ke Sumatera karena perkebunan.”
Ada dasar sejarahnya.
Tetapi kita tidak boleh menyederhanakannya menjadi:
"Orang Jawa semuanya datang sebagai buruh sawit.”
Itu tidak tepat.
Sebab komoditas perkebunan berubah dari masa ke masa.
Ada tembakau.
Ada karet.
Kemudian kelapa sawit berkembang semakin penting.
Dan para pendatang Jawa tidak selamanya menjadi buruh.
Mereka kemudian menjadi:
petani, pedagang, guru, pegawai, pengusaha, pekerja swasta, tokoh masyarakat dan berbagai profesi lainnya.
Dari Buruh Perkebunan Menjadi Masyarakat labuhanbatu
Menurut saya, di sinilah kisah orang Jawa menjadi menarik.
Generasi pertama mungkin datang dengan status sebagai pekerja.
Mereka meninggalkan Pulau Jawa.
Mereka datang ke tanah yang jauh.
Mereka bekerja.
Mereka menikah.
Mereka membangun rumah.
Mereka memiliki anak.
Anak-anak mereka bersekolah.
Kemudian cucu mereka lahir di Sumatera.
Generasi berikutnya mungkin bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di desa leluhur mereka di Jawa.
Tetapi mereka masih membawa:
bahasa Jawa, nama keluarga, kesenian, makanan, adat dan kenangan leluhur.
Namun identitas mereka perlahan berubah.
Mereka bukan lagi hanya:
"Orang Jawa yang tinggal di Sumatera.”
Mereka sudah menjadi:
"Orang labuhanbatu yang mempunyai akar budaya Jawa.”
Menurut saya, itu perbedaan yang sangat penting.
Ada "Bahasa Jawa labuhanbatu”
Hal lain yang menarik adalah bahasa.
Orang Jawa di labuhanbatu tentu masih mengenal bahasa Jawa.
Tetapi bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari tidak selalu persis sama dengan bahasa Jawa yang digunakan di Yogyakarta, Solo, atau daerah asal leluhur mereka.
Bahasa mengalami adaptasi.
Ada pengaruh bahasa Indonesia.
Ada pengaruh bahasa batak.
Ada pengaruh melayu.
Ada perubahan pengucapan.
Ada kosakata lokal.
Dan yang paling penting:
logatnya bisa berubah.
Maka tidak mengherankan apabila seseorang yang lahir dan besar di labuhanbatu berbicara bahasa Jawa dengan "rasa Sumatera.”
he he
Itulah salah satu bukti bahwa kebudayaan tidak pernah benar-benar diam.
Ia bergerak mengikuti manusia.
Bahasa pun demikian.
melayu Jangan Dilupakan
Dalam cerita tentang labuhanbatu, masyarakat melayu juga harus mendapatkan tempat yang layak.
Sebelum perkebunan modern berkembang, kawasan Sumatera Timur sudah mempunyai masyarakat dan kerajaan melayu.
labuhanbatu merupakan bagian dari sejarah kawasan tersebut.
Karena itu, masyarakat melayu bukan sekadar kelompok yang kebetulan tinggal di labuhanbatu.
Mereka mempunyai akar sejarah yang panjang.
Kawasan sungai, pesisir dan pusat-pusat kekuasaan melayu merupakan bagian penting dari sejarah terbentuknya masyarakat labuhanbatu.
Maka ketika kita berbicara mengenai labuhanbatu, kita tidak boleh hanya melihat sejarah perkebunan.
Kita juga harus melihat sejarah melayu, sejarah kerajaan, sejarah perdagangan dan sejarah masyarakat lokal.
Minang, Aceh, Nias, Tionghoa dan Lainnya
Setelah itu, kita akan menemukan kelompok masyarakat lainnya.
Ada Minangkabau.
Ada Aceh.
Ada Nias.
Ada Tionghoa.
Ada Banjar.
Ada Sunda.
Ada Bugis.
Dan masih banyak lagi.
Mereka mempunyai cerita masing-masing.
Ada yang datang karena berdagang.
Ada karena pekerjaan.
Ada karena perkawinan.
Ada karena mengikuti keluarga.
Ada karena pendidikan.
Ada yang memang sudah beberapa generasi tinggal di labuhanbatu.
Akhirnya semua cerita itu bertemu.
labuhanbatu: Tempat Identitas Bertemu
Menurut saya, inilah keunikan labuhanbatu.
Seseorang bisa mempunyai identitas yang berlapis.
Misalnya:
Marga batak.
Keturunan keluarga Jawa.
Lahir di Rantauprapat.
Besar di kampung melayu.
he he
Apa dia harus memilih satu?
Tidak.
Itulah Indonesia.
Identitas manusia tidak selalu hanya satu.
Seseorang dapat mencintai marga dan adat leluhurnya sekaligus mencintai tanah tempat ia dilahirkan.
Orang Jawa tidak harus kehilangan kejawaannya hanya karena lahir di Sumatera.
Orang batak tidak kehilangan kebatakannya karena hidup berdampingan dengan Jawa dan melayu.
Orang melayu tidak kehilangan identitasnya karena masyarakat pendatang berkembang di sekitarnya.
Justru perjumpaan itulah yang membentuk labuhanbatu.
Jangan Bertengkar Hanya Gara-Gara Marga
Ada satu hal yang menurut saya penting.
Daftar marga seharusnya menjadi cara untuk mengenal, bukan untuk membandingkan siapa yang lebih hebat.
Jangan sampai:
"Marga saya lebih banyak.”
"Suku saya lebih dulu.”
"Kampung saya paling asli.”
he he
Kalau sudah begitu, kita lupa tujuan awalnya.
Padahal marga adalah salah satu cara manusia mengingat asal-usul.
Sejarah suku adalah cara manusia memahami perjalanan leluhur.
Sedangkan keberagaman adalah kenyataan kehidupan kita sekarang.
Catatan: Daftar Ini Bukan Daftar Final
Saya sengaja membuat daftar marga dalam tulisan ini cukup panjang.
Namun saya tidak mengatakan:
"Inilah seluruh marga yang ada di labuhanbatu.”
Itu klaim yang terlalu besar.
Batas administrasi kabupaten tidak sama dengan batas persebaran marga.
Selain itu, ada marga yang mempunyai berbagai cabang, variasi penulisan, serta hubungan genealogis yang berbeda menurut tradisi masyarakat.
Karena itu, daftar ini lebih tepat dipandang sebagai upaya mengenalkan keragaman marga yang dapat ditemukan dalam masyarakat labuhanbatu dan kawasan sekitarnya.
Kalau ada marga yang belum disebutkan, jangan marah.
he he
Justru tambahkan.
Tuliskan:
"Marga saya belum masuk.”
Lalu sebutkan marganya.
Dengan begitu, tulisan ini dapat menjadi semacam dokumentasi terbuka tentang kekayaan masyarakat labuhanbatu.
Akhirnya, Apa Sebenarnya labuhanbatu Itu?
Kalau kita melihat labuhanbatu hanya dari peta, ia hanyalah sebuah wilayah.
Tetapi kalau kita melihat manusia yang hidup di dalamnya, labuhanbatu adalah sebuah cerita besar.
Cerita tentang batak.
Cerita tentang melayu.
Cerita tentang Jawa.
Cerita tentang mandailing.
Cerita tentang angkola.
Cerita tentang Simalungun.
Cerita tentang Karo.
Cerita tentang Pakpak.
Cerita tentang Minangkabau.
Cerita tentang Aceh.
Cerita tentang Nias.
Cerita tentang Tionghoa.
Dan cerita tentang berbagai kelompok lainnya.
Ada yang datang sebagai pekerja.
Ada yang datang sebagai pedagang.
Ada yang datang karena perkawinan.
Ada yang datang karena pendidikan.
Ada yang datang karena transmigrasi.
Ada yang lahir di sana.
Namun akhirnya mereka mempunyai satu persamaan:
mereka ikut menulis sejarah labuhanbatu.
Mungkin seorang Sianturi tetap Sianturi.
Seorang Siregar tetap Siregar.
Seorang Nasution tetap Nasution.
Seorang Daulay tetap Daulay.
Seorang Dalimunthe tetap Dalimunthe.
Seorang Jawa tetap membawa budaya Jawanya.
Seorang melayu tetap membawa sejarah Melayunya.
Tetapi semuanya dapat berkata:
"Saya orang labuhanbatu.”
Dan menurut saya, kalimat itulah yang paling indah.
Sebab labuhanbatu bukan dibangun oleh satu suku.
labuhanbatu dibangun oleh banyak manusia dengan sejarah yang berbeda-beda.
Mereka membawa identitas dari tempat asal masing-masing.
Tetapi di tanah ini mereka bertemu.
Mereka bekerja.
Mereka menikah.
Mereka membangun keluarga.
Mereka mendidik anak-anak.
Mereka membangun kampung.
Dan akhirnya, tanpa disadari, mereka membentuk sebuah identitas bersama:
labuhanbatu.
Labuhanbatu: Ketika Batak, Melayu, Jawa dan Ratusan Marga Bertemu di Tanah yang Sama
Jumat, 04 September 2026
Labuhanbatu: Ketika Batak, Melayu, Jawa dan Ratusan Marga Bertemu di Tanah yang Sama

Labuhanbatu adalah tanah pertemuan: Batak, Melayu, Jawa dan berbagai marga serta kelompok masyarakat hidup berdampingan dalam satu ruang budaya.
Oleh: Murdan SianturiAda sesuatu yang menarik kalau kita berbicara tentang labuhanbatu.
labuhanbatu bukan hanya sebuah wilayah administratif di Sumatera Utara. Ia adalah sebuah ruang perjumpaan manusia.
Di tanah ini, orang batak bertemu orang melayu. Orang Jawa hidup berdampingan dengan mandailing. Orang Toba bertetangga dengan angkola. Orang Minangkabau berdagang bersama masyarakat setempat. Orang Nias, Aceh, Tionghoa dan berbagai kelompok lainnya ikut membangun kehidupan sosial dan ekonomi.
Dan di balik kata "batak”, ternyata terdapat begitu banyak nama marga.
Karena itu, kalau ada yang bertanya:
"Suku apa saja yang ada di labuhanbatu?”
Jawabannya tidak cukup hanya:
batak, Jawa dan melayu.
Itu benar, tetapi belum menggambarkan kekayaan masyarakat labuhanbatu yang sebenarnya.
labuhanbatu adalah Tanah Pertemuan
Secara sosial, labuhanbatu adalah sebuah mosaik.
Ada masyarakat batak Toba, angkola, mandailing, Simalungun, Karo dan Pakpak.
Ada masyarakat melayu yang mempunyai akar sejarah kuat di kawasan Sumatera Timur.
Ada masyarakat Jawa yang kedatangannya berkaitan erat dengan perkembangan perkebunan dan kemudian berkembang menjadi komunitas besar.
Ada pula Minangkabau, Aceh, Nias, Tionghoa, Banjar, Sunda, Bugis dan kelompok masyarakat lainnya.
Mereka datang melalui sejarah yang berbeda.
Ada yang lahir di sana.
Ada yang datang karena pekerjaan.
Ada yang mengikuti keluarga.
Ada yang datang sebagai pedagang.
Ada yang datang melalui program transmigrasi.
Ada pula yang datang karena perkawinan.
Tetapi setelah puluhan tahun, satu hal terjadi:
mereka sama-sama menjadi bagian dari labuhanbatu.
Kalau batak, Jangan Hanya Menyebut "batak”
Inilah yang sering menarik perhatian saya.
Ketika orang luar mengatakan:
"Di labuhanbatu banyak orang batak.”
Itu memang benar.
Tetapi bagi orang batak sendiri, pertanyaan berikutnya biasanya:
"batak apa?”
he he
Sebab batak bukan sebuah identitas yang sederhana.
Ada Toba.
Ada angkola.
Ada mandailing.
Ada Simalungun.
Ada Karo.
Ada Pakpak.
Dan di dalamnya terdapat begitu banyak marga.
Di antara marga yang dapat ditemukan dalam masyarakat batak Toba dan persebarannya di Sumatera Utara antara lain:
Ambarita, Aritonang, Aruan, Banjarnahor, Baringbing, Batubara, Bondar, Butarbutar, Gultom, Gurning, Habeahan, Harianja, Hasibuan, Hutabarat, Hutagalung, Hutahaean, Hutajulu, Hutapea, Hutasoit, Hutauruk, Limbong, Lubis, Lumbanbatu, Lumbangaol, Lumbanraja, Lumbantobing, Lumbantoruan, Mahulae, Malau, Manalu, Manihuruk, Manullang, Manurung, Marbun, Marpaung, Munte/Munthe, Nababan, Nadeak, Naibaho, Nainggolan, Naipospos, Napitupulu, Pakpahan, Pandiangan, Pangaribuan, Panggabean, Panjaitan, Parapat, Pardede, Pasaribu, Pohan, Purba, Rambe, Ritonga, Sagala, Samosir, Sarumpaet, Siagian, Siahaan, Siallagan, Sianturi, Sibagariang, Sibarani, Sibuea, Siburian, Sidabutar, Sidabalok, Sigalingging, Sihite, Sihombing, Sihotang, Sijabat, Silaban, Silaen, Silalahi, Silitonga, Simamora, Simanjuntak, Simangunsong, Simanullang, Simanungkalit, Simaremare, Simarmata, Simatupang (Togatorop, Sianturi, Siburian), Simbolon, Simorangkir, Sinaga, Sinambela, Sinurat, Sipahutar, Sirait, Siregar, Siringoringo, Sitanggang, Sitindaon, Sitio, Sitohang, Sitompul, Sitorus, Situmeang, Situmorang, Situngkir, Tamba, Tambunan, Tampubolon, Tanjung, Tarihoran, Togatorop, Turnip, dan masih banyak lagi.
Kalau ada pembaca bermarga tertentu lalu berkata:
"Marga au ise? Kok ndang adong?”
he he
Itulah sebabnya daftar seperti ini harus dibaca sebagai daftar penggambaran, bukan daftar administrasi resmi.
Persebaran marga batak tidak berhenti di batas kabupaten.
Sekarang kita masuk ke bagian yang mungkin paling menarik bagi sebagian pembaca labuhanbatu.
Daulay.
Dalimunthe.
Keduanya harus disebut.
Dalam komunitas angkola-mandailing, kita mengenal berbagai marga seperti:
Dalimunthe, Daulay, Harahap, Hasibuan, Hutasuhut, Lubis, Matondang, Nasution, Pane, Parinduri, Pulungan, Rambe, Rangkuti, Ritonga, Siregar, Batubara, Pohan, Pakpahan, Munthe, Dongoran, dan lainnya.
Penelitian mengenai masyarakat mandailing di Panai Tengah juga menunjukkan keberadaan berbagai marga mandailing di kawasan tersebut.
Tetapi di sini kita harus berhati-hati.
Marga tidak selalu dapat dikunci secara sederhana hanya kepada satu sub-etnis.
Ada marga yang ditemukan pada lebih dari satu kelompok batak.
Ada pula perbedaan dalam tradisi genealogis dan klasifikasi menurut masyarakat.
Karena itu, lebih tepat mengatakan:
"Marga tersebut ditemukan dalam komunitas tertentu.”
Daripada mengatakan:
"Marga ini hanya milik kelompok X.”
Simalungun, Karo dan Pakpak Juga Bagian dari Cerita
Masyarakat Simalungun juga mempunyai persebaran di berbagai wilayah Sumatera Utara.
Beberapa nama marga yang dikenal antara lain:
Damanik, Girsang, Purba, Saragih, Sinaga, Sipayung, Sumbayak, Manik, Sidabalok, Sidagambir, Sidahapintu, Sidasuha, Sihaloho, Silalahi, Simarmata, Simanjorang, Tambak, Tarigan, dan lainnya.
Sementara masyarakat Karo mempunyai lima kelompok marga utama:
Ginting, Karo-karo, Perangin-angin, Sembiring dan Tarigan, dengan berbagai submarga.
Masyarakat Pakpak juga memiliki sejumlah marga, antara lain:
Angkat, Bancin, Banurea, Berampu, Capah, Cibro, Dabutar, Lingga/Linggah, serta berbagai marga lainnya.
Jadi ketika kita berbicara mengenai masyarakat batak di labuhanbatu, gambarnya memang jauh lebih luas daripada yang sering kita bayangkan.
Ini bagian sejarah labuhanbatu yang sangat menarik.
Sekitar tahun 1900-an, sudah terjadi kedatangan orang Jawa ke wilayah labuhanbatu dalam jumlah yang semakin besar. Salah satu pemicunya adalah pembukaan perkebunan karet, termasuk perkebunan Sennah di Bilah Hilir. Penelitian UNIMED menyebut kedatangan pendatang ke labuhanbatu pada awal abad ke-20 didominasi orang Jawa yang didatangkan pengusaha perkebunan sebagai tenaga kerja kontrak (kuli kontrak).
Kemudian ada tonggak penting tahun 1915. Pada tahun itu perkebunan kelapa sawit mulai dibuka di Padang Halaban, dan penelitian sejarah UNIMED menyebut pembukaan perkebunan tersebut menjadi salah satu penyebab utama migrasi masyarakat Jawa ke Padang Halaban.
Kemudian ada tonggak penting tahun 1915. Pada tahun itu perkebunan kelapa sawit mulai dibuka di Padang Halaban, dan penelitian sejarah UNIMED menyebut pembukaan perkebunan tersebut menjadi salah satu penyebab utama migrasi masyarakat Jawa ke Padang Halaban.
Pada masa awal perkembangan perkebunan, tenaga kerja didatangkan dari luar Sumatera, termasuk dari Pulau Jawa. Perkebunan tembakau di Deli menjadi salah satu pusat penting kedatangan buruh Jawa. Mereka bekerja sebagai buruh kontrak dalam sistem perkebunan kolonial.
Kemudian perkembangan perkebunan meluas ke berbagai wilayah Sumatera Timur.
Dan labuhanbatu termasuk di dalam wilayah perkembangan perkebunan tersebut.
Yang menarik, penelitian sejarah mengenai Padang Halaban, labuhanbatu, mencatat bahwa pembukaan perkebunan kelapa sawit sejak sekitar 1915 menjadi salah satu faktor yang mendorong migrasi masyarakat Jawa ke kawasan tersebut.
Jadi ketika kita mengatakan:
"Orang Jawa datang ke Sumatera karena perkebunan.”
Ada dasar sejarahnya.
Tetapi kita tidak boleh menyederhanakannya menjadi:
"Orang Jawa semuanya datang sebagai buruh sawit.”
Itu tidak tepat.
Sebab komoditas perkebunan berubah dari masa ke masa.
Ada tembakau.
Ada karet.
Kemudian kelapa sawit berkembang semakin penting.
Dan para pendatang Jawa tidak selamanya menjadi buruh.
Mereka kemudian menjadi:
petani, pedagang, guru, pegawai, pengusaha, pekerja swasta, tokoh masyarakat dan berbagai profesi lainnya.
Menurut saya, di sinilah kisah orang Jawa menjadi menarik.
Generasi pertama mungkin datang dengan status sebagai pekerja.
Mereka meninggalkan Pulau Jawa.
Mereka datang ke tanah yang jauh.
Mereka bekerja.
Mereka menikah.
Mereka membangun rumah.
Mereka memiliki anak.
Anak-anak mereka bersekolah.
Kemudian cucu mereka lahir di Sumatera.
Generasi berikutnya mungkin bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di desa leluhur mereka di Jawa.
Tetapi mereka masih membawa:
bahasa Jawa, nama keluarga, kesenian, makanan, adat dan kenangan leluhur.
Namun identitas mereka perlahan berubah.
Mereka bukan lagi hanya:
"Orang Jawa yang tinggal di Sumatera.”
Mereka sudah menjadi:
"Orang labuhanbatu yang mempunyai akar budaya Jawa.”
Menurut saya, itu perbedaan yang sangat penting.
Hal lain yang menarik adalah bahasa.
Orang Jawa di labuhanbatu tentu masih mengenal bahasa Jawa.
Tetapi bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari tidak selalu persis sama dengan bahasa Jawa yang digunakan di Yogyakarta, Solo, atau daerah asal leluhur mereka.
Bahasa mengalami adaptasi.
Ada pengaruh bahasa Indonesia.
Ada pengaruh bahasa batak.
Ada pengaruh melayu.
Ada perubahan pengucapan.
Ada kosakata lokal.
Dan yang paling penting:
logatnya bisa berubah.
Maka tidak mengherankan apabila seseorang yang lahir dan besar di labuhanbatu berbicara bahasa Jawa dengan "rasa Sumatera.”
he he
Itulah salah satu bukti bahwa kebudayaan tidak pernah benar-benar diam.
Ia bergerak mengikuti manusia.
Bahasa pun demikian.
Dalam cerita tentang labuhanbatu, masyarakat melayu juga harus mendapatkan tempat yang layak.
Sebelum perkebunan modern berkembang, kawasan Sumatera Timur sudah mempunyai masyarakat dan kerajaan melayu.
labuhanbatu merupakan bagian dari sejarah kawasan tersebut.
Karena itu, masyarakat melayu bukan sekadar kelompok yang kebetulan tinggal di labuhanbatu.
Mereka mempunyai akar sejarah yang panjang.
Kawasan sungai, pesisir dan pusat-pusat kekuasaan melayu merupakan bagian penting dari sejarah terbentuknya masyarakat labuhanbatu.
Maka ketika kita berbicara mengenai labuhanbatu, kita tidak boleh hanya melihat sejarah perkebunan.
Kita juga harus melihat sejarah melayu, sejarah kerajaan, sejarah perdagangan dan sejarah masyarakat lokal.
Setelah itu, kita akan menemukan kelompok masyarakat lainnya.
Ada Minangkabau.
Ada Aceh.
Ada Nias.
Ada Tionghoa.
Ada Banjar.
Ada Sunda.
Ada Bugis.
Dan masih banyak lagi.
Mereka mempunyai cerita masing-masing.
Ada yang datang karena berdagang.
Ada karena pekerjaan.
Ada karena perkawinan.
Ada karena mengikuti keluarga.
Ada karena pendidikan.
Ada yang memang sudah beberapa generasi tinggal di labuhanbatu.
Akhirnya semua cerita itu bertemu.
Menurut saya, inilah keunikan labuhanbatu.
Seseorang bisa mempunyai identitas yang berlapis.
Misalnya:
Marga batak.
Keturunan keluarga Jawa.
Lahir di Rantauprapat.
Besar di kampung melayu.
he he
Apa dia harus memilih satu?
Tidak.
Itulah Indonesia.
Identitas manusia tidak selalu hanya satu.
Seseorang dapat mencintai marga dan adat leluhurnya sekaligus mencintai tanah tempat ia dilahirkan.
Orang Jawa tidak harus kehilangan kejawaannya hanya karena lahir di Sumatera.
Orang batak tidak kehilangan kebatakannya karena hidup berdampingan dengan Jawa dan melayu.
Orang melayu tidak kehilangan identitasnya karena masyarakat pendatang berkembang di sekitarnya.
Justru perjumpaan itulah yang membentuk labuhanbatu.
Ada satu hal yang menurut saya penting.
Daftar marga seharusnya menjadi cara untuk mengenal, bukan untuk membandingkan siapa yang lebih hebat.
Jangan sampai:
"Marga saya lebih banyak.”
"Suku saya lebih dulu.”
"Kampung saya paling asli.”
he he
Kalau sudah begitu, kita lupa tujuan awalnya.
Padahal marga adalah salah satu cara manusia mengingat asal-usul.
Sejarah suku adalah cara manusia memahami perjalanan leluhur.
Sedangkan keberagaman adalah kenyataan kehidupan kita sekarang.
Saya sengaja membuat daftar marga dalam tulisan ini cukup panjang.
Namun saya tidak mengatakan:
"Inilah seluruh marga yang ada di labuhanbatu.”
Itu klaim yang terlalu besar.
Batas administrasi kabupaten tidak sama dengan batas persebaran marga.
Selain itu, ada marga yang mempunyai berbagai cabang, variasi penulisan, serta hubungan genealogis yang berbeda menurut tradisi masyarakat.
Karena itu, daftar ini lebih tepat dipandang sebagai upaya mengenalkan keragaman marga yang dapat ditemukan dalam masyarakat labuhanbatu dan kawasan sekitarnya.
Kalau ada marga yang belum disebutkan, jangan marah.
he he
Justru tambahkan.
Tuliskan:
"Marga saya belum masuk.”
Lalu sebutkan marganya.
Dengan begitu, tulisan ini dapat menjadi semacam dokumentasi terbuka tentang kekayaan masyarakat labuhanbatu.
Kalau kita melihat labuhanbatu hanya dari peta, ia hanyalah sebuah wilayah.
Tetapi kalau kita melihat manusia yang hidup di dalamnya, labuhanbatu adalah sebuah cerita besar.
Cerita tentang batak.
Cerita tentang melayu.
Cerita tentang Jawa.
Cerita tentang mandailing.
Cerita tentang angkola.
Cerita tentang Simalungun.
Cerita tentang Karo.
Cerita tentang Pakpak.
Cerita tentang Minangkabau.
Cerita tentang Aceh.
Cerita tentang Nias.
Cerita tentang Tionghoa.
Dan cerita tentang berbagai kelompok lainnya.
Ada yang datang sebagai pekerja.
Ada yang datang sebagai pedagang.
Ada yang datang karena perkawinan.
Ada yang datang karena pendidikan.
Ada yang datang karena transmigrasi.
Ada yang lahir di sana.
Namun akhirnya mereka mempunyai satu persamaan:
mereka ikut menulis sejarah labuhanbatu.
Mungkin seorang Sianturi tetap Sianturi.
Seorang Siregar tetap Siregar.
Seorang Nasution tetap Nasution.
Seorang Daulay tetap Daulay.
Seorang Dalimunthe tetap Dalimunthe.
Seorang Jawa tetap membawa budaya Jawanya.
Seorang melayu tetap membawa sejarah Melayunya.
Tetapi semuanya dapat berkata:
"Saya orang labuhanbatu.”
Dan menurut saya, kalimat itulah yang paling indah.
Sebab labuhanbatu bukan dibangun oleh satu suku.
labuhanbatu dibangun oleh banyak manusia dengan sejarah yang berbeda-beda.
Mereka membawa identitas dari tempat asal masing-masing.
Tetapi di tanah ini mereka bertemu.
Mereka bekerja.
Mereka menikah.
Mereka membangun keluarga.
Mereka mendidik anak-anak.
Mereka membangun kampung.
Dan akhirnya, tanpa disadari, mereka membentuk sebuah identitas bersama:
Tanah tempat banyak suku bertemu, banyak marga berjumpa, dan banyak sejarah menjadi satu.
Labuhanbatu: Ketika Batak, Melayu, Jawa dan Ratusan Marga Bertemu di Tanah yang Sama
