WA: 0812 8595 8481
⋮
View : 983 kali.
Home >
Opinion
Kategori: Opini & Refleksi Sosial
Senin, 07 Juli 2025
Aku bukan orang pintar, bukan pula peramal masa depan, tapi entah mengapa, imaji tentang keadaan manusia akhir-akhir ini tergambar jelas di pelupuk benak. Manusia yang makin canggih, namun semakin kehilangan arah, makin terhubung, namun terasa kian sendiri.
Manusia Zaman Sekarang: Canggih, Tapi Kadang Kayak Sendok Elektrik
Bayangkan ada sebuah sendok yang canggih. Bisa nyala, bisa muter sendiri, bahkan bisa ngomong: "Selamat makan, Kakak.”
Tapi sayangnya… sendok itu nggak bisa nyuapin.
Nah, begitulah kira-kira manusia zaman sekarang: canggih luar biasa, tapi tetap lapar… lapar makna, lapar kasih, lapar arah.
* Sosial dan Budaya: "Online Terus, Tapi Hati Kosong"
Zaman sekarang, orang bisa video call lintas benua, tapi nggak kenal tetangga sebelah rumah.
Dulu, kalau jatuh di jalan, orang bantuin. Sekarang?
Difoto, masuk TikTok. Judulnya: "Fail of the Day.
Kita punya ribuan teman di media sosial, tapi tetap merasa sepi di hati.
Kita tahu trending topik dunia, tapi nggak tahu siapa yang lagi sedih di samping kita.
* Ekonomi: "Dompet Tipis di Era Digital"
Ada orang beli NFT gambar pisang seharga mobil,
Sementara tetangga kita jualan gorengan masih ngitung receh buat beli minyak.
UMKM ngelawan algoritma iklan Google,
padahal baru bisa bikin logo pakai Paint.
Kerja makin fleksibel, katanya. Tapi realitanya?
"Kerja dari mana aja” = "Kerja kapan aja… tanpa waktu istirahat.”
* Teknologi & AI: "Dunia Maya, Tapi Masalah Nyata"
AI bisa bantu bikin puisi, ngisi form pajak, bahkan bantu nulis naskah lamaran cinta.
Tapi tetap nggak bisa gantiin pelukan ibu saat kita down.
Manusia makin pinter, tapi kadang kalah dari mesin cuci.
Setidaknya mesin cuci nggak pernah lupa tugasnya.
Masalahnya sekarang bukan lagi tidak tahu,
tapi tahu terlalu banyak sampai bingung harus percaya yang mana.
* Lingkungan dan Alam: "Panas Bumi, Dingin Hati"
Cuaca makin aneh: pagi panas, siang hujan, sore badai, malam galau.
Kita bahas sustainability pakai PowerPoint,
tapi minum air botolan sekali pakai.
Bumi itu kayak ibu kos yang capek,
udah kita bor, panasin, dikotori… tapi kita masih minta "tambahan air panas.”
* Spiritual dan Moral: "Rohani Tipis di Era Cuan"
Ada yang kejar cuan sampai lupa kejar damai.
Ada yang kejar validasi online, padahal hatinya belum pernah merasa "disayang."
Zaman ini banyak orang kehilangan makna hidup…
makanya banyak yang ikut seminar motivasi 3 juta cuma buat dibilang,
"Kamu unik dan luar biasa.”
Padahal itu bisa kamu dapat gratis dari Tuhan.
* Nasihat Penting:
"Hidup ini bukan soal seberapa cepat kita lari, tapi ke arah mana kita menuju.”
Mau sekencang apa pun koneksi 5G-mu, kalau kamu lari ke arah yang salah, tetap nyasar juga.
* Penutup:
Kita hidup di zaman yang serba bisa…
tapi jangan sampai kita lupa siapa kita, dari mana kita, dan mau ke mana.
Jangan sampai kita jadi generasi yang tahu segala hal…
kecuali tentang hatinya sendiri.
Dan kalau hidup ini kadang terasa lucu,
anggap saja itu Tuhan sedang bercanda lembut…
menyuruh kita berhenti sejenak, tertawa, lalu kembali mengingat:
"Yang paling penting bukan jadi hebat,
tapi jadi berarti.”
Bekasi, Senin, 14 Juli 2025
Murdan Sianturi (Irida Timur)
Kategori: Opini & Refleksi Sosial
Senin, 07 Juli 2025
Manusia Zaman Sekarang: Canggih, Tapi Kadang Kayak Sendok Elektrik
Tadi malam, selepas mengajar mata kuliah Bisnis Digital, aku terdiam sejenak dalam hening. Ada sejumput galau yang menyelinap di hati, seperti angin malam yang berbisik lirih di balik jendela jiwa. Bukan karena lelah, tapi karena ada sesuatu yang mengguncang batin. sebuah bahaya yang perlahan menggerogoti arah manusia.
Aku bukan orang pintar, bukan pula peramal masa depan, tapi entah mengapa, imaji tentang keadaan manusia akhir-akhir ini tergambar jelas di pelupuk benak. Manusia yang makin canggih, namun semakin kehilangan arah, makin terhubung, namun terasa kian sendiri.
Manusia Zaman Sekarang: Canggih, Tapi Kadang Kayak Sendok Elektrik
Bayangkan ada sebuah sendok yang canggih. Bisa nyala, bisa muter sendiri, bahkan bisa ngomong: "Selamat makan, Kakak.”
Tapi sayangnya… sendok itu nggak bisa nyuapin.
Nah, begitulah kira-kira manusia zaman sekarang: canggih luar biasa, tapi tetap lapar… lapar makna, lapar kasih, lapar arah.
* Sosial dan Budaya: "Online Terus, Tapi Hati Kosong"
Zaman sekarang, orang bisa video call lintas benua, tapi nggak kenal tetangga sebelah rumah.
Dulu, kalau jatuh di jalan, orang bantuin. Sekarang?
Difoto, masuk TikTok. Judulnya: "Fail of the Day.
Kita punya ribuan teman di media sosial, tapi tetap merasa sepi di hati.
Kita tahu trending topik dunia, tapi nggak tahu siapa yang lagi sedih di samping kita.
* Ekonomi: "Dompet Tipis di Era Digital"
Ada orang beli NFT gambar pisang seharga mobil,
Sementara tetangga kita jualan gorengan masih ngitung receh buat beli minyak.
UMKM ngelawan algoritma iklan Google,
padahal baru bisa bikin logo pakai Paint.
Kerja makin fleksibel, katanya. Tapi realitanya?
"Kerja dari mana aja” = "Kerja kapan aja… tanpa waktu istirahat.”
* Teknologi & AI: "Dunia Maya, Tapi Masalah Nyata"
AI bisa bantu bikin puisi, ngisi form pajak, bahkan bantu nulis naskah lamaran cinta.
Tapi tetap nggak bisa gantiin pelukan ibu saat kita down.
Manusia makin pinter, tapi kadang kalah dari mesin cuci.
Setidaknya mesin cuci nggak pernah lupa tugasnya.
Masalahnya sekarang bukan lagi tidak tahu,
tapi tahu terlalu banyak sampai bingung harus percaya yang mana.
* Lingkungan dan Alam: "Panas Bumi, Dingin Hati"
Cuaca makin aneh: pagi panas, siang hujan, sore badai, malam galau.
Kita bahas sustainability pakai PowerPoint,
tapi minum air botolan sekali pakai.
Bumi itu kayak ibu kos yang capek,
udah kita bor, panasin, dikotori… tapi kita masih minta "tambahan air panas.”
* Spiritual dan Moral: "Rohani Tipis di Era Cuan"
Ada yang kejar cuan sampai lupa kejar damai.
Ada yang kejar validasi online, padahal hatinya belum pernah merasa "disayang."
Zaman ini banyak orang kehilangan makna hidup…
makanya banyak yang ikut seminar motivasi 3 juta cuma buat dibilang,
"Kamu unik dan luar biasa.”
Padahal itu bisa kamu dapat gratis dari Tuhan.
* Nasihat Penting:
"Hidup ini bukan soal seberapa cepat kita lari, tapi ke arah mana kita menuju.”
Mau sekencang apa pun koneksi 5G-mu, kalau kamu lari ke arah yang salah, tetap nyasar juga.
* Penutup:
Kita hidup di zaman yang serba bisa…
tapi jangan sampai kita lupa siapa kita, dari mana kita, dan mau ke mana.
Jangan sampai kita jadi generasi yang tahu segala hal…
kecuali tentang hatinya sendiri.
Dan kalau hidup ini kadang terasa lucu,
anggap saja itu Tuhan sedang bercanda lembut…
menyuruh kita berhenti sejenak, tertawa, lalu kembali mengingat:
"Yang paling penting bukan jadi hebat,
tapi jadi berarti.”
Bekasi, Senin, 14 Juli 2025
Murdan Sianturi (Irida Timur)
***
Materi Kuliah:
