Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
☰
  • Home
  • Opini
  • Kuliah ▼
  • Publikasi ▼
  • SINTA
  • Scholar
  • About Me
  • Labuhan Batu
  • Login

View : 111 kali.

Bagikan:
Home > Opinion
Minggu, 05 Juli 2026

Marketplace Tidak Akan Mati, Tetapi Masa Depannya Ada di Toko Online Sendiri

Ilustrasi peralihan strategi UMKM dari marketplace menuju toko online sendiri sebagai aset digital untuk membangun pelanggan dan meningkatkan keuntungan.
Ilustrasi peralihan strategi UMKM dari marketplace menuju toko online sendiri sebagai aset digital untuk membangun pelanggan dan meningkatkan keuntungan.

oleh Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
Selama hampir satu dekade terakhir, marketplace menjadi pahlawan bagi jutaan pelaku umkm di Indonesia. Dengan modal minim, siapa pun dapat membuka toko, memasarkan produk ke seluruh Indonesia, menerima pembayaran secara digital, hingga memanfaatkan jaringan logistik yang semakin efisien. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa marketplace telah mempercepat transformasi digital sektor usaha kecil.

Namun, sebuah pertanyaan mulai muncul: apakah selamanya pelaku usaha harus bergantung pada marketplace?

Saya melihat jawabannya adalah tidak.

Bukan karena marketplace akan ditinggalkan, melainkan karena pelaku usaha mulai memahami satu hal yang sangat penting: membangun bisnis tidak sama dengan sekadar berjualan.

marketplace pada dasarnya adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli. Ia seperti sebuah pusat perbelanjaan raksasa yang selalu ramai. Keuntungannya jelas, pengunjung sudah tersedia. Akan tetapi, di dalam mal tersebut, setiap toko menjual produk yang hampir serupa. Perbedaan harga seribu rupiah saja bisa membuat pelanggan berpindah ke toko sebelah.

Di sinilah persoalan dimulai.

Ketika persaingan hanya bertumpu pada harga, keuntungan semakin menipis. Penjual berlomba memberikan diskon, subsidi ongkos kirim, mengikuti program promosi, hingga membeli iklan agar produknya tetap muncul di halaman pertama. Tidak sedikit yang akhirnya memperoleh omzet besar tetapi laba yang sangat kecil.

Lebih dari itu, pelanggan sebenarnya bukan milik penjual. Mereka adalah pelanggan platform. Penjual tidak bebas membangun hubungan jangka panjang, mengelola basis data pelanggan, atau melakukan pemasaran ulang sesuai strategi bisnisnya. Ketika algoritma berubah atau kebijakan platform diperbarui, penjual harus kembali menyesuaikan diri.

Inilah alasan mengapa semakin banyak perusahaan besar, merek lokal, bahkan umkm yang mulai membangun toko online sendiri.

Website bukan sekadar etalase digital. Website adalah aset.

Di dalamnya, pelaku usaha memiliki kebebasan menentukan identitas merek, pengalaman pelanggan, strategi promosi, hingga mengembangkan program loyalitas. Yang lebih penting lagi, mereka dapat membangun hubungan langsung dengan pelanggan tanpa selalu bergantung pada pihak ketiga.

Tentu saja membangun website bukan berarti pekerjaan menjadi lebih mudah. Berbeda dengan marketplace yang telah memiliki jutaan pengunjung, website membutuhkan strategi untuk mendatangkan trafik. Di sinilah peran optimasi mesin pencari (SEO), pemasaran konten, media sosial, email marketing, dan komunitas pelanggan menjadi sangat penting.

Dengan kata lain, marketplace memberikan traffic, sedangkan website membangun trust dan ownership.

Menurut saya, masa depan bisnis digital bukanlah memilih antara marketplace atau website, melainkan menggabungkan keduanya dalam strategi yang saling melengkapi.

marketplace berfungsi sebagai pintu masuk untuk memperoleh pelanggan baru. Setelah pelanggan mengenal kualitas produk dan pelayanan, hubungan jangka panjang dibangun melalui website resmi, media sosial, komunitas, maupun saluran komunikasi langsung. Pendekatan ini membuat bisnis tidak bergantung pada satu platform saja.

Perubahan pola pikir ini juga akan mengubah cara kita memandang keberhasilan sebuah bisnis digital. Ukuran kesuksesan bukan lagi sekadar banyaknya transaksi di marketplace, tetapi seberapa besar bisnis tersebut mampu membangun aset digital yang dimilikinya sendiri.

Bagi umkm Indonesia, langkah ini memang membutuhkan waktu dan investasi. Namun, sejarah menunjukkan bahwa bisnis yang bertahan lama bukanlah bisnis yang hanya pandai mencari pelanggan, melainkan bisnis yang mampu mempertahankan pelanggan.

marketplace akan tetap menjadi bagian penting dalam ekosistem perdagangan digital. Namun, saya meyakini bahwa di masa depan, pelaku usaha yang paling kuat adalah mereka yang menjadikan marketplace sebagai jembatan, bukan sebagai rumah utama.

Karena pada akhirnya, rumah terbaik bagi sebuah bisnis adalah platform yang dimiliki dan dikendalikan oleh bisnis itu sendiri.


Marketplace Tidak Akan Mati, Tetapi Masa Depannya Ada di Toko Online Sendiri








NEXT:

Bukti-bukti Intimidasi Sudah Diserahkan Ke Polisi


PREV:

Prof. Jiang yang Bukan Profesor: Mengapa Pemikirannya Mendunia?

NEXT:

Bukti-bukti Intimidasi Sudah Diserahkan Ke Polisi


PREV:

Prof. Jiang yang Bukan Profesor: Mengapa Pemikirannya Mendunia?

Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom., adalah dosen dan penulis opini yang mengajar Bisnis Digital dan Akuntansi di STIE Mulia Pratama Bekasi. Ia aktif menulis tentang teknologi, perubahan sosial, geopolitik, dan refleksi iman di tengah dinamika dunia modern.
About me selengkapnya...





Pencarian E-DDC 23
Electronic Dewey Decimal Classification untuk Perpustakaan