Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
☰
  • Home
  • Opini
  • Kuliah ▼
  • Publikasi ▼
  • SINTA
  • Scholar
  • About Me
  • Labuhan Batu
  • Login

View : 94 kali.

Bagikan:
Home > Opinion
Minggu, 02 Agustus 2026

Mengapa Banyak Mal Kini Dipagari? Apa yang Sedang Terjadi?

Pagar besi tinggi di depan pusat perbelanjaan yang memicu pertanyaan masyarakat mengenai keamanan dan penataan kawasan.
Pagar besi tinggi di depan pusat perbelanjaan yang memicu pertanyaan masyarakat mengenai keamanan dan penataan kawasan.

Oleh: Murdan Sianturi
Beberapa hari terakhir, masyarakat dibuat penasaran oleh sebuah pemandangan yang tidak biasa. Sejumlah pusat perbelanjaan besar di Jakarta, Surabaya, dan beberapa kota lainnya mendadak memasang pagar besi setinggi sekitar 2,5 hingga 3 meter. Bagi sebagian orang, hal ini tampak biasa saja. Namun bagi yang memperhatikan, muncul pertanyaan sederhana tetapi penting: Mengapa sekarang?

Fenomena ini menjadi perbincangan luas di media sosial. Ada yang menganggapnya sebagai upaya meningkatkan keamanan. Ada pula yang menghubungkannya dengan isu demonstrasi besar, meningkatnya kriminalitas, bahkan muncul berbagai teori konspirasi.

Lalu, apa sebenarnya yang sedang terjadi?

Penjelasan Resmi: Demi Ketertiban, Bukan Karena Darurat

Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) memberikan penjelasan bahwa pemasangan pagar bukanlah instruksi nasional dan bukan pula karena adanya ancaman keamanan tertentu. Menurut APPBI, setiap pengelola mal memiliki kebijakan masing-masing.

Alasan yang disampaikan cukup masuk akal.

Pertama, pagar membantu mengatur arus kendaraan dan pejalan kaki sehingga keluar-masuk pengunjung menjadi lebih tertib.

Kedua, pagar menciptakan batas yang jelas antara area publik dan area milik pengelola mal.

Ketiga, beberapa pusat perbelanjaan berada di jalur atau lokasi yang sering menjadi titik demonstrasi sehingga pagar dapat menjadi pembatas untuk melindungi fasilitas tanpa harus menutup operasional mal.

Menteri Perdagangan Budi Santoso juga menyampaikan bahwa pemerintah tidak melihat adanya masalah keamanan yang luar biasa di balik pemasangan pagar tersebut. Situasi dinilai tetap kondusif.

Tetapi Mengapa Publik Tetap Curiga?

Di sinilah letak persoalannya.

Dalam ilmu komunikasi publik dikenal istilah persepsi lebih kuat daripada penjelasan.

Ketika puluhan mal memasang pagar hampir bersamaan, masyarakat tentu bertanya-tanya.

Kalau memang hanya untuk penataan kawasan, mengapa baru sekarang?

Mengapa tingginya mencapai hampir tiga meter?

Mengapa bentuknya menyerupai pagar pengamanan kawasan industri?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya wajar. Bukan berarti masyarakat sedang mencari sensasi, tetapi manusia memang selalu berusaha mencari pola dari perubahan yang terjadi secara bersamaan.


Dunia Memang Sedang Berubah


Kalau kita melihat lebih luas, fenomena ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir, hampir semua negara menghadapi perubahan besar.
  • Demonstrasi semakin sering terjadi.
  • Ancaman teror masih ada meskipun menurun.
  • Kejahatan menggunakan kendaraan meningkat.
  • Pengelola aset semakin memperhatikan manajemen risiko.
  • Premi asuransi dan standar keselamatan semakin ketat.
Akibatnya, banyak bangunan publik di berbagai negara mulai menerapkan konsep security by design, yaitu keamanan yang sudah menjadi bagian dari desain bangunan sejak awal.

Artinya, pagar bukan lagi sekadar pembatas, melainkan bagian dari sistem mitigasi risiko.

Ada Faktor Bisnis yang Jarang Dibahas

Dari sudut pandang bisnis, satu hari mal harus tutup akibat kerusuhan dapat menyebabkan kerugian miliaran rupiah.

Bukan hanya kehilangan pendapatan.

Penyewa toko merugi.

Pengunjung berkurang.

Biaya perbaikan meningkat.

Premi asuransi bisa naik.

Reputasi pusat perbelanjaan ikut terdampak.

Dalam dunia manajemen risiko, biaya memasang pagar jauh lebih murah dibanding biaya memperbaiki kerusakan setelah terjadi insiden.

Karena itu, banyak perusahaan memilih melakukan pencegahan sebelum masalah muncul.


Efek Psikologis Pagar

Namun ada sisi lain yang juga penting.

Pagar tinggi memang meningkatkan rasa aman bagi sebagian orang.

Tetapi bagi orang lain, pagar justru menimbulkan kesan bahwa ada sesuatu yang sedang ditakuti.

Inilah dilema yang dihadapi banyak kota modern.

Semakin kuat sistem keamanan yang dibangun, semakin besar pula kemungkinan masyarakat bertanya, "Apakah memang ada ancaman?"

Karena itulah Gubernur DKI Jakarta juga mengingatkan agar pemasangan pagar tidak sampai menciptakan citra bahwa Jakarta sedang tidak aman. Persepsi publik menjadi faktor yang tidak kalah penting dibanding keamanan fisik.


Jadi, Apa yang Sedang Terjadi?

Menurut saya, fenomena ini bukan menunjukkan bahwa Indonesia sedang berada dalam kondisi darurat.

Yang sedang berubah adalah cara dunia mengelola risiko.

Dulu, keamanan lebih banyak mengandalkan petugas.

Sekarang, keamanan dibangun melalui desain bangunan, teknologi, kamera pengawas, sistem akses, pagar, hingga kecerdasan buatan.

Pagar hanyalah salah satu bagian dari perubahan tersebut.

Namun demikian, pengelola pusat perbelanjaan juga perlu memahami bahwa setiap perubahan fisik akan memunculkan pertanyaan publik. Karena itu, komunikasi yang terbuka menjadi sangat penting agar masyarakat tidak mengisi kekosongan informasi dengan spekulasi.

Apakah pagar-pagar tinggi ini berarti Indonesia sedang tidak aman?

Sampai hari ini, belum ada bukti yang menunjukkan demikian.

Apakah pagar dapat meningkatkan keamanan?

Ya, dalam batas tertentu, pagar memang membantu mengendalikan akses dan melindungi aset.

Tetapi keamanan bukan hanya soal besi yang tinggi.

Keamanan juga dibangun melalui kepercayaan masyarakat, transparansi informasi, profesionalisme aparat, serta komunikasi yang jujur antara pemerintah, pelaku usaha, dan publik.

Mungkin pagar itu memang dipasang untuk menjaga ketertiban.

Namun yang jauh lebih penting adalah memastikan masyarakat tetap merasa tenang, bukan justru merasa khawatir.


Menurut saya, persoalan sebenarnya bukan pagar besinya. Persoalannya adalah kepercayaan publik.

Ketika puluhan mal yang selama puluhan tahun terbuka tiba-tiba memasang pagar tinggi dalam waktu yang hampir bersamaan, masyarakat tentu bertanya. Pertanyaan itu bukan karena masyarakat suka berprasangka buruk, melainkan karena perubahan besar yang terjadi serentak hampir selalu menimbulkan rasa ingin tahu.

Pengelola mal memang telah menjelaskan bahwa pagar dipasang untuk penataan kawasan, pengaturan akses, dan perlindungan aset. Penjelasan itu patut dihargai. Namun komunikasi publik tidak berhenti pada penyampaian alasan. Komunikasi yang baik juga harus mampu menjawab pertanyaan yang ada di benak masyarakat: mengapa sekarang, mengapa hampir bersamaan, dan mengapa bentuknya seperti benteng?

Dalam dunia manajemen risiko, ada satu prinsip yang sangat dikenal: perusahaan tidak menunggu musibah datang baru bertindak. Mereka membaca berbagai indikator, mengevaluasi potensi risiko, lalu melakukan mitigasi sebelum sesuatu terjadi. Dari sudut pandang itu, pemasangan pagar dapat dipahami sebagai bentuk antisipasi, bukan berarti ancaman itu sudah terjadi.

Namun di sisi lain, masyarakat juga membaca simbol. Pagar setinggi tiga meter bukan sekadar konstruksi besi. Ia mengirim pesan visual. Tanpa penjelasan yang memadai, pesan yang diterima publik bisa berbeda dengan maksud pengelola. Yang ingin disampaikan adalah "kami sedang meningkatkan pengamanan", tetapi yang ditangkap sebagian masyarakat justru "apakah ada sesuatu yang sedang disembunyikan?"

Di era media sosial, kekosongan informasi hanya bertahan beberapa menit. Setelah itu, ruang tersebut akan diisi oleh dugaan, spekulasi, bahkan teori konspirasi. Karena itu, transparansi bukan lagi pilihan, melainkan bagian dari strategi keamanan itu sendiri.

Saya justru melihat fenomena ini sebagai tanda bahwa dunia usaha sedang memasuki era baru: era mitigasi risiko. Setelah pandemi, gejolak ekonomi global, perubahan pola demonstrasi, meningkatnya tuntutan perlindungan aset, dan semakin ketatnya standar keselamatan, pengelola properti tidak lagi hanya berpikir tentang menarik pengunjung. Mereka juga berpikir bagaimana memastikan pusat perbelanjaan tetap beroperasi dalam berbagai situasi.

Apakah masyarakat perlu panik? Saya rasa tidak. Sampai hari ini belum ada bukti bahwa pemasangan pagar tersebut dilakukan karena adanya ancaman keamanan yang spesifik. Tetapi apakah masyarakat berhak bertanya? Tentu saja. Justru pertanyaan itu menunjukkan bahwa publik peduli terhadap ruang-ruang yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, pagar yang paling kuat bukanlah pagar besi. Pagar yang paling kuat adalah kepercayaan. Ketika masyarakat memahami alasan sebuah kebijakan, rasa aman akan tumbuh dengan sendirinya. Sebaliknya, ketika informasi terasa kurang lengkap, bahkan pagar setinggi apa pun tidak akan mampu membendung munculnya berbagai dugaan.


Referensi

  1. detikFinance. (2026, 31 Juli). Banyak Mal Kini Pasang Pagar Tinggi, Mendag Buka Suara.
  2. Liputan6.com. (2026, 1 Agustus). fenomena mal dipagari Tinggi, Pengusaha Ungkap Alasan Sebenarnya.
  3. CNBC Indonesia. (2026, 30 Juli). Heboh Mal Besar Ramai-Ramai Pasang Pagar Tinggi, Ada Apa?
  4. SINDOnews. (2026, 31 Juli). Heboh Mal Besar Tiba-tiba Pasang Pagar Tinggi, Mendag Angkat Suara.


Mengapa Banyak Mal Kini Dipagari? Apa yang Sedang Terjadi?








NEXT:

AI Tidak Akan Menggantikan Tukang Bangunan: Mengapa Ramalan Jensen Huang Layak Kita Renungkan


PREV:

BMKG Perkuat Antisipasi Dampak El Niño 2026: Indonesia Bersiap Menghadapi Kemarau Panjang dan Risiko Multisektor

NEXT:

AI Tidak Akan Menggantikan Tukang Bangunan: Mengapa Ramalan Jensen Huang Layak Kita Renungkan


PREV:

BMKG Perkuat Antisipasi Dampak El Niño 2026: Indonesia Bersiap Menghadapi Kemarau Panjang dan Risiko Multisektor

Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom., adalah dosen dan penulis opini yang mengajar Bisnis Digital dan Akuntansi di STIE Mulia Pratama Bekasi. Ia aktif menulis tentang teknologi, perubahan sosial, geopolitik, dan refleksi iman di tengah dinamika dunia modern.
About me selengkapnya...





Pencarian E-DDC 23
Electronic Dewey Decimal Classification untuk Perpustakaan