Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
☰
  • Home
  • Opini
  • Kuliah ▼
  • Publikasi ▼
  • SINTA
  • Scholar
  • About Me
  • Labuhan Batu
  • Login

View : 81 kali.

Bagikan:
Home > Opinion   Kategori: AI / Kecerdasan Buatan
Minggu, 02 Agustus 2026

AI Tidak Akan Menggantikan Tukang Bangunan: Mengapa Ramalan Jensen Huang Layak Kita Renungkan

Jensen Huang berbicara mengenai masa depan karier di bidang konstruksi dan infrastruktur AI dengan latar pusat data modern dan pekerja konstruksi.
Jensen Huang berbicara mengenai masa depan karier di bidang konstruksi dan infrastruktur AI dengan latar pusat data modern dan pekerja konstruksi.

oleh Murdan Sianturi
Ketika mendengar istilah artificial intelligence (AI), sebagian besar orang langsung membayangkan programmer, ilmuwan data, robot canggih, atau komputer yang mampu berpikir layaknya manusia. Tidak sedikit pula yang khawatir AI akan mengambil alih pekerjaan manusia. Kekhawatiran itu bahkan semakin besar sejak kemunculan ChatGPT, Gemini, Claude, dan berbagai model AI generatif lainnya.

Namun, di tengah gelombang kekhawatiran tersebut, CEO nvidia, jensen huang, justru menyampaikan pandangan yang mengejutkan. Menurutnya, salah satu profesi yang paling diuntungkan oleh revolusi ai bukanlah programmer, melainkan tukang listrik, tukang ledeng, pekerja konstruksi, teknisi jaringan, hingga pekerja baja. Pernyataan ini terdengar paradoks. Bukankah AI identik dengan dunia digital? Mengapa justru pekerjaan fisik yang diprediksi akan menikmati "masa keemasan"?

Saya melihat, ucapan jensen huang bukan sekadar optimisme seorang CEO perusahaan teknologi. Pernyataannya mencerminkan perubahan besar yang sedang terjadi dalam ekonomi global.

AI Ternyata Memerlukan "Otot", Bukan Hanya "Otak"

Selama ini kita memandang AI hanya sebagai perangkat lunak (software). Padahal, AI tidak pernah berjalan di ruang kosong.

Setiap pertanyaan yang kita ajukan kepada ChatGPT, setiap gambar yang dibuat AI, hingga setiap video yang dihasilkan secara otomatis, semuanya diproses oleh ribuan GPU yang berada di pusat data (data center). Data center tersebut bukan sekadar ruangan berisi komputer. Ia adalah bangunan raksasa yang membutuhkan pasokan listrik berkapasitas tinggi, sistem pendingin yang rumit, jaringan serat optik, sistem keamanan, hingga infrastruktur pendukung lainnya.

Dengan kata lain, AI tidak hanya membutuhkan "otak" berupa algoritma, tetapi juga "otot" berupa infrastruktur fisik.

Inilah yang sering luput dari perhatian publik.

Ironi Dunia Kerja


Selama dua dekade terakhir, banyak anak muda didorong untuk mengejar gelar sarjana dan bekerja di kantor ber-AC. Profesi seperti tukang listrik, tukang ledeng, atau pekerja konstruksi sering dipandang kurang bergengsi.

Kini situasinya mulai berbalik.

Justru pembangunan ribuan pusat data AI di berbagai negara membuat permintaan terhadap tenaga kerja terampil melonjak tajam. jensen huang bahkan menyebut dunia sedang memasuki "the largest infrastructure buildout in human history" --pembangunan infrastruktur terbesar dalam sejarah manusia.

Jika prediksi ini benar, maka yang akan menjadi rebutan perusahaan bukan hanya insinyur AI, tetapi juga orang-orang yang mampu memasang kabel listrik tegangan tinggi, membangun sistem pendingin industri, mengelas struktur baja, hingga menginstal jaringan listrik untuk pusat data.

Ini adalah ironi yang menarik. Dunia sedang membangun teknologi paling canggih, tetapi tetap bergantung pada keterampilan manual yang tidak bisa digantikan begitu saja oleh mesin.

AI Tidak Menghilangkan Pekerjaan, Tetapi Mengubah Nilainya

Menurut saya, kesalahan terbesar dalam perdebatan mengenai AI adalah menganggap teknologi ini hanya menciptakan dua kemungkinan: pekerjaan hilang atau pekerjaan tetap ada.

Faktanya jauh lebih kompleks.

AI memang akan menghilangkan sebagian tugas yang bersifat rutin, terutama pekerjaan administratif, pengolahan dokumen, dan aktivitas yang mudah diotomatisasi. Namun, pada saat yang sama AI menciptakan kebutuhan baru yang sebelumnya tidak pernah ada.

Sejarah telah membuktikan hal ini.

Ketika internet lahir, banyak pekerjaan lama menghilang, tetapi muncul profesi baru seperti digital marketer, content creator, analis SEO, cloud engineer, hingga pengembang aplikasi. revolusi ai kemungkinan besar akan menghasilkan pola yang sama: ada pekerjaan yang menyusut, ada pula pekerjaan baru yang tumbuh.

Bagaimana dengan Indonesia?


Pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah prediksi jensen huang akan terjadi di Amerika Serikat, melainkan apakah Indonesia siap memanfaatkannya.

Indonesia mulai membangun berbagai pusat data, memperluas layanan cloud, mempercepat digitalisasi industri, dan menarik investasi teknologi. Jika tren AI global terus berkembang, kebutuhan terhadap teknisi listrik, teknisi pendingin, ahli jaringan, operator industri, dan tenaga konstruksi berketerampilan tinggi juga akan meningkat.

Sayangnya, sistem pendidikan kita masih sering menempatkan sekolah vokasi sebagai pilihan "kelas dua". Padahal, dunia industri justru membutuhkan lebih banyak lulusan yang mampu bekerja dengan tangan sekaligus memahami teknologi.

Mungkin sudah saatnya kita mengubah cara pandang. Tidak semua kesuksesan harus dimulai dari ruang kantor. Sebagian justru dimulai dari lokasi proyek, ruang server, atau bangunan pusat data.

Jangan Terlalu Cepat Percaya

Meski demikian, pandangan jensen huang juga perlu disikapi secara kritis.

Sebagai CEO nvidia--perusahaan yang menjadi pemasok utama GPU AI di dunia--ia tentu memiliki kepentingan terhadap pertumbuhan industri AI. Optimisme mengenai pembangunan infrastruktur juga sejalan dengan kepentingan bisnis perusahaannya.

Selain itu, beberapa ekonom mengingatkan bahwa lonjakan pekerjaan konstruksi bisa bersifat siklus. Setelah pusat data selesai dibangun, permintaan tenaga kerja dapat kembali menurun. Bahkan, sektor konstruksi sendiri kelak dapat semakin banyak memanfaatkan robot, otomatisasi, dan AI untuk meningkatkan efisiensi.

Karena itu, ramalan ini sebaiknya dipandang sebagai arah perkembangan industri, bukan sebagai jaminan bahwa semua pekerja konstruksi akan menikmati masa depan yang cerah tanpa tantangan.

Kesimpulan

Saya melihat pesan terpenting dari jensen huang bukanlah bahwa semua orang harus menjadi tukang listrik atau pekerja konstruksi. Pesan yang lebih mendalam adalah bahwa revolusi ai tidak hanya mengubah dunia digital, tetapi juga menghidupkan kembali nilai pekerjaan fisik yang selama ini sering diremehkan.

Teknologi secanggih apa pun tetap membutuhkan manusia untuk membangunnya. Server tidak akan menyala tanpa listrik. Data center tidak akan beroperasi tanpa sistem pendingin. Chip AI tidak akan diproduksi tanpa pabrik. Dan semua itu tidak mungkin terwujud tanpa tangan-tangan terampil di lapangan.

Mungkin inilah pelajaran terbesar dari era AI: masa depan bukan hanya milik mereka yang pandai menulis kode, tetapi juga milik mereka yang mampu membangun fondasi tempat teknologi itu berdiri.

Referensi :
ConstructConnect. (2026, January 23). Largest infrastructure buildout in human history: nvidia"s jensen huang on AI job boom. https://news.constructconnect.com/largest-infrastructure-buildout-in-human-history-nvidias-jensen-huang-on-ai-job-boom

Fortune. (2026, May 11). jensen huang"s message to electricians and plumbers. https://fortune.com/2026/05/11/jensen-huang-tells-electricians-and-plumbers-this-is-your-time/

Dong-A Ilbo. (2026, August 1). AI boom boosts skilled trade jobs. https://www.donga.com/en/article/all/20260801/6330301/1


AI Tidak Akan Menggantikan Tukang Bangunan: Mengapa Ramalan Jensen Huang Layak Kita Renungkan








NEXT:

Apakah Wabah Salmonella di Amerika Berdampak ke Indonesia?


PREV:

Mengapa Banyak Mal Kini Dipagari? Apa yang Sedang Terjadi?

NEXT:

Apakah Wabah Salmonella di Amerika Berdampak ke Indonesia?


PREV:

Mengapa Banyak Mal Kini Dipagari? Apa yang Sedang Terjadi?

Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom., adalah dosen dan penulis opini yang mengajar Bisnis Digital dan Akuntansi di STIE Mulia Pratama Bekasi. Ia aktif menulis tentang teknologi, perubahan sosial, geopolitik, dan refleksi iman di tengah dinamika dunia modern.
About me selengkapnya...




AI / Kecerdasan Buatan :
  • AI Tidak Akan Menggantikan Tukang Bangunan: Mengapa Ramalan Jensen Huang Layak Kita Renungkan
  • Belajar Engineer Semikonduktor dari Rumah: Apa Saja yang Dipelajari?
  • 3 Paket Wajib Gen Z: Kunci Bertahan dan Sukses di Era Digital
  • Pekerjaan yang Relatif Aman di Era AI: Ketika Mesin Pintar Tidak Selalu Bisa Menggantikan Manusia
  • Apakah Indonesia Siap Menghadapi Revolusi AI?
  • Mengapa China Menjadi Ancaman Teknologi bagi Amerika?
  • Siapa yang Akan Menang Perang AI?
  • Trump–Xi dan Perang AI: Awal Perubahan Tatanan Dunia Baru
  • Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Manusia: Ketika Mesin Mulai Belajar Berpikir

Pencarian E-DDC 23
Electronic Dewey Decimal Classification untuk Perpustakaan