Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
☰
  • Home
  • Opini
  • Kuliah ▼
  • Publikasi ▼
  • SINTA
  • Scholar
  • About Me
  • Labuhan Batu
  • Login

View : 204 kali.

Bagikan:
Home > Opinion   Kategori: Most Wanted
Rabu, 11 Maret 2026

Mengapa Banyak Orang Berpendidikan Tinggi Tapi Tidak Bahagia?

seseorang berpendidikan tinggi terlihat stres dan kehilangan makna hidup modern
seseorang berpendidikan tinggi terlihat stres dan kehilangan makna hidup modern

(Sebuah Opini Santai tentang Gelar, Realitas Hidup, dan Kebahagiaan)

Banyak orang mengejar gelar tinggi dengan harapan hidup akan menjadi lebih bahagia. Namun kenyataannya justru sebaliknya. Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin banyak pula kecemasan, tekanan, dan pertanyaan tentang makna hidup yang muncul. Mengapa fenomena ini terjadi di zaman modern?

Pernah tidak kita melihat fenomena aneh ini?

Ada orang yang gelarnya panjang seperti gerbong kereta.
Di kartu namanya tertulis:

Dr. Prof. Ir. H. Budi Santoso, S.T., M.T., M.B.A., Ph.D.

Kalau dipanggil, seolah-olah perlu tarik napas dulu sebelum menyebut gelarnya.

Tapi anehnya…
orang seperti ini kadang justru terlihat lebih stres daripada tukang bakso di depan kampus.

Padahal logikanya kan begini:
pendidikan tinggi → pekerjaan bagus → uang banyak → hidup bahagia.

Tapi realitas sering berkata lain.
Justru banyak orang yang semakin tinggi pendidikannya, semakin banyak pikirannya.

Mari kita bahas fenomena ini… dengan santai, sedikit lucu, tapi tetap serius.

1. Pendidikan Mengajarkan Cara Berpikir, Tapi Tidak Mengajarkan Cara Hidup

Di sekolah kita belajar banyak hal:
  • matematika
  • ekonomi
  • akuntansi
  • statistik
  • teori manajemen
Tapi ada satu pelajaran yang tidak pernah diajarkan secara serius, yaitu:
Bagaimana menghadapi hidup.

Tidak ada mata kuliah bernama:
  • Cara Menghadapi Kegagalan 101
  • Cara Mengelola Kecemasan 202
  • Cara Berdamai Dengan Kenyataan 303

Akibatnya banyak orang pintar secara akademik, tapi gagap menghadapi kehidupan nyata.

Contohnya:
Di kampus kita belajar NPV, IRR, ROI.

Tapi di dunia nyata yang sering muncul justru:
  • cicilan
  • konflik kerja
  • drama keluarga
  • harga cabai naik
Ini tidak ada di silabus.

2. Semakin Pintar, Semakin Banyak overthinking

Ada pepatah modern:
Orang bodoh tidur nyenyak, orang pintar susah tidur.

Kenapa?
Karena orang pintar cenderung terlalu banyak berpikir.

Contoh sederhana:

Orang biasa berpikir:
"Besok kerja saja."

Orang yang terlalu pintar berpikir:
  • Apakah pekerjaan ini sesuai passion saya?
  • Apakah ini memberikan makna hidup?
  • Apakah saya sedang mengaktualisasikan diri?
  • Apakah ini bagian dari tujuan eksistensial saya?

Akhirnya jam 2 pagi masih mikir.

Padahal tukang gorengan di depan gang sudah tidur nyenyak sejak jam 9 malam.


3. pendidikan tinggi Menaikkan Ekspektasi Hidup

Semakin tinggi pendidikan, biasanya harapan hidup juga semakin tinggi.

Misalnya:
Setelah lulus kuliah kita berharap:
  • karier cepat naik
  • gaji besar
  • hidup mapan
  • dihormati orang

Tapi dunia nyata sering berkata:
"Santai dulu, bos… antre."

Akhirnya muncul gap antara harapan dan kenyataan.

Dan di situlah kebahagiaan sering hilang.


4. Perbandingan Sosial yang Tidak Ada Habisnya

Orang berpendidikan tinggi sering berada di lingkungan yang kompetitif.

Contoh di reuni kampus.

Dialognya sering seperti ini:
"Kerja di mana sekarang?"

"Aku di perusahaan multinasional."

"Kamu?"

"Startup."

"Kamu?"

"Masih cari passion."

Dalam hati langsung muncul pikiran:
"Kenapa hidup orang lain terlihat lebih sukses?"

Padahal yang kita lihat biasanya hanya highlight kehidupan orang lain, bukan seluruh ceritanya.

Media sosial memperparah keadaan.

Di Instagram semua orang terlihat:
  • sukses
  • bahagia
  • travelling
  • makan mahal
Padahal di balik foto itu mungkin masih ada tagihan kartu kredit.


5. pendidikan tinggi Tidak Menjamin makna hidup

Ada satu hal yang sering terlupakan.

Pendidikan bisa memberi:
  • ilmu
  • keterampilan
  • peluang
Tapi pendidikan tidak otomatis memberi makna hidup.

makna hidup sering ditemukan dalam hal sederhana:
  • hubungan yang sehat
  • keluarga
  • iman
  • tujuan hidup yang jelas
Tanpa itu semua, orang bisa saja memiliki:
  • gelar tinggi
  • jabatan tinggi
  • gaji tinggi
tapi tetap merasa kosong di dalam hati.


6. Bahagia Itu Tidak Selalu Ilmiah

Ini mungkin bagian paling lucu dari hidup.

Kadang orang yang paling bahagia justru bukan yang paling pintar.

Contoh sederhana.

Ada tukang kopi di pinggir jalan.

Setiap hari dia:
  • ketemu pelanggan
  • ngobrol
  • tertawa
  • pulang
  • tidur nyenyak
Sementara ada orang dengan tiga gelar akademik yang setiap malam bertanya:

"Apa sebenarnya tujuan hidup ini?"

Ironis, tapi sering terjadi.

Kesimpulan: Pendidikan Penting, Tapi Bukan Segalanya

Pendidikan adalah hal yang sangat berharga.

Ia membuka:
  • wawasan
  • peluang
  • kemampuan berpikir
Namun kebahagiaan tidak hanya datang dari kepintaran.

Kebahagiaan sering datang dari hal-hal yang jauh lebih sederhana:
  • hati yang bersyukur
  • hubungan yang baik dengan orang lain
  • tujuan hidup yang jelas
  • kedamaian batin
Karena pada akhirnya hidup bukan hanya soal seberapa banyak yang kita ketahui, tetapi juga seberapa damai hati kita menjalaninya.


Mengapa Banyak Orang Berpendidikan Tinggi Tapi Tidak Bahagia?








NEXT:

Israel Kembali Berdiri Setelah 2.000 Tahun: Kebetulan Sejarah atau Nubuat yang Tergenapi?


PREV:

Temuan “Tidak Masuk Akal” dari James Webb Bisa Mengguncang Teori Big Bang

NEXT:

Israel Kembali Berdiri Setelah 2.000 Tahun: Kebetulan Sejarah atau Nubuat yang Tergenapi?


PREV:

Temuan “Tidak Masuk Akal” dari James Webb Bisa Mengguncang Teori Big Bang

Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom., adalah dosen dan penulis opini yang mengajar Bisnis Digital dan Akuntansi di STIE Mulia Pratama Bekasi. Ia aktif menulis tentang teknologi, perubahan sosial, geopolitik, dan refleksi iman di tengah dinamika dunia modern.
About me selengkapnya...




Most Wanted :
  • Mengapa Banyak Orang Berpendidikan Tinggi Tapi Tidak Bahagia?

Pencarian E-DDC 23
Electronic Dewey Decimal Classification untuk Perpustakaan