WA: 0812 8595 8481
⋮
View : 220 kali.
Home >
Opinion
Kategori: Ekonomi & Bisnis
Senin, 05 Mei 2025
1. Sritex Group
Perusahaan tekstil ini dinyatakan pailit pada Oktober 2024 dan resmi ditutup pada 1 Maret 2025. Sebanyak 11.025 karyawan dari PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) dan anak perusahaannya terkena PHK.
2. PT Sanken Indonesia
Pabrik elektronik di Bekasi ini akan menghentikan operasionalnya pada Juni 2025, mengakibatkan PHK terhadap sekitar 459 karyawan. Penutupan ini disebabkan oleh kurangnya dukungan teknologi dari perusahaan induk di Jepang dan pergeseran fokus produksi ke industri semikonduktor.
Beberapa faktor penyebab:
* Kurangnya Dukungan Teknologi dari Perusahaan Induk di Jepang
Setelah divisi terkait dijual, perusahaan induk di Jepang tidak lagi memberikan pembaruan desain dan teknologi untuk produk seperti power supply dan transformator. Hal ini menyebabkan PT Sanken Indonesia kesulitan bersaing dengan produk-produk baru di pasar.
* Penurunan Permintaan Global dan Utilisasi Produksi yang Rendah
Sejak 2019, PT Sanken Indonesia mengalami kerugian akibat penurunan permintaan global. Utilisasi produksi menurun drastis, mencapai hanya 14% pada tahun 2024, yang membuat operasional pabrik menjadi tidak efisien.
* Perubahan Strategi Bisnis Perusahaan Induk
Perusahaan induk di Jepang memutuskan untuk mengalihkan fokus bisnisnya dari produksi power supply dan transformator ke industri semikonduktor. Keputusan ini mengakibatkan penghentian produksi di pabrik Indonesia.
4. PT Danbi International
Perusahaan manufaktur bulu mata palsu di Garut ini dinyatakan pailit pada Februari 2025, menyebabkan 2.079 pekerja kehilangan pekerjaan.
5. PT Adis Dimension Footwear
Perusahaan sepatu ini merumahkan 1.500 pekerja karena penurunan permintaan pasar yang signifikan.
6. PT Victory Ching Luh
Berbasis di Banten, perusahaan ini melakukan PHK terhadap 2.000 karyawan akibat tekanan ekonomi dan penurunan pesanan.
7. PT Tokai Kagu Indonesia
Perusahaan furnitur di Bekasi ini menutup operasionalnya dan merumahkan lebih dari 100 pekerja karena kalah bersaing di pasar.
8. PT Bapintri (Mbangun Praja Industri)
Pabrik tekstil di Cimahi ini melakukan PHK terhadap 267 buruh akibat kesulitan finansial yang dihadapi perusahaan.
9. KFC Indonesia (PT Fast Food Indonesia Tbk)
Jaringan restoran cepat saji ini menutup 47 gerai dan melakukan PHK terhadap 2.274 karyawan setelah mencatat kerugian sebesar Rp558 miliar pada kuartal ketiga 2024.
Gelombang PHK ini mencerminkan tantangan serius yang dihadapi sektor manufaktur dan industri padat karya di Indonesia. Faktor-faktor seperti penurunan permintaan global, perubahan strategi bisnis, dan tekanan ekonomi menjadi penyebab utama. Pemerintah dan pemangku kepentingan terkait perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi dampak sosial dan ekonomi dari PHK massal ini.
Kategori: Ekonomi & Bisnis
Senin, 05 Mei 2025
PHK besar besaran akan terjadi di perusahaan Indonesia mulai bulan mei 2025 ini, perusahaan apa saja
Sejak awal tahun 2025, sejumlah perusahaan besar di Indonesia telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, dan tren ini diperkirakan akan berlanjut pada bulan Mei 2025. Berikut adalah daftar perusahaan yang telah atau akan melakukan PHK besar-besaran.
Baca Juga:
1. Sritex Group
Perusahaan tekstil ini dinyatakan pailit pada Oktober 2024 dan resmi ditutup pada 1 Maret 2025. Sebanyak 11.025 karyawan dari PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) dan anak perusahaannya terkena PHK.
Penyebab Utama Kepailitan Sritex
* Beban Utang yang Tinggi dan Gagal Bayar
Pada akhir 2020, total utang Sritex mencapai Rp17,1 triliun, sementara asetnya hanya sebesar Rp26,9 triliun. Perusahaan mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban pembayaran utang kepada kreditur, termasuk PT Indo Bharat Rayon yang mengajukan gugatan karena Sritex dinilai lalai memenuhi kewajiban pembayaran berdasarkan putusan homologasi sebelumnya .
* Gagalnya Restrukturisasi Utang
Sritex sempat menjalani proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) dan mencapai kesepakatan perdamaian (homologasi) pada Januari 2022. Namun, perusahaan gagal memenuhi kewajiban yang disepakati dalam perjanjian tersebut, yang akhirnya dibatalkan oleh pengadilan, memicu status pailit .
* Kurangnya Investasi dan Inovasi
Sritex tidak melakukan investasi pada mesin-mesin baru dan tidak membuka atau memperluas pasar, sehingga tidak mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif. Kondisi ini sudah menjadi persoalan sebelum tantangan lainnya muncul .
* Beban Utang yang Tinggi dan Gagal Bayar
Pada akhir 2020, total utang Sritex mencapai Rp17,1 triliun, sementara asetnya hanya sebesar Rp26,9 triliun. Perusahaan mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban pembayaran utang kepada kreditur, termasuk PT Indo Bharat Rayon yang mengajukan gugatan karena Sritex dinilai lalai memenuhi kewajiban pembayaran berdasarkan putusan homologasi sebelumnya .
* Gagalnya Restrukturisasi Utang
Sritex sempat menjalani proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) dan mencapai kesepakatan perdamaian (homologasi) pada Januari 2022. Namun, perusahaan gagal memenuhi kewajiban yang disepakati dalam perjanjian tersebut, yang akhirnya dibatalkan oleh pengadilan, memicu status pailit .
* Kurangnya Investasi dan Inovasi
Sritex tidak melakukan investasi pada mesin-mesin baru dan tidak membuka atau memperluas pasar, sehingga tidak mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif. Kondisi ini sudah menjadi persoalan sebelum tantangan lainnya muncul .
* Persaingan dengan Produk Impor
Sejak 2023, jumlah impor pakaian jadi dari China ke Indonesia meningkat drastis, mengakibatkan kelebihan pasokan di pasar domestik dan menekan harga produk lokal. Hal ini semakin menekan posisi Sritex di pasar .
* Kebijakan Pemerintah yang Kurang Mendukung
Permendag No. 8 Tahun 2024 yang merelaksasi impor sejumlah komoditas, termasuk tekstil dan produk tekstil, dianggap memperparah kondisi industri tekstil dalam negeri dan mempengaruhi kelangsungan bisnis Sritex . Kombinasi faktor-faktor di atas menyebabkan Sritex tidak mampu memenuhi kewajiban finansialnya, yang berujung pada putusan pailit oleh pengadilan.
Sejak 2023, jumlah impor pakaian jadi dari China ke Indonesia meningkat drastis, mengakibatkan kelebihan pasokan di pasar domestik dan menekan harga produk lokal. Hal ini semakin menekan posisi Sritex di pasar .
* Kebijakan Pemerintah yang Kurang Mendukung
Permendag No. 8 Tahun 2024 yang merelaksasi impor sejumlah komoditas, termasuk tekstil dan produk tekstil, dianggap memperparah kondisi industri tekstil dalam negeri dan mempengaruhi kelangsungan bisnis Sritex . Kombinasi faktor-faktor di atas menyebabkan Sritex tidak mampu memenuhi kewajiban finansialnya, yang berujung pada putusan pailit oleh pengadilan.
2. PT Sanken Indonesia
Pabrik elektronik di Bekasi ini akan menghentikan operasionalnya pada Juni 2025, mengakibatkan PHK terhadap sekitar 459 karyawan. Penutupan ini disebabkan oleh kurangnya dukungan teknologi dari perusahaan induk di Jepang dan pergeseran fokus produksi ke industri semikonduktor.
Beberapa faktor penyebab:
* Kurangnya Dukungan Teknologi dari Perusahaan Induk di Jepang
Setelah divisi terkait dijual, perusahaan induk di Jepang tidak lagi memberikan pembaruan desain dan teknologi untuk produk seperti power supply dan transformator. Hal ini menyebabkan PT Sanken Indonesia kesulitan bersaing dengan produk-produk baru di pasar.
* Penurunan Permintaan Global dan Utilisasi Produksi yang Rendah
Sejak 2019, PT Sanken Indonesia mengalami kerugian akibat penurunan permintaan global. Utilisasi produksi menurun drastis, mencapai hanya 14% pada tahun 2024, yang membuat operasional pabrik menjadi tidak efisien.
* Perubahan Strategi Bisnis Perusahaan Induk
Perusahaan induk di Jepang memutuskan untuk mengalihkan fokus bisnisnya dari produksi power supply dan transformator ke industri semikonduktor. Keputusan ini mengakibatkan penghentian produksi di pabrik Indonesia.
3. Yamaha Music Indonesia
Dua pabrik Yamaha di Cikarang dan Pulo Gadung akan ditutup secara bertahap, dengan total sekitar 1.100 karyawan terdampak PHK. Penutupan ini disebabkan oleh penurunan permintaan global dan relokasi produksi ke China dan Jepang.
Dua pabrik Yamaha di Cikarang dan Pulo Gadung akan ditutup secara bertahap, dengan total sekitar 1.100 karyawan terdampak PHK. Penutupan ini disebabkan oleh penurunan permintaan global dan relokasi produksi ke China dan Jepang.
4. PT Danbi International
Perusahaan manufaktur bulu mata palsu di Garut ini dinyatakan pailit pada Februari 2025, menyebabkan 2.079 pekerja kehilangan pekerjaan.
5. PT Adis Dimension Footwear
Perusahaan sepatu ini merumahkan 1.500 pekerja karena penurunan permintaan pasar yang signifikan.
6. PT Victory Ching Luh
Berbasis di Banten, perusahaan ini melakukan PHK terhadap 2.000 karyawan akibat tekanan ekonomi dan penurunan pesanan.
7. PT Tokai Kagu Indonesia
Perusahaan furnitur di Bekasi ini menutup operasionalnya dan merumahkan lebih dari 100 pekerja karena kalah bersaing di pasar.
8. PT Bapintri (Mbangun Praja Industri)
Pabrik tekstil di Cimahi ini melakukan PHK terhadap 267 buruh akibat kesulitan finansial yang dihadapi perusahaan.
9. KFC Indonesia (PT Fast Food Indonesia Tbk)
Jaringan restoran cepat saji ini menutup 47 gerai dan melakukan PHK terhadap 2.274 karyawan setelah mencatat kerugian sebesar Rp558 miliar pada kuartal ketiga 2024.
Gelombang PHK ini mencerminkan tantangan serius yang dihadapi sektor manufaktur dan industri padat karya di Indonesia. Faktor-faktor seperti penurunan permintaan global, perubahan strategi bisnis, dan tekanan ekonomi menjadi penyebab utama. Pemerintah dan pemangku kepentingan terkait perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi dampak sosial dan ekonomi dari PHK massal ini.
Penyebab Utama Kerugian dan Penutupan Gerai
* Dampak Pandemi COVID-19
Pemulihan bisnis pasca-pandemi belum optimal, menyebabkan penurunan pendapatan dan peningkatan beban operasional.
* Aksi Boikot Produk Terkait Israel
Gerakan boikot terhadap produk yang dianggap terkait dengan Israel berdampak pada penurunan penjualan KFC Indonesia.
* Penurunan Pendapatan
Pendapatan perusahaan menurun dari Rp5,93 triliun pada 2023 menjadi Rp4,87 triliun pada 2024, penurunan sebesar 17,84%.
Mengapa Masih Ada Gerai yang Beroperasi?
Meskipun mengalami penutupan gerai, KFC Indonesia masih mengoperasikan 715 gerai per 30 September 2024, dari sebelumnya 762 gerai pada akhir 2023. Penutupan difokuskan pada gerai yang tidak menguntungkan, sementara gerai yang masih menguntungkan tetap beroperasi.
* Dampak Pandemi COVID-19
Pemulihan bisnis pasca-pandemi belum optimal, menyebabkan penurunan pendapatan dan peningkatan beban operasional.
* Aksi Boikot Produk Terkait Israel
Gerakan boikot terhadap produk yang dianggap terkait dengan Israel berdampak pada penurunan penjualan KFC Indonesia.
* Penurunan Pendapatan
Pendapatan perusahaan menurun dari Rp5,93 triliun pada 2023 menjadi Rp4,87 triliun pada 2024, penurunan sebesar 17,84%.
Mengapa Masih Ada Gerai yang Beroperasi?
Meskipun mengalami penutupan gerai, KFC Indonesia masih mengoperasikan 715 gerai per 30 September 2024, dari sebelumnya 762 gerai pada akhir 2023. Penutupan difokuskan pada gerai yang tidak menguntungkan, sementara gerai yang masih menguntungkan tetap beroperasi.
Materi Kuliah:
