WA: 0812 8595 8481
⋮
View : 305 kali.
Materi Kuliah Filsafat Dan Pengetahuan Modern
03.02 Sejarah Perkembangan Ilmu Dunia Barat - 2. Zaman Pertengahan (Abad 6-16 M)
# Zaman Patristik, Zaman Skolastik, Zaman Renaissans, Copernicus
Abad pertengahan dimulai setelah runtuhnya kerajaan Romawi pada abad ke 5 M dinyatakan sebagai abad pertengahan karena zaman ini berada di tengah-tengah antara dua zaman, yaitu zaman kuno dan zaman modern. Zaman Pertengahan di Eropa adalah zaman keemasan bagi kekristenan. Abad pertengahan selalu dibahas sebagai zaman yang khas, karena dalam abad-abad itu perkembangan alam pikiran Eropa sangat terkendala oleh keharusan untuk disesuaikan dengan ajaran agama. Filosof Yunani yang berpengaaruh pada abad pertengahan adalah Plato dan Aristoteles. Plato menampakkan pengaruhnya pada Agustinus, sedangkan Plato pada Thomas Aquinas.
Namun dibalik itu dunia filsafat dan ilmu pengetahuan terjadi kemunduran, bahkan pada masa ini filsafat dan ilmu pengetahuan adalah identik dengan agama. Sebab agama (Kristen) yang bersifat dogmatik cenderung menolak keberadaan filsafat dan ilmu, dianggap gerejalah sebagai pusat kebenaran. Jadi ukuran kebenaran adalah apa yang menjadi keputusan gereja. Gereja sangat otoriter dan otoritas gereja harus ditegakkan.
Pada zama Kristiani ini mencapai dua kali periode keemasan yaitu zaman Patristik dan Skolastik, yaitu :
a. Zaman Patristik
Patristik dalam bahasa latin disebut Patres (Bapa bapa Gereja). Ajaran-ajaran filsafat dari Bapa-bapa Gereja menunjukkan pengaruh Plotinos. Mereka berusaha untuk memperlihatkan bahwa iman sesuai dengan pikiran-pikiran paling dalam dari manusia. Merek berhasil membela ajaran kristiani terhadap tuduhan dari pemikir-pemikir kafir.
Zaman Patristik dibagi atas Patristik Yunani (Patristik Timur) dan Patristik Latin (Patristik Barat). Tokoh-tokoh dari Patristik Yunani antara lain Clemens dari Alexandria, Origenes, Gregorius dari Nazianze, Basilius, Gregorius dari Nizza, dan Dionysios Areopagita. Sedangkan tokoh-tokog dari Patristik Latin yaitu Hilarius, Ambrosius, Hieronymus, dan Augustinus.
b. Zaman Skolastik
Skolastik dalam bahasa latin disebut scholasticus yang berarti guru. Disebut skolastik karena dalam periode ini filsafat diajarkan dalam sekolah-sekolah biara dan universitas-universitas menurut suatu kurikulum yang tetap dan yang bersifat internasional. Tema-tema pokok dari ajaran meraka yaitu hubungan antara iman dan akal budi, adanya hakikat Tuhan, antropologi, etika, dan politik. Tokoh-tokoh dari zaman Skolastik ini antara lain Albertus Magnus, Thomas Aquino, Bonaventura, dan Yohanes Duns Scotus.
Zaman Renaissans (14-16 M)
Peralihan dari zaman pertengahan ke zaman modern ditandai oleh suatu era yang disebut dengan zaman Renaissans. Periode ini terjadi sekitar tahun 1400-1600 masehi. Renaissans adalah suatu zaman yang sangat menaruh perhatian dalam bidang seni lukis, patung, arsitektur, musik, sastra, filsafat, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Pada zaman ini berbagai gerakan bersatu untuk menentang pola pemikiran abad pertengahan yang dogmatis, sehingga melahirkan suatu perubahan revolusioner dalam pemikiran manusia dan membentuk suatu pola pemikiran baru dalam filsafat.
Copernicus adalah seorang tokoh gerejani yang ortodoks. Dia mengemukakan bahwa matahari berada di pusat jagad raya, dan bumi memiliki dua macam gerak yaitu perputaran sehari-hari pada porosnya dan gerak tahunan mengelilingi matahari. Teori ini disebut âœheliosentrismeâ dimana matahari adalah pusat jagad raya. Teori Copernicus ini melahirkan revolusi pemikiran tentang alam semesta terutama astronomi. Pendapat ini berlawanan dengan pendapat umum yang berasal dari Hipparahus dan Ptolomeus yang menganggap bahwa bumi sebagai pusat alam semesta (goesentrisme).
Pemikiran yang revolusioner dari Copernicus ini juga terjadi dalam dunia hukum yakni terkait dengan hukum internasional dan hukum tata Negara. Tokoh utama yang terkenal dalam bidang ini adalah Hugo de Groot. Di samping itu, revolusi lebih lanjut di bidang sains dikemukakan pula oleh Francis Bacon. Sebagai perintis filsafat ilmu, Bacon memperkenalkan metode baru yang kemudian berkembang dan diterapkan untuk ilmu-ilmu empiris yaitu logika induktif.
Gagasan Bacon tentang metode ilmiah terkenal dengan nama induksi Baconian. Metodenya dijelaskan secara rinci dalam bukunya yang berjudul Novum Organum. Dalam bukunya ini ia secara positif hendak membengun kembali ilmu yang baru melalui metode ilmiah. Selain itu, Bacon menolak menggunakan silogisme berdasarkan pandangan bahwa inudksi harus bertumpu pada observasi tentang benda-benda, fakta atau peristiwa khusus, dan harus dilaksanakan seluas mungkin.
Galileo Galilei membuat sebuah teropong bintang yang terbesar pada masa itu dan mengamati beberapa peristiwa angkasa secara langsung. Ia menemukan beberapa peristiwa penting dalam astronomi. Ia melihat bahwa planet Venus dan Merkurius menunjukkan perubahan-perubahan seperti halnya bulan, sehingga ia menyimpulkan bahwa planet-planet tidaklah memancarkan cahaya sendiri, melainkan hanya memantulkan cahaya dari matahari.
Langkah-langkah yang dilakukan oleh Galileo dalam bidang ini menanamkan pengaruh yang kuat bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern, karena menunjukkan beberapa hal seperti : pengamatan (observation), penyingkiran (elimination) segala hal yang tidak termasuk dalam peristiwa yang diamati, idealisasi, penyusunan teori secara spekulatif atas peristiwa tersebut, peramalan (prediction), pengukuran (measurement), dan percobaan (experiment) untuk menguji teori yang didasarkan pada ramalan matematik.
Sedangkan Johannes Keppler menemukan tiga buah hukum, yaitu :
(1) Bahwa gerak benda angkasa itu ternyata bukan bergerak mengikuti lintasan cirde, namun gerak itu mengikuti lintasan elips. Orbit semua planet berbentuk elips.
(2) Dalam waktu yang sama, garis penghubung antara planet dan matahari selalu melintasi bidang yang luasnya sama.
Dalam perhitungan matematika terbukti bahwa bila jarak rata-rata dua planet A dan B dengan matahari adalah X dan Y, sedangkan waktu untuk melintasi orbit masing-masing adalah P dan Q, maka P2 : Q2 , X3 : Y3.
03.02 Sejarah Perkembangan Ilmu Dunia Barat - 2. Zaman Pertengahan (Abad 6-16 M)
# Zaman Patristik, Zaman Skolastik, Zaman Renaissans, Copernicus
2. Zaman Pertengahan (Abad 6-16 M)
Namun dibalik itu dunia filsafat dan ilmu pengetahuan terjadi kemunduran, bahkan pada masa ini filsafat dan ilmu pengetahuan adalah identik dengan agama. Sebab agama (Kristen) yang bersifat dogmatik cenderung menolak keberadaan filsafat dan ilmu, dianggap gerejalah sebagai pusat kebenaran. Jadi ukuran kebenaran adalah apa yang menjadi keputusan gereja. Gereja sangat otoriter dan otoritas gereja harus ditegakkan.
Pada zama Kristiani ini mencapai dua kali periode keemasan yaitu zaman Patristik dan Skolastik, yaitu :
a. Zaman Patristik
Patristik dalam bahasa latin disebut Patres (Bapa bapa Gereja). Ajaran-ajaran filsafat dari Bapa-bapa Gereja menunjukkan pengaruh Plotinos. Mereka berusaha untuk memperlihatkan bahwa iman sesuai dengan pikiran-pikiran paling dalam dari manusia. Merek berhasil membela ajaran kristiani terhadap tuduhan dari pemikir-pemikir kafir.
Zaman Patristik dibagi atas Patristik Yunani (Patristik Timur) dan Patristik Latin (Patristik Barat). Tokoh-tokoh dari Patristik Yunani antara lain Clemens dari Alexandria, Origenes, Gregorius dari Nazianze, Basilius, Gregorius dari Nizza, dan Dionysios Areopagita. Sedangkan tokoh-tokog dari Patristik Latin yaitu Hilarius, Ambrosius, Hieronymus, dan Augustinus.
b. Zaman Skolastik
Skolastik dalam bahasa latin disebut scholasticus yang berarti guru. Disebut skolastik karena dalam periode ini filsafat diajarkan dalam sekolah-sekolah biara dan universitas-universitas menurut suatu kurikulum yang tetap dan yang bersifat internasional. Tema-tema pokok dari ajaran meraka yaitu hubungan antara iman dan akal budi, adanya hakikat Tuhan, antropologi, etika, dan politik. Tokoh-tokoh dari zaman Skolastik ini antara lain Albertus Magnus, Thomas Aquino, Bonaventura, dan Yohanes Duns Scotus.
Zaman Renaissans (14-16 M)
Peralihan dari zaman pertengahan ke zaman modern ditandai oleh suatu era yang disebut dengan zaman Renaissans. Periode ini terjadi sekitar tahun 1400-1600 masehi. Renaissans adalah suatu zaman yang sangat menaruh perhatian dalam bidang seni lukis, patung, arsitektur, musik, sastra, filsafat, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Pada zaman ini berbagai gerakan bersatu untuk menentang pola pemikiran abad pertengahan yang dogmatis, sehingga melahirkan suatu perubahan revolusioner dalam pemikiran manusia dan membentuk suatu pola pemikiran baru dalam filsafat.
Zaman renaissans terkenal dengan era kelahiran kembali kebebasan manusia dalam berpikir. Renaissans adalah zaman atau gerakan yang didukung oleh cita-cita lahirnya kembali manusia yang bebas. Pada zaman renaissans manusia Barat mulai berpikir secara baru, dan secara berangsur-angsur melepaskan diri dari otoritas kekuasaan Gereja yang selama ini telah mengungkung kebebasan dan mengemukakan kebenaran filsafat dan ilmu pengetahuan.
Pada zaman ini, manusia disebut sebagai animal rationale, karena pada masa ini pemikiran manusia mulai bebas dan berkembang. Manusia ingin mencapai kemajuan atas hasil usaha sendiri. Penemuan-penemuan ilmu pengetahuan modern sudah mulai dirintis sejak zaman Renaissans. Ilmu pengetahuan yang berkembang maju pada masa ini adalah bidang astronomi. Tokoh-tokohnya yang terkenal seperti Copernicus, Johannes Keppler, dan Galileo Galilei.
Pemikiran yang revolusioner dari Copernicus ini juga terjadi dalam dunia hukum yakni terkait dengan hukum internasional dan hukum tata Negara. Tokoh utama yang terkenal dalam bidang ini adalah Hugo de Groot. Di samping itu, revolusi lebih lanjut di bidang sains dikemukakan pula oleh Francis Bacon. Sebagai perintis filsafat ilmu, Bacon memperkenalkan metode baru yang kemudian berkembang dan diterapkan untuk ilmu-ilmu empiris yaitu logika induktif.
Gagasan Bacon tentang metode ilmiah terkenal dengan nama induksi Baconian. Metodenya dijelaskan secara rinci dalam bukunya yang berjudul Novum Organum. Dalam bukunya ini ia secara positif hendak membengun kembali ilmu yang baru melalui metode ilmiah. Selain itu, Bacon menolak menggunakan silogisme berdasarkan pandangan bahwa inudksi harus bertumpu pada observasi tentang benda-benda, fakta atau peristiwa khusus, dan harus dilaksanakan seluas mungkin.
Galileo Galilei membuat sebuah teropong bintang yang terbesar pada masa itu dan mengamati beberapa peristiwa angkasa secara langsung. Ia menemukan beberapa peristiwa penting dalam astronomi. Ia melihat bahwa planet Venus dan Merkurius menunjukkan perubahan-perubahan seperti halnya bulan, sehingga ia menyimpulkan bahwa planet-planet tidaklah memancarkan cahaya sendiri, melainkan hanya memantulkan cahaya dari matahari.
Langkah-langkah yang dilakukan oleh Galileo dalam bidang ini menanamkan pengaruh yang kuat bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern, karena menunjukkan beberapa hal seperti : pengamatan (observation), penyingkiran (elimination) segala hal yang tidak termasuk dalam peristiwa yang diamati, idealisasi, penyusunan teori secara spekulatif atas peristiwa tersebut, peramalan (prediction), pengukuran (measurement), dan percobaan (experiment) untuk menguji teori yang didasarkan pada ramalan matematik.
Sedangkan Johannes Keppler menemukan tiga buah hukum, yaitu :
(1) Bahwa gerak benda angkasa itu ternyata bukan bergerak mengikuti lintasan cirde, namun gerak itu mengikuti lintasan elips. Orbit semua planet berbentuk elips.
(2) Dalam waktu yang sama, garis penghubung antara planet dan matahari selalu melintasi bidang yang luasnya sama.
Dalam perhitungan matematika terbukti bahwa bila jarak rata-rata dua planet A dan B dengan matahari adalah X dan Y, sedangkan waktu untuk melintasi orbit masing-masing adalah P dan Q, maka P2 : Q2 , X3 : Y3.
Materi Kuliah:
