WA: 0812 8595 8481
⋮
View : 336 kali.
Materi Kuliah Filsafat Dan Pengetahuan Modern
03.03 Sejarah Perkembangan Ilmu Dunia Barat - 3. Zaman Modern (Abad 17-19 M)
Para filsuf zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari penguasa, tetapi dari diri manusia sendiri. Dengan demikian, filsafat pada zaman modern memilki corak yang berbeda dengan periode filsafat zaman pertengahan. Perbedaan tersebut terletak terutama pada otoritas kekuasaan politik dan ilmu pengetahuan. Jika pada Abad Pertengahan otoritas kekuasaan dipegang oleh Gereja dengan dogma-dogmanya, maka pada zaman modern otoritas kekuasaan itu terletak pada kemampuan akal manusia itu sendiri. Manusia pada zaman modern tidak mau diikat oleh kekuasaan manapun, kecuali oleh kekuasaan yang ada pada dirinya sendiri.
Filsafat zaman modern ini bercorak "antroposentris", artinya manusia menjadi pusat perhatian penyelidikan filsafat. Semua filsuf pada zaman ini menyelidiki segi-segi subjek manusiawi, "aku" sebagai pusat pemikiran, pusat pengamatan, pusat kebebasan, pusat tindakan, pusat kehendak, dan pusat perasaan.
Zaman modern ditandai dengan berbagai penemuan dalam bidang ilmiah. Eropa sebagai basis perkembangan ilmu pengetahuan pada masa ini menurut Slamet Santoso sebenarnya mempunyai tiga sumber yaitu :
3. Pada tahun 1453 Istambul jatuh ke tangan bangsa Turki, sehungga para pendeta atau sarjana mengungsi ke Italia atau negara-negara lain. Mereka ini menjadi pionir-pionir bagi perkembangan ilmu di Eropa.
Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman modern sesungguhnya sudah dirintis sejak zaman Rennaisans. Seperti Rene Descrates, tokoh yang terkenal sebagai bapak filsafat modern. Tokoh-tokoh yang muncul di era modern ini adalah:
1. Rene Descrates juga seorang ahli ilmu pasti. Bagi Descrates tidak dapat menerima apapun sebagai hal yang benar, kecuali jika diyakini bahwa itu memang benar. Untuk memudahkan penyelesaian masalah, maka perlu dipilah-pilah menjadi bagian kecil. Berfikir runtut dari hal yang sederhana menuju hal yang rumit. Pemeriksaan menyeluruh setelah mengerjakan sesuatu supaya tidak ada yang terlupakan.
2. Isaac Newton dengan temuannya teori Gravitasi, Calculus, dan Optika. Munculnya teori gravitasi kelanjutan dari teori gerak yang dimunculkan oleh Galileo dan Keppler. Jika Galileo, gerakan itu lurus, Keppler berbentuk elips tanpa menjelaskan sebabnya, maka Newton membuat teori gravitasi, bahwa keelipsan lintasan itu karena ada daya tarik antara dua benda yang berdekatan.
3. Charles Darwin dengan teorinya yang paling popular adalah struggle for life (perjuangan untuk hidup), yang kemudian melahirkan teori evolusi bahwa manusia berasal dari monyet.
4. J.J. Thompson dengan temuannya elektron, yang meruntuhkan teori yang mengatakan bahwa materi yang paling kecil adalah atom. Penemuan ini penting bagi pengembangan fisika-nuklir yang mampu mengubah atom menjadi energi lain.
Wacana filsafat yang menjadi topik utama pada zaman modern, khususnya abad ke 17 adalah persoalan epistimologi. Pertanyaan pokok dalam bidang epistimologi adalah bagaimana manusia memperoleh pengetahuan dan apakah sarana yang paling memadai untuk mencapai pengetahuan yang benar, serta apa yang dimaksud dengan kebenaran itu sendiri. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka dalam filsafat abad 17 ini muncullah beberapa aliran yang memberikan jawaban berbeda, bahkan saling bertentangan.
Beberapa aliran tersebut adalah :
1. Rasionalisme
Rasionalisme adalah faham filsafat yng mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan. Menurut aliran rasionalis, suatu pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir. Tokoh yang mempelopori aliran ini adalah Rene Descrates. Descrates berpendapat bahwa agar filsafat dan ilmu pengetahuan dapat diperbaharui, kita memerlukan suatu metode yang baik, yaitu dengan menyangsikan segala-galanya atau keragu-raguan. Menurutnya, suatu kebenaran yang tidak dapat disangkal adalah corgito ego sum yang artinya aku berpikir (menyadari) maka aku ada. Itulah kebenaran yang jelas dan tidak dapat disangkal lagi. Untuk memperoleh hasil yang sahih dalam metodenya, Descrates mengemukakan empat hal, sebagai berikut:
a. Tidak menerima suatu apapun sebagai kebenaran, kecuali bila saya melihat hal itu sungguh-sungguh jelas dan tegas sehingga tidak ada suatu keraguan apapun yang mempu merobohkannya.
b. Pecahkan setiap kesulitan atau masalah itu atau sebanyak mungkin bagian, sehingga tidak ada suatu keraguan apapun yang mampu merobohkannya.
c. Bimbinglah pikiran dengan teratur, dengan memulai hal-hal yang sederhana dan mudah diketahui, kemudian secara bertahap sampai pada yang paling sulit dan kompleks.
d. Dalam proses pencarian dan pemeriksaan hal-hal sulit, selamanya harus dibuat perhitungn-perhitungan yang sempurna serta pertimbangan-pertimbangan yang menyeluruh, sehingga kita yankinbahwa tidak ada satupun yang mengabaikan atau tertinggal dalam penjelajahan itu.
Sebagai aliran dalam filsafat yang mengutamakan rasio untuk memperoleh pengatahuan dan kebenaran, rasionalisme selalu berpendapat bahwa akal merupakan faktor fundamental dalam suatu pengetahuan. Dan menurut rasonalisme, pengalaman tidak mungkin dapat menguji kebenaran hukum "sebab-akibat" karena peristiwa yang tak terhingga dalam kejadian ala mini tidak mungkin dapat diobservasi.
Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indra dalam memperoleh pengetahuan. Pengalaman digunakan untuk merangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja. Akan tetapi, akal juga dapat menghasilkan pengetahuan yang tidak didasarkan bahan indra sama sekali. Jadi, akal dapat juga menghasilkan pengetahuan tentang objek yang betul-betul abstrak.
2. Empirisisme
Salah satu tokoh terkemuka aliran ini adalah David Hume, yang percaya bahwa seluruh pengetahuan tentang dunia berasal dari indera. Hume yakin bahwa pengenala inderawi merupakan bentuk pengenalan yang paling jelas dan sempurna. Ada dua hal yang dicermati oleh Hume, yaitu substansi dan kausalitas. Hume tidak menerima substansi sebab yang dialami hanya kesan-kesan saja tentang beberapa cirri yang selalu ada bersama-sama. Dari kesan muncul gagasan. Kesan adalah hasil penginderaan langsung, sedangkan gagasan adalah ingatan akan kesan-kesan.
Pada hakikatnya pemikiran Hume bersifat analtis, kritis, dan skeptic. Ia berpangkal pada suatu keyakinan bahwa hanya kesan-kesanlah yang pasti, jelas, dan tidak dapat diragukan. Berdasarkan pendapatnya, Hume sampai pada kesimpulan bahwa "aku" termasuk dalam dunia khayalan. Sebab bagi Hume dunia hanya terdiri dari kesan-kesan yang terpisah-pisah, yang tidak dapat disusun secara objektif sistematis, karena tidak ada hubungan sebab akibat di antara kesan-kesan.
3. Kritisisme
Seorang filsuf besar Jerman yang bernama Immanuel Kant telah melakukan usaha untuk menjembatani pendangan-pandangan yang saling bertentangan, yaitu antara rasionalisme dan empirisisme. Filsafat yang diintrodusir oleh Immanuel Kant ini adalah filsafat kritisisme. Kant mengadakan penelitian yang kritis terhadap rasio murni dan memugar sifat objektivitas dunia ilmu pengetahuan dengan menghindarkan diri dari sifat sepihak rasionalisme dan sepihak empirisisme. Menurut aliran ini, baik rasionalisme maupun empirisisme keduanya berat sebelah. Pengalaman manusia merupakan paduan antar sintesa unsure-unsur aspriori (terlepas dari pengalaman) dengan unsure-unsur aposteriori (berasal dari pengalaman).
Kant mencoba untuk mempersatukan rasionalisme dan empirisisme, mengatakan bahwa dengan hanya mementingkan salah satu dari kedua aspek sumber pengetahuan, tidak akan diperoleh pengetahuan yang kebenarannya bersifat universal sekaligus dapat memberikan informasi baru. Masing-masing mempunyai kekuatan dan kelemahan. Pengetahuan rasional adalah pengetahuan yang bersifat universal, tetapi tidak memberikan informasi baru. Sebaliknya pengetahuan empiris dapat memberikan informasi baru, tetapi kebenarannya tidak universal.
Dengan filasafat kritisnya Immanuel Kant telah menunjukkan jasanya yang besar, karena berdasarkan atas penglihatannya yang begitu jelas mengenai keadaan yang saling mempengaruhi di antara subyek pengetahuan dan obyek pengetahuan. Ia telah memberikan pembetulan terhadap sikap berat sebelah yang dikemukakan oleh penganut rasionalisme dan empirisisme, sehingga ia telah membuka jalan bagi perkembangan filsafat.
03.03 Sejarah Perkembangan Ilmu Dunia Barat - 3. Zaman Modern (Abad 17-19 M)
3. Zaman Modern (Abad 17-19 M)
Para filsuf zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari penguasa, tetapi dari diri manusia sendiri. Dengan demikian, filsafat pada zaman modern memilki corak yang berbeda dengan periode filsafat zaman pertengahan. Perbedaan tersebut terletak terutama pada otoritas kekuasaan politik dan ilmu pengetahuan. Jika pada Abad Pertengahan otoritas kekuasaan dipegang oleh Gereja dengan dogma-dogmanya, maka pada zaman modern otoritas kekuasaan itu terletak pada kemampuan akal manusia itu sendiri. Manusia pada zaman modern tidak mau diikat oleh kekuasaan manapun, kecuali oleh kekuasaan yang ada pada dirinya sendiri.
Filsafat zaman modern ini bercorak "antroposentris", artinya manusia menjadi pusat perhatian penyelidikan filsafat. Semua filsuf pada zaman ini menyelidiki segi-segi subjek manusiawi, "aku" sebagai pusat pemikiran, pusat pengamatan, pusat kebebasan, pusat tindakan, pusat kehendak, dan pusat perasaan.
Zaman modern ditandai dengan berbagai penemuan dalam bidang ilmiah. Eropa sebagai basis perkembangan ilmu pengetahuan pada masa ini menurut Slamet Santoso sebenarnya mempunyai tiga sumber yaitu :
1. Hubungan antara kerajaan Islam di Semenanjungan Iberia dengan negara-negara Prancis. Para pendeta di Perancis banyak yang belajar di Spanyol,, kemudian mereka inilah yang menyebarkan ilmu pengetahuan yang diperolehnya itu di lembaga-lembaga pendidikan di Perancis.
2. Perang Salib yang terulang sebanyak enam kali tidak hanya menjadi ajang peperangan fisik, namun juga menjadikan para tentara atau serdadu Eropa yang berasal dari berbagai negara itu menyadari kemajuan negara-negara Islam, sehingga mereka menyebarkan pengalaman mereka itu sekembalinya di negara masing-masing.
Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman modern sesungguhnya sudah dirintis sejak zaman Rennaisans. Seperti Rene Descrates, tokoh yang terkenal sebagai bapak filsafat modern. Tokoh-tokoh yang muncul di era modern ini adalah:
1. Rene Descrates juga seorang ahli ilmu pasti. Bagi Descrates tidak dapat menerima apapun sebagai hal yang benar, kecuali jika diyakini bahwa itu memang benar. Untuk memudahkan penyelesaian masalah, maka perlu dipilah-pilah menjadi bagian kecil. Berfikir runtut dari hal yang sederhana menuju hal yang rumit. Pemeriksaan menyeluruh setelah mengerjakan sesuatu supaya tidak ada yang terlupakan.
2. Isaac Newton dengan temuannya teori Gravitasi, Calculus, dan Optika. Munculnya teori gravitasi kelanjutan dari teori gerak yang dimunculkan oleh Galileo dan Keppler. Jika Galileo, gerakan itu lurus, Keppler berbentuk elips tanpa menjelaskan sebabnya, maka Newton membuat teori gravitasi, bahwa keelipsan lintasan itu karena ada daya tarik antara dua benda yang berdekatan.
3. Charles Darwin dengan teorinya yang paling popular adalah struggle for life (perjuangan untuk hidup), yang kemudian melahirkan teori evolusi bahwa manusia berasal dari monyet.
4. J.J. Thompson dengan temuannya elektron, yang meruntuhkan teori yang mengatakan bahwa materi yang paling kecil adalah atom. Penemuan ini penting bagi pengembangan fisika-nuklir yang mampu mengubah atom menjadi energi lain.
Wacana filsafat yang menjadi topik utama pada zaman modern, khususnya abad ke 17 adalah persoalan epistimologi. Pertanyaan pokok dalam bidang epistimologi adalah bagaimana manusia memperoleh pengetahuan dan apakah sarana yang paling memadai untuk mencapai pengetahuan yang benar, serta apa yang dimaksud dengan kebenaran itu sendiri. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka dalam filsafat abad 17 ini muncullah beberapa aliran yang memberikan jawaban berbeda, bahkan saling bertentangan.
Beberapa aliran tersebut adalah :
1. Rasionalisme
Rasionalisme adalah faham filsafat yng mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan. Menurut aliran rasionalis, suatu pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir. Tokoh yang mempelopori aliran ini adalah Rene Descrates. Descrates berpendapat bahwa agar filsafat dan ilmu pengetahuan dapat diperbaharui, kita memerlukan suatu metode yang baik, yaitu dengan menyangsikan segala-galanya atau keragu-raguan. Menurutnya, suatu kebenaran yang tidak dapat disangkal adalah corgito ego sum yang artinya aku berpikir (menyadari) maka aku ada. Itulah kebenaran yang jelas dan tidak dapat disangkal lagi. Untuk memperoleh hasil yang sahih dalam metodenya, Descrates mengemukakan empat hal, sebagai berikut:
a. Tidak menerima suatu apapun sebagai kebenaran, kecuali bila saya melihat hal itu sungguh-sungguh jelas dan tegas sehingga tidak ada suatu keraguan apapun yang mempu merobohkannya.
b. Pecahkan setiap kesulitan atau masalah itu atau sebanyak mungkin bagian, sehingga tidak ada suatu keraguan apapun yang mampu merobohkannya.
c. Bimbinglah pikiran dengan teratur, dengan memulai hal-hal yang sederhana dan mudah diketahui, kemudian secara bertahap sampai pada yang paling sulit dan kompleks.
d. Dalam proses pencarian dan pemeriksaan hal-hal sulit, selamanya harus dibuat perhitungn-perhitungan yang sempurna serta pertimbangan-pertimbangan yang menyeluruh, sehingga kita yankinbahwa tidak ada satupun yang mengabaikan atau tertinggal dalam penjelajahan itu.
Sebagai aliran dalam filsafat yang mengutamakan rasio untuk memperoleh pengatahuan dan kebenaran, rasionalisme selalu berpendapat bahwa akal merupakan faktor fundamental dalam suatu pengetahuan. Dan menurut rasonalisme, pengalaman tidak mungkin dapat menguji kebenaran hukum "sebab-akibat" karena peristiwa yang tak terhingga dalam kejadian ala mini tidak mungkin dapat diobservasi.
Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indra dalam memperoleh pengetahuan. Pengalaman digunakan untuk merangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja. Akan tetapi, akal juga dapat menghasilkan pengetahuan yang tidak didasarkan bahan indra sama sekali. Jadi, akal dapat juga menghasilkan pengetahuan tentang objek yang betul-betul abstrak.
2. Empirisisme
Istilah empiris berasal dari kata emperia (Yunani) yang berarti pengalaman inderawi. Empirisisme adalah aliran yang menjadikan pengalaman sebagai sumber pengetahuan. Aliran ini beranggapan bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dengan cara observasi/pengindraan. Karena itu, empirisisme dinisbatkan kepada faham yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalan, baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman bathiniah yang menyangkut pribadi manusia. Pada dasarnya aliran ini sangat bertentangan dengan rasionalisme.
Sedangkan tentang kausalitas, Hume berpandangan bahwa jika gejala tertentu diikuti oelh gejala lainnya, lalu dari berbagai gejala tersebut diambil kesimpulan maka kesimpulan itu tidak berdasarkan pengalaman. Pengalaman hanya member urutan gejala, tidak memperlihatkan urutan sebab-akibat. Yang disebut kepastian hanya mengungkapkan harapan kita saja dan tidak boleh dimengerti lebih dari âœprobableâ (berpeluang). Karena itulah Hume menolak kausalitas.
3. Kritisisme
Seorang filsuf besar Jerman yang bernama Immanuel Kant telah melakukan usaha untuk menjembatani pendangan-pandangan yang saling bertentangan, yaitu antara rasionalisme dan empirisisme. Filsafat yang diintrodusir oleh Immanuel Kant ini adalah filsafat kritisisme. Kant mengadakan penelitian yang kritis terhadap rasio murni dan memugar sifat objektivitas dunia ilmu pengetahuan dengan menghindarkan diri dari sifat sepihak rasionalisme dan sepihak empirisisme. Menurut aliran ini, baik rasionalisme maupun empirisisme keduanya berat sebelah. Pengalaman manusia merupakan paduan antar sintesa unsure-unsur aspriori (terlepas dari pengalaman) dengan unsure-unsur aposteriori (berasal dari pengalaman).
Kant mencoba untuk mempersatukan rasionalisme dan empirisisme, mengatakan bahwa dengan hanya mementingkan salah satu dari kedua aspek sumber pengetahuan, tidak akan diperoleh pengetahuan yang kebenarannya bersifat universal sekaligus dapat memberikan informasi baru. Masing-masing mempunyai kekuatan dan kelemahan. Pengetahuan rasional adalah pengetahuan yang bersifat universal, tetapi tidak memberikan informasi baru. Sebaliknya pengetahuan empiris dapat memberikan informasi baru, tetapi kebenarannya tidak universal.
Dengan filasafat kritisnya Immanuel Kant telah menunjukkan jasanya yang besar, karena berdasarkan atas penglihatannya yang begitu jelas mengenai keadaan yang saling mempengaruhi di antara subyek pengetahuan dan obyek pengetahuan. Ia telah memberikan pembetulan terhadap sikap berat sebelah yang dikemukakan oleh penganut rasionalisme dan empirisisme, sehingga ia telah membuka jalan bagi perkembangan filsafat.
Materi Kuliah:
