WA: 0812 8595 8481
⋮
View : 356 kali.
Materi Kuliah Filsafat Dan Pengetahuan Modern
03.04 Sejarah Perkembangan Ilmu Dunia Barat - 4. Zaman Kontemporer (Abad ke-20 sampai seterusnya)
Perkembangan dan kemajuan peradaban manusia tidak bisa dilepaskan dari peran ilmu. Bahkan perubahan pola hidup manusia dari waktu ke waktu sesungguhnya berjalan seiring dengan sejarah kemajuan dan perkembangan ilmu. Kemajuan ilmu dan teknologi dari masa ke masa adalah ibarat mata rantai yang tidak terputus satu sama lain. Hal-hal baru yang ditemukan pada suatu masa menjadi unsur penting bagi penemuan-penemuan lainnya di masa berikutnya.
Yang dimaksud dengan zaman kontemporer dalam konteks ini adalah era-era tahun terakhir yang kita jalani hingga saat sekarang ini. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, sebagai kelanjutan mata rantai sejarah perkembangan ilmu, beberapa hal baru yang ditemukan dapat kita amati di era kontemporer, tidak lepas dari berbagai penemuan dan dasar-dasar ilmu yang telah ada dan diciptakan oleh para penemu, pakar, atau filosof di masa-masa sebelumnya.
Perkembangan ilmu pada zaman kontemporer berkembang dengan sangat cepat. masing-masing ilmu mengembangkan disiplin keilmuannya dengan berbagai macam penemuan-penemuannya. Dalam bidang kedokteran terjadi perubahan besar. Dahulu madzhab Hippokrates melihat kedokteran secara holistis: individu diamati secara utuh dalam lingkungannya, sebagai bagian dari alam. Tetapi sekitar lima abad yang lalu terjadi perubahan besar dengan gagasan manusia harus menguasai alam : materi dan jiwa harus dipisahkan.
Dalam disiplin ilmu social, berbagai macam pendekatan dihasilkan guna semakin menajamkan daya analisis terhadap fenomena yang ditelitinya. Sementara itu dalam ilmu pengetahuan alam, terutama fisika dianggap memiliki perkembangan yang sangat spektakuler. Salah seorang fisikawan termashur abad ke-20 adalah Albert Einstein. Ia menyatakan bahwa alam itu tidak berhingga besarnya dan tidak terbatas, tetapi juga tidak berubah status totalitasnya atau bersifat statis dari waktu ke waktu. Einstein percaya akan kekekalan materi. Ini berarti bahwa alam semesta itu bersifat kekal, atau dengan kata lain tidak mengakui adanya penciptaan alam.
Selain itu, zaman kontemporer ini juga terjadi penemuan-penemuan teknologi canggih. Teknologi komunikasi dan informasi termasuk salah satu yang mengalami kemajuan sangat pesat. Mulai dari penemuan komputer, berbagai satelit komunikasi, internet, dan sebagainya. Selanjutnya dalam media komunikasi, penemuan mesin cetak merupakan peristiwa yang sangat penting, yang dimanfaatkan dengan baik pertama kali di Eropa. Penyebaran informasi melonjak dengan luar biasa. Perkembangan teknologi juga ditandai dengan makin meluasnya penggunaan teknologi modern itu dalam kehidupan sehari-hari dan semakin lama mencapai skala massal.
Perkembangan filsafat pada zaman kontemporer juga ditandai oleh munculnya berbagai aliran filsafat yang kebanyakan aliran tersebut merupakan kelanjutan dari aliran-aliran filsafat yang telah berkembang pada abad modern, seperti: neo-thomisme, neo-kantianisme, neo-hegelianisme, neo-marxisme, neo-positivisme, dan sebagainya. Namun ada juga aliran filsafat yang baru dengan ciri dan corak yang lain, seperti: fenomenologi, eksistensialisme, pragmatisme, strukturalisme, dan postmodernisme.
a. Fenomenologi
Fenomenologi merupakan suatu aliran filsafat yang lebih mengedepankan metode. Fenomenologi berasal dari kata fenomenom/fenomena/gejala dan fenomena tidak hanya ditangkap oleh kemampuan panca indra manusia, tetapi dapat juga ditangkap melalui intuisi manusia.
Fenomenalisme adalah suatu metode pemikiran âœa way of looking at thisâ. Tokoh terpenting dalam aliran ini adalah Edmund Husserl. Ia selalu berupaya ingin mendekati realitas tidak melalui argument-argumen, konsep-konsep, atau teori umum. Kembali pada benda-benda itu sendiri merupakan inti dari pendekatan yang dipakai untuk mendeskripsikan realitas menurut apa adanya. Setiap objek memiliki hakikat, dan hakikat itu berbicara kepada kita jika kira membuka diri kepada gejala-gejala yang kita terima. Fenomenologi banyak diterapkan dalam epistimologi, psikologi, antropologi, dan studi-studi keagamaan.
b. Eksistensialisme
Eksistensialisme berasal dari kata eksistensi dari kata dasar exist yang berarti keluar. Eksistensialisme adalah faham filsafat yang menekankan keunikan dan kedudukan pertama eksistensi pengalaman kesadaran yang dalam dan langsung. Tokohnya adalah Jean Paul Sartre. Ia berpendapat bahwa rasio dialektika berbeda dengan rasio analisis. Rasio analisis dijalankan dalam ilmu pengetahuan dialektika harus digunakan jika berpikir tentang manusia, sejarah dan kehidupan sosial. Karl Jaspewrs mengtakan bahwa eksistensi adalah ada yang ada di dalam mite disebut jiwa, yiatu titik pangkal dari mana kita berpikir dan berbuat. Jika keberadaan segala sesuatu adalah terletak pada eksistensi jiwanya. Jiwa merupakan substansi dari yang ada.
Ekistensialisme adalah alran filsafat yang menekankan eksistensia. Para pengamat eksistensialisme tidak mempersoalkan esensia dari segalah yang ada. Kursi adalah kursi. Pohon mangga adalah pohon mangga. Harimau adalah harimau. Manusia adalah manusia. Namun, mereka mempersoalkan bagaimana segala yang ada berada dan untuk apa berada. Oleh karena itu, mereka menyibukkan diri dengan pemikiran eksistensia. Dengan mencari cara berada dan eksis yang sesuai, esensia pun akan ikut terpengaruhi.
c. Pragmatisme
Pragmatism adalah gerakan filsafat Amerika dan merupakan suatu sikap metode dan filsafat yang memakai akibat-akibat praktis dari pikiran dan kepercayaan sebagai ukuran untuk menetapkan nilai kebenaran. Pragmatisme merupakan aliran filsafat etika yang menyatakan bahwa yang bernilai adalah yang bermanfaat saat sekarang ini. Tokohnya yang terkenal adalah dokter ahli psikologi agama. James membedakan dua bentuk pengetahuan yakni pengetahuan yang langsung diperoleh dengan jalan pengamatan dan pengetahuan yang tidak langsung yang diperoleh dengan melalui pengertian.
d. Strukturalisme
Strukturalisme adalah suatu metode analisis yang dikembangkan oleh banyak semiotisian berbasis model linguistik Saussure. Strukturalisme bertujuan untuk mendeskripsikan kesluruhan pengorganisasian sistem tanda sebagai bahasa. Strukturalisme adalah teori yang menyatakan bahwa seluruh organisasi manusia ditentukan secara luas oleh struktur social atau psikologi yang mempunyai logika independen yang menarik, berkaitan dengan maksud, keinginan maupun tujuan manusia. Bagi Freud, strukturnya adalah psyche, bagi Marx strukturnya adalah ekonomi, dan bagi Saussure strukturnya adalah bahasa. Kesemuanya mendahului subjek manusia individual atau human agent dan menentukan apa yang akan dilakukan manusia pada semua keadaan.
Strukturalisme merupakan aliran filsafat yang hendak memahami masalah yang muncul dalam sejarah filsafat. Disini metode struktural dipakai untuk membahas tentang manusia, sejarah, kebudayaan serta hubungan antara kebudayaan dan alam. Oleh karena itu strukturalisme juga dianggap sebagai metodologi yang digunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu kemanusiaan dengan bertitik tolak dari prinsip-prinsip linguistik. Tokoh yang brpengaruh dalam dalam filsafat strukturalisme adalah Michel Foucault.
e. Post Modernism
Post modernisme adalah tren pemikiran abad 20 yang merambah ke berbagai bidang disiplin filsafat dan dunia ilmu pengetahuan. Post modernisme lahir sebagai reaksi terhadap kegagalan modernisme atau merupakan koreksi terhadap paham filsafat modernisme yang dinilai humanis. Era ini juga dikenal sebagai neo-modernisme, yang dimaksud adalah pembaharuan kembali pemikiran modern dengan era sebelumnya yang tradisionalisme. Ide yang terpokok adalah adanya hal-hal yang spiritualis dalam kehidupan materialis. Pola ini juga bisa dianggap sebagai neo-kritik terhadap perkembangan ilmu. Tokoh yang mempelopori era ini adalah Francois Lyotarl.
03.04 Sejarah Perkembangan Ilmu Dunia Barat - 4. Zaman Kontemporer (Abad ke-20 sampai seterusnya)
4. Zaman Kontemporer (Abad ke-20 sampai seterusnya)
Perkembangan dan kemajuan peradaban manusia tidak bisa dilepaskan dari peran ilmu. Bahkan perubahan pola hidup manusia dari waktu ke waktu sesungguhnya berjalan seiring dengan sejarah kemajuan dan perkembangan ilmu. Kemajuan ilmu dan teknologi dari masa ke masa adalah ibarat mata rantai yang tidak terputus satu sama lain. Hal-hal baru yang ditemukan pada suatu masa menjadi unsur penting bagi penemuan-penemuan lainnya di masa berikutnya.
Yang dimaksud dengan zaman kontemporer dalam konteks ini adalah era-era tahun terakhir yang kita jalani hingga saat sekarang ini. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, sebagai kelanjutan mata rantai sejarah perkembangan ilmu, beberapa hal baru yang ditemukan dapat kita amati di era kontemporer, tidak lepas dari berbagai penemuan dan dasar-dasar ilmu yang telah ada dan diciptakan oleh para penemu, pakar, atau filosof di masa-masa sebelumnya.
Perkembangan ilmu pada zaman kontemporer berkembang dengan sangat cepat. masing-masing ilmu mengembangkan disiplin keilmuannya dengan berbagai macam penemuan-penemuannya. Dalam bidang kedokteran terjadi perubahan besar. Dahulu madzhab Hippokrates melihat kedokteran secara holistis: individu diamati secara utuh dalam lingkungannya, sebagai bagian dari alam. Tetapi sekitar lima abad yang lalu terjadi perubahan besar dengan gagasan manusia harus menguasai alam : materi dan jiwa harus dipisahkan.
Dalam disiplin ilmu social, berbagai macam pendekatan dihasilkan guna semakin menajamkan daya analisis terhadap fenomena yang ditelitinya. Sementara itu dalam ilmu pengetahuan alam, terutama fisika dianggap memiliki perkembangan yang sangat spektakuler. Salah seorang fisikawan termashur abad ke-20 adalah Albert Einstein. Ia menyatakan bahwa alam itu tidak berhingga besarnya dan tidak terbatas, tetapi juga tidak berubah status totalitasnya atau bersifat statis dari waktu ke waktu. Einstein percaya akan kekekalan materi. Ini berarti bahwa alam semesta itu bersifat kekal, atau dengan kata lain tidak mengakui adanya penciptaan alam.
Selain itu, zaman kontemporer ini juga terjadi penemuan-penemuan teknologi canggih. Teknologi komunikasi dan informasi termasuk salah satu yang mengalami kemajuan sangat pesat. Mulai dari penemuan komputer, berbagai satelit komunikasi, internet, dan sebagainya. Selanjutnya dalam media komunikasi, penemuan mesin cetak merupakan peristiwa yang sangat penting, yang dimanfaatkan dengan baik pertama kali di Eropa. Penyebaran informasi melonjak dengan luar biasa. Perkembangan teknologi juga ditandai dengan makin meluasnya penggunaan teknologi modern itu dalam kehidupan sehari-hari dan semakin lama mencapai skala massal.
Perkembangan filsafat pada zaman kontemporer juga ditandai oleh munculnya berbagai aliran filsafat yang kebanyakan aliran tersebut merupakan kelanjutan dari aliran-aliran filsafat yang telah berkembang pada abad modern, seperti: neo-thomisme, neo-kantianisme, neo-hegelianisme, neo-marxisme, neo-positivisme, dan sebagainya. Namun ada juga aliran filsafat yang baru dengan ciri dan corak yang lain, seperti: fenomenologi, eksistensialisme, pragmatisme, strukturalisme, dan postmodernisme.
a. Fenomenologi
Fenomenologi merupakan suatu aliran filsafat yang lebih mengedepankan metode. Fenomenologi berasal dari kata fenomenom/fenomena/gejala dan fenomena tidak hanya ditangkap oleh kemampuan panca indra manusia, tetapi dapat juga ditangkap melalui intuisi manusia.
Fenomenalisme adalah suatu metode pemikiran âœa way of looking at thisâ. Tokoh terpenting dalam aliran ini adalah Edmund Husserl. Ia selalu berupaya ingin mendekati realitas tidak melalui argument-argumen, konsep-konsep, atau teori umum. Kembali pada benda-benda itu sendiri merupakan inti dari pendekatan yang dipakai untuk mendeskripsikan realitas menurut apa adanya. Setiap objek memiliki hakikat, dan hakikat itu berbicara kepada kita jika kira membuka diri kepada gejala-gejala yang kita terima. Fenomenologi banyak diterapkan dalam epistimologi, psikologi, antropologi, dan studi-studi keagamaan.
b. Eksistensialisme
Eksistensialisme berasal dari kata eksistensi dari kata dasar exist yang berarti keluar. Eksistensialisme adalah faham filsafat yang menekankan keunikan dan kedudukan pertama eksistensi pengalaman kesadaran yang dalam dan langsung. Tokohnya adalah Jean Paul Sartre. Ia berpendapat bahwa rasio dialektika berbeda dengan rasio analisis. Rasio analisis dijalankan dalam ilmu pengetahuan dialektika harus digunakan jika berpikir tentang manusia, sejarah dan kehidupan sosial. Karl Jaspewrs mengtakan bahwa eksistensi adalah ada yang ada di dalam mite disebut jiwa, yiatu titik pangkal dari mana kita berpikir dan berbuat. Jika keberadaan segala sesuatu adalah terletak pada eksistensi jiwanya. Jiwa merupakan substansi dari yang ada.
Ekistensialisme adalah alran filsafat yang menekankan eksistensia. Para pengamat eksistensialisme tidak mempersoalkan esensia dari segalah yang ada. Kursi adalah kursi. Pohon mangga adalah pohon mangga. Harimau adalah harimau. Manusia adalah manusia. Namun, mereka mempersoalkan bagaimana segala yang ada berada dan untuk apa berada. Oleh karena itu, mereka menyibukkan diri dengan pemikiran eksistensia. Dengan mencari cara berada dan eksis yang sesuai, esensia pun akan ikut terpengaruhi.
c. Pragmatisme
Pragmatism adalah gerakan filsafat Amerika dan merupakan suatu sikap metode dan filsafat yang memakai akibat-akibat praktis dari pikiran dan kepercayaan sebagai ukuran untuk menetapkan nilai kebenaran. Pragmatisme merupakan aliran filsafat etika yang menyatakan bahwa yang bernilai adalah yang bermanfaat saat sekarang ini. Tokohnya yang terkenal adalah dokter ahli psikologi agama. James membedakan dua bentuk pengetahuan yakni pengetahuan yang langsung diperoleh dengan jalan pengamatan dan pengetahuan yang tidak langsung yang diperoleh dengan melalui pengertian.
d. Strukturalisme
Strukturalisme adalah suatu metode analisis yang dikembangkan oleh banyak semiotisian berbasis model linguistik Saussure. Strukturalisme bertujuan untuk mendeskripsikan kesluruhan pengorganisasian sistem tanda sebagai bahasa. Strukturalisme adalah teori yang menyatakan bahwa seluruh organisasi manusia ditentukan secara luas oleh struktur social atau psikologi yang mempunyai logika independen yang menarik, berkaitan dengan maksud, keinginan maupun tujuan manusia. Bagi Freud, strukturnya adalah psyche, bagi Marx strukturnya adalah ekonomi, dan bagi Saussure strukturnya adalah bahasa. Kesemuanya mendahului subjek manusia individual atau human agent dan menentukan apa yang akan dilakukan manusia pada semua keadaan.
Strukturalisme merupakan aliran filsafat yang hendak memahami masalah yang muncul dalam sejarah filsafat. Disini metode struktural dipakai untuk membahas tentang manusia, sejarah, kebudayaan serta hubungan antara kebudayaan dan alam. Oleh karena itu strukturalisme juga dianggap sebagai metodologi yang digunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu kemanusiaan dengan bertitik tolak dari prinsip-prinsip linguistik. Tokoh yang brpengaruh dalam dalam filsafat strukturalisme adalah Michel Foucault.
e. Post Modernism
Post modernisme adalah tren pemikiran abad 20 yang merambah ke berbagai bidang disiplin filsafat dan dunia ilmu pengetahuan. Post modernisme lahir sebagai reaksi terhadap kegagalan modernisme atau merupakan koreksi terhadap paham filsafat modernisme yang dinilai humanis. Era ini juga dikenal sebagai neo-modernisme, yang dimaksud adalah pembaharuan kembali pemikiran modern dengan era sebelumnya yang tradisionalisme. Ide yang terpokok adalah adanya hal-hal yang spiritualis dalam kehidupan materialis. Pola ini juga bisa dianggap sebagai neo-kritik terhadap perkembangan ilmu. Tokoh yang mempelopori era ini adalah Francois Lyotarl.
Materi Kuliah:
