WA: 0812 8595 8481
⋮
View : 593 kali.
Materi Kuliah Filsafat Dan Pengetahuan Modern
13.02 Cara Kerja Ilmu Alam
#
a. Gejala Alam Bersifat Fisik-Statis
Gejala alam memiliki sifat statis atau tetap dari waktu ke waktu. Karena statis jumlah variable dari gejala alam sebagai objek yang diamati juga relative lebih sederhana dan sedikit. Misalnya ketika ahli ilmu alam ingin menjelaskan suatu eksplosi kimiawi, dia hanya perlu mempelajari sifat bahan kimiawi yang bisa meledak dan mudah diamati. Jadi faktornya sederhana untuk bisa menjelaskan eksplosi kimiawi.
b. Objek Penelitian Bisa Diulang
Karena sifat gejala alam fisikal-statis, maka objek penelitian dalam ilmu alam adalah tetap atau tidak mengalami perubahan. Dengan sifat ini objek penelitian ilmu alam bisa diamati secara berulang-ulang. Contohnya orang jaman sekarang bisa meneliti ulang proses penemuan grafitasi oleh Isaac Newton. Dengan gejala alam yang sama seperti Newton. Hal ini terjadi karena sifat-sifat gejala alam adalah seragam dan bisa diamati kapanpun. Ketika mengamati barang jatuh menuju bumi, variable yang dipakai dalam eksperimen untuk menguji penemuan gravitasi adalah sama antara jaman Newton dan jaman sekarang.
c. Pengamatan Relative Lebih Mudah dan Simple
Pengamatan dalam ilmu alam lebih mudah karena bisa dilakukan secara langsung dan bisa diulang kapanpun. Untuk menetahui melelehnya sebuah besi, ahli-ahli ilmu alam pada zaman dulu mempelajari sifat dari besi yang bisa leleh oleh panas, lalu mereka memanasi besi tersebut. Para ahli ilmu alam jaman sekarang melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan para ahli jaman dahulu. Ahli ilmu alam bisa mengubah bentuk besi yang semula persegi menjadi segitiga atau bulat. Kata mengamati dalam ilmu alam tentu lebih luas dari interaksi langsung dengan pancaindera manusia yang lingkup kemampuannya terbatas.
Untuk itu manusia menggunakan alat bantu seperti mikroskop, teleskop, alat perekam gelombang dan sebagainya. Jika seseorang ingin mendapatkan suatu gejala alam baru yang belum terdaftar dalam ilmu-ilmu alam maka ia perlu memberikan informasi tentang lingkungan, peralatan, seta cara pengamatan yang digunakan, sehingga memungkinkan orang lain mengamati kembali jika ingin mengujinya. Meskipun pengamatan ilmu alam bersifat reproducible (bisa diulang-ulang), namun juga dimungkinkan akan memiliki hasil yang berbeda menurut cara pengamatan yang dipakai, meskipun cenderung seragam atau objektif.
d. Subjek Pengamat (Peneliti) Lebih Sebagai Penonton.
Prinsip pengamatan/penelitian dalam ilmu alam adalah objek, artinya kebenaran disimpulkan berdasarkan objek yang diamati. Pengamat tidak terlibat atau tidak berpengaruh terhadap objek yang ditelitinya. Henry Margenau (1901-1997) berpendapat bahwa prinsip objek ini menempatkan posisi ilmuan alam lebih sebagai the cosmic spectator (pengamat) daripada cosmetic spectacle (tontonan). Ilmuan alam adalah penonton alam, ia hanya mengamati alam dan kemudian memperlihatkan kepada orang lain hasil pengamatannya, dimana ia tidak melibatkan ke-subjetivitas-nya, tetapi sekedar menunjukan hasil tontonannya.
Sisi dominan pengamatan dalam ilmu alam adalah lebih sebagai "penonton", maka tujuan aktivitas pengamatan hanya menjelaskan objeknya menurut penyebabnya, yang dalam istilah Wilhelm Dilthey (1833-1911) disebut erklaren. Dalam erklaren ini pengalaman dan teori dapat dipisahkan, artinya ada suatu jarak atau distansi antara pengamat dan yang diamati. Pengamat tidak terlibat dalam objek yang diamati, tugasnya hanya menjelaskan hasil pengamatannya.
e. Memiliki Daya Predikatif yang Relative Mudah Dikontrol.
Ilmu alam lebih menarik diteliti bukan hanya karena gejala alam membangun berbagai teori, melainkan karena gejala alam yang diketahui dan dirumuskan dalam teori-teori itu dapat digunakan untuk memprediksikan kejadian-kejadian yang dimungkinkan akan timbul dari gejala gejala tersebut.
Misalnya dari pengalaman hidupnya, manusia mempelajari tekstur lempengan-lempengan dalam bumi, termasuk gerak-gerak dan karakternya serta sebab-sebab terjadinya gerakan itu. Pengamatan tersebut dapat menjelaskan semacam keajekan (kebiasaan) bahwa setiap sekian seratus tahun terjadi patahan-patahan dari lempeng-lempeng bumi tersebut. Pengetahuan ini dapat dijadikan acuan prediksi misalnya jika terjadi patahan lempengan didasar laut maka akan menimbulkan gelombang laut yang sangat besar atau yang kebih popular dengan sebutan tsunami.
13.02 Cara Kerja Ilmu Alam
#
Sebelum adanya filsafat sebagai tradisi keilmuan baru, pada zaman Yunani kuno telah ramai perbincangan mengenai ilmu fisika, kimia, matematika serta ilmu astronomi diantara pecinta ilmu. Ilmu-ilmu alam ini, menjadi bahan diskusi mereka yang cinta dan haus akan ilmu kala itu. Jika dilihat dari segi manfaatnya, sebenarnya ilmu mempunyai manfaat langsung bagi manusia. Hal ini disebabkan karena ilmu mudah diamati/diukur dan secara praktis manfaatnya dapat dirasakan langsung. Ilmu alam yang sifatnya fisikal atau material sangat penting bagi manusia, terutama untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Contohnya pengukur suhu, telephone, stetoskop dan yang lainnya yang tujuannya untuk mempermudah dan memenuhi kebutuhan hidup manusia.
Ciri-ciri cara kerja ilmu alam:
Ciri-ciri cara kerja ilmu alam:
a. Gejala Alam Bersifat Fisik-Statis
Gejala alam memiliki sifat statis atau tetap dari waktu ke waktu. Karena statis jumlah variable dari gejala alam sebagai objek yang diamati juga relative lebih sederhana dan sedikit. Misalnya ketika ahli ilmu alam ingin menjelaskan suatu eksplosi kimiawi, dia hanya perlu mempelajari sifat bahan kimiawi yang bisa meledak dan mudah diamati. Jadi faktornya sederhana untuk bisa menjelaskan eksplosi kimiawi.
b. Objek Penelitian Bisa Diulang
Karena sifat gejala alam fisikal-statis, maka objek penelitian dalam ilmu alam adalah tetap atau tidak mengalami perubahan. Dengan sifat ini objek penelitian ilmu alam bisa diamati secara berulang-ulang. Contohnya orang jaman sekarang bisa meneliti ulang proses penemuan grafitasi oleh Isaac Newton. Dengan gejala alam yang sama seperti Newton. Hal ini terjadi karena sifat-sifat gejala alam adalah seragam dan bisa diamati kapanpun. Ketika mengamati barang jatuh menuju bumi, variable yang dipakai dalam eksperimen untuk menguji penemuan gravitasi adalah sama antara jaman Newton dan jaman sekarang.
c. Pengamatan Relative Lebih Mudah dan Simple
Pengamatan dalam ilmu alam lebih mudah karena bisa dilakukan secara langsung dan bisa diulang kapanpun. Untuk menetahui melelehnya sebuah besi, ahli-ahli ilmu alam pada zaman dulu mempelajari sifat dari besi yang bisa leleh oleh panas, lalu mereka memanasi besi tersebut. Para ahli ilmu alam jaman sekarang melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan para ahli jaman dahulu. Ahli ilmu alam bisa mengubah bentuk besi yang semula persegi menjadi segitiga atau bulat. Kata mengamati dalam ilmu alam tentu lebih luas dari interaksi langsung dengan pancaindera manusia yang lingkup kemampuannya terbatas.
Untuk itu manusia menggunakan alat bantu seperti mikroskop, teleskop, alat perekam gelombang dan sebagainya. Jika seseorang ingin mendapatkan suatu gejala alam baru yang belum terdaftar dalam ilmu-ilmu alam maka ia perlu memberikan informasi tentang lingkungan, peralatan, seta cara pengamatan yang digunakan, sehingga memungkinkan orang lain mengamati kembali jika ingin mengujinya. Meskipun pengamatan ilmu alam bersifat reproducible (bisa diulang-ulang), namun juga dimungkinkan akan memiliki hasil yang berbeda menurut cara pengamatan yang dipakai, meskipun cenderung seragam atau objektif.
d. Subjek Pengamat (Peneliti) Lebih Sebagai Penonton.
Prinsip pengamatan/penelitian dalam ilmu alam adalah objek, artinya kebenaran disimpulkan berdasarkan objek yang diamati. Pengamat tidak terlibat atau tidak berpengaruh terhadap objek yang ditelitinya. Henry Margenau (1901-1997) berpendapat bahwa prinsip objek ini menempatkan posisi ilmuan alam lebih sebagai the cosmic spectator (pengamat) daripada cosmetic spectacle (tontonan). Ilmuan alam adalah penonton alam, ia hanya mengamati alam dan kemudian memperlihatkan kepada orang lain hasil pengamatannya, dimana ia tidak melibatkan ke-subjetivitas-nya, tetapi sekedar menunjukan hasil tontonannya.
Henry Margenau mengingatkan bahwa the cosmetic spectator hanyalah perwujudan dari sisi dominannya saja atas konflik klasik hunungan antar subjek dan objek, antara the world dan its knower, dan lebih dari itu berarti tidak ada intervensi subjek sama sekali.
Sisi dominan pengamatan dalam ilmu alam adalah lebih sebagai "penonton", maka tujuan aktivitas pengamatan hanya menjelaskan objeknya menurut penyebabnya, yang dalam istilah Wilhelm Dilthey (1833-1911) disebut erklaren. Dalam erklaren ini pengalaman dan teori dapat dipisahkan, artinya ada suatu jarak atau distansi antara pengamat dan yang diamati. Pengamat tidak terlibat dalam objek yang diamati, tugasnya hanya menjelaskan hasil pengamatannya.
e. Memiliki Daya Predikatif yang Relative Mudah Dikontrol.
Ilmu alam lebih menarik diteliti bukan hanya karena gejala alam membangun berbagai teori, melainkan karena gejala alam yang diketahui dan dirumuskan dalam teori-teori itu dapat digunakan untuk memprediksikan kejadian-kejadian yang dimungkinkan akan timbul dari gejala gejala tersebut.
Misalnya dari pengalaman hidupnya, manusia mempelajari tekstur lempengan-lempengan dalam bumi, termasuk gerak-gerak dan karakternya serta sebab-sebab terjadinya gerakan itu. Pengamatan tersebut dapat menjelaskan semacam keajekan (kebiasaan) bahwa setiap sekian seratus tahun terjadi patahan-patahan dari lempeng-lempeng bumi tersebut. Pengetahuan ini dapat dijadikan acuan prediksi misalnya jika terjadi patahan lempengan didasar laut maka akan menimbulkan gelombang laut yang sangat besar atau yang kebih popular dengan sebutan tsunami.
Materi Kuliah:
