WA: 0812 8595 8481
⋮
View : 509 kali.
Materi Kuliah Filsafat Dan Pengetahuan Modern
13.03 Cara Kerja Ilmu-ilmu Sosial-Humaniora
# Ciri-ciri cara kerja ilmu sosial-humaniora
Ciri-ciri cara kerja ilmu sosial-humaniora:
a. Gejala Sosial-Humaniora Bersifat Non Fisik, Hidup, Dan Dinamis.
Gejala-gejala yang diamati dalam ilmu sosial-humaniora bersifat hidup dan bergerak secara dinamis. Hal ini berbeda dengan gejala-gejala yang diamati dalam ilmu-llmu alam dimana gejala alam yang diamati lebih bersifat mati yang berwujud fisik atau materi. Objek studi ilmu sosial-humaniora adalah manusia, dan lebih spesifik lagi yaitu dari segi inner world (dunia dalam) nya, bukan outer world (dunia luar) nya dimana ini (outer world) yang menjadi ciri ilmu-ilmu alam. Misalnya ilmu kedokteran, dan posisinya disini adalah sebagai ilmu alam yang menelaah atau mengamati dari segi fisik. Jika dilihat secara sederhana, ilmu kedokteran menelaah manusia, begitu juga ilmu sosial-humaniora. Namun bedanya ialah, ilmu kedokteran menelaah aspek luarnya manusia secara biologis atau fisik, sedangkan ilmu sosial-humaniora menelaah lebih kepada bagian "dalam" nya manusia, atau apa yang ada "dibalik" manusia secara fisik, seperti; mental life (kehidupan mental), mind-affected world (dunia yang terpengaruh pikiran), inner side (sisi dalam), atau geistige welt (dunia spiritual). Artinya ilmu sosial-humaniora menelaah lebih dalam, bukan hanya sebatas fisik saja.
b. Objek Penelitian Tidak Dapat Berulang.
Gejala-gejala fisik dalam ilmu-ilmu alam, karena berupa benda-benda "mati" maka bersifat stagnan (tetap) dan tidak berubah-ubah dan karenanya dapat diamati secara berulang-ulang. Sementara gejala-gejala ilmu sosial-humaniora memiliki keunikan-keunikan, kemungkinan bergerak dan berubahnya sangat besar, karena mereka tidak stagnan dan tidak statis. Kejadian sosial yang dulu pernah terjadi bisa saja dapat terulang dalam masa sekarang atau mendatang, namun tidak benar-benar sama. Contohnya hasil penelitian pelaku kerusuhan orang-orang di Papua pada tahun 2005, dibandingkan dengan penelitian ulang perilaku kerusuhan pada tahun 2011. Data yang diperoleh atau gejala-gejala sosial-humaniora yang dapat diperoleh meskipun dari informan yang sama tidak akan pernah sama persis, ini disebabkan karena sikap, emosi, dan pengetahuan informan berkembang dan mungkin berubah, ditambah lagi perubahan-perubahan konteks sosial budaya politik.
Ini menunjukan bahwa gejala-gejala sosial-humaniora cenderung tidak dapat ditelaah atau diamati secara berulang-ulang. Hal ini disebabkan karena gejala-gejala tersebut bergerak seiring dengan dinamika konteks historisnya. Ilmu sosial-humaniora hanyaa memahami, memaknai, dan menafsirkan gejala-gejala sosial-humaniora, bukan menemukan dan menerangkan secara pasti. Pemahaman, pemaknaan, dan penafsiran ini lebih besar menghasilkan kesimpulan yang berbeda, bahkan menghasilkan kesimpulan yang bertentangan.
c. Pengamatan Relatif Lebih Sulit dan Kompleks.
Dikarenakan sifat gejala-gejala sosial-humaniora yang bergerak dan bahkan berubah, maka bisa dibayangkan ilmuan sosial-humaniora dalam mengamati gejala-gejala, mereka sudah barang tentu lebih sulit dan kompleks. Karena yang diamati oleh ilmu-ilmu sosial adalah apa yang ada dibalik penampilan fisik dari manusia dan bentuk-bentuk hubungan sosial mereka. Misalnya saja senyuman. Melihat seseorang tersenyum pada orang lain adalah hal yang sering bisa ditemukan dalam kehidupan sehari hari, tetapi makna senyum itu dalam ilmu sosial-humaniora bermakna banyak, boleh jadi ia senang pada orang yang dilihatnya, boleh jadi ia tidak suka namun terpaksa tersenyum, dan boleh jadi yang lainnya.
Van Dalen menambahkan bahwa ilmuan alam berkaitan dengan gejala fisik yang bersifat umum, dan pengamatannya hanya meliputi variable dalam jumlah yang relative kecil dan karenanya mudah diukur secara tepat dan pasti. Sedangkan ilmu-ilmu sosial-humaniora mempelajari manusia baik selaku perorangan maupun anggota suatu kelompok sosial yang menyebabkan situasinya bertambah rumit, dan karenanya variable dalam penelaahan sosial-humaniora relative lebih banyak dan kompleks serta kadang-kadang membingungkan.
d. Subjek (Peneliti) Juga Sebagai Bagian Integral dari Objek yang Diamati.
Subjek pengamat atau peneliti dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora jelas jauh berbeda dengan ilmu-ilmu alam. Dalam ilmu-ilmu alam, subjek pengamat bisa mengambil jarak dan fokus pada objektifitas yang diamati, tapi dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora subjek yang mengamati atau peneliti tidak mungkin bisa mengambil jarak dari objek yang diamati dan menerapkan prinsip objektivistik, dan tampaknya lebih condong ke prinsip subjektivistik.
Misalnya dalam mengamati planet seorang ilmuan alam tidak perlu berpusing-pusing memikirkan motif dan tujuan dari planet tersebut, kenapa ada dan diciptakan misalnya, ia hanya perlu menjelaskkan apa yang dilihatnya, dan proses pengamatan itu bisa dilakukan berulang-ulang dengan gerak planet yang masih sama. Namun dalam ilmu sosial-humaniora peneliti yang mengamati perilaku sosial masyarakat tertentu harus "membongkar" motif dan tujuan dari perbuatan yang dilakukan mereka, dan dalam kegiatan "membongkar" ini peneliti tidak bisa melepaskan dari kecenderungan-kecenderungan nilai individu yang sedang dipandanginya. Dengan demikian, objek yang sama yang diamati oleh peneliti ilmu sosial-humaniora bisa dipastikan tidak akan menghasilkan kesimpulan yang tunggal, tetapi cenderung beragam.
Subjek pengamat ilmu sosial-humaniora bukanlah sekedar sebagai spectator (pengamat) atas suatu kejadian sosial-humaniora, melainkan terlibat baik secara emosional maupun rasional dalam dan merupakan bagian integral dari objek yang diamatinya. Manusia bisa mengamati benda-benda fisik seperti gerak-gerak angin tanpa terlibat secara pribadi, tetapi manusia tidak mungkin mengamati manusia lain tanpa melibatkan minatnya, nilai-nilai hidupnya, kegemarannya, motifnya, dan tujuan pengamatannya. Semua ini akan menjadi serta mempengaruhi pertimbangan-pertimbangan dalam mempelajari gejala sosial-humaniora.
Menurut Dilthey, kalau dalam ilmu-ilmu alam menggunakan Erklaren, maka dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora pengamatannya memakai Verstehen yaitu memegangi prinsip mengungkapkan makna dan tidak sekedar menjelaskan. Pengalaman dan struktur-struktur simbolis yang dihasilkan didalam dunia kehidupan sosial-humaniora itu tidak tampak "dari luar" seperti data alamiyah yang diobservasi oleh ilmu-ilmu alam, melainkan harus dilibati "dari dalam" dari subjek sosial-humaniora. Apa yang ingin diketahui bukanlah sekedar kausalitas, melainkan pengertian dan makna. Versthen pada prinsip mengungkap pengertian dan makna adalah benar, tetpi untuk memahami pemikiran orang lain dengan berempati masuk dalam personalitas dan relung-relung bagian terdalam yang diamati tanpa melibatkan sedikitpun atau menanggalkan sepenuhnya relung-relung bagian terdalam dari subjek yang diamati adalah hal yang belum benar dalam Versthen karena ini terdorong oleh prinsip objektivistik. Dalam mengungkapkan pengertian dan makna, tetap bahwa relung-relung bagian terdalam dari subjek penelitian tetap tidak sepenuhnya dilepaskan seperti yang dipegangi dalam hermenetika Heidegger dan Gadaner.
e. Memiliki Daya Prediktif yang Relatif Lebih Sulit dan Tidak Terkontrol.
Teori sosial-humaniora tidak mudah unntuk memprediksi kejadian sosial-humaniora berikutnya yang akan terjadi. Ini disebabkan oleh pola perilaku individu atau kelompok yang sama belum tentu akan mengakibatkan kejadian yang sama pada saat yang berbeda.
13.03 Cara Kerja Ilmu-ilmu Sosial-Humaniora
# Ciri-ciri cara kerja ilmu sosial-humaniora
Berbeda
dengan ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu sosial-humaniora berkembang lebih
pesat kemudian dan perkembangannya tidak sepesat ilmu-ilmu alam. Ini
disebabkan karena objek kajian dari ilmu-ilmu sosial-humaniora tidak
hanya sebatas fisik dan material tetapi bersifat lebih kompleks. Manfaat
dari ilmu sosial-humaniora tidak bisa langsung dirasakan karena harus
berproses dalam wacana yang panjang dan memerlukan negoisasi, kompromi,
dan consensus (persetujuan umum). Sama halnya dengan ilmu alam, manusia
juga memerlukan ilmu sosial- humaniora untuk memenuhi kebutuhan hidup
mereka yang bukan berupa fisik atau materi, tetapi bersifat abstrak dan
psikologis. Contohnya penemuan konsep keadilan sosial membawa manusia
untuk mengatur perilaku sosialnya atas dasar dan konsep tersebut. Lalu
konsep kemanusiaan membawa manusia kepada sikap tidak
diskriminatif/menindas atas orang lain meskipun berbeda suku, agama,
ras, budaya, warna kulit dan sebagainya.
Ciri-ciri cara kerja ilmu sosial-humaniora:
a. Gejala Sosial-Humaniora Bersifat Non Fisik, Hidup, Dan Dinamis.
Gejala-gejala yang diamati dalam ilmu sosial-humaniora bersifat hidup dan bergerak secara dinamis. Hal ini berbeda dengan gejala-gejala yang diamati dalam ilmu-llmu alam dimana gejala alam yang diamati lebih bersifat mati yang berwujud fisik atau materi. Objek studi ilmu sosial-humaniora adalah manusia, dan lebih spesifik lagi yaitu dari segi inner world (dunia dalam) nya, bukan outer world (dunia luar) nya dimana ini (outer world) yang menjadi ciri ilmu-ilmu alam. Misalnya ilmu kedokteran, dan posisinya disini adalah sebagai ilmu alam yang menelaah atau mengamati dari segi fisik. Jika dilihat secara sederhana, ilmu kedokteran menelaah manusia, begitu juga ilmu sosial-humaniora. Namun bedanya ialah, ilmu kedokteran menelaah aspek luarnya manusia secara biologis atau fisik, sedangkan ilmu sosial-humaniora menelaah lebih kepada bagian "dalam" nya manusia, atau apa yang ada "dibalik" manusia secara fisik, seperti; mental life (kehidupan mental), mind-affected world (dunia yang terpengaruh pikiran), inner side (sisi dalam), atau geistige welt (dunia spiritual). Artinya ilmu sosial-humaniora menelaah lebih dalam, bukan hanya sebatas fisik saja.
b. Objek Penelitian Tidak Dapat Berulang.
Gejala-gejala fisik dalam ilmu-ilmu alam, karena berupa benda-benda "mati" maka bersifat stagnan (tetap) dan tidak berubah-ubah dan karenanya dapat diamati secara berulang-ulang. Sementara gejala-gejala ilmu sosial-humaniora memiliki keunikan-keunikan, kemungkinan bergerak dan berubahnya sangat besar, karena mereka tidak stagnan dan tidak statis. Kejadian sosial yang dulu pernah terjadi bisa saja dapat terulang dalam masa sekarang atau mendatang, namun tidak benar-benar sama. Contohnya hasil penelitian pelaku kerusuhan orang-orang di Papua pada tahun 2005, dibandingkan dengan penelitian ulang perilaku kerusuhan pada tahun 2011. Data yang diperoleh atau gejala-gejala sosial-humaniora yang dapat diperoleh meskipun dari informan yang sama tidak akan pernah sama persis, ini disebabkan karena sikap, emosi, dan pengetahuan informan berkembang dan mungkin berubah, ditambah lagi perubahan-perubahan konteks sosial budaya politik.
Ini menunjukan bahwa gejala-gejala sosial-humaniora cenderung tidak dapat ditelaah atau diamati secara berulang-ulang. Hal ini disebabkan karena gejala-gejala tersebut bergerak seiring dengan dinamika konteks historisnya. Ilmu sosial-humaniora hanyaa memahami, memaknai, dan menafsirkan gejala-gejala sosial-humaniora, bukan menemukan dan menerangkan secara pasti. Pemahaman, pemaknaan, dan penafsiran ini lebih besar menghasilkan kesimpulan yang berbeda, bahkan menghasilkan kesimpulan yang bertentangan.
c. Pengamatan Relatif Lebih Sulit dan Kompleks.
Dikarenakan sifat gejala-gejala sosial-humaniora yang bergerak dan bahkan berubah, maka bisa dibayangkan ilmuan sosial-humaniora dalam mengamati gejala-gejala, mereka sudah barang tentu lebih sulit dan kompleks. Karena yang diamati oleh ilmu-ilmu sosial adalah apa yang ada dibalik penampilan fisik dari manusia dan bentuk-bentuk hubungan sosial mereka. Misalnya saja senyuman. Melihat seseorang tersenyum pada orang lain adalah hal yang sering bisa ditemukan dalam kehidupan sehari hari, tetapi makna senyum itu dalam ilmu sosial-humaniora bermakna banyak, boleh jadi ia senang pada orang yang dilihatnya, boleh jadi ia tidak suka namun terpaksa tersenyum, dan boleh jadi yang lainnya.
Van Dalen menambahkan bahwa ilmuan alam berkaitan dengan gejala fisik yang bersifat umum, dan pengamatannya hanya meliputi variable dalam jumlah yang relative kecil dan karenanya mudah diukur secara tepat dan pasti. Sedangkan ilmu-ilmu sosial-humaniora mempelajari manusia baik selaku perorangan maupun anggota suatu kelompok sosial yang menyebabkan situasinya bertambah rumit, dan karenanya variable dalam penelaahan sosial-humaniora relative lebih banyak dan kompleks serta kadang-kadang membingungkan.
d. Subjek (Peneliti) Juga Sebagai Bagian Integral dari Objek yang Diamati.
Subjek pengamat atau peneliti dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora jelas jauh berbeda dengan ilmu-ilmu alam. Dalam ilmu-ilmu alam, subjek pengamat bisa mengambil jarak dan fokus pada objektifitas yang diamati, tapi dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora subjek yang mengamati atau peneliti tidak mungkin bisa mengambil jarak dari objek yang diamati dan menerapkan prinsip objektivistik, dan tampaknya lebih condong ke prinsip subjektivistik.
Misalnya dalam mengamati planet seorang ilmuan alam tidak perlu berpusing-pusing memikirkan motif dan tujuan dari planet tersebut, kenapa ada dan diciptakan misalnya, ia hanya perlu menjelaskkan apa yang dilihatnya, dan proses pengamatan itu bisa dilakukan berulang-ulang dengan gerak planet yang masih sama. Namun dalam ilmu sosial-humaniora peneliti yang mengamati perilaku sosial masyarakat tertentu harus "membongkar" motif dan tujuan dari perbuatan yang dilakukan mereka, dan dalam kegiatan "membongkar" ini peneliti tidak bisa melepaskan dari kecenderungan-kecenderungan nilai individu yang sedang dipandanginya. Dengan demikian, objek yang sama yang diamati oleh peneliti ilmu sosial-humaniora bisa dipastikan tidak akan menghasilkan kesimpulan yang tunggal, tetapi cenderung beragam.
Subjek pengamat ilmu sosial-humaniora bukanlah sekedar sebagai spectator (pengamat) atas suatu kejadian sosial-humaniora, melainkan terlibat baik secara emosional maupun rasional dalam dan merupakan bagian integral dari objek yang diamatinya. Manusia bisa mengamati benda-benda fisik seperti gerak-gerak angin tanpa terlibat secara pribadi, tetapi manusia tidak mungkin mengamati manusia lain tanpa melibatkan minatnya, nilai-nilai hidupnya, kegemarannya, motifnya, dan tujuan pengamatannya. Semua ini akan menjadi serta mempengaruhi pertimbangan-pertimbangan dalam mempelajari gejala sosial-humaniora.
Menurut Dilthey, kalau dalam ilmu-ilmu alam menggunakan Erklaren, maka dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora pengamatannya memakai Verstehen yaitu memegangi prinsip mengungkapkan makna dan tidak sekedar menjelaskan. Pengalaman dan struktur-struktur simbolis yang dihasilkan didalam dunia kehidupan sosial-humaniora itu tidak tampak "dari luar" seperti data alamiyah yang diobservasi oleh ilmu-ilmu alam, melainkan harus dilibati "dari dalam" dari subjek sosial-humaniora. Apa yang ingin diketahui bukanlah sekedar kausalitas, melainkan pengertian dan makna. Versthen pada prinsip mengungkap pengertian dan makna adalah benar, tetpi untuk memahami pemikiran orang lain dengan berempati masuk dalam personalitas dan relung-relung bagian terdalam yang diamati tanpa melibatkan sedikitpun atau menanggalkan sepenuhnya relung-relung bagian terdalam dari subjek yang diamati adalah hal yang belum benar dalam Versthen karena ini terdorong oleh prinsip objektivistik. Dalam mengungkapkan pengertian dan makna, tetap bahwa relung-relung bagian terdalam dari subjek penelitian tetap tidak sepenuhnya dilepaskan seperti yang dipegangi dalam hermenetika Heidegger dan Gadaner.
e. Memiliki Daya Prediktif yang Relatif Lebih Sulit dan Tidak Terkontrol.
Teori sosial-humaniora tidak mudah unntuk memprediksi kejadian sosial-humaniora berikutnya yang akan terjadi. Ini disebabkan oleh pola perilaku individu atau kelompok yang sama belum tentu akan mengakibatkan kejadian yang sama pada saat yang berbeda.
Hal
ini tidak berarti hasil temuan dalam ilmu sosial tidak dapat dipakai
sama sekali untuk memprediksi kejadian sosial lain. Teori sosial dapat
dipakai dalam waktu dan tempat yang berlainan, tetapi tidak sepasti dan
semudah dalam ilmu alam.
--------------------------------------------------------------------------
Note:
Humaniora berasal dari bahasa Latin Baru. Dalam bahasa Inggris arti the humanities yang sama-sama diturunkan dari bahasa Latin humanus yang berarti manusiawi, berbudaya dan halus.
Humaniora berasal dari bahasa Latin Baru. Dalam bahasa Inggris arti the humanities yang sama-sama diturunkan dari bahasa Latin humanus yang berarti manusiawi, berbudaya dan halus.
Humaniora atau ilmu budaya adalah ilmu yang mempelajari tentang cara membuat atau mengangkat manusia menjadi lebih manusiawi dan berbudaya.
Menurut bahasa Latin, Humaniora biasa disebut artes liberales yaitu studi tentang kemanusiaan. Sedangkan menurut pendidikan Yunani Kuno, Humaniora disebut dengan trivium, yaitu logika, retorika, dan gramatika. Pada hakikatnya, humaniora adalah ilmu-ilmu yang bersentuhan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mencakup studi agama, filsafat, seni, sejarah, dan ilmu-ilmu bahasa.
Gelar akademik yang akan diperoleh oleh mahasiswa di Indonesia yang telah menyelesaikan jenjang studi S-1 Ilmu Humaniora dan ilmu sosial lainnya seperti Sosiologi, Linguistik, Politik, Antropologi, Sastra, Sejarah, dan lainnya adalah S.Hum (Sarjana Humaniora).
Menurut bahasa Latin, Humaniora biasa disebut artes liberales yaitu studi tentang kemanusiaan. Sedangkan menurut pendidikan Yunani Kuno, Humaniora disebut dengan trivium, yaitu logika, retorika, dan gramatika. Pada hakikatnya, humaniora adalah ilmu-ilmu yang bersentuhan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mencakup studi agama, filsafat, seni, sejarah, dan ilmu-ilmu bahasa.
Gelar akademik yang akan diperoleh oleh mahasiswa di Indonesia yang telah menyelesaikan jenjang studi S-1 Ilmu Humaniora dan ilmu sosial lainnya seperti Sosiologi, Linguistik, Politik, Antropologi, Sastra, Sejarah, dan lainnya adalah S.Hum (Sarjana Humaniora).
Materi Kuliah:
