WA: 0812 8595 8481
⋮
View : 512 kali.
Materi Kuliah Filsafat Dan Pengetahuan Modern
13.04 Cara Kerja Ilmu Keagamaan
#
Gejala Keagamaan jelas tampak pada perilaku-perilaku keagamaan baik individu maupun kelompok yang beragama, juga tampak pada karya seni dan budaya. Gejala keagamaan merupakan sesuatu yang bergerak, tidak statis, jadi lebih dekat dengan gejala sosial-humaniora. Gejala keagamaan mengindikasikan suatu dinamika keimanan sebagai hasil dari pengalaman dan pemahaman atas teks suci keagamaan dan yang diyakini. Objek kajian ilmu keagamaan adalah manusia yang beragama dan lebih focus pada inner world-nya, yakni aspek keimanan teologisnya. Contohnya, paham keTuhanan dan implikasi pada perilaku sosial-humaniora, dan pemahaman keagamaan yang dibangun oleh manusia beragama.
b. Objek Penelitian Unik dan Tidak Dapat Diulang.
Objek kajian keagamaan unik karena menyangkut kayakinan beragama. Dalam ilmu keagamaan, keyakinan agama dijadikan sumber pengamatan mengapa muncul perilaku sosial yang beragama. Hal ini berarti teks-teks suci keagamaan yang diyakini orang beragama termasuk objek penelitian ilmu keagamaan. Objek penelitian ilmu keagamaan bersifat tidak dapat diulang-ulang, karena kejadian keagamaan adalah cerminan perilaku masyarakat beragama pada kurun waktu dan tempat tertentu tidak mungkin direkonstruksi oleh orang sesudahnya seperti kejadian pada awal masanya.
c. Pengamatan Sulit dan Kompleks dengan Interpretasi teks-teks Suci Keagamaan.
Pengamatan dalam ilmu keagamaan mirip dalam ilmu sosial-humaniora, yakni sulit dan kompleks, karena melihat dan memaknai apa yang ada dibalik kegiatan dan perilaku fisik dan empiris manusia beragama. Karena kegiatan dan perilaku fisik dan empiris adalah bentuk ekspresif dari keimanan mereka pada Tuhan sebagai hasil pemahaman mereka terhadap teks-teks suci yang diyakini.
Pengamat atau peneliti dalam ilmu keagamaan tidak dapat dilepaskan dan merupakan bagian integral dari objek yang diamati, yaitu perilaku sisoal manusia beragama atau aktivitas keagamaan. Dalam mengkaji teks-teks suci keagamaan atau teks-teks keagamaan hasil interpretasi atas teks-teks suci, seorang pengamat pasti terlibat secara emosional dan rasioanal dalam memahami dan menyimpulkan makna mereka.
f. Memiliki daya prediktif yang relative lebih sulit dan tidak terkontrol.
Suatu teori dari hasil pengamatan terhadap aktivitas keagamaan tidak mudah beramal aktivitas keagamaan lainnya yang akan terjadi. Hal ini terjadi karena pola perilaku keagamaan yang sama belum tentu akan mengakibatkan kejadian-kejadian berikutnya yang sama. Dalam ilmu keagamaan, wajib mempertimbangkan keragaman pemahaman orang yang beragama terhadap ajaran agama mereka, hal ini menambah daya prediktif ilmu agama semakin sulit untuk dipastikan. Ilmu keIslaman bersumber pada teks-teks suci, yakni al-Qur'an, Hadist Nabi, dan sumber-sumber penalaran rasional dan pengalaman empiris keIslaman. Keterkaitan sumber-sumber studi Islam tersebut ialah kelahiran ilmu dalam Islam, seperti studi al-Qur'an dan studi Hadist, Tafsir al-Qur'an dan teori pemahaman Hadist, fiqh dan ushul fiqh, ilmu kalam, tasawuf, ilmu falaq, atau etika dalam Islam, politik Islam, ekonomi Islam, sosiologi Islam, antropologi Islam dan seterusnya.
Dalam studi Islam terkandung persoalan bagaimana Islam memahami dan memegangi realitas kehidupan dengan berbagai ragamnya. Maksudnya hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan melahirkan berbagai realitas yang semakin beragam, yaitu sosial, politik, budaya, pendidikan, hukum, hak asasi manusia dan sebagainya. Persoalannya adalah bagaimana sesungguhnya pandangan dunia Islam tentang kehidupan ini secara umum. Jawabanya bukan hanya dengan fiqh saja, tafsir al Qur"an saja, tasawuf saja, melainkan dengan semua disiplin ilmu ke Islam-an yang telah ada dan dimungkinkan ada. Integrasi-Interkoneksi dalam studi Islam harus terjadi dari dua sisi, yaitu sisi internal (tafsir, fiqh, tasawuf, ilmu kalam, filsafat Islam, dan sebagainya), dan dari sisi eksternal (ilmu Islam dengan ilmu alam dan sosial-humaniora).
Rajutan Integrasi-interkoneksi dalam studi Islam terangkum dalam istilah dipopulerkan oleh Amin Abdllah dengan "jaring laba-laba". Penjelasan pertama, bahwa al Qur"an dan Hadist adalah sumber normative Islam. Kedua, fokusnya adalah berbagai pendekatan dan metode. Ketiga, lahirnya ilmu tradisional Islam, seperti tafsir, Hadist, kalam, fiqh, tasawuf, dan falsafah. Keempat, ilmu ke Islam an menggunakan perspektif ilmu alam dan sosial-humaniora, seperti sejarah, filsafat, psikologi, sosiologi, antropologi, filologi dan seterusnya. Integrasi-interkoneksi antar disiplin ilmu akan mendinamisir ilmu baru.
13.04 Cara Kerja Ilmu Keagamaan
#
Ilmu Keagamaan adalah suatu disiplin ilmu yang penting dalam kehidupan manusia. Ilmu ini berkembang sejak manusia dihadapkan pada kekuatan adikodrati. Mereka membangun ritual keagamaan sebagai simbol pemahaman tentang hidup dan realitas hubungan manusia dengan alam dan kekuatan adikodrati. Dalam agama-agama besar dunia seperti: Islam, Katholik, Yahudi, Hindu, dan Budha, terdapat pengetahuan tentang Tuhan, alam semesta, kehidupan di akherat, hubungan sosial manusia, pengobatan, kejiwaaan, lingkungan hidup dan sebagainya. Misalnya, teori tentang hakekat manusia, teori tentang hubungan manusia, teori tentang masyarakat yang baik dan sebagainya. Ilmu agama memiliki ciri ilmiah yang khas dibandingkan dengan ilmu alam dan sosial-humaniora.
Ciri-ciri cara kerja ilmu Keagamaan antara lain:
a. Gejala Keagamaan sebagai ekspresi Keimanan dan Pemahaman Teks Suci.
Ciri-ciri cara kerja ilmu Keagamaan antara lain:
a. Gejala Keagamaan sebagai ekspresi Keimanan dan Pemahaman Teks Suci.
Gejala Keagamaan jelas tampak pada perilaku-perilaku keagamaan baik individu maupun kelompok yang beragama, juga tampak pada karya seni dan budaya. Gejala keagamaan merupakan sesuatu yang bergerak, tidak statis, jadi lebih dekat dengan gejala sosial-humaniora. Gejala keagamaan mengindikasikan suatu dinamika keimanan sebagai hasil dari pengalaman dan pemahaman atas teks suci keagamaan dan yang diyakini. Objek kajian ilmu keagamaan adalah manusia yang beragama dan lebih focus pada inner world-nya, yakni aspek keimanan teologisnya. Contohnya, paham keTuhanan dan implikasi pada perilaku sosial-humaniora, dan pemahaman keagamaan yang dibangun oleh manusia beragama.
b. Objek Penelitian Unik dan Tidak Dapat Diulang.
Objek kajian keagamaan unik karena menyangkut kayakinan beragama. Dalam ilmu keagamaan, keyakinan agama dijadikan sumber pengamatan mengapa muncul perilaku sosial yang beragama. Hal ini berarti teks-teks suci keagamaan yang diyakini orang beragama termasuk objek penelitian ilmu keagamaan. Objek penelitian ilmu keagamaan bersifat tidak dapat diulang-ulang, karena kejadian keagamaan adalah cerminan perilaku masyarakat beragama pada kurun waktu dan tempat tertentu tidak mungkin direkonstruksi oleh orang sesudahnya seperti kejadian pada awal masanya.
c. Pengamatan Sulit dan Kompleks dengan Interpretasi teks-teks Suci Keagamaan.
Pengamatan dalam ilmu keagamaan mirip dalam ilmu sosial-humaniora, yakni sulit dan kompleks, karena melihat dan memaknai apa yang ada dibalik kegiatan dan perilaku fisik dan empiris manusia beragama. Karena kegiatan dan perilaku fisik dan empiris adalah bentuk ekspresif dari keimanan mereka pada Tuhan sebagai hasil pemahaman mereka terhadap teks-teks suci yang diyakini.
Pengamatan dalam ilmu keagamaan juga harus menyelami dan menginterpretasikan item-item dalam teks-teks suci terkait fenomena kegiatan dan perilaku manusia ber-raga yang dapat ditangkap. Perilaku-perilaku keagamaan ketika diamati dengan jelas bermuatan multi-interpretasi baik terhadap gejala-gejala yang ditangkap maupun dari segi penafsiran teks-teks sucinya.
d. Subjek pengamatan (peneliti) juga sebagai bagian Integral dari objek yang diamati.
d. Subjek pengamatan (peneliti) juga sebagai bagian Integral dari objek yang diamati.
Pengamat atau peneliti dalam ilmu keagamaan tidak dapat dilepaskan dan merupakan bagian integral dari objek yang diamati, yaitu perilaku sisoal manusia beragama atau aktivitas keagamaan. Dalam mengkaji teks-teks suci keagamaan atau teks-teks keagamaan hasil interpretasi atas teks-teks suci, seorang pengamat pasti terlibat secara emosional dan rasioanal dalam memahami dan menyimpulkan makna mereka.
f. Memiliki daya prediktif yang relative lebih sulit dan tidak terkontrol.
Suatu teori dari hasil pengamatan terhadap aktivitas keagamaan tidak mudah beramal aktivitas keagamaan lainnya yang akan terjadi. Hal ini terjadi karena pola perilaku keagamaan yang sama belum tentu akan mengakibatkan kejadian-kejadian berikutnya yang sama. Dalam ilmu keagamaan, wajib mempertimbangkan keragaman pemahaman orang yang beragama terhadap ajaran agama mereka, hal ini menambah daya prediktif ilmu agama semakin sulit untuk dipastikan. Ilmu keIslaman bersumber pada teks-teks suci, yakni al-Qur'an, Hadist Nabi, dan sumber-sumber penalaran rasional dan pengalaman empiris keIslaman. Keterkaitan sumber-sumber studi Islam tersebut ialah kelahiran ilmu dalam Islam, seperti studi al-Qur'an dan studi Hadist, Tafsir al-Qur'an dan teori pemahaman Hadist, fiqh dan ushul fiqh, ilmu kalam, tasawuf, ilmu falaq, atau etika dalam Islam, politik Islam, ekonomi Islam, sosiologi Islam, antropologi Islam dan seterusnya.
Dalam studi Islam terkandung persoalan bagaimana Islam memahami dan memegangi realitas kehidupan dengan berbagai ragamnya. Maksudnya hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan melahirkan berbagai realitas yang semakin beragam, yaitu sosial, politik, budaya, pendidikan, hukum, hak asasi manusia dan sebagainya. Persoalannya adalah bagaimana sesungguhnya pandangan dunia Islam tentang kehidupan ini secara umum. Jawabanya bukan hanya dengan fiqh saja, tafsir al Qur"an saja, tasawuf saja, melainkan dengan semua disiplin ilmu ke Islam-an yang telah ada dan dimungkinkan ada. Integrasi-Interkoneksi dalam studi Islam harus terjadi dari dua sisi, yaitu sisi internal (tafsir, fiqh, tasawuf, ilmu kalam, filsafat Islam, dan sebagainya), dan dari sisi eksternal (ilmu Islam dengan ilmu alam dan sosial-humaniora).
Rajutan Integrasi-interkoneksi dalam studi Islam terangkum dalam istilah dipopulerkan oleh Amin Abdllah dengan "jaring laba-laba". Penjelasan pertama, bahwa al Qur"an dan Hadist adalah sumber normative Islam. Kedua, fokusnya adalah berbagai pendekatan dan metode. Ketiga, lahirnya ilmu tradisional Islam, seperti tafsir, Hadist, kalam, fiqh, tasawuf, dan falsafah. Keempat, ilmu ke Islam an menggunakan perspektif ilmu alam dan sosial-humaniora, seperti sejarah, filsafat, psikologi, sosiologi, antropologi, filologi dan seterusnya. Integrasi-interkoneksi antar disiplin ilmu akan mendinamisir ilmu baru.
Pengembangan keilmuan Islam Integrasi-interkoneksi tersebut harus menyentuh ilmu alam dan sosial-humaniora, yakni isu-isu aktual dan kekinian, seperti pluralism agama, hukum internasional, demokrasi, etika, gender, dan seterusnya. Pengembangan studi Islam model jaring laba-laba berpijak pada tiga hadharah, yakni hadharah al-nash, hadharah falsafah, dan hadharah ilm. Pemaknaan interpretative atas nash, al Qur"an dan Hadist, tidak meninggalkan the wholeness of reality (keutuhan realitas), dan tidak mengabaikan perspektif keilmuan dari berbagai disiplin ilmu yang berkembang dan dimungkinkan akan ada. Ilmu keIslaman dikembangkan dalam model interconnected entities, yaitu saling berhubungan.
Materi Kuliah:
