View : 112 kali.
Home >
Opinion
Kategori: apbn
Rabu, 16 September 2026

Setiap tahun kita mendengar angka APBN dalam satuan triliunan rupiah.
Triliunan!
Bagi rakyat biasa, Rp1 triliun saja sudah sulit dibayangkan. Apalagi ketika pemerintah mengatakan bahwa belanja negara dalam apbn 2026 mencapai Rp3.842,7 triliun.
Pertanyaannya sederhana:
Uang sebesar itu sebenarnya dipakai untuk apa saja?
Dan yang lebih penting:
Dari setiap Rp100 uang APBN, berapa rupiah yang benar-benar kembali menjadi manfaat bagi masyarakat?
Mari kita bongkar.
Kalau APBN Rp3.842,7 Triliun Diubah Menjadi Rp100
Postur apbn 2026 menetapkan pendapatan negara sekitar Rp3.153,6 triliun dan belanja negara Rp3.842,7 triliun. Dengan demikian, defisit APBN dirancang sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68% terhadap PDB.
Agar mudah dipahami, kita sederhanakan belanja negara menjadi Rp100.
Dari Rp100 tersebut:
Rp81,97 berada dalam Belanja Pemerintah Pusat.
Rp18,03 dialokasikan melalui Transfer ke Daerah.
Artinya, secara kasar, dari setiap Rp100 belanja APBN, sekitar Rp82 dikelola melalui pemerintah pusat dan sekitar Rp18 mengalir melalui transfer ke daerah.
Nah, sampai di sini muncul pertanyaan rakyat:
Rp82 itu dipakai untuk apa saja?
Inilah yang harus kita bongkar lebih dalam.
Pemerintah Sudah Menentukan Prioritas
Pemerintah menetapkan delapan agenda prioritas apbn 2026:
Kalau angka tersebut dibandingkan dengan total belanja APBN Rp3.842,7 triliun, gambaran kasarnya menjadi seperti ini:
Ketahanan energi Rp402,4 T ±Rp10,47
Makan Bergizi Gratis Rp335 T ±Rp8,72
Pendidikan Rp769,1 T ±Rp20,02
Kesehatan Rp244 T ±Rp6,35
Perlindungan sosial* Rp508,2 T ±Rp13,22
Angka perlindungan sosial merupakan kategori yang dapat mencakup berbagai program dan tidak identik dengan satu program prioritas saja. Angka-angka prioritas juga tidak boleh dijumlahkan begitu saja, karena terdapat kemungkinan irisan program dan klasifikasi anggaran.
Jadi, misalnya pemerintah mengatakan anggaran pendidikan Rp769,1 triliun, secara sederhana kita bisa mengatakan:
Dari setiap Rp100 belanja APBN, sekitar Rp20 dialokasikan untuk fungsi pendidikan.
Angka ini tentu besar.
Tetapi justru karena besar, pertanyaannya juga harus besar:
Rp20 itu pergi ke mana?
Apakah untuk gaji dan tunjangan guru serta dosen?
Beasiswa?
PIP?
KIP Kuliah?
Sekolah?
Perguruan tinggi?
Revitalisasi sarana pendidikan?
Sekolah Rakyat?
Sekolah Unggul Garuda?
Atau program lainnya?
Pemerintah sendiri menjelaskan bahwa anggaran pendidikan digunakan antara lain untuk gaji dan tunjangan pendidik, beasiswa, PIP, KIP Kuliah, sekolah rakyat, Sekolah Unggul Garuda, BOS dan berbagai program pendidikan lainnya.
Maka rakyat berhak bertanya:
Dari Rp769,1 triliun itu, berapa yang sampai langsung ke peserta didik? Berapa yang digunakan untuk membayar sistem birokrasi pendidikan? Dan apa hasil yang bisa diukur?
Ini bukan tuduhan.
Ini adalah pertanyaan tentang akuntabilitas uang publik.
MBG: Rp335 Triliun
Program Makan Bergizi Gratis mendapatkan alokasi Rp335 triliun pada 2026. Pemerintah merancang program ini untuk meningkatkan kualitas gizi sekaligus memberdayakan UMKM dan menggerakkan ekonomi lokal.
Kalau dijadikan Rp100 APBN:
Sekitar Rp8,72 dari setiap Rp100 belanja APBN dialokasikan untuk MBG.
Ini bukan angka kecil.
Maka rakyat berhak mengetahui:
Berapa biaya makanan?
Berapa biaya distribusi?
Berapa untuk SPPG?
Berapa untuk bahan baku?
Berapa yang masuk ke UMKM?
Berapa biaya administrasi?
Berapa penerima manfaat?
Dan yang paling penting:
Apa indikator keberhasilannya?
Jangan sampai kita hanya menghitung berapa porsi makanan yang dibagikan.
Kita juga harus bisa menghitung berapa perubahan status gizi, kesehatan, kehadiran sekolah, dan kualitas pembelajaran yang dihasilkan.
Karena uang APBN seharusnya tidak hanya menghasilkan aktivitas, tetapi juga hasil.
Energi: Rp402,4 Triliun
Untuk ketahanan energi, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp402,4 triliun. Dukungan tersebut mencakup antara lain subsidi energi, insentif perpajakan, pengembangan energi baru terbarukan, listrik desa, serta kebijakan terkait produksi dan harga energi.
Artinya sekitar:
Rp10,47 dari setiap Rp100 belanja APBN.
Pertanyaannya:
Apakah uang sebesar itu membuat energi semakin murah?
Apakah subsidi semakin tepat sasaran?
Apakah produksi energi nasional meningkat?
Apakah ketergantungan terhadap energi impor berkurang?
Dan apakah investasi energi baru terbarukan benar-benar menghasilkan perubahan?
Kalau tujuan akhirnya adalah ketahanan energi, maka ukuran keberhasilannya harus bisa dilihat.
Bukan sekadar:
"Anggarannya sudah disediakan.”
Tetapi:
"Apa yang berubah setelah anggaran itu dibelanjakan?”
Pangan: Rp164,7 Triliun
Ketahanan pangan mendapat alokasi sekitar Rp164,7 triliun.
Pemerintah mengarahkannya antara lain untuk produktivitas pangan, stabilisasi harga, cadangan pangan, subsidi pupuk dan dukungan kepada petani serta nelayan.
Dari setiap Rp100 APBN, sekitar Rp4,29 masuk dalam agenda ketahanan pangan tersebut.
Pertanyaan rakyat sederhana:
Apakah petani menjadi lebih sejahtera?
Apakah produksi meningkat?
Apakah harga pangan lebih stabil?
Apakah impor pangan berkurang?
Apakah pupuk benar-benar sampai kepada petani yang membutuhkan?
Kalau jawabannya bisa dibuktikan dengan data, rakyat akan melihat manfaat APBN dengan lebih jelas.
Kesehatan: Rp244 Triliun
Anggaran kesehatan 2026 direncanakan sekitar Rp244 triliun, antara lain untuk penguatan JKN, pemeriksaan kesehatan, penanganan tuberkulosis, fasilitas kesehatan, pendidikan tenaga kesehatan dan penurunan stunting.
Dari setiap Rp100 belanja APBN, kira-kira Rp6,35 berada pada angka tersebut.
Pertanyaannya:
Apakah masyarakat semakin mudah mendapatkan pelayanan kesehatan?
Apakah antrean berkurang?
Apakah fasilitas kesehatan semakin baik?
Apakah angka penyakit tertentu turun?
Apakah stunting turun?
Kembali lagi:
Anggaran bukan hasil. Anggaran adalah alat untuk menghasilkan hasil.
Lalu Ada Pertahanan, Desa, UMKM, Investasi dan Perdagangan
Pemerintah juga memasukkan pertahanan semesta serta pembangunan desa, koperasi dan UMKM sebagai agenda prioritas.
Untuk desa dan UMKM, misalnya, kebijakan mencakup pembiayaan, digitalisasi, pelatihan, peningkatan produktivitas, penguatan koperasi dan pengembangan ekosistem usaha.
Sementara agenda pertahanan mencakup antara lain pengadaan dan pemeliharaan alutsista, sarana-prasarana pertahanan, industri pertahanan serta penguatan komponen pertahanan.
Kemudian investasi dan perdagangan global diarahkan untuk meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia.
Semua itu mempunyai alasan kebijakan masing-masing.
Tetapi kembali kepada pertanyaan awal:
Berapa uangnya dan apa hasilnya?
Jangan Lupa: Ada Uang yang Tidak Terlihat Sebagai "Proyek”
Ini bagian yang sering luput ketika rakyat membaca APBN.
belanja negara bukan hanya membangun jalan, membeli komputer, memberi bantuan atau membangun sekolah.
Ada juga biaya pemerintahan, pelayanan umum, kewajiban negara, pembiayaan, subsidi, transfer daerah dan berbagai pengeluaran lain.
Karena itu, kalau kita hanya melihat proyek yang terlihat secara fisik, kita belum melihat keseluruhan APBN.
Bahkan ketika pemerintah menyebut APBN "sehat”, sehatnya APBN tidak cukup dinilai hanya dari satu angka.
Kita perlu melihat:
pendapatan → belanja → defisit → pembiayaan → utang → bunga utang → kualitas belanja → hasil pembangunan.
Semuanya berhubungan.
Masalahnya Bukan Sekadar "Uang Dipakai untuk Apa”
Menurut saya, pertanyaan yang lebih penting adalah:
"Apakah setiap rupiah APBN mempunyai alasan yang jelas, penerima manfaat yang jelas, target yang jelas, dan hasil yang bisa diperiksa?”
Ini perbedaan antara menghabiskan anggaran dan menghasilkan manfaat.
Sebuah kementerian bisa saja menyerap 99 persen anggarannya.
Tetapi kalau target programnya tidak tercapai, apakah itu bisa disebut berhasil?
Sebaliknya, sebuah program mungkin tidak menghabiskan seluruh anggarannya tetapi menghasilkan manfaat yang jauh lebih besar dari target.
Karena itu ukuran kita jangan hanya:
serapan anggaran.
Kita juga harus melihat:
output dan outcome.
APBN Bukan Uang Pemerintah
Ini yang paling penting.
APBN bukan uang pribadi pemerintah.
APBN adalah instrumen keuangan negara yang pada akhirnya bersumber dari berbagai penerimaan negara, termasuk pajak dan PNBP, kemudian digunakan untuk menjalankan fungsi negara.
Karena itu rakyat sebenarnya mempunyai hak moral untuk bertanya:
"Uang kami digunakan untuk apa?”
Bukan karena rakyat tidak percaya kepada pemerintah.
Justru karena kepercayaan membutuhkan transparansi.
Semakin besar anggaran, semakin besar pula kebutuhan untuk menjelaskan penggunaannya.
Mari Ubah APBN Menjadi Bahasa Rakyat
Selama ini APBN sering dibicarakan dengan bahasa:
Rp3.842,7 triliun.
Bagi sebagian besar masyarakat, angka itu terlalu besar untuk dibayangkan.
Tetapi kalau kita katakan:
"Bayangkan APBN sebagai Rp100. Sekarang mari kita lihat Rp100 itu pergi ke mana.”
Masyarakat akan lebih mudah memahami.
Kemudian kita pecah lagi:
Rp100 APBN → Pemerintah Pusat sekitar Rp82.
Rp100 APBN → Transfer ke Daerah sekitar Rp18.
Lalu kita bongkar lagi Rp82 tadi.
Berapa untuk pendidikan?
Berapa kesehatan?
Berapa energi?
Berapa pangan?
Berapa perlindungan sosial?
Berapa pertahanan?
Berapa infrastruktur?
Berapa birokrasi?
Berapa subsidi?
Berapa kewajiban negara?
Dan seterusnya.
Di sinilah APBN menjadi transparan bagi rakyat biasa.
"APBN Sehat” Harus Bisa Diperiksa
Pemerintah menggunakan istilah APBN sehat, kredibel dan produktif sebagai bagian dari arah kebijakan fiskal 2026.
Tidak ada masalah dengan istilah itu.
Tetapi bagi rakyat, istilah tersebut seharusnya bukan akhir dari pembicaraan.
Justru menjadi awal pertanyaan:
Sehat menurut indikator apa?
Apakah defisit terkendali?
Apakah pendapatan negara cukup kuat?
Apakah utang dapat dikelola?
Apakah pembayaran bunga dapat ditanggung?
Apakah belanja menghasilkan pertumbuhan?
Apakah kemiskinan berkurang?
Apakah lapangan kerja bertambah?
Apakah kualitas pendidikan meningkat?
Apakah layanan kesehatan membaik?
Apakah produktivitas ekonomi meningkat?
Dengan kata lain:
APBN sehat bukan hanya soal angka fiskal yang terlihat sehat di laporan. Kualitas penggunaannya juga harus sehat.
Rakyat Tidak Harus Menjadi Ahli APBN
Rakyat tidak harus membaca ratusan halaman Nota Keuangan.
Pemerintah dan DPR justru harus membuat informasi APBN semakin mudah dipahami.
Kalau APBN mencapai ribuan triliun rupiah, masyarakat seharusnya dapat membuka sebuah dashboard sederhana dan melihat:
"Dari setiap Rp100 uang negara, berapa rupiah untuk apa?”
Kemudian klik:
Pendidikan → lihat programnya.
Kesehatan → lihat programnya.
MBG → lihat penerimanya.
Pangan → lihat hasilnya.
Energi → lihat subsidinya.
Pertahanan → lihat alokasinya.
Daerah → lihat transfernya.
Dan yang paling penting:
lihat hasil akhirnya.
Itulah transparansi yang sesungguhnya.
Pertanyaan Terakhir
Jadi, selama ini APBN kita terpakai ke mana saja?
Jawabannya ternyata tidak sederhana.
Uang negara tersebar ke berbagai fungsi: pelayanan pemerintahan, pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, subsidi, pangan, energi, pertahanan, pembangunan daerah, infrastruktur, investasi, serta berbagai program prioritas lainnya.
Dan pemerintah memang telah menentukan delapan agenda prioritas apbn 2026.
Tetapi setelah mengetahui ke mana uang itu dialokasikan, pertanyaan kita jangan berhenti.
Pertanyaan berikutnya justru lebih penting:
Apa hasilnya?
Sebab rakyat tidak hanya membutuhkan pemerintah yang pandai menyusun anggaran.
Rakyat membutuhkan anggaran yang menghasilkan manfaat nyata.
Dan mungkin sudah waktunya kita mengubah cara membaca APBN:
Bukan lagi hanya bertanya, "Berapa anggarannya?”
Tetapi:
"Dari setiap Rp100 uang negara, pergi ke mana, siapa yang menerima, untuk apa, dan apa hasilnya?”
Karena pada akhirnya, APBN bukan sekadar angka di atas kertas. APBN adalah keputusan tentang bagaimana negara menggunakan uang publik.
Dan uang publik layak ditanyakan.
SELAMA INI APBN KITA TERPAKAI KE MANA SAJA, SIH?
Rabu, 16 September 2026
SELAMA INI APBN KITA TERPAKAI KE MANA SAJA, SIH?

Ilustrasi APBN 2026 dan aliran uang negara ke berbagai sektor
Oleh Murdan Sianturi.Kalau APBN adalah uang rakyat, sudahkah rakyat benar-benar tahu uang itu pergi ke mana?
Setiap tahun kita mendengar angka APBN dalam satuan triliunan rupiah.
Triliunan!
Bagi rakyat biasa, Rp1 triliun saja sudah sulit dibayangkan. Apalagi ketika pemerintah mengatakan bahwa belanja negara dalam apbn 2026 mencapai Rp3.842,7 triliun.
Pertanyaannya sederhana:
Uang sebesar itu sebenarnya dipakai untuk apa saja?
Dan yang lebih penting:
Dari setiap Rp100 uang APBN, berapa rupiah yang benar-benar kembali menjadi manfaat bagi masyarakat?
Mari kita bongkar.
Kalau APBN Rp3.842,7 Triliun Diubah Menjadi Rp100
Postur apbn 2026 menetapkan pendapatan negara sekitar Rp3.153,6 triliun dan belanja negara Rp3.842,7 triliun. Dengan demikian, defisit APBN dirancang sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68% terhadap PDB.
Agar mudah dipahami, kita sederhanakan belanja negara menjadi Rp100.
Dari Rp100 tersebut:
Rp81,97 berada dalam Belanja Pemerintah Pusat.
Rp18,03 dialokasikan melalui Transfer ke Daerah.
Artinya, secara kasar, dari setiap Rp100 belanja APBN, sekitar Rp82 dikelola melalui pemerintah pusat dan sekitar Rp18 mengalir melalui transfer ke daerah.
Nah, sampai di sini muncul pertanyaan rakyat:
Rp82 itu dipakai untuk apa saja?
Inilah yang harus kita bongkar lebih dalam.
Pemerintah Sudah Menentukan Prioritas
Pemerintah menetapkan delapan agenda prioritas apbn 2026:
- Ketahanan pangan.
- Ketahanan energi.
- Makan Bergizi Gratis.
- Pendidikan bermutu.
- Kesehatan berkualitas.
- Pembangunan desa, koperasi dan UMKM.
- Pertahanan semesta.
- Akselerasi investasi dan perdagangan global.
Kalau angka tersebut dibandingkan dengan total belanja APBN Rp3.842,7 triliun, gambaran kasarnya menjadi seperti ini:
Prioritas Anggaran 2026 Setara dari
Rp100 APBN
----------------------------------------------------------
Ketahanan pangan Rp164,7 T ±Rp4,29Ketahanan energi Rp402,4 T ±Rp10,47
Makan Bergizi Gratis Rp335 T ±Rp8,72
Pendidikan Rp769,1 T ±Rp20,02
Kesehatan Rp244 T ±Rp6,35
Perlindungan sosial* Rp508,2 T ±Rp13,22
Angka perlindungan sosial merupakan kategori yang dapat mencakup berbagai program dan tidak identik dengan satu program prioritas saja. Angka-angka prioritas juga tidak boleh dijumlahkan begitu saja, karena terdapat kemungkinan irisan program dan klasifikasi anggaran.
Jadi, misalnya pemerintah mengatakan anggaran pendidikan Rp769,1 triliun, secara sederhana kita bisa mengatakan:
Dari setiap Rp100 belanja APBN, sekitar Rp20 dialokasikan untuk fungsi pendidikan.
Angka ini tentu besar.
Tetapi justru karena besar, pertanyaannya juga harus besar:
Rp20 itu pergi ke mana?
Apakah untuk gaji dan tunjangan guru serta dosen?
Beasiswa?
PIP?
KIP Kuliah?
Sekolah?
Perguruan tinggi?
Revitalisasi sarana pendidikan?
Sekolah Rakyat?
Sekolah Unggul Garuda?
Atau program lainnya?
Pemerintah sendiri menjelaskan bahwa anggaran pendidikan digunakan antara lain untuk gaji dan tunjangan pendidik, beasiswa, PIP, KIP Kuliah, sekolah rakyat, Sekolah Unggul Garuda, BOS dan berbagai program pendidikan lainnya.
Maka rakyat berhak bertanya:
Dari Rp769,1 triliun itu, berapa yang sampai langsung ke peserta didik? Berapa yang digunakan untuk membayar sistem birokrasi pendidikan? Dan apa hasil yang bisa diukur?
Ini bukan tuduhan.
Ini adalah pertanyaan tentang akuntabilitas uang publik.
Program Makan Bergizi Gratis mendapatkan alokasi Rp335 triliun pada 2026. Pemerintah merancang program ini untuk meningkatkan kualitas gizi sekaligus memberdayakan UMKM dan menggerakkan ekonomi lokal.
Kalau dijadikan Rp100 APBN:
Sekitar Rp8,72 dari setiap Rp100 belanja APBN dialokasikan untuk MBG.
Ini bukan angka kecil.
Maka rakyat berhak mengetahui:
Berapa biaya makanan?
Berapa biaya distribusi?
Berapa untuk SPPG?
Berapa untuk bahan baku?
Berapa yang masuk ke UMKM?
Berapa biaya administrasi?
Berapa penerima manfaat?
Dan yang paling penting:
Apa indikator keberhasilannya?
Jangan sampai kita hanya menghitung berapa porsi makanan yang dibagikan.
Kita juga harus bisa menghitung berapa perubahan status gizi, kesehatan, kehadiran sekolah, dan kualitas pembelajaran yang dihasilkan.
Karena uang APBN seharusnya tidak hanya menghasilkan aktivitas, tetapi juga hasil.
Energi: Rp402,4 Triliun
Untuk ketahanan energi, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp402,4 triliun. Dukungan tersebut mencakup antara lain subsidi energi, insentif perpajakan, pengembangan energi baru terbarukan, listrik desa, serta kebijakan terkait produksi dan harga energi.
Artinya sekitar:
Rp10,47 dari setiap Rp100 belanja APBN.
Pertanyaannya:
Apakah uang sebesar itu membuat energi semakin murah?
Apakah subsidi semakin tepat sasaran?
Apakah produksi energi nasional meningkat?
Apakah ketergantungan terhadap energi impor berkurang?
Dan apakah investasi energi baru terbarukan benar-benar menghasilkan perubahan?
Kalau tujuan akhirnya adalah ketahanan energi, maka ukuran keberhasilannya harus bisa dilihat.
Bukan sekadar:
"Anggarannya sudah disediakan.”
Tetapi:
"Apa yang berubah setelah anggaran itu dibelanjakan?”
Ketahanan pangan mendapat alokasi sekitar Rp164,7 triliun.
Pemerintah mengarahkannya antara lain untuk produktivitas pangan, stabilisasi harga, cadangan pangan, subsidi pupuk dan dukungan kepada petani serta nelayan.
Dari setiap Rp100 APBN, sekitar Rp4,29 masuk dalam agenda ketahanan pangan tersebut.
Pertanyaan rakyat sederhana:
Apakah petani menjadi lebih sejahtera?
Apakah produksi meningkat?
Apakah harga pangan lebih stabil?
Apakah impor pangan berkurang?
Apakah pupuk benar-benar sampai kepada petani yang membutuhkan?
Kalau jawabannya bisa dibuktikan dengan data, rakyat akan melihat manfaat APBN dengan lebih jelas.
Anggaran kesehatan 2026 direncanakan sekitar Rp244 triliun, antara lain untuk penguatan JKN, pemeriksaan kesehatan, penanganan tuberkulosis, fasilitas kesehatan, pendidikan tenaga kesehatan dan penurunan stunting.
Dari setiap Rp100 belanja APBN, kira-kira Rp6,35 berada pada angka tersebut.
Pertanyaannya:
Apakah masyarakat semakin mudah mendapatkan pelayanan kesehatan?
Apakah antrean berkurang?
Apakah fasilitas kesehatan semakin baik?
Apakah angka penyakit tertentu turun?
Apakah stunting turun?
Kembali lagi:
Anggaran bukan hasil. Anggaran adalah alat untuk menghasilkan hasil.
Pemerintah juga memasukkan pertahanan semesta serta pembangunan desa, koperasi dan UMKM sebagai agenda prioritas.
Untuk desa dan UMKM, misalnya, kebijakan mencakup pembiayaan, digitalisasi, pelatihan, peningkatan produktivitas, penguatan koperasi dan pengembangan ekosistem usaha.
Sementara agenda pertahanan mencakup antara lain pengadaan dan pemeliharaan alutsista, sarana-prasarana pertahanan, industri pertahanan serta penguatan komponen pertahanan.
Kemudian investasi dan perdagangan global diarahkan untuk meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia.
Semua itu mempunyai alasan kebijakan masing-masing.
Tetapi kembali kepada pertanyaan awal:
Berapa uangnya dan apa hasilnya?
Ini bagian yang sering luput ketika rakyat membaca APBN.
belanja negara bukan hanya membangun jalan, membeli komputer, memberi bantuan atau membangun sekolah.
Ada juga biaya pemerintahan, pelayanan umum, kewajiban negara, pembiayaan, subsidi, transfer daerah dan berbagai pengeluaran lain.
Karena itu, kalau kita hanya melihat proyek yang terlihat secara fisik, kita belum melihat keseluruhan APBN.
Bahkan ketika pemerintah menyebut APBN "sehat”, sehatnya APBN tidak cukup dinilai hanya dari satu angka.
Kita perlu melihat:
pendapatan → belanja → defisit → pembiayaan → utang → bunga utang → kualitas belanja → hasil pembangunan.
Semuanya berhubungan.
Menurut saya, pertanyaan yang lebih penting adalah:
"Apakah setiap rupiah APBN mempunyai alasan yang jelas, penerima manfaat yang jelas, target yang jelas, dan hasil yang bisa diperiksa?”
Ini perbedaan antara menghabiskan anggaran dan menghasilkan manfaat.
Sebuah kementerian bisa saja menyerap 99 persen anggarannya.
Tetapi kalau target programnya tidak tercapai, apakah itu bisa disebut berhasil?
Sebaliknya, sebuah program mungkin tidak menghabiskan seluruh anggarannya tetapi menghasilkan manfaat yang jauh lebih besar dari target.
Karena itu ukuran kita jangan hanya:
serapan anggaran.
Kita juga harus melihat:
output dan outcome.
Ini yang paling penting.
APBN bukan uang pribadi pemerintah.
APBN adalah instrumen keuangan negara yang pada akhirnya bersumber dari berbagai penerimaan negara, termasuk pajak dan PNBP, kemudian digunakan untuk menjalankan fungsi negara.
Karena itu rakyat sebenarnya mempunyai hak moral untuk bertanya:
"Uang kami digunakan untuk apa?”
Bukan karena rakyat tidak percaya kepada pemerintah.
Justru karena kepercayaan membutuhkan transparansi.
Semakin besar anggaran, semakin besar pula kebutuhan untuk menjelaskan penggunaannya.
Selama ini APBN sering dibicarakan dengan bahasa:
Rp3.842,7 triliun.
Bagi sebagian besar masyarakat, angka itu terlalu besar untuk dibayangkan.
Tetapi kalau kita katakan:
"Bayangkan APBN sebagai Rp100. Sekarang mari kita lihat Rp100 itu pergi ke mana.”
Masyarakat akan lebih mudah memahami.
Kemudian kita pecah lagi:
Rp100 APBN → Pemerintah Pusat sekitar Rp82.
Rp100 APBN → Transfer ke Daerah sekitar Rp18.
Lalu kita bongkar lagi Rp82 tadi.
Berapa untuk pendidikan?
Berapa kesehatan?
Berapa energi?
Berapa pangan?
Berapa perlindungan sosial?
Berapa pertahanan?
Berapa infrastruktur?
Berapa birokrasi?
Berapa subsidi?
Berapa kewajiban negara?
Dan seterusnya.
Di sinilah APBN menjadi transparan bagi rakyat biasa.
Pemerintah menggunakan istilah APBN sehat, kredibel dan produktif sebagai bagian dari arah kebijakan fiskal 2026.
Tidak ada masalah dengan istilah itu.
Tetapi bagi rakyat, istilah tersebut seharusnya bukan akhir dari pembicaraan.
Justru menjadi awal pertanyaan:
Sehat menurut indikator apa?
Apakah defisit terkendali?
Apakah pendapatan negara cukup kuat?
Apakah utang dapat dikelola?
Apakah pembayaran bunga dapat ditanggung?
Apakah belanja menghasilkan pertumbuhan?
Apakah kemiskinan berkurang?
Apakah lapangan kerja bertambah?
Apakah kualitas pendidikan meningkat?
Apakah layanan kesehatan membaik?
Apakah produktivitas ekonomi meningkat?
Dengan kata lain:
APBN sehat bukan hanya soal angka fiskal yang terlihat sehat di laporan. Kualitas penggunaannya juga harus sehat.
Rakyat tidak harus membaca ratusan halaman Nota Keuangan.
Pemerintah dan DPR justru harus membuat informasi APBN semakin mudah dipahami.
Kalau APBN mencapai ribuan triliun rupiah, masyarakat seharusnya dapat membuka sebuah dashboard sederhana dan melihat:
"Dari setiap Rp100 uang negara, berapa rupiah untuk apa?”
Kemudian klik:
Pendidikan → lihat programnya.
Kesehatan → lihat programnya.
MBG → lihat penerimanya.
Pangan → lihat hasilnya.
Energi → lihat subsidinya.
Pertahanan → lihat alokasinya.
Daerah → lihat transfernya.
Dan yang paling penting:
lihat hasil akhirnya.
Itulah transparansi yang sesungguhnya.
Jadi, selama ini APBN kita terpakai ke mana saja?
Jawabannya ternyata tidak sederhana.
Uang negara tersebar ke berbagai fungsi: pelayanan pemerintahan, pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, subsidi, pangan, energi, pertahanan, pembangunan daerah, infrastruktur, investasi, serta berbagai program prioritas lainnya.
Dan pemerintah memang telah menentukan delapan agenda prioritas apbn 2026.
Tetapi setelah mengetahui ke mana uang itu dialokasikan, pertanyaan kita jangan berhenti.
Pertanyaan berikutnya justru lebih penting:
Apa hasilnya?
Sebab rakyat tidak hanya membutuhkan pemerintah yang pandai menyusun anggaran.
Rakyat membutuhkan anggaran yang menghasilkan manfaat nyata.
Dan mungkin sudah waktunya kita mengubah cara membaca APBN:
Bukan lagi hanya bertanya, "Berapa anggarannya?”
Tetapi:
"Dari setiap Rp100 uang negara, pergi ke mana, siapa yang menerima, untuk apa, dan apa hasilnya?”
Karena pada akhirnya, APBN bukan sekadar angka di atas kertas. APBN adalah keputusan tentang bagaimana negara menggunakan uang publik.
Dan uang publik layak ditanyakan.
Bukan untuk mencari-cari kesalahan pemerintah, tetapi supaya setiap rupiah benar-benar dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat.
Referensi utama
-
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2025 tentang APBN Tahun Anggaran 2026 ?" ini harus menjadi referensi nomor satu, karena merupakan dasar hukum apbn 2026 yang berlaku sejak 1 Januari 2026.
UU No. 17 Tahun 2025 ?" JDIH BPK -
Kementerian Keuangan RI ?" Nota Keuangan beserta RAPBN Tahun Anggaran 2026. Ini sangat penting karena di dalamnya terdapat rincian pendapatan, belanja K/L, non-K/L, transfer daerah, pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, pangan, energi, bunga utang, subsidi, dan sebagainya.
Nota Keuangan RAPBN 2026 ?" Kementerian Keuangan -
Kementerian Keuangan ?" apbn 2026: Tujuan dan Arah Kebijakan. Sumber ini merangkum postur APBN dan delapan agenda prioritas pemerintah.
apbn 2026: Tujuan dan Arah Kebijakan -
Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan ?" Pengesahan apbn 2026. Sumber ini mencatat postur Rp3.153,6 triliun pendapatan, Rp3.842,7 triliun belanja, dan defisit Rp689,1 triliun atau 2,68% PDB, sekaligus menyebut delapan agenda prioritas.
DJPb ?" Gelar Rapat Paripurna, DPR Sahkan RUU apbn 2026 - DJPb Kementerian Keuangan ?" data pelaksanaan apbn 2026. Ini berguna kalau artikel kita nanti membedakan antara anggaran yang direncanakan dan realisasi aktual. Misalnya, hingga 31 Maret 2026 belanja negara telah mencapai Rp815 triliun atau 21,2% dari pagu.
Referensi untuk rincian anggaran
Untuk artikel kita, Nota Keuangan harus menjadi sumber utama ketika kita menyebut angka per pos, karena di sana tersedia rincian yang jauh lebih lengkap, termasuk:
- Belanja Kementerian/Lembaga
- Belanja non-K/L
- Transfer ke Daerah
- Pembayaran bunga utang
- Subsidi
- Pendidikan
- Kesehatan
- Perlindungan sosial
- Ketahanan pangan
- Energi
- dan berbagai fungsi pemerintah lainnya.
SELAMA INI APBN KITA TERPAKAI KE MANA SAJA, SIH?
NEXT:
KORUPTOR TAKUT AI DAN BLOCKCHAIN, PEMERINTAH MALAH BELUM SIAP?
PREV:
