Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
☰
  • Home
  • Opini
  • Kuliah ▼
  • Publikasi ▼
  • SINTA
  • Scholar
  • About Me
  • Labuhan Batu
  • Login

View : 6 kali.

Bagikan:
Home > Opinion   Kategori: AI / Kecerdasan Buatan
Selasa, 15 September 2026

AI: DIPAKAI MEMBONGKAR KORUPSI ATAU MALAH MEMBUAT HOAKS?

AI untuk membongkar korupsi dan mendeteksi hoaks di Indonesia
AI untuk membongkar korupsi dan mendeteksi hoaks di Indonesia

Oleh: Murdan Sianturi
Bayangkan suatu pagi kamu menerima sebuah video di WhatsApp.

Di video itu terlihat seorang pejabat sedang marah-marah.

Wajahnya jelas.

Suaranya jelas.

Gerak bibirnya cocok.

Temanmu langsung mengirim pesan:

"Lihat ini! Gawat!”

Kamu percaya.

Lalu kamu kirim ke teman.

Temanmu kirim ke grup keluarga.

Ada yang upload ke TikTok.

Ada yang posting di Facebook.

Bahkan ada media yang ikut memberitakannya.

Beberapa jam kemudian, video itu sudah ditonton jutaan orang.

Lalu muncul berita:

"Video tersebut ternyata palsu.”

Wajahnya dibuat dengan AI.

Suaranya ditiru.

Video aslinya ternyata berbeda.

Masalahnya?

Video palsu itu sudah telanjur berkeliling ke mana-mana.

Dan di sinilah kita harus mulai serius membicarakan AI.


AI: Membongkar Korupsi atau Membuat Hoaks?

AI sebenarnya bukan musuh.

AI adalah alat.

Persoalannya adalah untuk apa alat itu digunakan.

AI bisa digunakan untuk membuat video palsu.

AI bisa meniru suara seseorang.

AI bisa membuat seseorang seolah-olah mengatakan sesuatu yang tidak pernah dikatakannya.

Tetapi AI juga bisa digunakan untuk melakukan hal sebaliknya.

AI bisa membantu mendeteksi manipulasi video.

AI bisa mencari pola transaksi yang mencurigakan.

AI bisa membantu menganalisis pengadaan.

AI bisa menemukan hubungan antarperusahaan yang perlu diperiksa.

AI bisa membantu menemukan pola keuangan yang tidak biasa.

Tentu saja AI tidak boleh langsung mengatakan:

"Ini korupsi.”

AI bukan hakim.

AI hanya membantu menemukan indikasi atau pola yang patut diperiksa manusia.

Tetapi bayangkan kalau kemampuan seperti ini digunakan secara serius untuk membantu memberantas korupsi.

Maka pertanyaannya:

Mengapa kita tidak menggunakan AI lebih agresif untuk mencari kebohongan dan korupsi, sementara AI justru semakin mudah digunakan untuk membuat kebohongan terlihat nyata?

Ini pertanyaan yang layak kita renungkan.


Masalahnya Bukan Hanya Orang yang Membuat Hoaks

Sekarang kita masuk ke masalah media sosial.

Misalnya seseorang membuat video palsu.

Kalau video itu hanya dilihat sepuluh orang, dampaknya mungkin kecil.

Tetapi kalau algoritma menemukan bahwa video tersebut membuat orang marah, takut atau penasaran?

Orang menonton.

Orang berkomentar.

Orang membagikan.

Algoritma membaca:

"Konten ini menarik.”

Kemudian distribusinya diperbesar.

Lebih banyak orang melihat.

Lebih banyak orang membagikan.

Lebih besar lagi.

Sampai akhirnya:


VIRAL.

Padahal palsu.

Di sinilah persoalannya.

Hoaks mungkin dibuat oleh satu orang, tetapi dampaknya bisa diperbesar oleh sebuah sistem.

Karena itu kita tidak boleh hanya bertanya:

"Siapa yang membuat hoaks?”

Kita juga harus bertanya:

"Mengapa sistem distribusi informasi membiarkan hoaks itu mendapatkan jutaan penonton sebelum ditangani?”


NO CHECK, NO VIRAL

Karena itu saya menawarkan prinsip sederhana:


NO CHECK, NO VIRAL.

Bukan NO CHECK, NO UPLOAD.


Orang tetap mempunyai hak untuk membuat dan mengunggah konten.

Tetapi kalau sistem mendeteksi sebuah konten memiliki risiko tinggi, jangan langsung diberi "bensin” oleh algoritma untuk menjadi viral.

Proses sederhananya:

Upload
|
v
AI Screening
|
v
Deteksi Risiko
|
v
Verifikasi
|
v
Distribusi

AI menjadi pemeriksa awal.

Kalau aman, distribusi berjalan.

Kalau mencurigakan, diberi tanda.

Kalau berisiko tinggi, distribusi dapat dibatasi sementara sampai dilakukan pemeriksaan.


Bukan Hanya Media Sosial, Media Massa Juga Harus Memeriksa

Ini juga sangat penting.

Sebuah portal berita menerima video dari masyarakat.

Video dikirim melalui WhatsApp.

Atau email.

Atau media sosial.

Atau seseorang mengaku merekamnya langsung di lokasi kejadian.

Apakah media boleh langsung memuat?

Menurut saya: jangan.

Media harus mempunyai tools verifikasi video.

Sebelum video dijadikan bagian dari berita, sistem harus membantu memeriksa:

apakah video kemungkinan dimanipulasi;
apakah suara kemungkinan sintetis;
apakah wajah mengalami perubahan;
apakah video pernah beredar sebelumnya;
kapan video pertama kali muncul;
apakah lokasi sesuai dengan klaim;
apakah konteksnya benar;
apakah terdapat potongan atau perubahan;
dan apakah terdapat tanda-tanda video AI.

Kalau setelah diperiksa ternyata palsu?

Jangan dimuat sebagai fakta.

Lebih baik media terlambat beberapa menit daripada menjadi sumber penyebaran kebohongan kepada jutaan orang.


Media Tidak Boleh Kalah Cepat dengan Hoaks

Ini tantangan besar media.

Semua ingin menjadi yang pertama.

Breaking News!

Video Viral!

Detik-detik mengejutkan!

Tetapi ada satu kata yang harus lebih penting daripada "pertama”:

BENAR.

Media jangan merasa kalah hanya karena media lain sudah mengunggah video.

Kalau belum terverifikasi, jangan dipaksakan menjadi berita.

Kalau belum tahu apakah benar, katakan:

"Video yang diklaim menunjukkan kejadian tertentu sedang beredar dan masih dalam proses verifikasi.”

Kalimat sederhana itu jauh lebih bertanggung jawab daripada ikut menyebarkan sesuatu yang ternyata palsu.

Sekarang Kita Bicara Tentang Regulasi

Nah, di sinilah menurut saya negara harus hadir.

Kita tidak cukup hanya mengatakan:

"Platform harus bertanggung jawab.”

Kalau tidak ada aturan dan sanksi, itu hanya menjadi imbauan.

Harus ada regulasi.

Regulasi tersebut harus mewajibkan platform besar memiliki sistem untuk:

mendeteksi deepfake dan manipulasi;
mengidentifikasi konten berisiko tinggi;
membatasi amplifikasi konten yang belum terverifikasi dalam kondisi tertentu;
menyediakan mekanisme pelaporan;
menyediakan mekanisme banding;
membuka informasi tentang kinerja moderasi;
menjalani audit independen;
dan melaporkan bagaimana algoritma mereka menangani risiko misinformasi dan disinformasi.

Indonesia sebenarnya tidak memulai dari nol.

Komdigi sudah menyatakan bahwa platform memiliki tanggung jawab dalam menjaga integritas informasi. Pemerintah juga telah meminta platform lebih transparan mengenai kapasitas moderasi konten di Indonesia.

Jadi langkah berikutnya adalah membuat tanggung jawab itu lebih terukur dan mempunyai konsekuensi hukum.


Kalau Tidak Taat, Harus Ada Hukuman

Ini prinsip sederhananya:

Ada kewajiban → ada pengawasan → ada pelanggaran → ada sanksi.

Jangan sampai regulasi hanya menjadi dokumen yang bagus di atas kertas.

Sanksinya pun tidak harus langsung berupa pemblokiran.

Bisa dibuat bertingkat.

Tingkat pertama:

Teguran dan perintah perbaikan.

Platform diberi waktu memperbaiki sistem.

Tingkat kedua:

Denda administratif.

Jika pelanggaran berulang atau platform tidak memenuhi kewajiban.

Tingkat ketiga:

Audit khusus dan pembatasan fitur tertentu.

Misalnya fitur yang terbukti menjadi sumber utama penyebaran konten berbahaya.

Tingkat keempat:

Pembatasan distribusi algoritmik.

Kalau platform gagal mengendalikan risiko, negara dapat memerintahkan pembatasan terhadap mekanisme amplifikasi tertentu sesuai hukum.

Tingkat kelima:

Pembatasan sementara akses layanan.

Ini harus menjadi langkah luar biasa, dengan dasar hukum dan bukti yang kuat.

Tingkat terakhir:

Pemblokiran.

Bukan karena satu video hoaks.

Tetapi karena ada kegagalan sistematis, berulang, serius, dan platform tidak mau atau tidak mampu memperbaikinya.

Itu perbedaannya.


Jangan Sampai Negara Menjadi Hakim Kebenaran

Tetapi ada satu hal yang harus kita jaga.

Jangan karena ingin melawan hoaks, kemudian pemerintah diberi kekuasaan untuk mengatakan:

"Ini benar.”

"Ini salah.”

"Ini kritik.”

"Ini hoaks.”

Lalu selesai.

Tidak boleh.

Karena pemerintah juga harus diawasi.

Maka harus ada:

audit independen,

transparansi,

mekanisme keberatan,

pemeriksa fakta,

partisipasi akademisi dan masyarakat sipil,

serta

proses hukum.

Kita harus melawan hoaks tanpa membunuh kebebasan berpikir.

Yang Harus Diukur Bukan Hanya Jumlah Hoaks yang Dihapus

Saya kira ini penting.

Platform jangan hanya berkata:

"Kami telah menghapus satu juta konten.”

Pertanyaan berikutnya:

"Berapa banyak orang yang sudah melihatnya sebelum dihapus?”

Itulah yang lebih penting.

Sebab sebuah hoaks yang dihapus setelah ditonton sepuluh juta orang tidak bisa disebut sukses sepenuhnya.

Hoaks tersebut mungkin sudah:

di-screenshot,

direkam ulang,

dikirim ke WhatsApp,

diunggah ke platform lain,

dan muncul kembali dalam bentuk berbeda.

Maka ukuran keberhasilan platform harus berubah.

Bukan hanya:

Berapa banyak hoaks yang dihapus?

Tetapi:

Berapa banyak hoaks yang berhasil dicegah menjadi viral?
Dan Ada Satu Lagi: Jangan Sampai Media Menjadi Korban Hoaks

Media harus hati-hati.

Karena sekarang media sosial sering menjadi sumber awal informasi.

Tetapi viral bukan berarti benar.

Sebuah video dengan 10 juta penonton tetap bisa palsu.

Sebuah video dengan hanya 100 penonton tetap bisa benar.

Karena itu wartawan membutuhkan alat.

AI Video Verification Tool.

Bukan untuk menggantikan wartawan.

Tetapi untuk membantu wartawan.

Wartawan tetap melakukan konfirmasi.

AI membantu mencari tanda-tanda manipulasi.

Wartawan mencari sumber asli.

AI membantu mencari jejak digital.

Wartawan memeriksa konteks.

AI membantu mempercepat proses.

Teknologi membantu manusia mencari kebenaran. Bukan menggantikan manusia dalam menentukan kebenaran.

Untuk Masyarakat: Jangan Menjadi "Pasukan Share”

Untuk masyarakat, mungkin ada satu nasihat yang sangat sederhana.

Jangan menjadi orang pertama yang selalu membagikan berita.

Jadilah orang pertama yang bertanya:

"Benar nggak?”

Kalau ada video yang membuat kalian marah:

tunggu.

Kalau ada berita yang membuat kalian takut:

periksa.

Kalau ada sesuatu yang terlalu luar biasa:

jangan langsung percaya.

Karena algoritma tidak mengenal teman atau keluarga.

Kalau kita terus mengklik, menonton dan membagikan sesuatu, algoritma akan terus membesarkannya.

Jangan sampai kita sendiri yang menjadi bahan bakar algoritma untuk menyebarkan hoaks.

Jadi, AI Harus Dipakai untuk Apa?

AI boleh digunakan untuk membuat film.

AI boleh digunakan untuk musik.

AI boleh digunakan untuk pendidikan.

AI boleh digunakan untuk bisnis.

AI boleh digunakan untuk kreativitas.

Tetapi kita juga harus menggunakannya untuk:

mendeteksi manipulasi,

mendeteksi penipuan,

membantu pemeriksaan fakta,

menganalisis data publik,

mencari pola korupsi,

dan

melindungi masyarakat dari informasi palsu.

Jangan sampai AI terlalu pintar membuat kebohongan.

Tetapi terlalu "lemah” ketika diminta mencari kebenaran.

Penutup: Jangan Biarkan Kebohongan Menang Karena Lebih Cepat

Kita tidak mungkin menghentikan semua orang membuat hoaks.

Tetapi kita bisa membuat hoaks lebih sulit menjadi viral.

Media harus memeriksa sebelum memuat.

Platform harus memeriksa sebelum memperluas distribusi.

AI harus membantu mendeteksi.

Pemerintah harus membuat aturan.

Dan kalau platform sengaja atau berulang kali gagal memenuhi kewajibannya, harus ada sanksi.

Bukan untuk membungkam platform.

Bukan untuk membungkam masyarakat.

Tetapi untuk memastikan bahwa teknologi yang mempunyai kekuatan luar biasa juga mempunyai tanggung jawab yang luar biasa.

Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana:

AI mau kita gunakan untuk membuat kebohongan semakin pintar, atau membuat manusia semakin sulit dibohongi?

Saya memilih yang kedua.

Karena teknologi seharusnya membantu kita menemukan kebenaran.

Bukan membantu kebohongan menjadi viral.


AI: DIPAKAI MEMBONGKAR KORUPSI ATAU MALAH MEMBUAT HOAKS?








NEXT:

SELAMA INI APBN KITA TERPAKAI KE MANA SAJA, SIH?


PREV:

PURBAYA MASIH RAPAT, TIBA-TIBA DIGANTI: APAKAH PRABOWO SEDANG MENGEREM EKONOMI?

NEXT:

SELAMA INI APBN KITA TERPAKAI KE MANA SAJA, SIH?


PREV:

PURBAYA MASIH RAPAT, TIBA-TIBA DIGANTI: APAKAH PRABOWO SEDANG MENGEREM EKONOMI?

Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom., adalah dosen dan penulis opini yang mengajar Bisnis Digital dan Akuntansi di STIE Mulia Pratama Bekasi. Ia aktif menulis tentang teknologi, perubahan sosial, geopolitik, dan refleksi iman di tengah dinamika dunia modern.
About me selengkapnya...




AI / Kecerdasan Buatan :
  • KORUPTOR TAKUT AI DAN BLOCKCHAIN, PEMERINTAH MALAH BELUM SIAP?
  • AI: DIPAKAI MEMBONGKAR KORUPSI ATAU MALAH MEMBUAT HOAKS?
  • YouTube 2026: Ketika AI Menilai AI, Kreator Kehilangan Kendali? | 10 Kesalahan YouTuber Pemula
  • AI Tidak Akan Menggantikan Tukang Bangunan: Mengapa Ramalan Jensen Huang Layak Kita Renungkan
  • Belajar Engineer Semikonduktor dari Rumah: Apa Saja yang Dipelajari?
  • 3 Paket Wajib Gen Z: Kunci Bertahan dan Sukses di Era Digital
  • Pekerjaan yang Relatif Aman di Era AI: Ketika Mesin Pintar Tidak Selalu Bisa Menggantikan Manusia
  • Apakah Indonesia Siap Menghadapi Revolusi AI?
  • Mengapa China Menjadi Ancaman Teknologi bagi Amerika?
  • Siapa yang Akan Menang Perang AI?
  • Trump–Xi dan Perang AI: Awal Perubahan Tatanan Dunia Baru
  • Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Manusia: Ketika Mesin Mulai Belajar Berpikir
  • Dari manakah pengetahuan AI seperti ChatGPT? Bagaimana ia bekerja menjawab semua pertanyaan?

(c) 2010 www.murdansianturi.com | Privacy Policy | About Me | Kirim Email | Login