Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
☰
  • Home
  • Opini
  • Kuliah ▼
  • Publikasi ▼
  • SINTA
  • Scholar
  • About Me
  • Labuhan Batu
  • Login

View : 109 kali.

Bagikan:
Home > Opinion   Kategori: Ekonomi & Kebijakan
Minggu, 03 Mei 2026

Blockchain: Teknologi yang Sama, Arah yang Berbeda

ilustrasi perbedaan blockchain bank indonesia dan blockchain web3 dalam sistem keuangan digital
ilustrasi perbedaan blockchain bank indonesia dan blockchain web3 dalam sistem keuangan digital

 
Oleh: Murdan Sianturi, S.Kom,M.Kom
Jika blockchain Web3 berkembang penuh, bank bukan lagi pusat sistem keuangan--melainkan hanya salah satu pemain.
Selama ini kita percaya uang karena bank.
Tapi bagaimana jika ada sistem yang tidak lagi membutuhkan kepercayaan itu?

Di tengah maraknya pembicaraan tentang crypto, Web3, dan rupiah digital, satu istilah terus muncul: blockchain.
Namun ironisnya, semakin sering disebut, semakin banyak masyarakat yang justru bingung---apa sebenarnya blockchain itu?

Apakah blockchain sama dengan Bitcoin?
Apakah semua blockchain bebas tanpa aturan?
Dan mengapa bank sentral seperti Bank Indonesia terlihat begitu hati-hati menggunakannya?

Artikel ini mencoba menjelaskan dengan sederhana--namun tetap jernih.


Apa Itu blockchain? 

blockchain pada dasarnya adalah sistem pencatatan digital.

Bayangkan sebuah buku besar (ledger):
  • Semua transaksi dicatat
  • Tidak bisa dihapus atau diubah sembarangan
  • Disimpan di banyak tempat sekaligus
Inilah blockchain:
buku catatan digital yang transparan, aman, dan tidak bergantung pada satu pihak saja.

Kenapa sulit dimanipulasi?
Karena data disimpan dalam bentuk "blok” yang saling terhubung seperti rantai (chain).
Mengubah satu data berarti harus mengubah seluruh rantai--yang hampir mustahil dilakukan.

blockchain Itu Tidak Satu Jenis

Di sinilah banyak orang mulai keliru.

blockchain bukan satu bentuk tunggal.
Secara praktik, hari ini blockchain berkembang dalam dua arah besar:
 
1. blockchain Versi Institusi (blockchain BI / Bank Sentral)

Ini adalah blockchain yang digunakan atau dipertimbangkan oleh lembaga resmi seperti bank sentral, termasuk Bank Indonesia.

Ciri-cirinya:
  • Tidak sepenuhnya terbuka
  • Akses terbatas (hanya pihak tertentu)
  • Tetap ada kontrol pusat
  • Digunakan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan
Model ini sering disebut: permissioned blockchain

Tujuannya:
  • Membuat sistem pembayaran lebih efisien
  • Mendukung mata uang digital bank sentral (CBDC)
  • Mempercepat transaksi antar bank
Intinya:
blockchain digunakan sebagai alat bantu, bukan untuk menggantikan sistem yang ada.

2. blockchain Web3 (Desentralisasi)

Berbeda dengan versi institusi, blockchain Web3 lahir dari semangat yang lebih "radikal”.

Ciri-cirinya:
  • Terbuka untuk siapa saja
  • Tidak ada otoritas pusat
  • Semua orang bisa ikut memvalidasi transaksi
  • Transparan dan global
Ini disebut: public / decentralized blockchain

Contoh Nyata blockchain Web3

Beberapa contoh yang sudah berjalan:

1. Bitcoin
  • Digunakan untuk transaksi tanpa bank
  • Tujuan: menjadi alternatif uang digital global

2. Ethereum
  • Tidak hanya untuk uang, tapi juga aplikasi
  • Tujuan: menjalankan smart contract (kontrak otomatis)

3. DeFi (Decentralized Finance)
  • Pinjam-meminjam tanpa bank
  • Trading aset tanpa broker

4. NFT (Non-Fungible Token)
  • Kepemilikan digital (seni, musik, dll)
  • Bukti keaslian berbasis blockchain

Perbedaan Paling Mendasar

Perbedaan antara dua jenis blockchain ini bukan sekadar teknis--tapi soal arah dan filosofi.

Aspek             blockchain BI    blockchain Web3
-------------------------------------------------------------------
Kontrol           Terpusat               Tanpa pusat
Akses             Terbatas               Terbuka
Tujuan            Stabilitas              Kebebasan
Peran bank    Tetap ada              Bisa hilang
Risiko             Kurang fleksibel    Lebih liar

Mengapa Terlihat Bertentangan?

Di sinilah letak realitasnya.
Bank sentral membutuhkan:
  • kontrol atas uang beredar
  • stabilitas ekonomi
  • kebijakan moneter
Sementara Web3 menginginkan:
sistem tanpa perantara
kebebasan transaksi
kemandirian finansial

Akibatnya, blockchain memiliki dua wajah:
  • satu untuk memperkuat sistem lama
  • satu lagi untuk menantang dan mengubah sistem tersebut

Apakah blockchain Pasti Masa Depan?

Jawabannya: belum tentu untuk semua hal.

blockchain memang kuat dalam:
  • transparansi
  • keamanan
  • pencatatan
Namun tidak semua masalah membutuhkan blockchain.
Dalam banyak kasus, sistem tradisional justru lebih sederhana, cepat, dan efisien.

Kesimpulan: Jangan Terjebak Hype

blockchain bukan sekadar tren teknologi.
Ia adalah alat---dan seperti semua alat, nilainya tergantung pada bagaimana digunakan.

Di satu sisi, blockchain dapat memperkuat sistem keuangan resmi.
Di sisi lain, ia juga berpotensi menciptakan sistem baru yang lebih terbuka.

-Maka pertanyaannya bukan lagi:
"Apakah blockchain itu baik atau buruk?”

-Tetapi:
"blockchain ini digunakan untuk tujuan apa, dan oleh siapa?”

Penutup

blockchain pada akhirnya bukan hanya tentang teknologi.
Ia adalah cara baru manusia membangun kepercayaan:
bukan lagi percaya pada lembaga,
tetapi percaya pada sistem.



Baca Juga:  

blockchain Gagal Masuk Bank Indonesia? Bukan Gagal--"Tapi Ditolak Secara Halus"




Blockchain: Teknologi yang Sama, Arah yang Berbeda








NEXT:

Rupiah Tidak Takut 1998---Ia Takut Kita Kehilangan Kepercayaan


PREV:

2026-2028: Dunia Sedang Berubah Arah

NEXT:

Rupiah Tidak Takut 1998---Ia Takut Kita Kehilangan Kepercayaan


PREV:

2026-2028: Dunia Sedang Berubah Arah

Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom., adalah dosen dan penulis opini yang mengajar Bisnis Digital dan Akuntansi di STIE Mulia Pratama Bekasi. Ia aktif menulis tentang teknologi, perubahan sosial, geopolitik, dan refleksi iman di tengah dinamika dunia modern.
About me selengkapnya...




Ekonomi & Kebijakan :
  • Blockchain: Teknologi yang Sama, Arah yang Berbeda
  • IPK Tinggi, Kampus Elite—Tapi Tetap Kalah: Dunia Kerja Sudah Ganti Aturan

Pencarian E-DDC 23
Electronic Dewey Decimal Classification untuk Perpustakaan