Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
☰
  • Home
  • Opini
  • Kuliah ▼
  • Publikasi ▼
  • SINTA
  • Scholar
  • About Me
  • Labuhan Batu
  • Login

View : 94 kali.

Bagikan:
Home > Opinion   Kategori: Ekonomi Indonesia
Senin, 04 Mei 2026

Rupiah Tidak Takut 1998---Ia Takut Kita Kehilangan Kepercayaan

ilustrasi rupiah melemah akibat turunnya kepercayaan pasar dan meningkatnya risiko fiskal indonesia di tengah tekanan ekonomi global
ilustrasi rupiah melemah akibat turunnya kepercayaan pasar dan meningkatnya risiko fiskal indonesia di tengah tekanan ekonomi global

  
Yang menghantui rupiah hari ini bukan masa lalu.
Yang benar-benar berbahaya justru masa depan--
ketika kepercayaan pelan-pelan menghilang, tanpa suara.

Setiap kali rupiah melemah, satu angka langsung muncul di kepala banyak orang: 1998.

Rp 2.400… lalu jatuh ke Rp 17.000.
Perusahaan tutup. PHK massal. Harga melonjak.

Itu bukan sekadar krisis.
Itu trauma nasional.

Dan seperti semua trauma, ia tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya diam. Menunggu dipicu.

Masalahnya?
Kita terlalu sibuk takut pada bayangan lama--
sampai lupa membaca risiko yang sedang tumbuh di depan mata.

Rupiah tidak takut 1998.
Ia takut sesuatu yang lebih berbahaya: 
ketika pasar mulai tidak percaya pada kita.

Masalah Kita Hari Ini Bukan Krisis--Tapi Kepercayaan

Mari jujur.

Indonesia hari ini bukan Indonesia 1998.

Sistem keuangan lebih kuat
Bank lebih sehat
Nilai tukar lebih fleksibel

Krisis besar seperti 1998?
Kemungkinannya kecil.

Tapi justru di situlah letak bahayanya.

Ancaman terbesar hari ini tidak datang dengan ledakan.
Ia datang pelan--hampir tidak terasa:
erosi kredibilitas fiskal.


Tidak dramatis.
Tidak viral.
Tidak langsung terlihat.

Tapi satu hal pasti:

pasar mencatat semuanya.


Pasar Tidak Panik--Pasar Menghitung

Investor hari ini tidak emosional.
Mereka tidak menunggu krisis.

Mereka membaca sinyal.

Dan salah satu sinyal paling jujur adalah:
CDS (Credit Default Swap)---harga dari ketidakpercayaan.

Ketika CDS naik, pesan pasar sederhana:
"Risiko kamu meningkat. Dan kami ingin dibayar lebih mahal untuk itu.”


Dampaknya nyata:
Yield naik
Modal keluar
Rupiah tertekan


Ini bukan teori.
Ini mekanisme.

Dan yang perlu disadari:
CDS Indonesia naik bahkan sebelum tekanan global memuncak.


Artinya?

Masalahnya bukan hanya dunia.
Masalahnya juga dari dalam.


Dunia Memanas--Tapi Itu Bukan Akar Masalah

Ya, dunia sedang tidak stabil:
  • konflik geopolitik
  • harga minyak naik
  • suku bunga global tinggi
Tapi ada fakta yang lebih penting:
Rupiah tidak selalu menguat ketika dolar melemah.


Ini bukan kebetulan.
Ini sinyal.

Artinya jelas:
faktor domestik mulai lebih dominan daripada faktor global.


Dan kita kembali ke satu kata yang sama:
kepercayaan.


Pelajaran Termahal dari 1998 (Yang Justru Kita Lupakan)

1998 bukan sekadar krisis mata uang.

Masalah utamanya:
  • utang valas tanpa lindung nilai
  • kebijakan yang tidak kredibel
  • kepercayaan yang runtuh
Dan ketika kepercayaan hilang:
krisis tidak dicegah--ia diciptakan.


Bukan karena fundamental langsung hancur,
tetapi karena ekspektasi berubah.

Inilah yang disebut:
self-fulfilling crisis


Hari Ini, Kita Tidak Runtuh--Tapi Kita Mulai Retak

Mari realistis:
  • Defisit mendekati batas
  • Persepsi risiko meningkat
  • Ruang fiskal menyempit

Tidak ada yang meledak.

Tapi semuanya… mulai bergerak.

Dan di dunia keuangan, ada satu hukum yang sering diabaikan:
Retakan kecil lebih berbahaya daripada ledakan besar.
Karena ia sering tidak disadari--sampai terlambat.


Dilema yang Tidak Nyaman: Semua Pilihan Ada Harga

Tidak ada kebijakan tanpa konsekuensi:
  • Turunkan suku bunga → rupiah tertekan
  • Tahan suku bunga → pertumbuhan melambat
  • Intervensi → cadangan devisa tergerus

Artinya sederhana:
Stabilitas selalu punya harga.


Pertanyaannya bukan lagi:
"Apa pilihan terbaik?”

Tapi:
"Biaya mana yang paling siap kita tanggung?”


Yang Dibutuhkan Bukan Kebijakan Hebat---Tapi Kredibel

Pasar tidak menuntut kesempurnaan.

Yang mereka cari:
  • konsistensi
  • disiplin
  • arah yang bisa dipercaya
Kebijakan biasa saja bisa diterima---
selama kredibel.

Sebaliknya:
Kebijakan hebat bisa ditolak
jika tidak dipercaya.

Pasar tidak menunggu krisis.
Pasar pergi saat kepercayaan mulai retak.
Dan ketika itu terjadi, yang jatuh bukan hanya rupiah—
tapi legitimasi kebijakan itu sendiri.


Kesimpulan yang Tidak Nyaman

Kita memang tidak sedang menuju 1998.

Tapi kita juga tidak sepenuhnya aman.

Karena ancaman terbesar hari ini bukan krisis besar.

Melainkan:
hilangnya kepercayaan secara perlahan.


Dan ketika itu terjadi…
rupiah tidak akan menunggu.


Penutup

1998 mengajarkan satu hal yang sering kita lupakan:
Pasar bisa memaafkan kesalahan.
Tapi tidak memaafkan kehilangan kepercayaan.


Jadi pertanyaannya hari ini bukan:

"Apakah kita akan krisis?”

Melainkan:
Apakah kita masih dipercaya?



Rupiah Tidak Takut 1998---Ia Takut Kita Kehilangan Kepercayaan








NEXT:

Faktor Penyebab Rupiah Melemah di Saat Ekonomi Indonesia Melesat Naik


PREV:

Blockchain: Teknologi yang Sama, Arah yang Berbeda

NEXT:

Faktor Penyebab Rupiah Melemah di Saat Ekonomi Indonesia Melesat Naik


PREV:

Blockchain: Teknologi yang Sama, Arah yang Berbeda

Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom., adalah dosen dan penulis opini yang mengajar Bisnis Digital dan Akuntansi di STIE Mulia Pratama Bekasi. Ia aktif menulis tentang teknologi, perubahan sosial, geopolitik, dan refleksi iman di tengah dinamika dunia modern.
About me selengkapnya...




Ekonomi Indonesia :
  • Batam, Magnet Baru BRICS di Asia Tenggara dan Jalan Indonesia Menuju Raksasa Perdagangan Dunia
  • Di Balik Viral 32 Nama, Ada Pertanyaan Lebih Besar: Siapa Mengendalikan Proyek MBG?
  • Dolar Bakal Anjlok? Ini Tanda-Tanda yang Mulai Terlihat di Dunia
  • Indonesia–Filipina Pilih Barter: Mengurangi Ketergantungan pada Dolar
  • Rupiah Tembus Rp17.967 per Dolar AS: Peran Investor SRBI dalam Mendorong Kenaikan Nilai Tukar
  • Seluruh Transaksi Wajib Pakai Rupiah: Bukan Sekadar Aturan, tetapi Pertaruhan Kedaulatan Ekonomi Indonesia
  • Mengapa Dolar Singapura Sering Muncul dalam Kasus Dugaan Suap Impor di Tanjung Priok?
  • RI STOP IMPOR LPG: Mimpi Besar Kedaulatan Energi atau Taruhan Ekonomi Nasional?
  • Jual Beli Dapur MBG Berujung Bui? Ketika Program untuk Anak Bangsa Tersandera Konflik Kepentingan
  • Mulai Terjadi! CNG Gantikan LPG di Rembang
  • Rupiah Kuat, Indonesia Hebat: Mengapa Target Rp15.000 Layak Diperjuangkan
  • Percepatan 13 Proyek Hilirisasi: Langkah Indonesia Menuju Negara Industri Modern
  • Strategi Kilat Menaikkan Rupiah 15.000 Sebelum Akhir Tahun 2026
  • Prabowo Diam-Diam Siapkan 400 Calon Bos BUMN Masa Depan, Siapa Saja Orangnya?
  • Tata Kelola Ekspor Satu Pintu Mulai 1 Juni 2026, Pemerintah Tegaskan Tidak Ditunda
  • GARA GARA AMERIKA!
  • Prabowo Umumkan Skema Ekspor SDA Satu Pintu melalui BUMN, Ini Detailnya
  • Bagaimana Kalau Akhir Tahun 2026 Rupiah Menguat Menjadi Rp 10.500 per USD?
  • Danantara: Harapan Baru Kedaulatan Ekonomi Indonesia
  • BI Rate Naik Jadi 5,25%. Rupiah Menguat, Investor Mulai Melihat Indonesia Lebih Stabil
  • Kesimpulan Pidato Presiden Prabowo Subianto Hari Ini: Dugaan Permainan Ekspor Mulai Disorot
  • Kurangi Ketergantungan Impor: Saatnya Menyelidiki Dugaan Permainan Impor
  • Prabowo Perkuat Tata Kelola Ekspor Nasional Lewat BUMN
  • Jika Inflasi dan Deflasi Bertemu: Apa Sebenarnya yang Terjadi?
  • Kenaikan Dolar Tidak Mempengaruhi Desa di Indonesia
  • Jika Jembatan Selat Sunda Benar-Benar Dibangun, Dampaknya Bisa Sangat Besar bagi Indonesia
  • Rupiah Melemah, Ekspor Menguat? Memahami Realita Ekonomi Indonesia
  • Faktor Penyebab Rupiah Melemah di Saat Ekonomi Indonesia Melesat Naik
  • Rupiah Tidak Takut 1998---Ia Takut Kita Kehilangan Kepercayaan
  • Peta “Kebocoran Ekonomi” Paling Mahal di Indonesia
  • Harusnya Apa yang Perlu Dilakukan Bank Indonesia?
  • TIDAK ADA ALASAN UNTUK DEMO TURUN KE JALAN MEMPROTES PEMERINTAH
  • Surplus Perdagangan Tinggi, Mengapa Rasa Aman Belum Terbangun?
  • Bukan Soal Chaos—Tapi Soal Siapa yang Tumbang Lebih Dulu
  • Menyibak Visi dan Misi Sang Menkeu: Arah Kebijakan yang Menentukan Akhir Cerita Ekonomi Indonesia
  • Dunia Nyata - Ekonomi Internasional

Pencarian E-DDC 23
Electronic Dewey Decimal Classification untuk Perpustakaan