View : 95 kali.
Home >
Opinion
Kategori: About Me
Selasa, 09 Juni 2026

Oleh: Murdan SianturiSaya lahir pada 10 Februari 1969. Masa kecil saya tumbuh di tengah hamparan sawah di Labuhan Batu. Tepatnya di desa Kampung Beringin Desa Sennah Labuhan Batu Sumatera Utara. Saat itu, sawah bukan sekadar tempat menanam padi. Sawah adalah kehidupan. Sawah adalah sekolah. Sawah adalah taman bermain. Sawah adalah sumber makanan. Sawah adalah dunia kami.
Ketika Hutan Menjadi Sawah
Saya masih ingat bagaimana sawah-sawah itu dibuka.
Awalnya bukan hamparan padi yang terlihat, melainkan semak belukar, pohon-pohon liar, dan lahan yang belum tersentuh. Bersama orang tua dan para petani lainnya, kami menebang pohon, membersihkan semak, mengumpulkan ranting-ranting, lalu membakarnya.
Setelah lahan bersih, pekerjaan berikutnya dimulai.
Tanah dicangkul dan dibalik menggunakan alat sederhana yang kami kenal dengan nama tajak. Alat itu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan petani saat itu. Dengan tajak, tanah yang keras perlahan berubah menjadi lahan yang siap ditanami.
Tidak ada traktor. Tidak ada mesin modern. Yang ada hanyalah tenaga manusia, semangat gotong royong, dan keyakinan bahwa tanah akan memberi kehidupan jika dirawat dengan baik.
Sekolah Kehidupan Bernama Sawah
Sawah mengajarkan banyak hal yang tidak pernah diajarkan di ruang kelas.
Saya ikut menanam bibit padi satu per satu. Saya ikut memupuk tanaman. Saya ikut menyemprot hama. Saya melihat bagaimana para petani harus sabar menunggu berbulan-bulan sampai bulir padi mulai menguning.
Ketika bulir mulai keluar, datanglah musuh yang selalu ditakuti petani: burung pipit.
Saat itulah anak-anak desa mendapat tugas penting.
Kami menjaga sawah sejak pagi hingga sore. Membawa kaleng bekas, memukul-mukulnya agar menimbulkan suara keras. Kadang menarik tali yang dihubungkan ke plastik atau bambu agar bergerak tertiup angin dan menakuti burung.
Bagi kami, itu bukan beban. Itu adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.
Di situlah saya belajar bahwa setiap butir beras yang sampai ke meja makan lahir dari kerja keras yang panjang.
Ketika Sawah Masih Penuh Ikan
Salah satu kenangan terindah masa kecil saya adalah ketika sawah masih penuh dengan kehidupan.
Di sela-sela tanaman padi hidup ikan betok, ikan gabus, belut, udang kecil, dan berbagai jenis ikan lainnya.
Setelah pulang sekolah, saya sering membawa sebatang bambu panjang yang dijadikan pancing. Dengan peralatan sederhana itu, saya menyusuri pematang sawah, parit, dan saluran air untuk mencari ikan.
Menunggu pelampung bergerak perlahan lalu tiba-tiba tenggelam merupakan kegembiraan yang sulit dijelaskan.
Terlebih ketika yang menyambar umpan adalah ikan betok besar atau ikan gabus yang terkenal kuat saat melawan.
Bagi anak desa saat itu, tidak ada permainan yang lebih menyenangkan daripada itu.
Berburu Umpan di Malam Hari
Kalau ingin memancing ikan besar keesokan harinya, pekerjaan sebenarnya sudah dimulai sejak malam.
Berbekal sebuah senter, saya berjalan menyusuri kebun dan pematang sawah yang gelap.
Suara jangkrik terdengar dari segala arah. Kadang terdengar suara katak dari kejauhan.
Saya mencari katak yang bersembunyi di sela-sela bongkahan tanah kebun. Ketika cahaya senter mengenai matanya yang berkilau, saya segera menangkapnya.
Katak merupakan umpan favorit untuk ikan gabus besar.
Selain katak, saya juga mencari belalang merah yang di kampung kami disebut si mera ni altong.
Altong adalah umpan kesukaan ikan betok besar. Tidak mudah menangkapnya. Kami harus bergerak cepat sebelum belalang itu meloncat dan menghilang di antara rerumputan.
Malam-malam seperti itu kini terasa seperti mimpi yang jauh.
Namun hingga hari ini, saya masih bisa merasakan suasana gelapnya kebun, suara serangga malam, dan semangat seorang anak kecil yang sedang berburu umpan untuk memancing esok pagi.
Burung Ruak-Ruak dan Ubi Talas Liar
Sawah tidak hanya memberi padi dan ikan.
Sawah juga menyediakan banyak sumber makanan lainnya.
Di daerah kami terdapat burung yang dikenal dengan nama ruak-ruak. Burung ini sering ditemukan di area persawahan dan rawa-rawa.
Bagi anak-anak desa saat itu, menangkap ruak-ruak adalah tantangan tersendiri. Dagingnya dikenal enak dan sering menjadi lauk tambahan bagi keluarga.
Selain itu, di beberapa bagian sawah dan lahan basah tumbuh ubi talas liar.
Kami mencabutnya langsung dari tanah yang lembek lalu membawanya pulang untuk dimasak.
Saat itu kami tidak mengenal istilah pangan organik, ketahanan pangan, atau keberlanjutan lingkungan.
Kami hanya hidup berdampingan dengan alam dan memanfaatkan apa yang disediakannya.
Ketika Wereng Datang
Sekitar tahun 1982, ketika saya baru memasuki kelas 1 SMP, para petani di daerah kami mulai menghadapi ancaman yang sebelumnya tidak terlalu kami kenal: hama wereng.
Saya masih ingat bagaimana sawah-sawah yang selama bertahun-tahun tampak hijau dan subur perlahan berubah karena serangan hama tersebut. Tanaman padi yang sebelumnya menjanjikan panen yang baik mulai menguning, layu, dan rusak.
Bagi anak-anak desa seperti saya saat itu, wereng mungkin hanya terlihat sebagai serangga kecil yang menempel di batang padi. Namun bagi para petani, wereng adalah ancaman yang dapat menghilangkan hasil kerja keras selama berbulan-bulan.
Penyemprotan pestisida mulai dilakukan lebih sering. Para petani berusaha menyelamatkan tanaman mereka dengan segala cara yang mereka ketahui. Saat itu kami belum memahami apa yang disebut keseimbangan ekosistem atau pengendalian hama terpadu. Kami hanya tahu satu hal: padi harus diselamatkan agar keluarga tetap memiliki hasil panen.
Kini, setelah puluhan tahun berlalu, saya baru menyadari bahwa apa yang terjadi di kampung kami bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Pada periode yang sama, banyak daerah pertanian di Indonesia juga menghadapi ledakan hama wereng yang menjadi tantangan besar bagi petani padi.
Bagi saya pribadi, peristiwa itu menjadi salah satu kenangan yang menandai perubahan zaman. Dari sawah yang penuh ikan dan kehidupan, kami mulai mengenal ancaman baru yang menguji ketahanan para petani.
Panen yang Menjadi Pesta
Meski penuh tantangan, musim panen selalu menjadi saat yang paling membahagiakan.
Padi dipotong menggunakan sabit.
Ikatan-ikatan padi dikumpulkan menjadi tumpukan besar.
Kemudian gabah dirontokkan dengan cara yang mungkin sudah tidak dikenal oleh banyak orang sekarang.
Kami menggunakan sebuah meja sederhana yang dibuat dari bambu-bambu yang disusun berjajar dan diberi celah.
Ikatan padi dibanting berkali-kali ke bambu tersebut hingga gabah berjatuhan.
Suara benturan padi dengan bambu menjadi musik khas musim panen.
Tidak ada mesin.
Tidak ada teknologi canggih.
Namun ada rasa syukur yang besar setiap kali melihat hasil panen terkumpul.
Ketika Sawah Berganti Sawit
Hari ini, banyak sawah yang dahulu menjadi bagian dari masa kecil saya telah berubah menjadi kebun kelapa sawit.
Secara ekonomi, perubahan itu dapat dipahami.
Sawit memberikan penghasilan yang menjanjikan bagi banyak keluarga.
Namun setiap perubahan selalu membawa kehilangan.
Ketika sawah menghilang, ikan-ikan ikut menghilang.
Burung-burung semakin jarang terlihat.
Anak-anak tidak lagi mencari belalang merah untuk umpan pancing.
Malam-malam berburu katak dengan senter menjadi cerita yang perlahan dilupakan.
Dan suara katak yang dahulu memenuhi malam pedesaan semakin jarang terdengar.
Kenangan yang Tidak Boleh Hilang
Saya tidak menolak kemajuan.
Saya memahami bahwa zaman berubah dan masyarakat harus berkembang.
Namun saya percaya bahwa generasi muda perlu mengetahui dari mana mereka berasal.
Mereka perlu tahu bahwa nasi yang mereka makan setiap hari lahir dari kerja keras yang luar biasa.
Mereka perlu tahu bahwa Indonesia pernah memiliki desa-desa yang hidup begitu dekat dengan alam.
Dan mereka perlu tahu bahwa di balik hamparan kebun sawit yang berdiri hari ini, pernah ada sawah-sawah yang penuh ikan, penuh burung, penuh lumpur, dan penuh kehidupan.
Sawah itu mungkin telah berubah.
Ikan-ikan itu mungkin telah menghilang.
Namun kenangannya tetap hidup.
Karena sebagian dari diri saya akan selalu tinggal di pematang sawah Labuhan Batu, bersama bambu pancing yang sederhana, suara burung di pagi hari, cahaya senter di malam gelap, dan harapan seorang anak petani yang tumbuh bersama alam.
Dari Sawah ke Sawit: Kenangan Seorang Anak Petani di Labuhan Batu
Selasa, 09 Juni 2026
Dari Sawah ke Sawit: Kenangan Seorang Anak Petani di Labuhan Batu

Anak petani di sawah Labuhan Batu memancing ikan dengan bambu, berburu katak pada malam hari, dan mengenang perubahan hamparan sawah menjadi perkebunan kelapa sawit.
Oleh: Murdan SianturiSaya lahir pada 10 Februari 1969. Masa kecil saya tumbuh di tengah hamparan sawah di Labuhan Batu. Tepatnya di desa Kampung Beringin Desa Sennah Labuhan Batu Sumatera Utara. Saat itu, sawah bukan sekadar tempat menanam padi. Sawah adalah kehidupan. Sawah adalah sekolah. Sawah adalah taman bermain. Sawah adalah sumber makanan. Sawah adalah dunia kami.
Hari ini, ketika saya melihat banyak lahan yang dahulu menjadi sawah telah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit, ingatan saya kembali melayang ke puluhan tahun yang lalu, ketika kehidupan berjalan begitu dekat dengan alam.
Baca Juga:
Ketika Hutan Menjadi Sawah
Saya masih ingat bagaimana sawah-sawah itu dibuka.
Awalnya bukan hamparan padi yang terlihat, melainkan semak belukar, pohon-pohon liar, dan lahan yang belum tersentuh. Bersama orang tua dan para petani lainnya, kami menebang pohon, membersihkan semak, mengumpulkan ranting-ranting, lalu membakarnya.
Setelah lahan bersih, pekerjaan berikutnya dimulai.
Tanah dicangkul dan dibalik menggunakan alat sederhana yang kami kenal dengan nama tajak. Alat itu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan petani saat itu. Dengan tajak, tanah yang keras perlahan berubah menjadi lahan yang siap ditanami.
Tidak ada traktor. Tidak ada mesin modern. Yang ada hanyalah tenaga manusia, semangat gotong royong, dan keyakinan bahwa tanah akan memberi kehidupan jika dirawat dengan baik.
Sekolah Kehidupan Bernama Sawah
Sawah mengajarkan banyak hal yang tidak pernah diajarkan di ruang kelas.
Saya ikut menanam bibit padi satu per satu. Saya ikut memupuk tanaman. Saya ikut menyemprot hama. Saya melihat bagaimana para petani harus sabar menunggu berbulan-bulan sampai bulir padi mulai menguning.
Ketika bulir mulai keluar, datanglah musuh yang selalu ditakuti petani: burung pipit.
Saat itulah anak-anak desa mendapat tugas penting.
Kami menjaga sawah sejak pagi hingga sore. Membawa kaleng bekas, memukul-mukulnya agar menimbulkan suara keras. Kadang menarik tali yang dihubungkan ke plastik atau bambu agar bergerak tertiup angin dan menakuti burung.
Bagi kami, itu bukan beban. Itu adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.
Di situlah saya belajar bahwa setiap butir beras yang sampai ke meja makan lahir dari kerja keras yang panjang.
Ketika Sawah Masih Penuh Ikan
Salah satu kenangan terindah masa kecil saya adalah ketika sawah masih penuh dengan kehidupan.
Di sela-sela tanaman padi hidup ikan betok, ikan gabus, belut, udang kecil, dan berbagai jenis ikan lainnya.
Setelah pulang sekolah, saya sering membawa sebatang bambu panjang yang dijadikan pancing. Dengan peralatan sederhana itu, saya menyusuri pematang sawah, parit, dan saluran air untuk mencari ikan.
Menunggu pelampung bergerak perlahan lalu tiba-tiba tenggelam merupakan kegembiraan yang sulit dijelaskan.
Terlebih ketika yang menyambar umpan adalah ikan betok besar atau ikan gabus yang terkenal kuat saat melawan.
Bagi anak desa saat itu, tidak ada permainan yang lebih menyenangkan daripada itu.
Berburu Umpan di Malam Hari
Kalau ingin memancing ikan besar keesokan harinya, pekerjaan sebenarnya sudah dimulai sejak malam.
Berbekal sebuah senter, saya berjalan menyusuri kebun dan pematang sawah yang gelap.
Suara jangkrik terdengar dari segala arah. Kadang terdengar suara katak dari kejauhan.
Saya mencari katak yang bersembunyi di sela-sela bongkahan tanah kebun. Ketika cahaya senter mengenai matanya yang berkilau, saya segera menangkapnya.
Katak merupakan umpan favorit untuk ikan gabus besar.
Selain katak, saya juga mencari belalang merah yang di kampung kami disebut si mera ni altong.
Altong adalah umpan kesukaan ikan betok besar. Tidak mudah menangkapnya. Kami harus bergerak cepat sebelum belalang itu meloncat dan menghilang di antara rerumputan.
Malam-malam seperti itu kini terasa seperti mimpi yang jauh.
Namun hingga hari ini, saya masih bisa merasakan suasana gelapnya kebun, suara serangga malam, dan semangat seorang anak kecil yang sedang berburu umpan untuk memancing esok pagi.
Burung Ruak-Ruak dan Ubi Talas Liar
Sawah tidak hanya memberi padi dan ikan.
Sawah juga menyediakan banyak sumber makanan lainnya.
Di daerah kami terdapat burung yang dikenal dengan nama ruak-ruak. Burung ini sering ditemukan di area persawahan dan rawa-rawa.
Bagi anak-anak desa saat itu, menangkap ruak-ruak adalah tantangan tersendiri. Dagingnya dikenal enak dan sering menjadi lauk tambahan bagi keluarga.
Selain itu, di beberapa bagian sawah dan lahan basah tumbuh ubi talas liar.
Kami mencabutnya langsung dari tanah yang lembek lalu membawanya pulang untuk dimasak.
Saat itu kami tidak mengenal istilah pangan organik, ketahanan pangan, atau keberlanjutan lingkungan.
Kami hanya hidup berdampingan dengan alam dan memanfaatkan apa yang disediakannya.
Ketika Wereng Datang
Sekitar tahun 1982, ketika saya baru memasuki kelas 1 SMP, para petani di daerah kami mulai menghadapi ancaman yang sebelumnya tidak terlalu kami kenal: hama wereng.
Saya masih ingat bagaimana sawah-sawah yang selama bertahun-tahun tampak hijau dan subur perlahan berubah karena serangan hama tersebut. Tanaman padi yang sebelumnya menjanjikan panen yang baik mulai menguning, layu, dan rusak.
Bagi anak-anak desa seperti saya saat itu, wereng mungkin hanya terlihat sebagai serangga kecil yang menempel di batang padi. Namun bagi para petani, wereng adalah ancaman yang dapat menghilangkan hasil kerja keras selama berbulan-bulan.
Penyemprotan pestisida mulai dilakukan lebih sering. Para petani berusaha menyelamatkan tanaman mereka dengan segala cara yang mereka ketahui. Saat itu kami belum memahami apa yang disebut keseimbangan ekosistem atau pengendalian hama terpadu. Kami hanya tahu satu hal: padi harus diselamatkan agar keluarga tetap memiliki hasil panen.
Kini, setelah puluhan tahun berlalu, saya baru menyadari bahwa apa yang terjadi di kampung kami bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Pada periode yang sama, banyak daerah pertanian di Indonesia juga menghadapi ledakan hama wereng yang menjadi tantangan besar bagi petani padi.
Bagi saya pribadi, peristiwa itu menjadi salah satu kenangan yang menandai perubahan zaman. Dari sawah yang penuh ikan dan kehidupan, kami mulai mengenal ancaman baru yang menguji ketahanan para petani.
Panen yang Menjadi Pesta
Meski penuh tantangan, musim panen selalu menjadi saat yang paling membahagiakan.
Padi dipotong menggunakan sabit.
Ikatan-ikatan padi dikumpulkan menjadi tumpukan besar.
Kemudian gabah dirontokkan dengan cara yang mungkin sudah tidak dikenal oleh banyak orang sekarang.
Kami menggunakan sebuah meja sederhana yang dibuat dari bambu-bambu yang disusun berjajar dan diberi celah.
Ikatan padi dibanting berkali-kali ke bambu tersebut hingga gabah berjatuhan.
Suara benturan padi dengan bambu menjadi musik khas musim panen.
Tidak ada mesin.
Tidak ada teknologi canggih.
Namun ada rasa syukur yang besar setiap kali melihat hasil panen terkumpul.
Ketika Sawah Berganti Sawit
Hari ini, banyak sawah yang dahulu menjadi bagian dari masa kecil saya telah berubah menjadi kebun kelapa sawit.
Secara ekonomi, perubahan itu dapat dipahami.
Sawit memberikan penghasilan yang menjanjikan bagi banyak keluarga.
Namun setiap perubahan selalu membawa kehilangan.
Ketika sawah menghilang, ikan-ikan ikut menghilang.
Burung-burung semakin jarang terlihat.
Anak-anak tidak lagi mencari belalang merah untuk umpan pancing.
Malam-malam berburu katak dengan senter menjadi cerita yang perlahan dilupakan.
Dan suara katak yang dahulu memenuhi malam pedesaan semakin jarang terdengar.
Kenangan yang Tidak Boleh Hilang
Saya tidak menolak kemajuan.
Saya memahami bahwa zaman berubah dan masyarakat harus berkembang.
Namun saya percaya bahwa generasi muda perlu mengetahui dari mana mereka berasal.
Mereka perlu tahu bahwa nasi yang mereka makan setiap hari lahir dari kerja keras yang luar biasa.
Mereka perlu tahu bahwa Indonesia pernah memiliki desa-desa yang hidup begitu dekat dengan alam.
Dan mereka perlu tahu bahwa di balik hamparan kebun sawit yang berdiri hari ini, pernah ada sawah-sawah yang penuh ikan, penuh burung, penuh lumpur, dan penuh kehidupan.
Sawah itu mungkin telah berubah.
Ikan-ikan itu mungkin telah menghilang.
Namun kenangannya tetap hidup.
Karena sebagian dari diri saya akan selalu tinggal di pematang sawah Labuhan Batu, bersama bambu pancing yang sederhana, suara burung di pagi hari, cahaya senter di malam gelap, dan harapan seorang anak petani yang tumbuh bersama alam.
Dari Sawah ke Sawit: Kenangan Seorang Anak Petani di Labuhan Batu
NEXT:
Rupiah Tembus Rp17.967 per Dolar AS: Peran Investor SRBI dalam Mendorong Kenaikan Nilai Tukar
PREV:
