Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
☰
  • Home
  • Opini
  • Kuliah ▼
  • Publikasi ▼
  • SINTA
  • Scholar
  • About Me
  • Labuhan Batu
  • Login

View : 183 kali.

Bagikan:
Home > Cerpen Pak Murdan
Rabu, 05 Maret 2025

Demo, Emas, dan Surat Lolly


Suatu pagi yang cerah, Budi, mahasiswa tingkat akhir yang hobi demo, bangun dengan wajah semringah. Bukan karena skripsinya selesai, tapi karena hari ini ada demonstrasi besar-besaran menolak Inpres 1/2025!

"Ini saatnya aku tampil di TV!" batinnya. Sejak kecil, Budi bercita-cita terkenal, tapi sayangnya bakatnya hanya di bidang makan mie instan dalam waktu 30 detik.

Dengan semangat, ia berangkat ke lokasi demo. Ribuan mahasiswa berkumpul, teriak-teriak, ada yang bawa spanduk, ada yang sibuk selfie. Di tengah kerumunan, Budi melihat temannya, Siti, yang sedang makan gorengan dengan sangat khusyuk.

"Sit, ini demo, bukan buka puasa bersama," ujar Budi.

"Ya terus? Mau demo perut kosong? Bisa-bisa aku demo di rumah sakit!" balas Siti sambil menggigit tempe mendoan.

Saat orasi sedang memanas, tiba-tiba muncul berita terbaru di HP Budi: "Harga emas Antam mencetak rekor tertinggi!"

Budi langsung teringat, dia pernah membeli emas segram seharga Rp 700 ribu waktu masih punya pacar (yang sekarang sudah jadi pacar orang lain). Sekarang harga emas naik jadi Rp 1.709.000 per gram! Mata Budi berbinar.

"Kalau kujual sekarang, bisa buat beli motor bekas!" pikirnya. Ia langsung meninggalkan demo, lari ke toko emas terdekat. Namun di tengah jalan, ia malah nyasar ke pengadilan, tempat sidang Nikita Mirzani berlangsung.

Saat kebingungan, tiba-tiba seorang gadis remaja mendekatinya. "Mas, tolong dong, ini surat buat mama aku!" katanya.

"Mama kamu siapa?" tanya Budi.

"Nikita Mirzani!" jawab gadis itu serius.

Budi melongo. "Lah, aku ini mahasiswa, bukan kurir!"

"Ayolah, Mas, demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia!"

Teringat kata-kata dosennya tentang pentingnya kepedulian sosial, Budi akhirnya setuju. Dia membawa surat itu ke meja sidang. Begitu sampai, seorang pengacara melihat Budi dan langsung berteriak, "Ini tersangka baru ya? Kok masuk nggak pakai izin?!"

"Bukan, Pak, saya cuma mahasiswa yang nyasar!" jawab Budi panik.

Hakim pun menatapnya dengan curiga. "Baiklah, kalau begitu, kamu bersaksi di sini!"

Dan begitulah, Budi yang niatnya mau demo malah berakhir jadi saksi dadakan di sidang artis, sementara harga emas yang ingin ia jual keburu turun lagi.

Sungguh hari yang luar biasa bagi seorang mahasiswa pejuang demo!


Demo, Emas, dan Surat Lolly








NEXT:

Ide untuk Hentikan Tawuran


PREV:

Ganjil-Genap: Misi Pak Budi Menghindari Polisi

Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom., adalah dosen dan penulis opini yang mengajar Bisnis Digital dan Akuntansi di STIE Mulia Pratama Bekasi. Ia aktif menulis tentang teknologi, perubahan sosial, geopolitik, dan refleksi iman di tengah dinamika dunia modern.
About me selengkapnya...





Pencarian E-DDC 23
Electronic Dewey Decimal Classification untuk Perpustakaan