View : 44 kali.
Home >
Opinion
Sabtu, 05 September 2026

Suara dentuman terdengar berulang. Bukan sekadar bunyi keras seperti petasan atau suara kendaraan. Sejumlah warga bahkan melaporkan pintu dan kaca rumah ikut bergetar.
Pertanyaannya sederhana tetapi menarik:
Kalau bukan gempa, sebenarnya suara apa yang membuat begitu banyak orang mendengarnya?
Sampai saat ini, jawabannya belum bisa disebut 100 persen pasti.
Namun, perkembangan informasi dari lembaga pemerintah memberikan dua petunjuk penting: fenomena atmosfer yang dikenal sebagai skyquake dan kemungkinan energi akustik dari erupsi Gunung anak krakatau.
Di sinilah kita perlu membedakan antara apa yang sudah diketahui, apa yang diduga, dan apa yang masih menjadi misteri.
Tidak Ada gempa yang Menjelaskan Dentuman
Langkah pertama dalam mencari penyebab sebuah dentuman adalah melihat apakah pada waktu yang sama terjadi gempa bumi.
Menurut bmkg, berdasarkan pemeriksaan data kegempaan, pada Sabtu 5 September 2026 pukul 00.00--05.00 WIB tidak tercatat aktivitas gempa di bandung dan sekitarnya yang dapat menjelaskan suara tersebut.
Aktivitas petir juga diperiksa menggunakan Lightning Detector. Memang terdapat petir, tetapi intensitasnya rendah dan tidak menunjukkan pola signifikan yang dapat dikaitkan dengan dentuman.
Dengan demikian, untuk sementara dentuman tersebut tidak memiliki karakteristik sebagai suara akibat gempa bumi ataupun petir yang signifikan.
Ini penting.
Sebab suara "BOOM" yang terdengar manusia tidak otomatis berarti gempa.
gempa bumi menghasilkan gelombang seismik yang merambat melalui tanah. Sementara dentuman dapat berasal dari gelombang tekanan di atmosfer yang kemudian sampai ke telinga manusia.
Dua mekanisme tersebut berbeda.
Lalu Apa Itu skyquake?
bmkg menyebut salah satu dugaan sementara adalah fenomena yang sering disebut skyquake atau "gempa langit".
Istilah ini sebenarnya agak menyesatkan.
skyquake bukan berarti langit benar-benar mengalami gempa.
Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan kejadian ketika masyarakat mendengar suara dentuman atau ledakan dari arah langit, tetapi sumbernya tidak segera dapat diketahui.
Fenomena seperti ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Laporan mengenai suara dentuman misterius telah muncul di berbagai tempat di dunia.
Secara ilmiah, sumbernya dapat bermacam-macam.
Misalnya:
sonic boom dari pesawat yang bergerak sangat cepat,
meteor atau bolide yang meledak di atmosfer,
ledakan,
aktivitas industri,
aktivitas militer,
fenomena atmosfer,
atau sumber vulkanik yang energinya merambat sangat jauh.
US Geological Survey menjelaskan bahwa suara seperti boom yang tidak disertai rekaman gempa yang sesuai dapat mengarah pada sumber atmosfer. Kondisi atmosfer, termasuk inversi temperatur dan angin permukaan yang tenang, juga dapat membuat suara merambat lebih jauh daripada biasanya.
Jadi, "skyquake" bukan jawaban akhir. Ia lebih tepat disebut kategori fenomena ketika kita mendengar dentuman tetapi sumbernya belum dapat dipastikan.
Tetapi Ada Petunjuk yang Jauh Lebih Menarik: anak krakatau
Pada waktu yang hampir bersamaan, terjadi aktivitas erupsi menerus Gunung anak krakatau di Selat Sunda.
badan geologi mencatat fenomena erupsi menerus Gunung anak krakatau pada 5 September 2026.
Di sinilah muncul kemungkinan kedua.
Apakah suara dentuman di bandung-sumedang berkaitan dengan erupsi anak krakatau?
Kemungkinannya ada. Tetapi hubungan tersebut masih harus dibuktikan dengan pencocokan data.
Kepala PVMBG Rita Susilawati menjelaskan bahwa energi akustik dari erupsi gunung api dapat merambat hingga ratusan kilometer.
Artinya, secara fisika, bukan sesuatu yang mustahil apabila energi suara dari sebuah erupsi terdengar sangat jauh dari sumbernya.
Ini bukan teori yang muncul begitu saja.
Indonesia memiliki pengalaman sebelumnya.
Saat erupsi eksplosif Gunung Kelud pada 13 Februari 2014, suara dentumannya dilaporkan terdengar di sejumlah wilayah yang jauh dari gunung tersebut. PVMBG menjelaskan bahwa erupsi dengan pelepasan energi sangat besar dapat menghasilkan energi akustik yang merambat jauh.
Bagaimana Suara Gunung Bisa Sampai Ratusan Kilometer?
Ini bagian yang menarik secara ilmiah.
Bayangkan sebuah erupsi seperti sumber suara yang sangat besar.
Ketika gas vulkanik bertekanan tinggi dilepaskan secara cepat, terjadi perubahan tekanan yang menghasilkan gelombang akustik.
Secara sederhana:
tekanan tinggi → pelepasan energi cepat → gelombang tekanan → merambat melalui atmosfer → terdengar sebagai dentuman
badan geologi menyebut dua mekanisme yang dapat menghasilkan energi akustik dalam aktivitas anak krakatau, yaitu ekspansi cepat pelepasan gas serta gesekan dan turbulensi aliran lava berkecepatan tinggi di dalam konduit atau saluran kepundan.
Namun, mengapa suara itu bisa terdengar sangat jauh?
Jawabannya salah satunya adalah atmosfer.
Atmosfer Bukan Ruang Kosong
Kita sering membayangkan suara merambat lurus seperti garis dari sumber ke pendengar.
Dalam kenyataan, atmosfer jauh lebih kompleks.
Temperatur udara berubah menurut ketinggian. Kecepatan dan arah angin juga berubah.
Perubahan tersebut dapat memengaruhi kecepatan dan arah rambat suara.
Pada kondisi tertentu, gelombang suara dapat mengalami refraksi, yaitu pembelokan arah rambat karena kondisi atmosfer.
Akibatnya, suara yang seharusnya melemah dengan cepat dapat tetap terdengar pada jarak yang jauh.
USGS juga menjelaskan bahwa inversi temperatur dan kondisi angin tertentu dapat membuat suara merambat lebih jauh dari kondisi normal.
Jadi, kalau seseorang di bandung mendengar suara yang sumbernya berada sangat jauh, secara fisika hal tersebut bukan sesuatu yang mustahil.
Mengapa Kaca dan Pintu Bisa Ikut Bergetar?
Ini juga menarik.
Suara pada dasarnya adalah gelombang tekanan.
Ketika gelombang tekanan cukup kuat mencapai sebuah bangunan, sebagian energi dapat menyebabkan benda-benda ringan atau permukaan seperti kaca dan pintu mengalami getaran.
Karena itu, laporan warga mengenai kaca atau pintu yang bergetar tidak otomatis berarti tanah sedang mengalami gempa.
Benda dapat bergetar karena gelombang tekanan udara.
Tetapi tingkat getaran tersebut juga perlu diukur secara objektif. Kesaksian masyarakat sangat penting sebagai informasi awal, tetapi belum cukup untuk menentukan sumbernya.
Bagaimana dengan Sonic Boom?
Ada kemungkinan lain yang secara ilmiah juga masuk akal: sonic boom.
Sonic boom terjadi ketika sebuah benda, biasanya pesawat, bergerak melebihi kecepatan suara sehingga menghasilkan gelombang kejut.
USGS menjelaskan bahwa sonic boom dapat menghasilkan bunyi seperti ledakan atau dentuman. Dalam kondisi atmosfer tertentu, suara tersebut dapat merambat jauh.
Namun, untuk kasus bandung-sumedang, kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah pesawat.
Diperlukan data penerbangan, aktivitas pesawat di wilayah tersebut, karakter suara, waktu kejadian, serta pola penyebaran suara.
Tanpa data itu, sonic boom tetap hanya salah satu kemungkinan.
Bagaimana dengan Meteor?
Kemungkinan meteor juga menarik.
Benda langit yang memasuki atmosfer dengan kecepatan sangat tinggi dapat mengalami tekanan dan pemanasan ekstrem. Benda yang cukup besar dapat pecah atau meledak di atmosfer dan menghasilkan suara keras.
Fenomena seperti ini dikenal antara lain sebagai bolide.
USGS mencatat bahwa ledakan meteor atau bolide dapat menghasilkan suara serta kadang disertai laporan cahaya terang di langit dan efek getaran di permukaan.
Tetapi lagi-lagi, belum ada bukti yang cukup untuk mengatakan bahwa dentuman bandung berasal dari meteor.
Kalau memang meteor menjadi penyebabnya, biasanya akan sangat membantu apabila ada laporan mengenai kilatan cahaya, jejak meteor, atau rekaman kamera langit pada waktu yang sama.
Mengapa Saya Lebih Hati-Hati Menyebut "skyquake"?
Karena ada perbedaan menarik antara dua lembaga yang sedang melihat masalah ini dari sudut berbeda.
bmkg, berdasarkan data kegempaan dan petir, menyebut skyquake sebagai dugaan sementara.
Sementara PVMBG/badan geologi melihat adanya kemungkinan hubungan dengan erupsi anak krakatau dan menjelaskan bahwa energi akustik erupsi dapat merambat hingga ratusan kilometer.
Menurut saya, kedua informasi tersebut sebenarnya tidak harus dianggap bertentangan.
Mengapa?
Karena erupsi anak krakatau bisa saja menjadi sumber energi, sedangkan cara energi tersebut sampai terdengar di bandung dapat merupakan fenomena atmosfer.
Dengan kata lain:
Sumbernya mungkin vulkanik, tetapi jalur perambatannya atmosferik.
Inilah hipotesis yang menurut saya paling menarik untuk diuji.
Yang Dibutuhkan Sekarang Bukan Spekulasi, tetapi Pencocokan Data
Untuk memastikan penyebab dentuman, para ahli perlu mencocokkan beberapa data sekaligus:
Waktu persis dentuman
Lokasi warga yang mendengar suara
Data erupsi anak krakatau
Data tekanan udara
Profil temperatur atmosfer
Kecepatan dan arah angin pada berbagai ketinggian
Data seismograf
Data sensor infrasonik jika tersedia
Data aktivitas pesawat
Rekaman video atau audio dari masyarakat
Kalau waktu erupsi anak krakatau dan waktu dentuman memiliki pola yang konsisten, kemudian model atmosfer menunjukkan jalur rambat suara dari Selat Sunda menuju jawa barat, hipotesis vulkanik akan semakin kuat.
Sebaliknya, kalau waktunya tidak cocok, maka kita harus kembali mencari sumber lain.
Begitulah seharusnya misteri ilmiah diselesaikan: bukan dengan siapa yang paling cepat membuat kesimpulan, tetapi siapa yang memiliki data paling kuat.
Jangan Langsung Menghubungkannya dengan gempa Besar
Hal yang juga perlu disampaikan kepada masyarakat adalah: dentuman ini tidak boleh langsung dianggap sebagai tanda akan terjadi gempa besar.
bmkg tidak menemukan aktivitas gempa di bandung dan sekitarnya pada periode yang diperiksa yang dapat menjelaskan kejadian tersebut.
Memang Indonesia berada di wilayah yang sangat aktif secara tektonik dan vulkanik. Tetapi fakta bahwa sebuah wilayah mendengar dentuman tidak otomatis berarti akan terjadi gempa besar setelahnya.
Masyarakat sebaiknya tetap mengikuti informasi resmi bmkg dan badan geologi, bukan ramalan yang beredar di media sosial.
Misterinya Justru Membuka Pelajaran sains
Menurut saya, kejadian bandung-sumedang ini menarik bukan hanya karena suaranya keras.
Ia memperlihatkan sesuatu yang sering tidak kita sadari:
Bumi dan atmosfer adalah satu sistem yang sangat kompleks.
Sebuah energi yang dilepaskan di satu tempat dapat menghasilkan efek yang dirasakan jauh di tempat lain.
Gunung berada di bumi.
Tetapi energinya dapat masuk ke atmosfer.
Atmosfer kemudian membawa gelombang tekanan.
Dan akhirnya manusia di tempat yang sangat jauh dapat mendengar suara tersebut.
Itulah sebabnya kita tidak boleh terburu-buru mengatakan:
"Kalau tidak ada gempa, berarti tidak ada fenomena alam."
Bisa jadi justru fenomenanya terjadi di antara bumi dan atmosfer, dan instrumen yang biasa kita gunakan untuk mendeteksi gempa memang bukan alat yang paling tepat untuk menjelaskan seluruh peristiwa tersebut.
Kesimpulan
Lalu, dentuman misterius bandung-sumedang itu sebenarnya suara apa?
Untuk saat ini, jawaban paling jujur adalah:
belum dapat dipastikan 100 persen.
Ada beberapa kemungkinan:
Pertama, fenomena atmosfer yang disebut skyquake.
Kedua, energi akustik dari erupsi Gunung anak krakatau yang merambat sangat jauh dan diperkuat oleh kondisi atmosfer.
Ketiga, sonic boom atau sumber aktivitas penerbangan.
Keempat, meteor atau bolide.
Kelima, sumber lokal atau aktivitas manusia yang belum berhasil diidentifikasi.
Tetapi perkembangan terbaru membuat kemungkinan hubungan dengan erupsi anak krakatau patut mendapat perhatian serius, karena waktunya berdekatan dan badan geologi sendiri menyatakan bahwa energi akustik erupsi dapat merambat hingga ratusan kilometer.
Pada saat yang sama, pernyataan bmkg mengenai skyquake juga tidak boleh diabaikan karena pemeriksaan awal mereka tidak menemukan gempa maupun aktivitas petir signifikan yang dapat menjelaskan dentuman tersebut.
Jadi, misterinya belum selesai.
Dan mungkin justru di situlah menariknya.
Sebab dalam ilmu pengetahuan, mengatakan "kami belum tahu" bukan berarti ilmu pengetahuan gagal.
Justru itu adalah awal dari pencarian jawaban yang benar.
Laporan resmi badan geologi ?" Erupsi anak krakatau 5 September 2026
ANTARA ?" Erupsi anak krakatau diduga menyebabkan dentuman di tiga provinsi
Penting karena memuat informasi bahwa erupsi anak krakatau berlangsung mulai sekitar 23.07 WIB hingga 04.40 WIB, serta adanya dugaan hubungan dengan dentuman yang terdengar di beberapa wilayah.
ANTARA ?" Erupsi Gunung anak krakatau diduga sebabkan dentuman tiga provinsi
Detik ?" Penjelasan PVMBG mengapa dentuman bisa terdengar hingga bandung
Ini sangat berguna untuk bagian penjelasan ilmiah. Kepala PVMBG menjelaskan bahwa energi akustik dari erupsi dapat merambat hingga ratusan kilometer.
Detik ?" Kenapa Dentuman anak krakatau Bisa Terdengar Jauh hingga bandung
Metro TV ?" Dugaan erupsi anak krakatau memicu dentuman
Memuat pernyataan badan geologi bahwa dentuman dan getaran yang dilaporkan dari jawa barat, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi anak krakatau.
Metro TV ?" Erupsi anak krakatau Diduga Picu Dentuman di Tiga Provinsi
bmkg ?" informasi mengenai dentuman bandung-sumedang
Ini penting untuk menjaga keseimbangan artikel. bmkg menyebut tidak ditemukan rekaman gempa yang menjelaskan dentuman tersebut dan skyquake menjadi salah satu dugaan sementara.
Liputan6 ?" perkembangan terbaru posisi bmkg
Ini justru menarik untuk artikel kita karena bmkg kemudian menyatakan dentuman bandung tidak terkait dengan erupsi anak krakatau, antara lain dengan mempertimbangkan jarak dan kondisi angin. bmkg juga mengemukakan kemungkinan skyquake atau sumber lokal seperti gas di kawasan Danau Purba bandung.
Dentuman Misterius Gegerkan Bandung-Sumedang: Bukan Gempa, Lalu Suara Apa?
Sabtu, 05 September 2026
Dentuman Misterius Gegerkan Bandung-Sumedang: Bukan Gempa, Lalu Suara Apa?

Dentuman Misterius Gegerkan Bandung-Sumedang
Oleh: Murdan SianturiMalam Jumat, 4 September 2026 hingga dini hari Sabtu, 5 September 2026, sebagian masyarakat bandung Raya hingga sumedang dibuat bertanya-tanya.
Suara dentuman terdengar berulang. Bukan sekadar bunyi keras seperti petasan atau suara kendaraan. Sejumlah warga bahkan melaporkan pintu dan kaca rumah ikut bergetar.
Pertanyaannya sederhana tetapi menarik:
Kalau bukan gempa, sebenarnya suara apa yang membuat begitu banyak orang mendengarnya?
Sampai saat ini, jawabannya belum bisa disebut 100 persen pasti.
Namun, perkembangan informasi dari lembaga pemerintah memberikan dua petunjuk penting: fenomena atmosfer yang dikenal sebagai skyquake dan kemungkinan energi akustik dari erupsi Gunung anak krakatau.
Di sinilah kita perlu membedakan antara apa yang sudah diketahui, apa yang diduga, dan apa yang masih menjadi misteri.
Tidak Ada gempa yang Menjelaskan Dentuman
Langkah pertama dalam mencari penyebab sebuah dentuman adalah melihat apakah pada waktu yang sama terjadi gempa bumi.
Menurut bmkg, berdasarkan pemeriksaan data kegempaan, pada Sabtu 5 September 2026 pukul 00.00--05.00 WIB tidak tercatat aktivitas gempa di bandung dan sekitarnya yang dapat menjelaskan suara tersebut.
Aktivitas petir juga diperiksa menggunakan Lightning Detector. Memang terdapat petir, tetapi intensitasnya rendah dan tidak menunjukkan pola signifikan yang dapat dikaitkan dengan dentuman.
Dengan demikian, untuk sementara dentuman tersebut tidak memiliki karakteristik sebagai suara akibat gempa bumi ataupun petir yang signifikan.
Ini penting.
Sebab suara "BOOM" yang terdengar manusia tidak otomatis berarti gempa.
gempa bumi menghasilkan gelombang seismik yang merambat melalui tanah. Sementara dentuman dapat berasal dari gelombang tekanan di atmosfer yang kemudian sampai ke telinga manusia.
Dua mekanisme tersebut berbeda.
Lalu Apa Itu skyquake?
bmkg menyebut salah satu dugaan sementara adalah fenomena yang sering disebut skyquake atau "gempa langit".
Istilah ini sebenarnya agak menyesatkan.
skyquake bukan berarti langit benar-benar mengalami gempa.
Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan kejadian ketika masyarakat mendengar suara dentuman atau ledakan dari arah langit, tetapi sumbernya tidak segera dapat diketahui.
Fenomena seperti ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Laporan mengenai suara dentuman misterius telah muncul di berbagai tempat di dunia.
Secara ilmiah, sumbernya dapat bermacam-macam.
Misalnya:
sonic boom dari pesawat yang bergerak sangat cepat,
meteor atau bolide yang meledak di atmosfer,
ledakan,
aktivitas industri,
aktivitas militer,
fenomena atmosfer,
atau sumber vulkanik yang energinya merambat sangat jauh.
US Geological Survey menjelaskan bahwa suara seperti boom yang tidak disertai rekaman gempa yang sesuai dapat mengarah pada sumber atmosfer. Kondisi atmosfer, termasuk inversi temperatur dan angin permukaan yang tenang, juga dapat membuat suara merambat lebih jauh daripada biasanya.
Jadi, "skyquake" bukan jawaban akhir. Ia lebih tepat disebut kategori fenomena ketika kita mendengar dentuman tetapi sumbernya belum dapat dipastikan.
Tetapi Ada Petunjuk yang Jauh Lebih Menarik: anak krakatau
Pada waktu yang hampir bersamaan, terjadi aktivitas erupsi menerus Gunung anak krakatau di Selat Sunda.
badan geologi mencatat fenomena erupsi menerus Gunung anak krakatau pada 5 September 2026.
Di sinilah muncul kemungkinan kedua.
Apakah suara dentuman di bandung-sumedang berkaitan dengan erupsi anak krakatau?
Kemungkinannya ada. Tetapi hubungan tersebut masih harus dibuktikan dengan pencocokan data.
Kepala PVMBG Rita Susilawati menjelaskan bahwa energi akustik dari erupsi gunung api dapat merambat hingga ratusan kilometer.
Artinya, secara fisika, bukan sesuatu yang mustahil apabila energi suara dari sebuah erupsi terdengar sangat jauh dari sumbernya.
Ini bukan teori yang muncul begitu saja.
Indonesia memiliki pengalaman sebelumnya.
Saat erupsi eksplosif Gunung Kelud pada 13 Februari 2014, suara dentumannya dilaporkan terdengar di sejumlah wilayah yang jauh dari gunung tersebut. PVMBG menjelaskan bahwa erupsi dengan pelepasan energi sangat besar dapat menghasilkan energi akustik yang merambat jauh.
Bagaimana Suara Gunung Bisa Sampai Ratusan Kilometer?
Ini bagian yang menarik secara ilmiah.
Bayangkan sebuah erupsi seperti sumber suara yang sangat besar.
Ketika gas vulkanik bertekanan tinggi dilepaskan secara cepat, terjadi perubahan tekanan yang menghasilkan gelombang akustik.
Secara sederhana:
tekanan tinggi → pelepasan energi cepat → gelombang tekanan → merambat melalui atmosfer → terdengar sebagai dentuman
badan geologi menyebut dua mekanisme yang dapat menghasilkan energi akustik dalam aktivitas anak krakatau, yaitu ekspansi cepat pelepasan gas serta gesekan dan turbulensi aliran lava berkecepatan tinggi di dalam konduit atau saluran kepundan.
Namun, mengapa suara itu bisa terdengar sangat jauh?
Jawabannya salah satunya adalah atmosfer.
Atmosfer Bukan Ruang Kosong
Kita sering membayangkan suara merambat lurus seperti garis dari sumber ke pendengar.
Dalam kenyataan, atmosfer jauh lebih kompleks.
Temperatur udara berubah menurut ketinggian. Kecepatan dan arah angin juga berubah.
Perubahan tersebut dapat memengaruhi kecepatan dan arah rambat suara.
Pada kondisi tertentu, gelombang suara dapat mengalami refraksi, yaitu pembelokan arah rambat karena kondisi atmosfer.
Akibatnya, suara yang seharusnya melemah dengan cepat dapat tetap terdengar pada jarak yang jauh.
USGS juga menjelaskan bahwa inversi temperatur dan kondisi angin tertentu dapat membuat suara merambat lebih jauh dari kondisi normal.
Jadi, kalau seseorang di bandung mendengar suara yang sumbernya berada sangat jauh, secara fisika hal tersebut bukan sesuatu yang mustahil.
Mengapa Kaca dan Pintu Bisa Ikut Bergetar?
Ini juga menarik.
Suara pada dasarnya adalah gelombang tekanan.
Ketika gelombang tekanan cukup kuat mencapai sebuah bangunan, sebagian energi dapat menyebabkan benda-benda ringan atau permukaan seperti kaca dan pintu mengalami getaran.
Karena itu, laporan warga mengenai kaca atau pintu yang bergetar tidak otomatis berarti tanah sedang mengalami gempa.
Benda dapat bergetar karena gelombang tekanan udara.
Tetapi tingkat getaran tersebut juga perlu diukur secara objektif. Kesaksian masyarakat sangat penting sebagai informasi awal, tetapi belum cukup untuk menentukan sumbernya.
Bagaimana dengan Sonic Boom?
Ada kemungkinan lain yang secara ilmiah juga masuk akal: sonic boom.
Sonic boom terjadi ketika sebuah benda, biasanya pesawat, bergerak melebihi kecepatan suara sehingga menghasilkan gelombang kejut.
USGS menjelaskan bahwa sonic boom dapat menghasilkan bunyi seperti ledakan atau dentuman. Dalam kondisi atmosfer tertentu, suara tersebut dapat merambat jauh.
Namun, untuk kasus bandung-sumedang, kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah pesawat.
Diperlukan data penerbangan, aktivitas pesawat di wilayah tersebut, karakter suara, waktu kejadian, serta pola penyebaran suara.
Tanpa data itu, sonic boom tetap hanya salah satu kemungkinan.
Bagaimana dengan Meteor?
Kemungkinan meteor juga menarik.
Benda langit yang memasuki atmosfer dengan kecepatan sangat tinggi dapat mengalami tekanan dan pemanasan ekstrem. Benda yang cukup besar dapat pecah atau meledak di atmosfer dan menghasilkan suara keras.
Fenomena seperti ini dikenal antara lain sebagai bolide.
USGS mencatat bahwa ledakan meteor atau bolide dapat menghasilkan suara serta kadang disertai laporan cahaya terang di langit dan efek getaran di permukaan.
Tetapi lagi-lagi, belum ada bukti yang cukup untuk mengatakan bahwa dentuman bandung berasal dari meteor.
Kalau memang meteor menjadi penyebabnya, biasanya akan sangat membantu apabila ada laporan mengenai kilatan cahaya, jejak meteor, atau rekaman kamera langit pada waktu yang sama.
Mengapa Saya Lebih Hati-Hati Menyebut "skyquake"?
Karena ada perbedaan menarik antara dua lembaga yang sedang melihat masalah ini dari sudut berbeda.
bmkg, berdasarkan data kegempaan dan petir, menyebut skyquake sebagai dugaan sementara.
Sementara PVMBG/badan geologi melihat adanya kemungkinan hubungan dengan erupsi anak krakatau dan menjelaskan bahwa energi akustik erupsi dapat merambat hingga ratusan kilometer.
Menurut saya, kedua informasi tersebut sebenarnya tidak harus dianggap bertentangan.
Mengapa?
Karena erupsi anak krakatau bisa saja menjadi sumber energi, sedangkan cara energi tersebut sampai terdengar di bandung dapat merupakan fenomena atmosfer.
Dengan kata lain:
Sumbernya mungkin vulkanik, tetapi jalur perambatannya atmosferik.
Inilah hipotesis yang menurut saya paling menarik untuk diuji.
Yang Dibutuhkan Sekarang Bukan Spekulasi, tetapi Pencocokan Data
Untuk memastikan penyebab dentuman, para ahli perlu mencocokkan beberapa data sekaligus:
Waktu persis dentuman
Lokasi warga yang mendengar suara
Data erupsi anak krakatau
Data tekanan udara
Profil temperatur atmosfer
Kecepatan dan arah angin pada berbagai ketinggian
Data seismograf
Data sensor infrasonik jika tersedia
Data aktivitas pesawat
Rekaman video atau audio dari masyarakat
Kalau waktu erupsi anak krakatau dan waktu dentuman memiliki pola yang konsisten, kemudian model atmosfer menunjukkan jalur rambat suara dari Selat Sunda menuju jawa barat, hipotesis vulkanik akan semakin kuat.
Sebaliknya, kalau waktunya tidak cocok, maka kita harus kembali mencari sumber lain.
Begitulah seharusnya misteri ilmiah diselesaikan: bukan dengan siapa yang paling cepat membuat kesimpulan, tetapi siapa yang memiliki data paling kuat.
Jangan Langsung Menghubungkannya dengan gempa Besar
Hal yang juga perlu disampaikan kepada masyarakat adalah: dentuman ini tidak boleh langsung dianggap sebagai tanda akan terjadi gempa besar.
bmkg tidak menemukan aktivitas gempa di bandung dan sekitarnya pada periode yang diperiksa yang dapat menjelaskan kejadian tersebut.
Memang Indonesia berada di wilayah yang sangat aktif secara tektonik dan vulkanik. Tetapi fakta bahwa sebuah wilayah mendengar dentuman tidak otomatis berarti akan terjadi gempa besar setelahnya.
Masyarakat sebaiknya tetap mengikuti informasi resmi bmkg dan badan geologi, bukan ramalan yang beredar di media sosial.
Misterinya Justru Membuka Pelajaran sains
Menurut saya, kejadian bandung-sumedang ini menarik bukan hanya karena suaranya keras.
Ia memperlihatkan sesuatu yang sering tidak kita sadari:
Bumi dan atmosfer adalah satu sistem yang sangat kompleks.
Sebuah energi yang dilepaskan di satu tempat dapat menghasilkan efek yang dirasakan jauh di tempat lain.
Gunung berada di bumi.
Tetapi energinya dapat masuk ke atmosfer.
Atmosfer kemudian membawa gelombang tekanan.
Dan akhirnya manusia di tempat yang sangat jauh dapat mendengar suara tersebut.
Itulah sebabnya kita tidak boleh terburu-buru mengatakan:
"Kalau tidak ada gempa, berarti tidak ada fenomena alam."
Bisa jadi justru fenomenanya terjadi di antara bumi dan atmosfer, dan instrumen yang biasa kita gunakan untuk mendeteksi gempa memang bukan alat yang paling tepat untuk menjelaskan seluruh peristiwa tersebut.
Kesimpulan
Lalu, dentuman misterius bandung-sumedang itu sebenarnya suara apa?
Untuk saat ini, jawaban paling jujur adalah:
belum dapat dipastikan 100 persen.
Ada beberapa kemungkinan:
Pertama, fenomena atmosfer yang disebut skyquake.
Kedua, energi akustik dari erupsi Gunung anak krakatau yang merambat sangat jauh dan diperkuat oleh kondisi atmosfer.
Ketiga, sonic boom atau sumber aktivitas penerbangan.
Keempat, meteor atau bolide.
Kelima, sumber lokal atau aktivitas manusia yang belum berhasil diidentifikasi.
Tetapi perkembangan terbaru membuat kemungkinan hubungan dengan erupsi anak krakatau patut mendapat perhatian serius, karena waktunya berdekatan dan badan geologi sendiri menyatakan bahwa energi akustik erupsi dapat merambat hingga ratusan kilometer.
Pada saat yang sama, pernyataan bmkg mengenai skyquake juga tidak boleh diabaikan karena pemeriksaan awal mereka tidak menemukan gempa maupun aktivitas petir signifikan yang dapat menjelaskan dentuman tersebut.
Jadi, misterinya belum selesai.
Dan mungkin justru di situlah menariknya.
Sebab dalam ilmu pengetahuan, mengatakan "kami belum tahu" bukan berarti ilmu pengetahuan gagal.
Justru itu adalah awal dari pencarian jawaban yang benar.
Referensi:
badan geologi ?" Laporan resmi Erupsi Gunung anak krakatau, 5 September 2026
Ini sebaiknya menjadi referensi utama untuk informasi aktivitas vulkanik anak krakatau. Laporan resmi mencatat fenomena erupsi menerus pada 5 September 2026.Laporan resmi badan geologi ?" Erupsi anak krakatau 5 September 2026
ANTARA ?" Erupsi anak krakatau diduga menyebabkan dentuman di tiga provinsi
Penting karena memuat informasi bahwa erupsi anak krakatau berlangsung mulai sekitar 23.07 WIB hingga 04.40 WIB, serta adanya dugaan hubungan dengan dentuman yang terdengar di beberapa wilayah.
ANTARA ?" Erupsi Gunung anak krakatau diduga sebabkan dentuman tiga provinsi
Detik ?" Penjelasan PVMBG mengapa dentuman bisa terdengar hingga bandung
Ini sangat berguna untuk bagian penjelasan ilmiah. Kepala PVMBG menjelaskan bahwa energi akustik dari erupsi dapat merambat hingga ratusan kilometer.
Detik ?" Kenapa Dentuman anak krakatau Bisa Terdengar Jauh hingga bandung
Metro TV ?" Dugaan erupsi anak krakatau memicu dentuman
Memuat pernyataan badan geologi bahwa dentuman dan getaran yang dilaporkan dari jawa barat, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi anak krakatau.
Metro TV ?" Erupsi anak krakatau Diduga Picu Dentuman di Tiga Provinsi
bmkg ?" informasi mengenai dentuman bandung-sumedang
Ini penting untuk menjaga keseimbangan artikel. bmkg menyebut tidak ditemukan rekaman gempa yang menjelaskan dentuman tersebut dan skyquake menjadi salah satu dugaan sementara.
Liputan6 ?" perkembangan terbaru posisi bmkg
Ini justru menarik untuk artikel kita karena bmkg kemudian menyatakan dentuman bandung tidak terkait dengan erupsi anak krakatau, antara lain dengan mempertimbangkan jarak dan kondisi angin. bmkg juga mengemukakan kemungkinan skyquake atau sumber lokal seperti gas di kawasan Danau Purba bandung.
Dentuman Misterius Gegerkan Bandung-Sumedang: Bukan Gempa, Lalu Suara Apa?
NEXT:
Kisah Nyata Hal Finney: Mengapa Setelah Meninggal Tubuhnya Disimpan untuk Dihidupkan Suatu Hari Nanti?
PREV:
