View : 156 kali.
Home >
Cerpen Pak Murdan

Dosa di Atas Bukit - Penyebab Bencana Banjir Jakarta Bekasi
Dosa di Atas Bukit - Penyebab Bencana Banjir Jakarta Bekasi

Hujan turun tanpa henti sejak Senin malam. Langit seakan menumpahkan segala isinya ke bumi. Di Bekasi, air mulai naik perlahan, meresap ke dalam rumah-rumah, menyusup ke celah pintu, merendam jalanan hingga akhirnya menenggelamkan kehidupan.
Pak Rudi, seorang pria paruh baya yang tinggal di Jatiasih, menggendong cucunya yang menangis ketakutan. Rumahnya sudah terendam hingga dada, dan dia tahu, sebentar lagi air akan lebih tinggi. "Kita harus pergi,” gumamnya lemah, menatap istrinya yang menggigil kedinginan.
Di sisi lain, di sebuah vila mewah di perbukitan Bogor, Pak Anton sedang menikmati kopi hangat di teras luasnya. Dari kejauhan, dia bisa melihat derasnya hujan mengguyur lembah. Namun, tak ada rasa khawatir di wajahnya. Baginya, hujan adalah musik alam yang menemani kemewahannya. Dia tak peduli bahwa di bawah sana, ribuan orang sedang berjuang menyelamatkan diri dari banjir yang semakin tinggi.
"Tahun ini lebih parah ya?” tanya rekannya, seorang pengusaha properti yang juga memiliki vila di kawasan itu.
"Biasa, musim hujan. Lagipula, kita sudah bayar pajak, bukan urusan kita kalau Bekasi kebanjiran,” jawab Pak Anton santai.
Namun, yang tak mereka sadari, banjir yang merendam Bekasi bukan sekadar bencana alam. Hutan-hutan yang dulu menjadi pelindung sudah mereka tebang demi vila-vila megah mereka. Tanah yang dulunya menyerap air, kini tertutup beton dan aspal. Sungai yang dulunya mengalir jernih, kini penuh lumpur akibat longsoran tanah gundul di lereng-lereng gunung.
Di Bekasi, jeritan meminta tolong menggema. Seorang ibu terisak saat melihat rumahnya hanyut. Seorang anak kecil berpegangan erat pada ayahnya, takut terbawa arus. Para lansia dan bayi dievakuasi ke tempat pengungsian, namun semua sudah penuh sesak.
Malam itu, ketika Pak Anton tertidur lelap dalam kesejukan AC kamarnya, sebuah mimpi menghantamnya dengan dahsyat. Dalam mimpinya, dia berdiri di sebuah tempat yang asing. Di hadapannya, ribuan orang berdiri dalam genangan air. Wajah mereka pucat, tubuh mereka menggigil, dan mata mereka menatapnya dengan amarah.
"Kami kehilangan segalanya karena keserakahanmu!” teriak seorang lelaki tua.
"Kau tebang hutan demi keuntunganmu, tapi kau tidak peduli pada kami!” sahut seorang ibu yang memeluk anaknya yang menangis.
Pak Anton ingin berteriak, ingin membela diri, tapi lidahnya kelu. Tiba-tiba, langit di atasnya berubah merah, dan air yang menggenang perlahan berubah menjadi api. Dia berteriak ketakutan, mencoba lari, tapi tanah di bawahnya menghilang. Tubuhnya jatuh ke dalam kegelapan yang tak berujung.
Pak Anton terbangun dengan napas tersengal. Tubuhnya basah oleh keringat. Dia melihat ke luar jendela. Hujan masih turun, deras. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda dalam hatinya. Rasa takut yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Esok harinya, berita banjir di bekasi semakin memburuk. Lebih dari sepuluh ribu orang terdampak. Pak Anton menatap layar televisi, melihat penderitaan yang terjadi. Tiba-tiba, kata-kata dalam mimpinya terngiang kembali di kepalanya.
"Apakah aku penyebabnya?”
Namun, penyesalan yang datang terlambat tak akan mampu mengeringkan air mata mereka yang kehilangan segalanya.
Pak Rudi, seorang pria paruh baya yang tinggal di Jatiasih, menggendong cucunya yang menangis ketakutan. Rumahnya sudah terendam hingga dada, dan dia tahu, sebentar lagi air akan lebih tinggi. "Kita harus pergi,” gumamnya lemah, menatap istrinya yang menggigil kedinginan.
Di sisi lain, di sebuah vila mewah di perbukitan Bogor, Pak Anton sedang menikmati kopi hangat di teras luasnya. Dari kejauhan, dia bisa melihat derasnya hujan mengguyur lembah. Namun, tak ada rasa khawatir di wajahnya. Baginya, hujan adalah musik alam yang menemani kemewahannya. Dia tak peduli bahwa di bawah sana, ribuan orang sedang berjuang menyelamatkan diri dari banjir yang semakin tinggi.
"Tahun ini lebih parah ya?” tanya rekannya, seorang pengusaha properti yang juga memiliki vila di kawasan itu.
"Biasa, musim hujan. Lagipula, kita sudah bayar pajak, bukan urusan kita kalau Bekasi kebanjiran,” jawab Pak Anton santai.
Namun, yang tak mereka sadari, banjir yang merendam Bekasi bukan sekadar bencana alam. Hutan-hutan yang dulu menjadi pelindung sudah mereka tebang demi vila-vila megah mereka. Tanah yang dulunya menyerap air, kini tertutup beton dan aspal. Sungai yang dulunya mengalir jernih, kini penuh lumpur akibat longsoran tanah gundul di lereng-lereng gunung.
Di Bekasi, jeritan meminta tolong menggema. Seorang ibu terisak saat melihat rumahnya hanyut. Seorang anak kecil berpegangan erat pada ayahnya, takut terbawa arus. Para lansia dan bayi dievakuasi ke tempat pengungsian, namun semua sudah penuh sesak.
Malam itu, ketika Pak Anton tertidur lelap dalam kesejukan AC kamarnya, sebuah mimpi menghantamnya dengan dahsyat. Dalam mimpinya, dia berdiri di sebuah tempat yang asing. Di hadapannya, ribuan orang berdiri dalam genangan air. Wajah mereka pucat, tubuh mereka menggigil, dan mata mereka menatapnya dengan amarah.
"Kami kehilangan segalanya karena keserakahanmu!” teriak seorang lelaki tua.
"Kau tebang hutan demi keuntunganmu, tapi kau tidak peduli pada kami!” sahut seorang ibu yang memeluk anaknya yang menangis.
Pak Anton ingin berteriak, ingin membela diri, tapi lidahnya kelu. Tiba-tiba, langit di atasnya berubah merah, dan air yang menggenang perlahan berubah menjadi api. Dia berteriak ketakutan, mencoba lari, tapi tanah di bawahnya menghilang. Tubuhnya jatuh ke dalam kegelapan yang tak berujung.
Pak Anton terbangun dengan napas tersengal. Tubuhnya basah oleh keringat. Dia melihat ke luar jendela. Hujan masih turun, deras. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda dalam hatinya. Rasa takut yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Esok harinya, berita banjir di bekasi semakin memburuk. Lebih dari sepuluh ribu orang terdampak. Pak Anton menatap layar televisi, melihat penderitaan yang terjadi. Tiba-tiba, kata-kata dalam mimpinya terngiang kembali di kepalanya.
"Apakah aku penyebabnya?”
Namun, penyesalan yang datang terlambat tak akan mampu mengeringkan air mata mereka yang kehilangan segalanya.
****
Dosa di Atas Bukit - Penyebab Bencana Banjir Jakarta Bekasi
PREV:
