Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
☰
  • Home
  • Opini
  • Kuliah ▼
  • Publikasi ▼
  • SINTA
  • Scholar
  • About Me
  • Labuhan Batu
  • Login

View : 135 kali.

Bagikan:
Home > Opinion   Kategori: Fenomena Alam
Rabu, 17 Juni 2026

Gempa Magnitudo 6,7 Guncang Sulawesi Tengah: Memahami Penyebab, Risiko Susulan, dan Mengapa Tidak Berpotensi Tsunami

Ilustrasi gempa bumi Magnitudo 6,7 di Sulawesi Tengah dengan warga berhamburan keluar bangunan, disertai penjelasan penyebab gempa, potensi gempa susulan, dan status tidak berpotensi tsunami.
Ilustrasi gempa bumi Magnitudo 6,7 di Sulawesi Tengah dengan warga berhamburan keluar bangunan, disertai penjelasan penyebab gempa, potensi gempa susulan, dan status tidak berpotensi tsunami.

Opini oleh Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah Sulawesi Tengah dan dirasakan kuat hingga Palu membuat masyarakat panik dan berhamburan keluar dari rumah, kantor, sekolah, rumah sakit, serta berbagai bangunan lainnya. Peristiwa ini kembali mengingatkan kita bahwa Indonesia berada di salah satu kawasan paling aktif secara geologi di dunia.

Di tengah banyaknya informasi yang beredar, masyarakat perlu memahami apa sebenarnya penyebab gempa ini, mengapa BMKG menyatakan tidak berpotensi tsunami, dan apakah masih ada kemungkinan terjadi gempa susulan.

Apa Penyebab Gempa Ini?

Berdasarkan analisis BMKG, gempa ini dipicu oleh aktivitas sesar sausu, salah satu patahan aktif yang berada di Sulawesi Tengah. Gempa terjadi akibat pelepasan energi yang telah lama tersimpan di dalam kerak bumi karena tekanan dari pergerakan lempeng tektonik.

Banyak masyarakat mengenal Sesar Palu-Koro yang menjadi penyebab gempa dan tsunami besar tahun 2018. Namun, gempa kali ini berasal dari sesar yang berbeda, yaitu sesar sausu.

Secara sederhana, kerak bumi terus bergerak meskipun sangat lambat. Ketika dua bagian batuan saling menekan dan terkunci selama bertahun-tahun, energi akan terus menumpuk. Ketika tekanan tersebut melampaui kekuatan batuan, terjadilah patahan mendadak yang melepaskan energi dalam bentuk gelombang gempa.

Gempa ini memiliki mekanisme sesar turun (normal fault), yaitu ketika salah satu blok batuan turun relatif terhadap blok lainnya akibat gaya tarikan pada kerak bumi.

Mengapa tidak berpotensi tsunami?


Pertanyaan ini banyak muncul karena masyarakat Sulawesi Tengah masih memiliki trauma mendalam terhadap tsunami Palu tahun 2018.

Namun, tidak semua gempa besar dapat menimbulkan tsunami.

Tsunami umumnya terjadi apabila:
  • Gempa terjadi di bawah laut.
  • Terjadi pergeseran vertikal dasar laut yang signifikan.
  • Massa air laut terdorong secara tiba-tiba dalam jumlah besar.
Dalam gempa kali ini, BMKG menyatakan tidak ada potensi tsunami karena sumber gempa berada di daratan dan tidak menyebabkan deformasi dasar laut yang cukup untuk membangkitkan gelombang tsunami.

Sebagai ilustrasi sederhana, menggeser meja ke samping tidak akan membuat benda di atasnya terangkat. Namun, jika meja didorong dari bawah, benda di atasnya akan ikut bergerak. Tsunami lebih mirip peristiwa kedua, yaitu adanya dorongan vertikal yang kuat terhadap kolom air laut.

Karena itu, meskipun magnitudo gempa mencapai 6,7, kondisi geologinya tidak mendukung terbentuknya tsunami.

Apakah Akan Terjadi gempa susulan?

Jawabannya adalah ya, sangat mungkin terjadi.

gempa susulan merupakan fenomena yang normal setelah gempa utama. Ketika sesar melepaskan energi besar, batuan di sekitarnya masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan posisi baru sehingga menghasilkan getaran-getaran tambahan yang disebut gempa susulan.

BMKG telah mencatat sejumlah gempa susulan setelah gempa utama terjadi.

Kabar baiknya, sebagian besar gempa susulan biasanya memiliki kekuatan lebih kecil dibandingkan gempa utama. Aktivitas susulan umumnya paling sering terjadi dalam beberapa hari pertama, kemudian berangsur-angsur berkurang.

Meski demikian, masyarakat tetap perlu waspada karena gempa susulan dapat memperparah kerusakan bangunan yang sudah mengalami retak atau melemah akibat gempa utama.

Apakah Gempa Bisa Diprediksi?


Hingga saat ini, para ilmuwan di seluruh dunia belum mampu memprediksi secara tepat kapan dan di mana gempa akan terjadi.

Lembaga-lembaga seperti BMKG di Indonesia dan berbagai pusat penelitian internasional hanya dapat:
  • Memetakan daerah rawan gempa.
  • Mengidentifikasi sesar aktif.
  • Mengukur aktivitas seismik.
  • Memberikan peringatan dini tsunami jika memungkinkan.
Karena itu, tidak ada teknologi saat ini yang dapat memastikan bahwa gempa akan terjadi pada hari, jam, atau lokasi tertentu.

Apa yang Harus Dilakukan Masyarakat?

Di tengah situasi pascagempa, langkah yang paling penting adalah tetap tenang dan mengandalkan informasi resmi.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
  • Jangan mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi.
  • Ikuti informasi resmi dari BMKG, BNPB, dan pemerintah daerah.
  • Periksa kondisi rumah atau bangunan sebelum kembali masuk.
  • Hindari bangunan yang retak berat atau mengalami kerusakan struktural.
  • Siapkan tas darurat yang berisi dokumen penting, obat-obatan, senter, dan kebutuhan dasar lainnya.
  • Tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.

Pelajaran Penting Bagi Indonesia

gempa sulawesi tengah kali ini menunjukkan bahwa ancaman gempa tidak hanya berasal dari sesar-sesar yang sudah terkenal seperti Palu-Koro. Indonesia memiliki ratusan sesar aktif yang terus bergerak dan berpotensi menghasilkan gempa kapan saja.

Karena gempa tidak dapat dicegah maupun diprediksi secara pasti, maka kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama untuk mengurangi risiko korban jiwa. Bangunan yang tahan gempa, edukasi kebencanaan, jalur evakuasi yang jelas, serta kedisiplinan mengikuti informasi resmi akan jauh lebih efektif dibandingkan kepanikan dan penyebaran informasi yang tidak benar.

Gempa Magnitudo 6,7 ini memang mengingatkan kita akan besarnya kekuatan alam. Namun, dengan pengetahuan yang benar, kesiapsiagaan yang baik, dan kerja sama seluruh pihak, dampak bencana dapat diminimalkan sehingga masyarakat tetap aman dan mampu menghadapi situasi dengan lebih bijaksana.



Gempa Magnitudo 6,7 Guncang Sulawesi Tengah: Memahami Penyebab, Risiko Susulan, dan Mengapa Tidak Berpotensi Tsunami








NEXT:

HIGHLIGHT | INGGRIS VS KROASIA | SKOR 4 - 2 | FIFA WORLD CUP 2026 GROUP I | 18 JUNI 2026


PREV:

HIGHLIGHT | AUSTRIA VS JORDAN | SKOR 3 - 1 | FIFA WORLD CUP 2026 | GRUP J | 17 JUNI 2026

NEXT:

HIGHLIGHT | INGGRIS VS KROASIA | SKOR 4 - 2 | FIFA WORLD CUP 2026 GROUP I | 18 JUNI 2026


PREV:

HIGHLIGHT | AUSTRIA VS JORDAN | SKOR 3 - 1 | FIFA WORLD CUP 2026 | GRUP J | 17 JUNI 2026

Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom., adalah dosen dan penulis opini yang mengajar Bisnis Digital dan Akuntansi di STIE Mulia Pratama Bekasi. Ia aktif menulis tentang teknologi, perubahan sosial, geopolitik, dan refleksi iman di tengah dinamika dunia modern.
About me selengkapnya...




Fenomena Alam :
  • Dentuman Misterius Gegerkan Bandung-Sumedang: Bukan Gempa, Lalu Suara Apa?
  • PVMBG Klarifikasi Hoaks Erupsi Besar Gunung Semeru di Media Sosial, Status Tetap Siaga Level III
  • Gempa Magnitudo 6,7 Guncang Sulawesi Tengah: Memahami Penyebab, Risiko Susulan, dan Mengapa Tidak Berpotensi Tsunami
  • Fenomena Api Misterius di Sleman Ternyata Mengajarkan Kita Satu Hal: Jangan Terlalu Cepat Menyalahkan Hantu
  • Semburan Api Misterius di Sleman

Pencarian E-DDC 23
Electronic Dewey Decimal Classification untuk Perpustakaan