Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
☰
  • Home
  • Opini
  • Kuliah ▼
  • Publikasi ▼
  • SINTA
  • Scholar
  • About Me
  • Labuhan Batu
  • Login

View : 158 kali.

Bagikan:
Home > Opinion   Kategori: Ekonomi dan Bisnis
Kamis, 23 Oktober 2025

Ilmu Ekonomi Itu Akan Bermuara ke Mana Nanti?

Oleh: Murdan Sianturi
ilustrasi masa depan ilmu ekonomi dan teknologi AI
ilustrasi masa depan ilmu ekonomi dan teknologi AI

Ada satu pertanyaan yang mengganjal dihati.
"Ilmu Ekonomi ini, sebenarnya akan bermuara ke mana, sih?”
  • Apakah akan berhenti di grafik supply-demand yang tak pernah damai itu?
  • Atau berakhir di algoritma canggih yang menentukan harga cabai di pasar?
  • Atau  jangan-jangan ekonomi akan berakhir menjadi sekadar komentar lucu di Twitter tentang subsidi BBM?


1. Dari Scarcity ke Complexity


Dulu, inti ekonomi sederhana: sumber daya terbatas, kebutuhan tak terbatas.
Manusia berpikir: bagaimana caranya mengatur yang sedikit agar cukup untuk semua.

Sekarang?
Masalahnya bukan kekurangan, tapi kelebihan data, kelebihan pilihan, dan kadang kelebihan wacana.
Ekonomi tak lagi tentang kelangkaan, tapi kompleksitas.

Kita bukan lagi hidup di zaman "barang langka,” tapi di zaman "makna langka.”

Mungkin itu sebabnya sekarang muncul behavioral economics, neuroeconomics, sampai emotional pricing.

Karena ternyata... bukan angka yang sulit ditebak, tapi manusia di balik angka itu.
(Ya, termasuk dosen yang beli kopi Rp30.000 sambil mengeluh harga beras naik.)


2. Dari Pasar ke Algoritma

Pasar dulu tempat orang tawar-menawar. Sekarang?
Pasar adalah server raksasa yang menawar data kita.
Yang dijual bukan lagi ikan, beras, atau tenaga kerja, tapi perhatian manusia.
  • Ilmu ekonomi kini sedang berjalan cepat ke ekonomi algoritma, di mana:
  • harga ditentukan oleh machine learning,
  • promosi dilakukan oleh AI marketing,
  • dan keputusan pembelian muncul sebelum kita sadar sedang butuh sesuatu.
Lucunya, banyak pakar ekonomi sekarang rajin bicara tentang "efisiensi algoritmik” 
padahal belum tentu tahu kenapa tiba-tiba iklan sandal muncul setelah dia ngomong sandal di ruang dosen.

Jadi, apakah ekonomi akan berakhir di tangan robot?
Belum tentu. Karena robot pintar, tapi belum bisa menolak diskon 11.11 dengan logika.


3. Dari Pertumbuhan ke Keberlanjutan

Kalau ekonomi dulu disembah dalam bentuk growth rate,
maka di masa depan ekonomi akan diukur dari keseimbangan.

Ekonom masa depan tidak akan bertanya,

"Berapa persen PDB naik tahun ini?”
Tapi,
"Berapa persen manusia yang masih bisa tersenyum meski PDB turun?”

Inilah arah baru ekonomi:
  • bukan sekadar tumbuh, tapi tumbuh sehat, adil, dan lestari.
  • bukan lagi high growth economy, tapi high purpose economy.
  • Ekonomi akan bermuara ke titik di mana pertumbuhan tanpa arah akan dianggap kegagalan.
  • Karena tidak ada gunanya PDB naik 10% kalau bumi turun 3 derajat.


4. Dari Rasionalitas ke Kebijaksanaan


Ekonomi modern mengagungkan "manusia rasional.”
Tapi siapa pun yang pernah belanja di toko online jam 2 pagi tahu: manusia tidak rasional.

Maka ilmu ekonomi pelan-pelan berubah arah.
Dari "rasionalitas sempurna” menuju "kebijaksanaan adaptif.”
Ekonomi masa depan bukan tentang menghilangkan emosi manusia,
tapi memahami emosi itu sebagai variabel ekonomi yang sah.

Mungkin itu sebabnya, teori ke depan akan lebih mendekati filsafat daripada matematika.
Ekonom tidak hanya bicara "berapa,” tapi juga "mengapa” dan "untuk apa.”


5. Lalu, Bermuara ke Mana?

Kalau disimpulkan dari tren besar ini, ekonomi tampaknya akan bermuara ke satu titik:

Ekonomi akan kembali menjadi ilmu tentang manusia.

Setelah ratusan tahun mengejar efisiensi, laba, dan grafik;
ekonomi akhirnya menemukan dirinya sedang mencari sesuatu yang jauh lebih sulit:
makna.
Ilmu ekonomi masa depan bukan hanya menjawab "bagaimana menghasilkan lebih banyak,”
tetapi juga "bagaimana hidup dengan lebih baik.”

Dan mungkin hanya mungkin  nanti di masa depan, akan ada mata kuliah baru bernama

Ekonomi Kebahagiaan, 3 SKS, dengan tugas akhir: tertawa tulus saat melihat laporan keuangan defisit.


Penutup


Jadi, ke mana ilmu ekonomi akan bermuara?

Ke tempat yang paling tidak kita duga:
ke dalam diri manusia itu sendiri.

Karena ternyata, yang harus diatur bukan hanya sumber daya alam,
tapi juga sumber daya batin: keserakahan, ketakutan, dan ambisi yang tak terbatas.

Saat manusia bisa menyeimbangkan sains, sistem, dan nurani,
maka ilmu ekonomi tidak akan berakhir ia akan naik kelas.
Dari ilmu tentang uang menjadi ilmu tentang kebijaksanaan hidup.

Dan siapa tahu… di masa depan, gelar tertinggi di ekonomi bukan lagi "Ph.D.”,
tapi "Ph.E.”  Philosopher of Enoughness.
(Artinya: sudah cukup).


------

Penjelasan Tentang kalimat:

1. "Bukan lagi high growth economy, tapi high purpose economy.”
Maknanya:
Selama puluhan tahun, keberhasilan ekonomi selalu diukur dengan satu angka sakti: pertumbuhan  alias growth rate.
Kalau PDB naik, dianggap sukses; kalau turun, dianggap gagal.

Tapi tren global mulai bergeser.

Banyak negara dan korporasi mulai sadar bahwa pertumbuhan tanpa tujuan justru menciptakan:
  • kerusakan lingkungan,
  • ketimpangan sosial,
  • dan stres kolektif manusia modern.
Jadi sekarang muncul paradigma baru:
High Purpose Economy  ekonomi yang berorientasi pada tujuan.
Artinya, pertumbuhan harus punya makna: meningkatkan kualitas hidup, kelestarian, dan kesejahteraan sosial, bukan sekadar memperbesar angka PDB.

Contohnya:
  • Negara Bhutan pakai Gross National Happiness (Bukan GDP).
  • Uni Eropa mendorong Green Economy.
Perusahaan besar mulai bicara ESG (Environmental, Social, Governance), bukan cuma laba.


2. "Ekonomi akan bermuara ke titik di mana pertumbuhan tanpa arah akan dianggap kegagalan.”

Maknanya:
Kalau dulu kita tanya, "Ekonominya tumbuh berapa persen?”, sekarang muncul pertanyaan baru:

"Tumbuh ke arah mana?”

Pertumbuhan yang hanya menambah angka tapi mengorbankan lingkungan, manusia, atau moral  dianggap tidak berkelanjutan.
Jadi, ke depan ekonomi tidak lagi dinilai hanya dari "berapa banyak yang tumbuh,” tapi "apakah pertumbuhannya berarti.”


3. "Karena tidak ada gunanya PDB naik 10% kalau bumi turun 3 derajat.”

Maknanya:
Ini sindiran cerdas (dan agak lucu juga sebenarnya ).
Kalimat ini menggambarkan kontradiksi klasik ekonomi modern:
manusia mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi (PDB naik 10%),
tapi lupa bahwa proses itu bisa menghancurkan ekosistem bumi (suhu global naik 3°C).

Artinya, pertumbuhan ekonomi yang merusak planet bukan kemajuan  tapi bunuh diri pelan-pelan.
Percuma kaya, kalau dunia yang ditinggali jadi panas, rusak, dan penuh bencana.


4. "Jadi, apakah ekonomi akan berakhir di tangan robot?
Belum tentu. Karena robot pintar, tapi belum bisa menolak diskon 11.11 dengan logika.”


Maknanya:
Ini permainan logika sederhana tapi lucu:
Robot (AI) dirancang rasional, tapi manusia  meski tahu tidak butuh barang, tetap tergoda promo "Diskon 11.11”.
Artinya, manusia sering tidak rasional secara ekonomi.
Namun justru ketidakrasionalan itulah yang membuat ekonomi berputar!
Kalau semua orang hanya membeli barang karena logika murni, banyak bisnis akan mati.

Jadi, ini menertawakan kenyataan bahwa emosi manusia (bukan algoritma) yang sering menggerakkan ekonomi dunia.




Ilmu Ekonomi Itu Akan Bermuara ke Mana Nanti?








NEXT:

Refleksi 97 Tahun Sumpah Pemuda


PREV:

Peran Big Data dalam Akuntansi Modern: Mengapa Bisnis Harus Siap?

NEXT:

Refleksi 97 Tahun Sumpah Pemuda


PREV:

Peran Big Data dalam Akuntansi Modern: Mengapa Bisnis Harus Siap?

Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom., adalah dosen dan penulis opini yang mengajar Bisnis Digital dan Akuntansi di STIE Mulia Pratama Bekasi. Ia aktif menulis tentang teknologi, perubahan sosial, geopolitik, dan refleksi iman di tengah dinamika dunia modern.
About me selengkapnya...




Ekonomi dan Bisnis :
  • Uji B50 Sukses Besar! Prabowo Subianto Siapkan 3,5 Juta Ton CPO Demi Swasembada Energi Nasional
  • E20 dan Masa Depan Energi Indonesia: Antara Kemandirian dan Tantangan Baru
  • Swasembada Pangan Indonesia: Antara Capaian Nyata dan Tantangan yang Belum Selesai
  • Indonesia Kaya Energi, Tapi Kenapa Masih Impor BBM?
  • Ketika Negara Jual Emas: Tanda Krisis atau Strategi?
  • Surplus Perdagangan Tinggi, Mengapa Rasa Aman Belum Terbangun?
  • Obligasi Menggoda, Emas Ditinggalkan? Ini Fakta Sebenarnya!
  • Apakah UMKM Bisa Bertahan Jika Harga Minyak Dunia Naik?
  • Gak Banyak yang Tahu! Cara Daftar QRIS DANA untuk UMKM, 1 Hari Langsung Aktif
  • Opini Analis: Kesepakatan Perdagangan Indonesia–AS, Peluang Strategis atau Sekadar Angka di Atas Kertas?
  • Ketika Investor Besar Turun ke Sawah: Sebuah Tanda Zaman yang Tidak Boleh Diabaikan
  • Expected profit” (harapan ideal) vs “real profit” (kondisi lapangan) Perkebunan Teh (Simulasi 800 HA)
  • Ilmu Ekonomi Itu Akan Bermuara ke Mana Nanti?
  • Menyibak Visi dan Misi Sang Menkeu: Arah Kebijakan yang Menentukan Akhir Cerita Ekonomi Indonesia

Pencarian E-DDC 23
Electronic Dewey Decimal Classification untuk Perpustakaan