WA: 0812 8595 8481
⋮
View : 684 kali.
Materi Kuliah Filsafat Dan Pengetahuan Modern
04.02 Periode Awal Islam
# Filsafat Yunani sangat mempengaruhi lahirnya filsafat Islam
Lahirnya filsafat Islam tidak lain disebabkan karena aktivitas penerjemahan buku-buku filsafat Yunani sejak masa klasik islam. Menurut C.A. Qadir, proses penerjemahan dan penafsiran buku-buku Yunani di negeri-negeri Arab dimulai jauh sebelum lahirnya agama Islam dan penaklukan Timur oleh bangsa Arab pada tahun 641 M. Jauh sebelum umat Islam dapat menaklukkan daerah-daerah di Timur dekat, pada saat itu Suriah merupakan tempat bertemunya Romawi dan Persia. Atas dasar itu, maka bangsa Suriah disebut memiliki peranan penting dalam penyebaran kebudayaan Yunani ke Timur dan Barat. Di kalangan umat Kristen Suriah, ilmu pengetahuan Yunani dipelajari dan disebarluaskan melalui sekolah-sekolah. (Basari, 2002).
Kegiatan penerjemahan ini disertai pula dengan uraian dan penjelasan seperlunya. Para cendikiawan ketika itu berusaha memasukkan Filsafat Yunani sebagai bagian dari metodologi dalam menjelaskan Islam, terutama akidah untuk melihat perlunya penyesuaian antara wahyu dan akal.
Tentu saja, aktifitas para filosof di atas bersentuhan dengan penafsiran Al-Qur'an. Bahkan, kecenderungan menafsirkan Al-Qur'an secara filosofis besar sekali. Al-Kindi misalnya, yang dikenal sebagai Bapak Filosof Arab dan Muslim, berpendapat bahwa untuk memahami Al-Qur'an dengan benar, isinya harus ditafsirkan secara rasional, bahkan filosofis. Al-Kindi berpendapat bahwa Al-Qur'an mengandung ayat-ayat yang mengajak manusia untuk merenungkan peristiwa-peristiwa alam dan menyingkapkan makna yang lebih dalam di balik terbit-tenggelamnya matahari, berkembang-menyusutnya bulan, pasang-surutnya air laut dan seterusnya. Ajakan ini merupakan seruan untuk berfilsafat.
Di dalam sejarah, ditunjukkan bahwa lahirnya filsafat Islam tidak dapat dipisahkan dari rantai transmisi filsafat Yunani. Yang meninggalkan beberapa kesan pada sebagian besar sarjana barat bahwa filsafat Islam hanyalah filsafat Yunani yang menyalurkan unsur penting tertentu warisan zaman kuno barat abad pertengahan.
1) Corak filsafat yang benar-benar mengembangkan filsafat Yunani
2) Corak filsafat yang mengarah pada pembahasan kalam, yang berhubungan dengan metafisika, dalam hal ini filsafat Islam yang termasuk di dalamnya adalah Al-Mu'tazilah, Ajarniyah, dan Al-Asyairah.
Ibn Rusyd menyatakan bahwa tujuan dasar filsafat adalah memperoleh pengetahuan yang benar dan berbuat benar. Dalam hal ini filsafat sesuai dengan agama, sebab tujuan agama pun tidak lain adalah menjamin pengetahuan yang benar bagi umat manusia dan menunjukkan jalan yang benar bagi kehidupan yang praktis. (Dar al-Mairrif, 1972)
Itulah sebabnya, Nurcholis Madjid menyatakan bahwa sumber dan pangkal tolak filsafat dalam Islam adalah ajaran Islam sendiri, sebagaimana terdapat dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Meskipun mempunyai dasar yang kokoh dalam sumber-sumber ajaran Islam sendiri, filsafat banyak mengandung unsur-unsur dari luar, terutama hellenisme atau dunia pemikiran Yunani. Terlihat jelas bahwa di satu sisi, filsafat Islam berkembang setelah umat Islam memiliki hubungan interaksi dengan filsafat Yunani.
Masuknya filsafat Yunani dalam Islam serta pemikirannya membangkitkan umat Islam untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam, serta menumbuhkan gairah umat untuk mempelajari ilmu pengetahuan alam dan filsafat. Banyak pemikiran filsafat Islam terpengaruh filsafat Yunani, meskipun demikian bahwa berguru bukan berarti mengekor atau mengutip. Jadi, alur telaahnya ialah amati, tiru, dan modifikasi. Filsafat Islam haruslah sesuai dengan prinsip agama dan keadaan masyarakat Islam itu sendiri.
Sedikit banyak filsafat Yunani sudah mengajari banyak hal. Orang yang anti filsafat berarti anti kebenaran, dan jika anti kebenaran maka dia kafir. Pada hakikatnya, dalam keadaan apapun orang tidak dapat menolak filsafat. Jika menerima filsafat, ia juga harus berfilsafat untuk membuat argumen tentang kebenaran diri. Argumen tersebut termasuk dalam filsafat, yakni ilmu tentang hakikat dari sesuatu. Kaitannya dengan masa sekarang, di mana kebanyakan orang lebih senang melakukan hal-hal yang bermanfaat dan tujuannya lebih logis, mereka lebih senang berpikir secara logis, dan bertindak secara logis. Maka filsafat Yunani menjadi tolak ukur yang penting untuk dipelajari, utamanya bagi orang-orang yang sudah memimpin dalam bidang agama. Jadi, filsafat Yunani tidak dapat dipisahkan dari filsafat Islam.
Penerjemahan berlangsung intens ketika Dinasti Abbasiyah memegang kendali pemerintahan. Dalam Ensiklopedi Islam disebutkan, semula mereka hanya tertarik menerjemahkan naskah ilmu pengobatan Yunani. Tetapi, ketertarikan mereka juga merambah pada teks-teks filsafat.
Perhatian pada filsafat meningkat pada pemerintahan Khalifah al-Ma"mun (813-833), putra Harun al-Rasyid. Berbeda dengan orang Yunani, filsuf Islam berfokus pada filsafat kenabian. Alquran dan hadis juga menjadi sumber sentral spekulasi filosofis Islam selama berabad-abad.
Abad awal pertama filsafat Islam ditandai dengan munculnya sejumlah mazhab. Salah satunya adalah masyasya"un atau peripatetik. Mazhab ini merupakan sintesis antara prinsip Islam dan aliran filsafat Yunani, Arsitotelianisme dan Neoplatonisme. Pendiri mazhab ini adalah Abu Yaqub al-Kindi.
Sejumlah sumber mengungkapkan, Abu al-Abbas Iransyhari merupakan Muslim pertama yang menuliskan karya filsafat. Sayangnya, tak ada karyanya yang bertahan. Berbeda dengan al-Kindi yang karya-karyanya diketahui banyak orang. Dalam mengembangkan mazhab filsafatnya, ia menghadapi persoalan harmonisasi antara iman dan akal.
Kemudian, muncul Abu Nashr al-Farabi. Sejumlah kalangan menganggap al-Farabi melebihi al-Kindi. Dan, Ibnu Sina muncul pula dengan beragam karyanya. Selain adanya filasafat bermazhab, abad-abad awal perkembangan filsafat Islam juga melahirkan filsuf independen. Mereka juga berpengaruh.
Salah satunya adalah Muhammad bin Zakariya al-Razi. Selain filsuf, dia dikenal sebagai dokter terbesar setelah Ibnu Sina. Pada akhirnya, filsafat Islam tak hanya berkembang di wilayah Arab ataupun Persia, tapi juga di Barat, yaitu Spanyol, diawali oleh munculnya filsuf bernama Ibnu Masarrah.
Filsuf awal lainnya adalah Ibnu Hazm. Ia merupakan ahli fikih, teolog, filsuf, dan penulis salah satu karya Muslim pertama mengenai perbandingan agama. Pada masa selanjutnya, ada nama Ibnu Thufail. Ia terkenal dengan karya novel filsafatnya dengan judul Hayy ibnu Yaqzhan.
Mulla Shadra dan pengikutnya memiliki pengaruh di wilayah Persia, India Muslim, lingkaran Syiah di Irak. Di India, filsafatnya diajarkan oleh tokoh ternama pula di antaranya Syah Wali Allah dari Delhi. Pada masa berikutnya, Jamal al-Din al-Afghani, salah satu murid mazhab Mulla Shadra, menghidupkan kajian filsafat di Mesir.
Di sana, beberapa cendekiawan mengikuti pemikiran Mulla Shadra, seperti Abd al-HalimMahmud. Di Pakistan, ada Muhammad Iqbal. Bahkan diungkapkan, Maulana Maududi, pendiri Jamaat-i-Islami di Pakistan, pada masa mudanya menerjemahkan sebagian al-Asfar karya Mulla Shadra ke dalam bahasa Urdu.
04.02 Periode Awal Islam
# Filsafat Yunani sangat mempengaruhi lahirnya filsafat Islam
Lahirnya filsafat Islam
Kegiatan penerjemahan ini disertai pula dengan uraian dan penjelasan seperlunya. Para cendikiawan ketika itu berusaha memasukkan Filsafat Yunani sebagai bagian dari metodologi dalam menjelaskan Islam, terutama akidah untuk melihat perlunya penyesuaian antara wahyu dan akal.
Tentu saja, aktifitas para filosof di atas bersentuhan dengan penafsiran Al-Qur'an. Bahkan, kecenderungan menafsirkan Al-Qur'an secara filosofis besar sekali. Al-Kindi misalnya, yang dikenal sebagai Bapak Filosof Arab dan Muslim, berpendapat bahwa untuk memahami Al-Qur'an dengan benar, isinya harus ditafsirkan secara rasional, bahkan filosofis. Al-Kindi berpendapat bahwa Al-Qur'an mengandung ayat-ayat yang mengajak manusia untuk merenungkan peristiwa-peristiwa alam dan menyingkapkan makna yang lebih dalam di balik terbit-tenggelamnya matahari, berkembang-menyusutnya bulan, pasang-surutnya air laut dan seterusnya. Ajakan ini merupakan seruan untuk berfilsafat.
Di dalam sejarah, ditunjukkan bahwa lahirnya filsafat Islam tidak dapat dipisahkan dari rantai transmisi filsafat Yunani. Yang meninggalkan beberapa kesan pada sebagian besar sarjana barat bahwa filsafat Islam hanyalah filsafat Yunani yang menyalurkan unsur penting tertentu warisan zaman kuno barat abad pertengahan.
Filsafat Yunani sangat mempengaruhi lahirnya filsafat Islam, perlu kita ketahui bahwa filsafat Islam ini terbagi menjadi 2, yaitu:
dengan sedikit perubahan pada pemikirannya, dengan tokoh terkenalnya al-Farabi dan Ibnu Sina.
Ibn Rusyd menyatakan bahwa tujuan dasar filsafat adalah memperoleh pengetahuan yang benar dan berbuat benar. Dalam hal ini filsafat sesuai dengan agama, sebab tujuan agama pun tidak lain adalah menjamin pengetahuan yang benar bagi umat manusia dan menunjukkan jalan yang benar bagi kehidupan yang praktis. (Dar al-Mairrif, 1972)
Itulah sebabnya, Nurcholis Madjid menyatakan bahwa sumber dan pangkal tolak filsafat dalam Islam adalah ajaran Islam sendiri, sebagaimana terdapat dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Meskipun mempunyai dasar yang kokoh dalam sumber-sumber ajaran Islam sendiri, filsafat banyak mengandung unsur-unsur dari luar, terutama hellenisme atau dunia pemikiran Yunani. Terlihat jelas bahwa di satu sisi, filsafat Islam berkembang setelah umat Islam memiliki hubungan interaksi dengan filsafat Yunani.
Masuknya filsafat Yunani dalam Islam serta pemikirannya membangkitkan umat Islam untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam, serta menumbuhkan gairah umat untuk mempelajari ilmu pengetahuan alam dan filsafat. Banyak pemikiran filsafat Islam terpengaruh filsafat Yunani, meskipun demikian bahwa berguru bukan berarti mengekor atau mengutip. Jadi, alur telaahnya ialah amati, tiru, dan modifikasi. Filsafat Islam haruslah sesuai dengan prinsip agama dan keadaan masyarakat Islam itu sendiri.
Sedikit banyak filsafat Yunani sudah mengajari banyak hal. Orang yang anti filsafat berarti anti kebenaran, dan jika anti kebenaran maka dia kafir. Pada hakikatnya, dalam keadaan apapun orang tidak dapat menolak filsafat. Jika menerima filsafat, ia juga harus berfilsafat untuk membuat argumen tentang kebenaran diri. Argumen tersebut termasuk dalam filsafat, yakni ilmu tentang hakikat dari sesuatu. Kaitannya dengan masa sekarang, di mana kebanyakan orang lebih senang melakukan hal-hal yang bermanfaat dan tujuannya lebih logis, mereka lebih senang berpikir secara logis, dan bertindak secara logis. Maka filsafat Yunani menjadi tolak ukur yang penting untuk dipelajari, utamanya bagi orang-orang yang sudah memimpin dalam bidang agama. Jadi, filsafat Yunani tidak dapat dipisahkan dari filsafat Islam.
Pengaruh terbesar yang diterima umat Islam dalam bidang ilmu pengetahuan dan filsafat, menurut Ahmad Amin, adalah dari Yunani. Karena kontak umat Islam dengan peradaban Yunani bersamaan waktunya dengan penulisan ilmu-ilmu Islam. Logika Yunani mempunyai pengaruh besar pada alam pemikiran Islam saat itu.
Sejak kelahirannya, filsafat Islam menjadi salah satu tradisi intelektual penting di dunia Islam. Menurut Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern, filsafat Islam lahir dari spekulasi filosofis tentang warisan filsafat Yunani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada abad ketiga Hijriah atau abad kesembilan Masehi.
Penerjemahan berlangsung intens ketika Dinasti Abbasiyah memegang kendali pemerintahan. Dalam Ensiklopedi Islam disebutkan, semula mereka hanya tertarik menerjemahkan naskah ilmu pengobatan Yunani. Tetapi, ketertarikan mereka juga merambah pada teks-teks filsafat.
Perhatian pada filsafat meningkat pada pemerintahan Khalifah al-Ma"mun (813-833), putra Harun al-Rasyid. Berbeda dengan orang Yunani, filsuf Islam berfokus pada filsafat kenabian. Alquran dan hadis juga menjadi sumber sentral spekulasi filosofis Islam selama berabad-abad.
Abad awal pertama filsafat Islam ditandai dengan munculnya sejumlah mazhab. Salah satunya adalah masyasya"un atau peripatetik. Mazhab ini merupakan sintesis antara prinsip Islam dan aliran filsafat Yunani, Arsitotelianisme dan Neoplatonisme. Pendiri mazhab ini adalah Abu Yaqub al-Kindi.
Sejumlah sumber mengungkapkan, Abu al-Abbas Iransyhari merupakan Muslim pertama yang menuliskan karya filsafat. Sayangnya, tak ada karyanya yang bertahan. Berbeda dengan al-Kindi yang karya-karyanya diketahui banyak orang. Dalam mengembangkan mazhab filsafatnya, ia menghadapi persoalan harmonisasi antara iman dan akal.
Kemudian, muncul Abu Nashr al-Farabi. Sejumlah kalangan menganggap al-Farabi melebihi al-Kindi. Dan, Ibnu Sina muncul pula dengan beragam karyanya. Selain adanya filasafat bermazhab, abad-abad awal perkembangan filsafat Islam juga melahirkan filsuf independen. Mereka juga berpengaruh.
Salah satunya adalah Muhammad bin Zakariya al-Razi. Selain filsuf, dia dikenal sebagai dokter terbesar setelah Ibnu Sina. Pada akhirnya, filsafat Islam tak hanya berkembang di wilayah Arab ataupun Persia, tapi juga di Barat, yaitu Spanyol, diawali oleh munculnya filsuf bernama Ibnu Masarrah.
Filsuf awal lainnya adalah Ibnu Hazm. Ia merupakan ahli fikih, teolog, filsuf, dan penulis salah satu karya Muslim pertama mengenai perbandingan agama. Pada masa selanjutnya, ada nama Ibnu Thufail. Ia terkenal dengan karya novel filsafatnya dengan judul Hayy ibnu Yaqzhan.
Pada abad ke-16, bersamaan dengan berdirinya Dinasti Shafawiyah di Persia, dimulailah fase baru dalam filsafat Islam. Ini berkaitan dengan keberadaan mazhab Isfahan yang didirikan Mir Damad. Ia mempunyai seorang murid yang sangat terkenal bernama Shadr al-Din Syirazi, yang biasa dikenal dengan panggilan Mulla Shadra.
Di sana, beberapa cendekiawan mengikuti pemikiran Mulla Shadra, seperti Abd al-HalimMahmud. Di Pakistan, ada Muhammad Iqbal. Bahkan diungkapkan, Maulana Maududi, pendiri Jamaat-i-Islami di Pakistan, pada masa mudanya menerjemahkan sebagian al-Asfar karya Mulla Shadra ke dalam bahasa Urdu.
Materi Kuliah:
