Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
☰
  • Home
  • Opini
  • Kuliah ▼
  • Publikasi ▼
  • SINTA
  • Scholar
  • About Me
  • Labuhan Batu
  • Login

View : 148 kali.

Bagikan:
Home > Opinion   Kategori: Lingkungan dan Pembangunan
Sabtu, 25 April 2026

Jakarta Tidak Akan Tenggelam… Tapi Sebagian Sudah Mulai Hilang

Ilustrasi Jakarta Utara terendam banjir rob dengan gedung-gedung tinggi di latar belakang dan permukaan air laut yang naik perlahan.
Ilustrasi Jakarta Utara terendam banjir rob dengan gedung-gedung tinggi di latar belakang dan permukaan air laut yang naik perlahan.

Jakarta tidak akan tenggelam besok.
Tapi kalau kamu tinggal di utara… kamu mungkin sudah merasakannya hari ini.

Air tidak datang seperti bencana.
Tapi seperti tamu yang datang terlalu sering… sampai akhirnya tidak pernah benar-benar pergi.

Ada satu kalimat yang belakangan sering muncul di internet:
"Jakarta akan tenggelam.”

Sebagian orang menertawakannya.
Sebagian lagi panik.

Tapi masalahnya bukan di situ.

Masalah sebenarnya adalah:
kita terlalu sibuk berdebat apakah Jakarta akan tenggelam, sampai lupa bahwa sebagian Jakarta… sudah mulai hilang hari ini.


Kota yang Tidak Turun, Tapi Tenggelam dari Dalam

Banyak orang mengira ancaman terbesar Jakarta berasal dari laut.
Seolah-olah air datang dari luar, perlahan menelan kota.

Padahal kenyataannya lebih ironis.

Jakarta tidak benar-benar "ditelan laut”.
Jakarta sedang turun ke bawah permukaan lautnya sendiri.

Fenomena ini dikenal sebagai Penurunan Tanah.
Dan di Jakarta, ini bukan angka kecil.

Di beberapa titik, tanah turun hingga belasan sentimeter per tahun.
Bukan per dekade.
Per tahun.

Ini seperti berdiri di lift yang terus bergerak turun, pelan, tapi pasti.


Laut Naik Pelan. Kota Turun Cepat.

Kita juga sering mendengar tentang Perubahan Iklim.
Benar, permukaan laut memang naik.

Tapi di Jakarta, masalahnya lebih parah dari itu.

Laut naik beberapa milimeter per tahun
Tapi tanah Jakarta turun beberapa sentimeter per tahun

Artinya?
Bukan laut yang agresif. Kota ini yang melemah.


Jakarta Utara: Masa Depan yang Sudah Datang Lebih Dulu

Kalau ingin melihat masa depan jakarta,
tidak perlu menunggu tahun 2050.

Cukup pergi ke pesisir utara.

Di sana, banjir rob bukan lagi peristiwa.
Itu rutinitas.

Air laut masuk tanpa hujan.
Jalanan tergenang bukan karena badai, tapi karena pasang.

Di beberapa tempat, warga bahkan harus meninggikan rumah mereka berkali-kali.
Seolah-olah mereka sedang berlomba dengan air.

Dan untuk sementara…
air selalu menang.


Solusi Ada, Tapi Waktu Tidak Menunggu

Pemerintah bukan tidak bergerak.

Proyek seperti Giant Sea Wall dirancang untuk menahan laut.
Normalisasi sungai, pembatasan air tanah, hingga pemindahan pusat pemerintahan ke Ibu Kota Nusantara juga dilakukan.

Tapi ada satu masalah yang jarang dibahas:

Semua solusi butuh waktu.
Sementara masalahnya terjadi sekarang.



Bukan Soal Tenggelam. Tapi Soal Layak Tinggal.

Narasi "jakarta tenggelam” sering terdengar seperti film bencana.
Dramatis. Cepat. Total.

Padahal kenyataannya jauh lebih pelan… dan justru itu yang berbahaya.

Kota ini tidak akan hilang dalam satu malam.
Tidak akan langsung menjadi lautan.

Tapi yang lebih mungkin terjadi adalah:
  • Banjir makin sering
  • Infrastruktur makin tertekan
  • Beberapa wilayah perlahan ditinggalkan

Bukan tenggelam secara fisik dulu,
tapi tenggelam secara fungsi.


Pertanyaan yang Salah

Selama ini kita sibuk bertanya:
"Apakah Jakarta akan tenggelam?”

Padahal itu pertanyaan yang salah.

Pertanyaan yang lebih jujur adalah:
"Bagian mana yang akan lebih dulu tidak bisa ditinggali?”

Karena jawabannya…
proses itu sudah dimulai.


Penutup: Kota yang Masih Bisa Diselamatkan

Jakarta belum terlambat.

Tapi juga tidak punya kemewahan untuk menunda.

Ini bukan cerita tentang kota yang akan hilang.
Ini cerita tentang kota yang sedang diuji--
apakah ia bisa beradaptasi,
atau perlahan ditinggalkan.

Dan pada akhirnya,
masa depan jakarta bukan ditentukan oleh laut.

Tapi oleh keputusan kita hari ini.





Jakarta Tidak Akan Tenggelam… Tapi Sebagian Sudah Mulai Hilang








NEXT:

Yang Menyakiti Itu Bukan Musuh… Tapi Orang yang Aku Percaya


PREV:

Peta “Kebocoran Ekonomi” Paling Mahal di Indonesia

NEXT:

Yang Menyakiti Itu Bukan Musuh… Tapi Orang yang Aku Percaya


PREV:

Peta “Kebocoran Ekonomi” Paling Mahal di Indonesia

Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom., adalah dosen dan penulis opini yang mengajar Bisnis Digital dan Akuntansi di STIE Mulia Pratama Bekasi. Ia aktif menulis tentang teknologi, perubahan sosial, geopolitik, dan refleksi iman di tengah dinamika dunia modern.
About me selengkapnya...




Lingkungan dan Pembangunan :
  • Jakarta Tidak Akan Tenggelam… Tapi Sebagian Sudah Mulai Hilang
  • Sampai Kapan Gunung Kita Dibunuh Demi Sawit?

Pencarian E-DDC 23
Electronic Dewey Decimal Classification untuk Perpustakaan