View : 221 kali.
Home >
Opinion
Minggu, 26 April 2026

mazmur 55 menggambarkan pergumulan yang sangat manusiawi. Daud tidak sedang menghadapi orang asing. Ia tidak sedang melawan musuh yang jauh. Justru sebaliknya, ia sedang berhadapan dengan seseorang yang dekat, seseorang yang pernah masuk rumah Allah bersamanya, seseorang yang pernah berbagi kepercayaan.
"Bukan musuh yang mencela aku… tetapi engkau, temanku, orang kepercayaanku.”
Kalimat ini bukan sekadar keluhan. Ini adalah jeritan hati yang terluka.
Karena luka dari musuh masih bisa dimengerti.
Tetapi luka dari orang dekat… sulit diterima.
Kita bisa melawan musuh.
Tetapi bagaimana cara melawan kenangan?
Bagaimana cara melawan kepercayaan yang pernah kita berikan sepenuhnya?
Di titik inilah banyak orang jatuh.
Bukan karena serangan dari luar, tetapi karena runtuh dari dalam.
Pengkhianatan memiliki kekuatan untuk menghancurkan bukan hanya hati, tetapi juga cara pandang seseorang terhadap hidup. Orang yang pernah percaya, bisa berubah menjadi penuh curiga. Orang yang pernah terbuka, bisa menjadi tertutup. Orang yang pernah hangat, bisa menjadi dingin.
Namun yang menarik, Daud tidak berhenti pada luka.
Ia jujur tentang perasaannya, ia takut, gelisah, bahkan ingin lari. Ia berkata seandainya ia punya sayap seperti merpati, ia akan terbang menjauh dari semua ini. Itu menunjukkan bahwa iman bukan berarti tidak merasa sakit.
Tetapi Daud tidak tinggal di sana.
Ia mengambil satu keputusan penting: ia datang kepada Tuhan.
"Serahkanlah kuatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara engkau.”
Di tengah kekacauan, Daud tidak memilih membalas. Ia tidak memilih menyusun strategi balas dendam. Ia memilih menyerahkan.
Dan di situlah letak kekuatan iman yang sejati.
Kita hidup di zaman di mana membalas terasa lebih memuaskan daripada mengampuni. Di mana menjaga jarak terasa lebih aman daripada membuka hati kembali. Tetapi firman Tuhan mengajak kita pada jalan yang berbeda, bukan jalan yang mudah, tetapi jalan yang memulihkan.
Menyerahkan bukan berarti lemah.
Menyerahkan adalah bentuk kepercayaan tertinggi.
Bahwa Tuhan melihat.
Bahwa Tuhan tahu.
Dan bahwa Tuhan sanggup memelihara, bahkan ketika hidup terasa tidak adil.
Kisah Daud tidak berhenti di Mazmur. Dalam perjalanan hidupnya, ia juga mengalami pengkhianatan yang lebih dalam lagi, dari anaknya sendiri, Absalom. Seorang anak yang dibesarkan dengan kasih, justru bangkit melawan ayahnya.
Ini bukan sekadar konflik keluarga. Ini adalah luka yang berlapis.
Namun bahkan di sana, kita tidak melihat Daud menjadi pribadi yang pahit. Ia tetap seorang yang bersandar kepada Tuhan, bahkan ketika harus berjalan keluar dari kotanya sendiri dengan air mata.
Ini memberi kita satu pelajaran penting:
hidup tidak selalu adil, tetapi Tuhan selalu setia.
Mungkin hari ini ada yang sedang membaca tulisan ini dengan hati yang terluka. Dikhianati. Dikecewakan. Ditinggalkan oleh orang yang tidak pernah disangka-sangka.
Jika itu yang sedang kamu alami, ketahuilah satu hal:
Tuhan tidak pernah meninggalkanmu.
Manusia bisa berubah.
Manusia bisa gagal.
Tetapi Tuhan tetap sama.
Luka yang kamu alami hari ini mungkin terasa menghancurkan, tetapi di tangan Tuhan, luka itu bisa menjadi jalan untuk membentukmu menjadi pribadi yang lebih dalam, lebih kuat, dan lebih dekat kepada-Nya.
Karena pada akhirnya, hidup ini bukan tentang siapa yang menyakitimu--
tetapi tentang kepada siapa kamu bersandar ketika itu terjadi.
Dan seperti Daud berkata dengan sederhana namun penuh iman:
"Aku ini percaya kepada-Mu.”
Yang Menyakiti Itu Bukan Musuh… Tapi Orang yang Aku Percaya
Minggu, 26 April 2026
Yang Menyakiti Itu Bukan Musuh… Tapi Orang yang Aku Percaya

orang menangis sendirian dalam kesedihan karena disakiti orang yang disayangi di dalam kamar gelap
Yang paling menyakitkan dalam hidup ini bukanlah musuh… tetapi orang yang kita percaya.
Ada satu kenyataan hidup yang tidak mudah diterima:
tidak semua luka datang dari musuh.
Sebagian luka terdalam justru datang dari orang-orang yang pernah kita percaya.
Dari mereka yang pernah kita anggap sahabat.
Dari mereka yang pernah berjalan bersama kita.
Bahkan, dari mereka yang pernah kita doakan dalam diam.
Inilah ironi kehidupan, yang menyakitkan bukan hanya kebencian, tetapi pengkhianatan.
tidak semua luka datang dari musuh.
Sebagian luka terdalam justru datang dari orang-orang yang pernah kita percaya.
Dari mereka yang pernah kita anggap sahabat.
Dari mereka yang pernah berjalan bersama kita.
Bahkan, dari mereka yang pernah kita doakan dalam diam.
Inilah ironi kehidupan, yang menyakitkan bukan hanya kebencian, tetapi pengkhianatan.
mazmur 55 menggambarkan pergumulan yang sangat manusiawi.
Daud tidak sedang menghadapi orang asing.
Ia tidak sedang melawan musuh yang jauh.
Daud tidak sedang menghadapi orang asing.
Ia tidak sedang melawan musuh yang jauh.
Serahkanlah kuatirmu kepada Tuhan…
mazmur 55 menggambarkan pergumulan yang sangat manusiawi. Daud tidak sedang menghadapi orang asing. Ia tidak sedang melawan musuh yang jauh. Justru sebaliknya, ia sedang berhadapan dengan seseorang yang dekat, seseorang yang pernah masuk rumah Allah bersamanya, seseorang yang pernah berbagi kepercayaan.
"Bukan musuh yang mencela aku… tetapi engkau, temanku, orang kepercayaanku.”
Kalimat ini bukan sekadar keluhan. Ini adalah jeritan hati yang terluka.
Karena luka dari musuh masih bisa dimengerti.
Tetapi luka dari orang dekat… sulit diterima.
Kita bisa melawan musuh.
Tetapi bagaimana cara melawan kenangan?
Bagaimana cara melawan kepercayaan yang pernah kita berikan sepenuhnya?
Di titik inilah banyak orang jatuh.
Bukan karena serangan dari luar, tetapi karena runtuh dari dalam.
Pengkhianatan memiliki kekuatan untuk menghancurkan bukan hanya hati, tetapi juga cara pandang seseorang terhadap hidup. Orang yang pernah percaya, bisa berubah menjadi penuh curiga. Orang yang pernah terbuka, bisa menjadi tertutup. Orang yang pernah hangat, bisa menjadi dingin.
Namun yang menarik, Daud tidak berhenti pada luka.
Ia jujur tentang perasaannya, ia takut, gelisah, bahkan ingin lari. Ia berkata seandainya ia punya sayap seperti merpati, ia akan terbang menjauh dari semua ini. Itu menunjukkan bahwa iman bukan berarti tidak merasa sakit.
Tetapi Daud tidak tinggal di sana.
Ia mengambil satu keputusan penting: ia datang kepada Tuhan.
"Serahkanlah kuatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara engkau.”
Di tengah kekacauan, Daud tidak memilih membalas. Ia tidak memilih menyusun strategi balas dendam. Ia memilih menyerahkan.
Dan di situlah letak kekuatan iman yang sejati.
Kita hidup di zaman di mana membalas terasa lebih memuaskan daripada mengampuni. Di mana menjaga jarak terasa lebih aman daripada membuka hati kembali. Tetapi firman Tuhan mengajak kita pada jalan yang berbeda, bukan jalan yang mudah, tetapi jalan yang memulihkan.
Menyerahkan bukan berarti lemah.
Menyerahkan adalah bentuk kepercayaan tertinggi.
Bahwa Tuhan melihat.
Bahwa Tuhan tahu.
Dan bahwa Tuhan sanggup memelihara, bahkan ketika hidup terasa tidak adil.
Kisah Daud tidak berhenti di Mazmur. Dalam perjalanan hidupnya, ia juga mengalami pengkhianatan yang lebih dalam lagi, dari anaknya sendiri, Absalom. Seorang anak yang dibesarkan dengan kasih, justru bangkit melawan ayahnya.
Ini bukan sekadar konflik keluarga. Ini adalah luka yang berlapis.
Namun bahkan di sana, kita tidak melihat Daud menjadi pribadi yang pahit. Ia tetap seorang yang bersandar kepada Tuhan, bahkan ketika harus berjalan keluar dari kotanya sendiri dengan air mata.
Ini memberi kita satu pelajaran penting:
hidup tidak selalu adil, tetapi Tuhan selalu setia.
Mungkin hari ini ada yang sedang membaca tulisan ini dengan hati yang terluka. Dikhianati. Dikecewakan. Ditinggalkan oleh orang yang tidak pernah disangka-sangka.
Jika itu yang sedang kamu alami, ketahuilah satu hal:
Tuhan tidak pernah meninggalkanmu.
Manusia bisa berubah.
Manusia bisa gagal.
Tetapi Tuhan tetap sama.
Luka yang kamu alami hari ini mungkin terasa menghancurkan, tetapi di tangan Tuhan, luka itu bisa menjadi jalan untuk membentukmu menjadi pribadi yang lebih dalam, lebih kuat, dan lebih dekat kepada-Nya.
Karena pada akhirnya, hidup ini bukan tentang siapa yang menyakitimu--
tetapi tentang kepada siapa kamu bersandar ketika itu terjadi.
Dan seperti Daud berkata dengan sederhana namun penuh iman:
"Aku ini percaya kepada-Mu.”
Manusia bisa melukai…
tetapi Tuhan tidak pernah mengkhianati.
tetapi Tuhan tidak pernah mengkhianati.
Yang Menyakiti Itu Bukan Musuh… Tapi Orang yang Aku Percaya
NEXT:
DIAMNYA DPD DI TENGAH SENTRALISASI FISKAL (Seri: “Krisis Fiskal Daerah 2026”)
PREV:
