View : 195 kali.
Home >
Cerpen Pak Murdan
Jumat, 14 Maret 2025

Koruptor yang Tertipu Blockchain
Jumat, 14 Maret 2025
Koruptor yang Tertipu Blockchain

Di sebuah perusahaan besar bernama PT Maju Mundur, terdapat seorang akuntan bernama Pak Joko yang sudah bertahun-tahun lihai dalam mengakali keuangan perusahaan. Dengan senyuman liciknya, ia seringkali memindahkan dana ke rekening pribadi tanpa ketahuan. Namun, semua berubah sejak perusahaan beralih ke sistem blockchain untuk mengelola keuangannya.
Pak Joko, yang sudah terbiasa dengan trik-trik jadul, merasa tetap percaya diri. "Ah, sistem baru apalah itu blockchain, paling cuma nama keren doang,” gumamnya sambil tertawa kecil.
Suatu hari, ia mencoba melakukan aksinya seperti biasa. Dengan jari-jarinya yang lincah, ia memindahkan dana sebesar 500 juta rupiah ke rekening pribadinya. Namun, anehnya, saat ia menutup laptop dan membuka kembali, transaksi tersebut tetap tercatat jelas di sistem yang transparan dan tidak bisa dihapus.
"Eh, kok transaksi saya kelihatan di sini?” gumamnya panik.
Ia mencoba menghapus log transaksi, tapi sistem malah memberikan notifikasi:
"Transaksi ini telah dicatat secara permanen di blockchain. Selamat, Anda kini terkenal!”
Pak Joko mulai berkeringat dingin. Ia mencoba menghubungi teman hacker-nya, Mas Budi, untuk membantu.
"Bro, tolong gue! Gue ketahuan nih!” kata Pak Joko dengan suara gemetar.
Mas Budi yang sudah paham teknologi blockchain tertawa terbahak-bahak.
"Waduh, Joko! Blockchain itu sistemnya desentralisasi dan transparan. Sekali tercatat, nggak bisa dihapus atau diedit. Lo udah kayak orang nyolong di siaran langsung TV nasional!” jawab Mas Budi.
Pak Joko makin panik. Ia lalu mencoba cara kuno, mematikan server perusahaan. Namun, karena blockchain berjalan di banyak server di seluruh dunia, data tetap ada dan terus mencatat segala aktivitasnya.
Keesokan harinya, direktur perusahaan, Pak Rudi, memanggil Pak Joko ke ruangannya.
"Pak Joko, ini gimana ceritanya ada transaksi 500 juta ke rekening pribadi Anda, dan semua orang di perusahaan bisa lihat di dashboard keuangan kita?” tanya Pak Rudi sambil menahan tawa.
Pak Joko yang sudah putus asa akhirnya berkata, "Blockchain itu jahat, Pak. Dia ngaduin saya!”
Semua orang di ruangan tertawa terbahak-bahak.
Sejak kejadian itu, Pak Joko pun pensiun dini dan membuka usaha bakso di pinggir jalan. Namun, setiap kali orang bertanya kenapa ia berhenti jadi akuntan, ia selalu menjawab, "Gara-gara saya nggak paham blockchain, Bro.”
Dan begitulah, teknologi yang transparan akhirnya berhasil mengalahkan kelicikan yang sudah berkarat bertahun-tahun.
Pak Joko, yang sudah terbiasa dengan trik-trik jadul, merasa tetap percaya diri. "Ah, sistem baru apalah itu blockchain, paling cuma nama keren doang,” gumamnya sambil tertawa kecil.
Suatu hari, ia mencoba melakukan aksinya seperti biasa. Dengan jari-jarinya yang lincah, ia memindahkan dana sebesar 500 juta rupiah ke rekening pribadinya. Namun, anehnya, saat ia menutup laptop dan membuka kembali, transaksi tersebut tetap tercatat jelas di sistem yang transparan dan tidak bisa dihapus.
"Eh, kok transaksi saya kelihatan di sini?” gumamnya panik.
Ia mencoba menghapus log transaksi, tapi sistem malah memberikan notifikasi:
"Transaksi ini telah dicatat secara permanen di blockchain. Selamat, Anda kini terkenal!”
Pak Joko mulai berkeringat dingin. Ia mencoba menghubungi teman hacker-nya, Mas Budi, untuk membantu.
"Bro, tolong gue! Gue ketahuan nih!” kata Pak Joko dengan suara gemetar.
Mas Budi yang sudah paham teknologi blockchain tertawa terbahak-bahak.
"Waduh, Joko! Blockchain itu sistemnya desentralisasi dan transparan. Sekali tercatat, nggak bisa dihapus atau diedit. Lo udah kayak orang nyolong di siaran langsung TV nasional!” jawab Mas Budi.
Pak Joko makin panik. Ia lalu mencoba cara kuno, mematikan server perusahaan. Namun, karena blockchain berjalan di banyak server di seluruh dunia, data tetap ada dan terus mencatat segala aktivitasnya.
Keesokan harinya, direktur perusahaan, Pak Rudi, memanggil Pak Joko ke ruangannya.
"Pak Joko, ini gimana ceritanya ada transaksi 500 juta ke rekening pribadi Anda, dan semua orang di perusahaan bisa lihat di dashboard keuangan kita?” tanya Pak Rudi sambil menahan tawa.
Pak Joko yang sudah putus asa akhirnya berkata, "Blockchain itu jahat, Pak. Dia ngaduin saya!”
Semua orang di ruangan tertawa terbahak-bahak.
Sejak kejadian itu, Pak Joko pun pensiun dini dan membuka usaha bakso di pinggir jalan. Namun, setiap kali orang bertanya kenapa ia berhenti jadi akuntan, ia selalu menjawab, "Gara-gara saya nggak paham blockchain, Bro.”
Dan begitulah, teknologi yang transparan akhirnya berhasil mengalahkan kelicikan yang sudah berkarat bertahun-tahun.
Koruptor yang Tertipu Blockchain
NEXT:
Tsunami di Kota JAK CITY
PREV:
