Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
☰
  • Home
  • Opini
  • Kuliah ▼
  • Publikasi ▼
  • SINTA
  • Scholar
  • About Me
  • Labuhan Batu
  • Login

View : 81 kali.

Bagikan:
Home > Cerpen Pak Murdan
Kamis, 13 Maret 2025

Revolusi Kampus Tertukar


Di tengah riuhnya aksi "Indonesia Gelap," mahasiswa di seluruh negeri turun ke jalan menuntut hak mereka. Jakarta, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya penuh dengan orasi dan aksi teatrikal yang semakin memanas. Namun, ada satu kampus yang justru mengalami peristiwa tak terduga.

Di Universitas Negeri Angin Ribut (UNAR), mahasiswa juga berencana ikut serta dalam demo nasional. Semua sudah siap: spanduk, poster, bahkan orasi dramatis yang sudah dilatih semalaman. Ketua BEM, Joni, yang terkenal dengan suara menggelegarnya, berdiri di tengah lapangan dengan megafon di tangan.

"Kawan-kawan! Hari ini kita turun ke jalan menuntut hak kita! Kita akan menuju DPRD dan memastikan suara mahasiswa didengar!" teriaknya penuh semangat.

"Betul!" sahut Siti, wakil ketua BEM. "Sudah siap semuanya?"

"Siap!" balas para mahasiswa serempak.

Namun, ada satu masalah besar: tidak ada satu pun yang tahu jalan ke DPRD. Dono, mahasiswa semester 12 yang entah kenapa masih bertahan di kampus, maju dengan percaya diri. "Tenang! Saya sudah cek Google Maps. Ayo ikuti saya!"

Dengan penuh semangat, ratusan mahasiswa pun bergerak. Mereka berjalan kaki, bernyanyi lagu perjuangan, dan berorasi sepanjang perjalanan. Setelah hampir satu jam berjalan, Joni mulai merasa ada yang aneh.

"Dono, kok nggak sampai-sampai?"

Dono yang sibuk melihat peta di ponselnya tiba-tiba terlihat panik. "Ehh... Kita sepertinya salah jalan."

"Apa?! Salah jalan?!" teriak Siti.

"Iya… Kita malah menuju rumah dinas rektor, bukan DPRD."

Seketika suasana hening. Mahasiswa yang tadinya penuh semangat kini saling pandang, bingung harus bagaimana. Lebih parah lagi, rektor kampus mereka, Pak Surya, tiba-tiba muncul di depan rumahnya dengan piyama dan sandal jepit.

"Lho, lho, lho, kalian demo di rumah saya? Ada apa ini?" tanyanya dengan wajah penuh tanda tanya.

Joni yang panik langsung berbisik ke Dono, "Cepat cari alasan!"

Dono dengan penuh percaya diri maju dan berkata, "Pak, ini sebenarnya bukan demo. Kami... ini... ini kunjungan silaturahmi, Pak! Dalam rangka membangun komunikasi antara mahasiswa dan pemimpin akademik!"

Pak Surya mengangkat alis. "Silaturahmi kok bawa spanduk dan megafon?"

Siti dengan cepat menimpali, "Ini dekorasi, Pak. Supaya lebih berwarna."

Rektor menghela napas panjang. "Ya sudah, kalau mau silaturahmi, ayo duduk dulu. Tapi jangan ribut-ribut, saya baru bangun tidur."

Dan begitulah, aksi "Indonesia Gelap" di kampus ini berakhir bukan dengan tuntutan yang disampaikan ke DPRD, melainkan sesi diskusi dadakan di teras rumah rektor, lengkap dengan tanya jawab akademik. Ternyata, revolusi bisa berujung pada sesi konsultasi skripsi gratis.


Revolusi Kampus Tertukar








NEXT:

Koruptor yang Tertipu Blockchain


PREV:

Bitcoin Jatuh, Dompet Ikut Lemas

Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom., adalah dosen dan penulis opini yang mengajar Bisnis Digital dan Akuntansi di STIE Mulia Pratama Bekasi. Ia aktif menulis tentang teknologi, perubahan sosial, geopolitik, dan refleksi iman di tengah dinamika dunia modern.
About me selengkapnya...





Pencarian E-DDC 23
Electronic Dewey Decimal Classification untuk Perpustakaan