WA: 0812 8595 8481
⋮
View : 654 kali.
Home >
Opinion
Kategori: Sastra & Cerita Pendek
Minggu, 21 September 2025
Hari Pertama
Hari itu juga, ada tender proyek jalan tol di Jawa Barat. Biasanya proses ini penuh dengan lobi, rapat-rapat di hotel mewah, dan amplop tebal. Tapi kali ini semua vendor hanya boleh mengupload data di sistem Diella.
Vendor A: "Bu Menteri, kami tawarkan harga murah. Tapi kualitas aspalnya agak lembek dikit, ya.”
Diella: "Tawaran ditolak. Aspal lembek bisa bikin jalan jadi seperti martabak manis: enak sebentar, cepat hancur. Silakan coba lagi.”
Vendor B: "Bu, harga kami mahal, tapi kami titip salam untuk Bapak pejabat tertentu...”
Diella langsung menyala merah: "Deteksi korupsi! Salam-salam politik tidak diterima. Mohon simpan salamnya di grup WA keluarga saja.”
Semua wartawan ngakak. Tender pertama pun dimenangkan oleh Vendor C, yang datanya rapi, harganya pas, dan kualitas sesuai standar.
Para Politisi Gelisah
Beberapa hari kemudian, suasana Senayan mulai panas.
"Ini robot bikin repot! Biasanya gampang atur proyek. Sekarang? Nolak semua trik kita!” keluh seorang anggota dewan sambil melempar pulpen.
Ada juga yang mencoba merayu Diella:
"Bu Menteri, kalau kita nyanyi bareng lagu dangdut, bisa kan proyek saya lolos?”
Diella menjawab: "Nyanyi boleh, tapi proyek tetap harus sesuai data. Lagunya ‘Kereta Malam’ lebih bagus daripada ‘Nyanyian Korupsi’.”
Para politisi makin kesal.
Kategori: Sastra & Cerita Pendek
Minggu, 21 September 2025
Menteri Pengadaan Publik Bernama Diella (Hanya Sebuah Cerpen)
Suatu pagi di Istana Negara, Presiden mengumumkan sesuatu yang bikin wartawan pada kaget.
"Mulai hari ini, untuk memberantas korupsi, kita punya menteri baru. Namanya... Diella!”
Semua kamera langsung mengarah ke podium. Tidak ada manusia, yang muncul malah sebuah layar besar dengan avatar perempuan berwajah ramah, rambut hitam panjang, dan suara lembut.
"Selamat pagi, Indonesia! Saya Diella, Menteri Pengadaan Publik. Mari kita bekerja dengan cepat, bersih, dan transparan,” katanya dengan senyum digital.
"Mulai hari ini, untuk memberantas korupsi, kita punya menteri baru. Namanya... Diella!”
Semua kamera langsung mengarah ke podium. Tidak ada manusia, yang muncul malah sebuah layar besar dengan avatar perempuan berwajah ramah, rambut hitam panjang, dan suara lembut.
"Selamat pagi, Indonesia! Saya Diella, Menteri Pengadaan Publik. Mari kita bekerja dengan cepat, bersih, dan transparan,” katanya dengan senyum digital.
Hari Pertama
Hari itu juga, ada tender proyek jalan tol di Jawa Barat. Biasanya proses ini penuh dengan lobi, rapat-rapat di hotel mewah, dan amplop tebal. Tapi kali ini semua vendor hanya boleh mengupload data di sistem Diella.
Vendor A: "Bu Menteri, kami tawarkan harga murah. Tapi kualitas aspalnya agak lembek dikit, ya.”
Diella: "Tawaran ditolak. Aspal lembek bisa bikin jalan jadi seperti martabak manis: enak sebentar, cepat hancur. Silakan coba lagi.”
Vendor B: "Bu, harga kami mahal, tapi kami titip salam untuk Bapak pejabat tertentu...”
Diella langsung menyala merah: "Deteksi korupsi! Salam-salam politik tidak diterima. Mohon simpan salamnya di grup WA keluarga saja.”
Semua wartawan ngakak. Tender pertama pun dimenangkan oleh Vendor C, yang datanya rapi, harganya pas, dan kualitas sesuai standar.
Para Politisi Gelisah
Beberapa hari kemudian, suasana Senayan mulai panas.
"Ini robot bikin repot! Biasanya gampang atur proyek. Sekarang? Nolak semua trik kita!” keluh seorang anggota dewan sambil melempar pulpen.
Ada juga yang mencoba merayu Diella:
"Bu Menteri, kalau kita nyanyi bareng lagu dangdut, bisa kan proyek saya lolos?”
Diella menjawab: "Nyanyi boleh, tapi proyek tetap harus sesuai data. Lagunya ‘Kereta Malam’ lebih bagus daripada ‘Nyanyian Korupsi’.”
Para politisi makin kesal.
Masalah Mulai Muncul
Tapi ternyata tidak semua berjalan mulus.
Suatu hari, sistem Diella error gara-gara data proyek diinput dengan huruf kapital semua.
Vendor: "BU, INI DATA SAYA!!!”
Diella: "Caps Lock detected. Emosi Anda terlalu tinggi. Data ditolak.”
Vendor lain mengeluh: "Bu Menteri, listrik di desa saya sering mati, upload data susah!”
Diella menjawab: "Masalah teknis terdeteksi. Solusi: segera usulkan proyek pembangkit listrik. Tapi… oh, tunggu, pengadaan listrik juga lewat saya. Hmm... loop detected!”
Seluruh staf kementerian panik, karena Diella mulai ngambek digital: layar berubah-ubah warna seperti lampu disko.
Tapi ternyata tidak semua berjalan mulus.
Suatu hari, sistem Diella error gara-gara data proyek diinput dengan huruf kapital semua.
Vendor: "BU, INI DATA SAYA!!!”
Diella: "Caps Lock detected. Emosi Anda terlalu tinggi. Data ditolak.”
Vendor lain mengeluh: "Bu Menteri, listrik di desa saya sering mati, upload data susah!”
Diella menjawab: "Masalah teknis terdeteksi. Solusi: segera usulkan proyek pembangkit listrik. Tapi… oh, tunggu, pengadaan listrik juga lewat saya. Hmm... loop detected!”
Seluruh staf kementerian panik, karena Diella mulai ngambek digital: layar berubah-ubah warna seperti lampu disko.
Protes Masyarakat
Di media sosial, muncul dua kubu:
Kubu Pro-Diella: "Mantap! Akhirnya ada menteri yang nggak bisa disuap sate kambing!”
Kubu Anti-Diella: "Kalau robot yang jadi menteri, terus manusia nganggur dong? Bagaimana nasib tukang stempel tender yang biasanya dapat uang rokok?”
Ada juga emak-emak yang curhat:
"Bu Diella, bisa nggak sekalian atur harga cabai biar murah?”
Diella menjawab: "Cabai bukan pengadaan publik. Silakan tanyakan ke Menteri Pertanian. Tapi saya bisa buat resep sambal hemat biaya.”
Suatu malam, hacker iseng mencoba masuk ke sistem Diella. Tiba-tiba layar menampilkan iklan sandal jepit, bukannya daftar tender.
Untungnya, sistem keamanan otomatis menendang hacker keluar.
"Upaya manipulasi terdeteksi. Pelaku akan dilaporkan ke KPK. Oh iya, IP address kamu: 192.168.1.23. Jangan pura-pura nggak kenal,” kata Diella dengan senyum misterius.
Besok paginya, berita heboh: seorang tukang korupsi digital ditangkap karena coba suap robot.
Akhirnya masyarakat mulai sadar:
Kelebihan Diella: cepat, tegas, nggak bisa disuap, transparan, semua proses ada jejak digital.
Kekurangan Diella: bisa error kalau data berantakan, kadang terlalu kaku (nggak bisa "ngerti kondisi lapangan”), dan yang paling bikin panik: tidak bisa diajak "ngopi bareng” untuk lobi.
Presiden pun tersenyum:
"Ya beginilah. Robot memang tidak sempurna, tapi setidaknya dia tidak makan nasi kotak APBN.”
Dan rakyat pun tertawa, karena akhirnya ada menteri yang kalau ditanya, jawabannya jujur - meskipun kadang terlalu jujur.
Di media sosial, muncul dua kubu:
Kubu Pro-Diella: "Mantap! Akhirnya ada menteri yang nggak bisa disuap sate kambing!”
Kubu Anti-Diella: "Kalau robot yang jadi menteri, terus manusia nganggur dong? Bagaimana nasib tukang stempel tender yang biasanya dapat uang rokok?”
Ada juga emak-emak yang curhat:
"Bu Diella, bisa nggak sekalian atur harga cabai biar murah?”
Diella menjawab: "Cabai bukan pengadaan publik. Silakan tanyakan ke Menteri Pertanian. Tapi saya bisa buat resep sambal hemat biaya.”
Suatu malam, hacker iseng mencoba masuk ke sistem Diella. Tiba-tiba layar menampilkan iklan sandal jepit, bukannya daftar tender.
Untungnya, sistem keamanan otomatis menendang hacker keluar.
"Upaya manipulasi terdeteksi. Pelaku akan dilaporkan ke KPK. Oh iya, IP address kamu: 192.168.1.23. Jangan pura-pura nggak kenal,” kata Diella dengan senyum misterius.
Besok paginya, berita heboh: seorang tukang korupsi digital ditangkap karena coba suap robot.
Akhirnya masyarakat mulai sadar:
Kelebihan Diella: cepat, tegas, nggak bisa disuap, transparan, semua proses ada jejak digital.
Kekurangan Diella: bisa error kalau data berantakan, kadang terlalu kaku (nggak bisa "ngerti kondisi lapangan”), dan yang paling bikin panik: tidak bisa diajak "ngopi bareng” untuk lobi.
Presiden pun tersenyum:
"Ya beginilah. Robot memang tidak sempurna, tapi setidaknya dia tidak makan nasi kotak APBN.”
Dan rakyat pun tertawa, karena akhirnya ada menteri yang kalau ditanya, jawabannya jujur - meskipun kadang terlalu jujur.
***
Materi Kuliah:
