Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
☰
  • Home
  • Opini
  • Kuliah ▼
  • Publikasi ▼
  • SINTA
  • Scholar
  • About Me
  • Labuhan Batu
  • Login

View : 684 kali.

Bagikan:
Home > Opinion   Kategori: Cerpen
Minggu, 21 September 2025

Menteri Pengadaan Publik Bernama Diella (Hanya Sebuah Cerpen)


Suatu pagi di Istana Negara, Presiden mengumumkan sesuatu yang bikin wartawan pada kaget.
"Mulai hari ini, untuk memberantas korupsi, kita punya menteri baru. Namanya... Diella!”

Semua kamera langsung mengarah ke podium. Tidak ada manusia, yang muncul malah sebuah layar besar dengan avatar perempuan berwajah ramah, rambut hitam panjang, dan suara lembut.


"Selamat pagi, Indonesia! Saya Diella, Menteri Pengadaan Publik. Mari kita bekerja dengan cepat, bersih, dan transparan,” katanya dengan senyum digital.


Hari Pertama


Hari itu juga, ada tender proyek jalan tol di Jawa Barat. Biasanya proses ini penuh dengan lobi, rapat-rapat di hotel mewah, dan amplop tebal. Tapi kali ini semua vendor hanya boleh mengupload data di sistem Diella.

Vendor A: "Bu Menteri, kami tawarkan harga murah. Tapi kualitas aspalnya agak lembek dikit, ya.”
Diella: "Tawaran ditolak. Aspal lembek bisa bikin jalan jadi seperti martabak manis: enak sebentar, cepat hancur. Silakan coba lagi.”

Vendor B: "Bu, harga kami mahal, tapi kami titip salam untuk Bapak pejabat tertentu...”
Diella langsung menyala merah: "Deteksi korupsi! Salam-salam politik tidak diterima. Mohon simpan salamnya di grup WA keluarga saja.”

Semua wartawan ngakak. Tender pertama pun dimenangkan oleh Vendor C, yang datanya rapi, harganya pas, dan kualitas sesuai standar.


Para Politisi Gelisah

Beberapa hari kemudian, suasana Senayan mulai panas.
"Ini robot bikin repot! Biasanya gampang atur proyek. Sekarang? Nolak semua trik kita!” keluh seorang anggota dewan sambil melempar pulpen.

Ada juga yang mencoba merayu Diella:
"Bu Menteri, kalau kita nyanyi bareng lagu dangdut, bisa kan proyek saya lolos?”
Diella menjawab: "Nyanyi boleh, tapi proyek tetap harus sesuai data. Lagunya ‘Kereta Malam’ lebih bagus daripada ‘Nyanyian Korupsi’.”

Para politisi makin kesal.


Masalah Mulai Muncul

Tapi ternyata tidak semua berjalan mulus.
Suatu hari, sistem Diella error gara-gara data proyek diinput dengan huruf kapital semua.

Vendor: "BU, INI DATA SAYA!!!”
Diella: "Caps Lock detected. Emosi Anda terlalu tinggi. Data ditolak.”

Vendor lain mengeluh: "Bu Menteri, listrik di desa saya sering mati, upload data susah!”
Diella menjawab: "Masalah teknis terdeteksi. Solusi: segera usulkan proyek pembangkit listrik. Tapi… oh, tunggu, pengadaan listrik juga lewat saya. Hmm... loop detected!”

Seluruh staf kementerian panik, karena Diella mulai ngambek digital: layar berubah-ubah warna seperti lampu disko.


Protes Masyarakat

Di media sosial, muncul dua kubu:

Kubu Pro-Diella: "Mantap! Akhirnya ada menteri yang nggak bisa disuap sate kambing!”

Kubu Anti-Diella: "Kalau robot yang jadi menteri, terus manusia nganggur dong? Bagaimana nasib tukang stempel tender yang biasanya dapat uang rokok?”

Ada juga emak-emak yang curhat:
"Bu Diella, bisa nggak sekalian atur harga cabai biar murah?”
Diella menjawab: "Cabai bukan pengadaan publik. Silakan tanyakan ke Menteri Pertanian. Tapi saya bisa buat resep sambal hemat biaya.”


Suatu malam, hacker iseng mencoba masuk ke sistem Diella. Tiba-tiba layar menampilkan iklan sandal jepit, bukannya daftar tender.

Untungnya, sistem keamanan otomatis menendang hacker keluar.
"Upaya manipulasi terdeteksi. Pelaku akan dilaporkan ke KPK. Oh iya, IP address kamu: 192.168.1.23. Jangan pura-pura nggak kenal,” kata Diella dengan senyum misterius.

Besok paginya, berita heboh: seorang tukang korupsi digital ditangkap karena coba suap robot.


Akhirnya masyarakat mulai sadar:

Kelebihan Diella: cepat, tegas, nggak bisa disuap, transparan, semua proses ada jejak digital.

Kekurangan Diella: bisa error kalau data berantakan, kadang terlalu kaku (nggak bisa "ngerti kondisi lapangan”), dan yang paling bikin panik: tidak bisa diajak "ngopi bareng” untuk lobi.

Presiden pun tersenyum:
"Ya beginilah. Robot memang tidak sempurna, tapi setidaknya dia tidak makan nasi kotak APBN.”

Dan rakyat pun tertawa, karena akhirnya ada menteri yang kalau ditanya, jawabannya jujur - meskipun kadang terlalu jujur.













Menteri Pengadaan Publik Bernama Diella (Hanya Sebuah Cerpen)








NEXT:

Ruang Mediasi, Ruang Tawa (Sebuah Cerpen)


PREV:

Saat Dunia Terguncang oleh RAPTURE

NEXT:

Ruang Mediasi, Ruang Tawa (Sebuah Cerpen)


PREV:

Saat Dunia Terguncang oleh RAPTURE

Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom., adalah dosen dan penulis opini yang mengajar Bisnis Digital dan Akuntansi di STIE Mulia Pratama Bekasi. Ia aktif menulis tentang teknologi, perubahan sosial, geopolitik, dan refleksi iman di tengah dinamika dunia modern.
About me selengkapnya...




Cerpen :
  • ENGLISH ONLY! Ketika Kuliah Bahasa Inggris Membuat Mahasiswa Lupa Bahasa Indonesia
  • Harta yang Tak Lagi Bisa Bersembunyi (Cerpen Fiksi)
  • DEMO YANG TIDAK PERNAH DIMULAI (Cerpen Satire)
  • Kursi Nomor Tujuh (Sebuah Cerpen)
  • BlueMoon, Tak Sebiru Cintaku
  • Menteri Pengadaan Publik Bernama Diella (Hanya Sebuah Cerpen)
  • AH dan Uang Desa yang Tersesat
  • Mahasiswa UUUI Gugat Semesta
  • Bram dan Tantangan PUE
  • Terbelenggu Rindu
  • Koruptor di Ujung Tiang
  • Ketika Dunia Butuh Liburan
  • Hukuman Langit untuk Kaum Fitnah

Pencarian E-DDC 23
Electronic Dewey Decimal Classification untuk Perpustakaan