WA: 0812 8595 8481
⋮
View : 181 kali.
Home >
Opinion
Kategori: Sastra & Cerita Pendek
Minggu, 21 September 2025
(Salam buat adik saya Dr. Marulitua Sianturi, S.H., M.H., C.Med, Hakim mediator di Pengadilan Negeri Tangerang. Semoga makin sukses.)
***
Kategori: Sastra & Cerita Pendek
Minggu, 21 September 2025
Ruang Mediasi, Ruang Tawa (Sebuah Cerpen)
Suatu pagi di Pengadilan Agama, ruang mediasi sudah penuh cerita. Hakim mediator, Pak Hakim Harun, duduk dengan wajah serius setidaknya di awal. Ia tahu, pekerjaannya bukan sekadar mendamaikan, tapi juga menjaga agar ruang sidang yang biasanya penuh air mata, sesekali bisa berisi tawa.
Kasus 1: Ayam Berkokok
Pasangan pertama masuk. Suami mengeluh, "Pak Hakim, saya sudah tidak tahan. Istri saya cerewet sekali. Bahkan ayam berkokok pun bisa bikin dia marah!”
Pak Hakim menahan tawa. "Maksudnya bagaimana, Pak?”
Dengan ekspresi polos, si suami menjawab, "Dia bilang saya lebih peduli sama ayam daripada sama dia.”
Ruangan seketika meledak tawa. Sang istri ikut tersenyum malu-malu. Pak Hakim pun bergumam dalam hati, ternyata ayam bisa jadi saksi rumah tangga juga. Aneh tapi nyata, justru gara-gara ayam, pasangan itu berdamai.
Kasus 2: Daun Singkong Abadi
Pasangan kedua datang dengan wajah tegang. Sang Istri berkata, "Saya bosan, Pak Hakim. Suami saya setiap hari maunya sayur daun singkong terus!”
Suami langsung membela diri, "Lho, itu kan sehat dan murah.”
Pak Hakim tersenyum nakal, "Kalau begitu, besok gantian sayur kangkung biar ada variasi.”
Semua tertawa. Ketegangan mencair. Si istri mengangguk setengah rela, si suami tertawa kecil. Pak Hakim menuliskan catatan dalam hati: ternyata nasib perceraian bisa ditentukan oleh menu dapur.
Kasus 3: Romantisme Hilang
Pasangan ketiga duduk. Sang istri dengan nada kesal berkata, "Pak Hakim, sudah sepuluh tahun suami saya tidak pernah bilang saya cantik.”
Pak Hakim menoleh ke suami, "Benarkah begitu?”
Suami dengan wajah tenang menjawab, "Lho, kan dari awal sudah jelas dia cantik. Kalau berubah, baru saya bilang.”
Ruangan langsung terguncang oleh tawa. Istri yang tadinya kesal mendadak tersenyum tipis. Pak Hakim menutup mulut menahan geli, romantisme memang mahal, tapi logika suami ini lebih mahal lagi.
Kasus 4: Anak Jadi Penyelamat
Pasangan terakhir datang bersama anak kecil mereka. Saat orangtuanya sibuk berdebat, si bocah tiba-tiba nyeletuk polos, "Papa Mama jangan cerai ya… nanti aku bingung ikut siapa. Lagian, kalau cerai siapa yang ajak aku ke pasar malam?”
Seketika ruangan sunyi, lalu berubah jadi tawa bercampur haru. Sang ibu menangis kecil, sang ayah menunduk. Pak Hakim tersenyum lega, ternyata terkadang mediator terbaik bukan hakim, tapi anak sendiri.
Sore hari, Pak Hakim Harun menutup buku catatannya. Ia lelah, tapi bibirnya tersenyum.
"Ah, beginilah suka duka jadi hakim mediator,” gumamnya. "Kadang harus jadi pendengar, kadang jadi motivator, dan sering kali… jadi penonton komedi rumah tangga.”
Ia tertawa kecil, mengingat ayam berkokok, daun singkong, suami yang logis tapi tak romantis, dan anak kecil yang lebih bijak dari orangtuanya.
Di luar, matahari sore menyorot lembut. Pak Hakim tahu, tidak semua mediasi berhasil, tapi hari ini ia berhasil membuat ruang mediasi tak hanya berisi amarah melainkan juga tawa dan harapan.
Kasus 1: Ayam Berkokok
Pasangan pertama masuk. Suami mengeluh, "Pak Hakim, saya sudah tidak tahan. Istri saya cerewet sekali. Bahkan ayam berkokok pun bisa bikin dia marah!”
Pak Hakim menahan tawa. "Maksudnya bagaimana, Pak?”
Dengan ekspresi polos, si suami menjawab, "Dia bilang saya lebih peduli sama ayam daripada sama dia.”
Ruangan seketika meledak tawa. Sang istri ikut tersenyum malu-malu. Pak Hakim pun bergumam dalam hati, ternyata ayam bisa jadi saksi rumah tangga juga. Aneh tapi nyata, justru gara-gara ayam, pasangan itu berdamai.
Kasus 2: Daun Singkong Abadi
Pasangan kedua datang dengan wajah tegang. Sang Istri berkata, "Saya bosan, Pak Hakim. Suami saya setiap hari maunya sayur daun singkong terus!”
Suami langsung membela diri, "Lho, itu kan sehat dan murah.”
Pak Hakim tersenyum nakal, "Kalau begitu, besok gantian sayur kangkung biar ada variasi.”
Semua tertawa. Ketegangan mencair. Si istri mengangguk setengah rela, si suami tertawa kecil. Pak Hakim menuliskan catatan dalam hati: ternyata nasib perceraian bisa ditentukan oleh menu dapur.
Kasus 3: Romantisme Hilang
Pasangan ketiga duduk. Sang istri dengan nada kesal berkata, "Pak Hakim, sudah sepuluh tahun suami saya tidak pernah bilang saya cantik.”
Pak Hakim menoleh ke suami, "Benarkah begitu?”
Suami dengan wajah tenang menjawab, "Lho, kan dari awal sudah jelas dia cantik. Kalau berubah, baru saya bilang.”
Ruangan langsung terguncang oleh tawa. Istri yang tadinya kesal mendadak tersenyum tipis. Pak Hakim menutup mulut menahan geli, romantisme memang mahal, tapi logika suami ini lebih mahal lagi.
Kasus 4: Anak Jadi Penyelamat
Pasangan terakhir datang bersama anak kecil mereka. Saat orangtuanya sibuk berdebat, si bocah tiba-tiba nyeletuk polos, "Papa Mama jangan cerai ya… nanti aku bingung ikut siapa. Lagian, kalau cerai siapa yang ajak aku ke pasar malam?”
Seketika ruangan sunyi, lalu berubah jadi tawa bercampur haru. Sang ibu menangis kecil, sang ayah menunduk. Pak Hakim tersenyum lega, ternyata terkadang mediator terbaik bukan hakim, tapi anak sendiri.
Sore hari, Pak Hakim Harun menutup buku catatannya. Ia lelah, tapi bibirnya tersenyum.
"Ah, beginilah suka duka jadi hakim mediator,” gumamnya. "Kadang harus jadi pendengar, kadang jadi motivator, dan sering kali… jadi penonton komedi rumah tangga.”
Ia tertawa kecil, mengingat ayam berkokok, daun singkong, suami yang logis tapi tak romantis, dan anak kecil yang lebih bijak dari orangtuanya.
Di luar, matahari sore menyorot lembut. Pak Hakim tahu, tidak semua mediasi berhasil, tapi hari ini ia berhasil membuat ruang mediasi tak hanya berisi amarah melainkan juga tawa dan harapan.
(Salam buat adik saya Dr. Marulitua Sianturi, S.H., M.H., C.Med, Hakim mediator di Pengadilan Negeri Tangerang. Semoga makin sukses.)
***
Materi Kuliah:
