Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
☰
  • Home
  • Opini
  • Kuliah ▼
  • Publikasi ▼
  • SINTA
  • Scholar
  • About Me
  • Labuhan Batu
  • Login

View : 168 kali.

Bagikan:
Home > Cerpen Pak Murdan
Sabtu, 01 Maret 2025

Mineral Langka dan Rambut Emas: Babak Baru

... Cerpen ini kelanjutan dari Cerpen berjudul `Minyak, Beruang, dan Rambut Emas`

Setelah pertemuan yang penuh ketegangan di Ruang Oval, Presiden Zelenskyy dan Presiden Trump memutuskan untuk beristirahat sejenak. Namun, ketegangan mereka tidak berhenti di situ. Zelenskyy, yang masih kesal karena Trump mengancam akan menarik bantuan militer, memutuskan untuk mengunjungi sebuah kafe kecil di Washington D.C. untuk menenangkan diri. Tanpa disadari, Trump juga memilih kafe yang sama, hanya karena dia mendengar mereka menyajikan burger terbaik di kota.

Ketika Zelenskyy duduk di meja kecil di sudut, Trump masuk dengan gaya khasnya, rambut emasnya berkilauan di bawah lampu kafe. "Ah, Zelenskyy! Apa kau mengikutiku?" tanya Trump sambil tersenyum lebar.

Zelenskyy mengangkat bahu. "Saya hanya mencari kedamaian, Tuan Trump. Tapi sepertinya kedamaian sulit ditemukan hari ini."

Trump duduk di seberang Zelenskyy tanpa diminta. "Kau tahu, masalah kita sederhana. Kau tidak mau bagi hasil 50-50. Padahal, AS selalu mendukung Ukraina. Bahkan, kami punya banyak hal yang bisa dibicarakan, seperti... burger ini!" Trump menggigit burger besar di tangannya.

Zelenskyy memandang burger Trump dengan iri. "Anda mungkin bisa membagi burger itu 50-50, tapi mineral langka? Itu lain cerita."

Trump tertawa. "Kau punya selera humor, Zelenskyy. Tapi kau lupa satu hal: AS punya banyak sekutu. Jika kau tidak mau bekerja sama, mungkin kami akan mencari mineral langka di tempat lain. Misalnya... di Mars!"

Zelenskyy mengerutkan kening. "Mars? Apakah Anda serius?"

Trump mengangguk sambil mengunyah. "Elon Musk sudah bilang, Mars punya banyak mineral. Tapi itu belum pasti. Jadi, bagaimana kalau kita kembali ke meja perundingan? Dengan syarat, kau harus mencoba burger ini. Ini benar-benar luar biasa!"

Zelenskyy akhirnya menyerah dan memesan burger yang sama. Saat mereka makan bersama, suasana mulai mencair. Trump bahkan bercerita tentang rencananya untuk membangun "Trump Tower" di Kyiv, sementara Zelenskyy menawarkan untuk mengirimkan bandura (alat musik tradisional Ukraina) ke Gedung Putih.

Namun, ketegangan kembali muncul ketika tagihan datang. Trump bersikeras untuk membagi tagihan 50-50, sementara Zelenskyy menolak. "Ini hanya burger, Tuan Trump. Tidak perlu negosiasi yang rumit!"

Akhirnya, mereka memutuskan untuk mengadu keberuntungan dengan suit. Zelenskyy menang, dan Trump harus membayar seluruh tagihan. "Kau licik, Zelenskyy," kata Trump sambil mengeluarkan kartu kreditnya. "Tapi ingat, ini hanya untuk burger. Masalah mineral langka, kita belum selesai!"

Ketika mereka keluar dari kafe, wartawan-wartawan sudah menunggu. "Apakah Anda berdua sudah mencapai kesepakatan?" tanya seorang reporter.

Trump tersenyum lebar. "Kami sudah mencapai kesepakatan tentang burger. Untuk mineral langka, kami masih berdiskusi. Tapi jangan khawatir, AS dan Ukraina adalah sekutu terbaik!"

Zelenskyy menambahkan, "Dan saya yakin, suatu hari nanti, kita akan menemukan solusi yang adil. Tapi untuk saat ini, mari kita fokus pada hal-hal kecil yang menyatukan kita. Seperti burger ini."

Wartawan-wartawan tertawa, dan foto mereka berdua dengan burger di tangan langsung viral di media sosial. Sementara itu, di belakang layar, para pemimpin Eropa dan politisi AS hanya bisa menggelengkan kepala. "Mereka berdua seperti karakter dalam sitkom," kata salah satu diplomat.

Dan begitulah, meskipun perdamaian Ukraina dan Rusia masih jauh dari kenyataan, setidaknya Zelenskyy dan Trump telah menemukan satu hal yang bisa mereka sepakati: burger adalah solusi sementara untuk semua masalah.

****


Mineral Langka dan Rambut Emas: Babak Baru








NEXT:

Gara-gara Promo, Hidupku Jadi Kacau


PREV:

Blending BBM, Bisnis Tak Punya Hati

Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom., adalah dosen dan penulis opini yang mengajar Bisnis Digital dan Akuntansi di STIE Mulia Pratama Bekasi. Ia aktif menulis tentang teknologi, perubahan sosial, geopolitik, dan refleksi iman di tengah dinamika dunia modern.
About me selengkapnya...





Pencarian E-DDC 23
Electronic Dewey Decimal Classification untuk Perpustakaan