View : 177 kali.
Home >
Opinion
Kategori: perguruan tinggi
Selasa, 08 September 2026

Oleh: Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom.Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) merupakan salah satu bentuk nyata peran perguruan tinggi dalam memberikan kontribusi kepada masyarakat. Melalui PKM, ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan, dan pengalaman akademik diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang menurut saya perlu terus kita renungkan:
Apakah PKM kita benar-benar membuat masyarakat semakin berdaya dan mandiri, atau justru tanpa sadar membuat masyarakat semakin bergantung kepada perguruan tinggi?
Pertanyaan ini penting karena tujuan akhir pengabdian bukanlah memperpanjang keberadaan program kampus di tengah masyarakat. Tujuan pengabdian adalah membangun kemampuan masyarakat agar mereka mampu menyelesaikan persoalannya, mengembangkan potensinya, dan melanjutkan proses pembangunan secara mandiri.
perguruan tinggi boleh datang sebagai pemantik, fasilitator, pendamping, dan penguat. Tetapi masyarakat harus menjadi subjek sekaligus pemilik perubahan.
Dari pemikiran tersebut, setidaknya ada tiga tantangan besar PKM perguruan tinggi yang perlu kita jawab.
1. PKM Harus Dimulai dari Masyarakat, Bukan dari Program
Salah satu tantangan pertama adalah mengubah cara kita memulai PKM.
Sering kali kita mempunyai program terlebih dahulu, kemudian mencari masyarakat yang dianggap cocok dengan program tersebut.
Kita memiliki pelatihan tertentu, kemudian mencari kelompok yang dapat dilatih.
Kita memiliki teknologi tertentu, kemudian mencari masyarakat yang dapat menggunakan teknologi tersebut.
Kita memiliki aplikasi tertentu, kemudian mencari desa atau kelompok yang dapat menjadi pengguna.
Padahal, pendekatan pemberdayaan seharusnya bergerak dari arah sebaliknya.
Datanglah kepada masyarakat terlebih dahulu. Dengarkan mereka.
Apa masalah yang mereka hadapi?
Apa kebutuhan mereka?
Apa potensi yang mereka miliki?
Apa yang sudah mereka lakukan?
Apa yang selama ini menghambat mereka?
Apa yang sebenarnya mereka inginkan?
Apa yang sudah mereka mampu lakukan tanpa bantuan perguruan tinggi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus menjadi titik awal sebelum perguruan tinggi menentukan bentuk intervensinya.
Dengan demikian, prinsipnya sederhana:
Jangan memaksa masyarakat masuk ke dalam program kita. Justru program kita yang harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat.
PKM yang baik bukanlah program yang sekadar berhasil dilaksanakan sesuai proposal.
PKM yang baik adalah program yang lahir dari kebutuhan masyarakat dan menghasilkan perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Di sinilah kita perlu membedakan antara program-oriented dan community-oriented.
Program-oriented bertanya:
"Program apa yang akan kita lakukan?”
Community-oriented bertanya:
"Persoalan apa yang ingin masyarakat selesaikan, dan apa yang dapat kita bantu?”
Perbedaan pertanyaan tersebut terlihat sederhana, tetapi menghasilkan paradigma PKM yang sangat berbeda.
2. Berdayakan yang Sudah Ada, Bukan Selalu Membawa yang Baru
Tantangan kedua adalah kemampuan perguruan tinggi melihat aset yang sebenarnya sudah dimiliki masyarakat.
Dalam pemberdayaan, kita sering terlalu cepat berpikir bahwa masyarakat kekurangan sesuatu.
Kekurangan teknologi.
Kekurangan pengetahuan.
Kekurangan keterampilan.
Kekurangan modal.
Akibatnya, PKM sering hadir dengan membawa sesuatu dari luar.
Padahal masyarakat hampir selalu memiliki aset.
Mereka memiliki sumber daya alam.
Mereka memiliki lahan.
Mereka memiliki produk lokal.
Mereka memiliki UMKM.
Mereka memiliki keterampilan.
Mereka memiliki kelompok usaha.
Mereka memiliki tradisi.
Mereka memiliki budaya dan kearifan lokal.
Mereka memiliki jaringan sosial.
Dan yang paling penting, mereka memiliki sumber daya manusia lokal.
Karena itu, pertanyaan PKM seharusnya tidak hanya:
"Apa yang bisa kita berikan kepada masyarakat?”
Tetapi juga:
"Apa yang sudah dimiliki masyarakat dan bagaimana kita dapat membuatnya menjadi lebih bernilai?”
Prinsipnya:
Berdayakan yang sudah ada, bukan selalu membawa yang baru.
Misalnya, sebuah kelompok perempuan di desa sudah mampu membuat makanan tradisional.
Maka perguruan tinggi tidak harus mengajarkan mereka bagaimana membuat makanan dari awal.
Yang mungkin lebih dibutuhkan adalah bagaimana meningkatkan kualitas kemasan, membangun merek, memperoleh sertifikasi, melakukan pencatatan keuangan, memanfaatkan pemasaran digital, memperluas distribusi, meningkatkan kapasitas produksi, atau membangun jaringan pasar.
Dengan demikian, perguruan tinggi tidak menggantikan kemampuan masyarakat.
perguruan tinggi memperkuat kemampuan yang sudah ada.
Masyarakat pun tidak merasa bahwa perguruan tinggi datang membawa sebuah proyek milik kampus.
Sebaliknya, mereka dapat mengatakan:
"Ini usaha kami. Kampus membantu kami mengembangkannya.”
Perasaan memiliki inilah yang sangat penting dalam keberlanjutan PKM.
Solusi Jangan Hanya Dibuat untuk Masyarakat, Tetapi Dibangun Bersama Masyarakat
Dari sinilah tantangan berikutnya muncul.
Solusi PKM seharusnya tidak hanya dibuat untuk masyarakat, tetapi dibangun bersama masyarakat.
Ada perbedaan besar antara keduanya.
Jika solusi dibuat oleh perguruan tinggi tanpa melibatkan masyarakat, kemungkinan besar solusi tersebut hanya cocok menurut perspektif pembuatnya.
Padahal masyarakat memiliki konteks, kebiasaan, kemampuan, keterbatasan, dan kebutuhan yang berbeda.
Karena itu, solusi PKM idealnya memenuhi beberapa prinsip:
Dibangun bersama masyarakat
Sesuai kebutuhan
Sesuai konteks lokal
Mudah digunakan
Mudah dipelihara
Dapat dilanjutkan oleh masyarakat
Prinsip ini sangat penting terutama ketika PKM membawa teknologi.
Sebuah aplikasi mungkin sangat bagus secara teknis.
Memiliki banyak fitur.
Memiliki dashboard yang menarik.
Menggunakan teknologi terbaru.
Tetapi jika masyarakat tidak mampu menggunakannya, tidak memiliki operator lokal, infrastrukturnya tidak mendukung, atau tidak ada orang yang mampu melakukan pemeliharaan ketika terjadi masalah, maka teknologi tersebut berpotensi menjadi sekadar monumen digital.
Karena itu:
Solusi terbaik bukanlah solusi yang paling canggih, tetapi solusi yang benar-benar digunakan dan tetap hidup setelah pembuatnya pergi.
Ada satu prinsip yang menurut saya perlu menjadi pegangan dalam setiap PKM:
"Solusi PKM jangan hanya bagus ketika dibuat, tetapi harus tetap berguna ketika pembuatnya sudah tidak berada di sana.”
3 Tantangan PKM Perguruan Tinggi: Dari Kegiatan Menuju Pemberdayaan
Selasa, 08 September 2026
3 Tantangan PKM Perguruan Tinggi: Dari Kegiatan Menuju Pemberdayaan

3 tantangan PKM perguruan tinggi menuju pemberdayaan masyarakat
Oleh: Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom.Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) merupakan salah satu bentuk nyata peran perguruan tinggi dalam memberikan kontribusi kepada masyarakat. Melalui PKM, ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan, dan pengalaman akademik diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang menurut saya perlu terus kita renungkan:
Apakah PKM kita benar-benar membuat masyarakat semakin berdaya dan mandiri, atau justru tanpa sadar membuat masyarakat semakin bergantung kepada perguruan tinggi?
Pertanyaan ini penting karena tujuan akhir pengabdian bukanlah memperpanjang keberadaan program kampus di tengah masyarakat. Tujuan pengabdian adalah membangun kemampuan masyarakat agar mereka mampu menyelesaikan persoalannya, mengembangkan potensinya, dan melanjutkan proses pembangunan secara mandiri.
perguruan tinggi boleh datang sebagai pemantik, fasilitator, pendamping, dan penguat. Tetapi masyarakat harus menjadi subjek sekaligus pemilik perubahan.
Dari pemikiran tersebut, setidaknya ada tiga tantangan besar PKM perguruan tinggi yang perlu kita jawab.
1. PKM Harus Dimulai dari Masyarakat, Bukan dari Program
Salah satu tantangan pertama adalah mengubah cara kita memulai PKM.
Sering kali kita mempunyai program terlebih dahulu, kemudian mencari masyarakat yang dianggap cocok dengan program tersebut.
Kita memiliki pelatihan tertentu, kemudian mencari kelompok yang dapat dilatih.
Kita memiliki teknologi tertentu, kemudian mencari masyarakat yang dapat menggunakan teknologi tersebut.
Kita memiliki aplikasi tertentu, kemudian mencari desa atau kelompok yang dapat menjadi pengguna.
Padahal, pendekatan pemberdayaan seharusnya bergerak dari arah sebaliknya.
Datanglah kepada masyarakat terlebih dahulu. Dengarkan mereka.
Apa masalah yang mereka hadapi?
Apa kebutuhan mereka?
Apa potensi yang mereka miliki?
Apa yang sudah mereka lakukan?
Apa yang selama ini menghambat mereka?
Apa yang sebenarnya mereka inginkan?
Apa yang sudah mereka mampu lakukan tanpa bantuan perguruan tinggi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus menjadi titik awal sebelum perguruan tinggi menentukan bentuk intervensinya.
Dengan demikian, prinsipnya sederhana:
Jangan memaksa masyarakat masuk ke dalam program kita. Justru program kita yang harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat.
PKM yang baik bukanlah program yang sekadar berhasil dilaksanakan sesuai proposal.
PKM yang baik adalah program yang lahir dari kebutuhan masyarakat dan menghasilkan perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Di sinilah kita perlu membedakan antara program-oriented dan community-oriented.
Program-oriented bertanya:
"Program apa yang akan kita lakukan?”
Community-oriented bertanya:
"Persoalan apa yang ingin masyarakat selesaikan, dan apa yang dapat kita bantu?”
Perbedaan pertanyaan tersebut terlihat sederhana, tetapi menghasilkan paradigma PKM yang sangat berbeda.
2. Berdayakan yang Sudah Ada, Bukan Selalu Membawa yang Baru
Tantangan kedua adalah kemampuan perguruan tinggi melihat aset yang sebenarnya sudah dimiliki masyarakat.
Dalam pemberdayaan, kita sering terlalu cepat berpikir bahwa masyarakat kekurangan sesuatu.
Kekurangan teknologi.
Kekurangan pengetahuan.
Kekurangan keterampilan.
Kekurangan modal.
Akibatnya, PKM sering hadir dengan membawa sesuatu dari luar.
Padahal masyarakat hampir selalu memiliki aset.
Mereka memiliki sumber daya alam.
Mereka memiliki lahan.
Mereka memiliki produk lokal.
Mereka memiliki UMKM.
Mereka memiliki keterampilan.
Mereka memiliki kelompok usaha.
Mereka memiliki tradisi.
Mereka memiliki budaya dan kearifan lokal.
Mereka memiliki jaringan sosial.
Dan yang paling penting, mereka memiliki sumber daya manusia lokal.
Karena itu, pertanyaan PKM seharusnya tidak hanya:
"Apa yang bisa kita berikan kepada masyarakat?”
Tetapi juga:
"Apa yang sudah dimiliki masyarakat dan bagaimana kita dapat membuatnya menjadi lebih bernilai?”
Prinsipnya:
Berdayakan yang sudah ada, bukan selalu membawa yang baru.
Misalnya, sebuah kelompok perempuan di desa sudah mampu membuat makanan tradisional.
Maka perguruan tinggi tidak harus mengajarkan mereka bagaimana membuat makanan dari awal.
Yang mungkin lebih dibutuhkan adalah bagaimana meningkatkan kualitas kemasan, membangun merek, memperoleh sertifikasi, melakukan pencatatan keuangan, memanfaatkan pemasaran digital, memperluas distribusi, meningkatkan kapasitas produksi, atau membangun jaringan pasar.
Dengan demikian, perguruan tinggi tidak menggantikan kemampuan masyarakat.
perguruan tinggi memperkuat kemampuan yang sudah ada.
Masyarakat pun tidak merasa bahwa perguruan tinggi datang membawa sebuah proyek milik kampus.
Sebaliknya, mereka dapat mengatakan:
"Ini usaha kami. Kampus membantu kami mengembangkannya.”
Perasaan memiliki inilah yang sangat penting dalam keberlanjutan PKM.
Solusi Jangan Hanya Dibuat untuk Masyarakat, Tetapi Dibangun Bersama Masyarakat
Dari sinilah tantangan berikutnya muncul.
Solusi PKM seharusnya tidak hanya dibuat untuk masyarakat, tetapi dibangun bersama masyarakat.
Ada perbedaan besar antara keduanya.
Jika solusi dibuat oleh perguruan tinggi tanpa melibatkan masyarakat, kemungkinan besar solusi tersebut hanya cocok menurut perspektif pembuatnya.
Padahal masyarakat memiliki konteks, kebiasaan, kemampuan, keterbatasan, dan kebutuhan yang berbeda.
Karena itu, solusi PKM idealnya memenuhi beberapa prinsip:
Dibangun bersama masyarakat
Sesuai kebutuhan
Sesuai konteks lokal
Mudah digunakan
Mudah dipelihara
Dapat dilanjutkan oleh masyarakat
Prinsip ini sangat penting terutama ketika PKM membawa teknologi.
Sebuah aplikasi mungkin sangat bagus secara teknis.
Memiliki banyak fitur.
Memiliki dashboard yang menarik.
Menggunakan teknologi terbaru.
Tetapi jika masyarakat tidak mampu menggunakannya, tidak memiliki operator lokal, infrastrukturnya tidak mendukung, atau tidak ada orang yang mampu melakukan pemeliharaan ketika terjadi masalah, maka teknologi tersebut berpotensi menjadi sekadar monumen digital.
Karena itu:
Solusi terbaik bukanlah solusi yang paling canggih, tetapi solusi yang benar-benar digunakan dan tetap hidup setelah pembuatnya pergi.
Ada satu prinsip yang menurut saya perlu menjadi pegangan dalam setiap PKM:
"Solusi PKM jangan hanya bagus ketika dibuat, tetapi harus tetap berguna ketika pembuatnya sudah tidak berada di sana.”
3. Membangun Ekosistem Pentahelix, Mengukur Dampak, dan Menciptakan Kemandirian
Tantangan terbesar PKM sebenarnya bukan hanya bagaimana program dapat dilaksanakan, tetapi bagaimana memastikan perubahan yang dibangun dapat terus hidup setelah perguruan tinggi selesai melakukan pendampingan.
perguruan tinggi tidak mungkin selamanya berada di tengah masyarakat.
dosen akan kembali ke kampus.
Mahasiswa akan berganti.
Program akan berakhir.
Anggaran akan selesai.
Karena itu, PKM yang baik tidak boleh dirancang hanya untuk menjawab pertanyaan:
"Apa yang dapat kita lakukan untuk masyarakat?”
Tetapi harus berkembang menjadi pertanyaan:
"Bagaimana membangun ekosistem agar masyarakat mampu terus berkembang meskipun perguruan tinggi tidak lagi menjadi pendamping utama?”
Di sinilah konsep Pentahelix menjadi sangat penting.
Pentahelix sebagai Ekosistem Pemberdayaan
pemberdayaan masyarakat tidak mungkin dibebankan hanya kepada perguruan tinggi.
Ada lima unsur penting yang perlu dibangun dalam sebuah ekosistem Pentahelix:
Pentahelix harus menjadi ekosistem yang bekerja bersama.
perguruan tinggi tidak mengambil alih peran masyarakat.
Pemerintah tidak menggantikan peran perguruan tinggi.
Dunia usaha tidak sekadar menjadi sponsor.
Media tidak hanya memberitakan kegiatan.
Dan masyarakat tidak hanya menjadi peserta.
Masing-masing harus mempunyai peran yang jelas dalam menciptakan perubahan.
Dengan pendekatan seperti ini, hubungan PKM tidak lagi hanya:
perguruan tinggi → Masyarakat
tetapi menjadi:
perguruan tinggi + Pemerintah + Dunia Usaha + Masyarakat + Media → Ekosistem Pemberdayaan.
Inilah yang membuat keberlanjutan menjadi lebih memungkinkan.
Dari Ketergantungan Menuju Ekosistem
Bayangkan sebuah PKM yang berhasil meningkatkan kemampuan sebuah kelompok usaha masyarakat.
Pada tahap awal, perguruan tinggi mungkin memberikan pelatihan, membantu memperbaiki produk, membuat sistem pencatatan keuangan, atau membantu membangun pemasaran digital.
Tetapi apa yang terjadi setelah program selesai?
Jika masyarakat tetap harus menunggu dosen untuk memperbaiki aplikasi, menunggu mahasiswa untuk membuat konten, menunggu kampus untuk melakukan pemasaran, atau menunggu program PKM berikutnya untuk mendapatkan pendampingan, maka kita harus bertanya:
Apakah kita benar-benar sedang memberdayakan masyarakat?
Jangan sampai PKM justru menciptakan bentuk ketergantungan baru.
Karena itu:
Tujuan pengabdian bukan membuat masyarakat semakin tergantung kepada perguruan tinggi, tetapi membuat masyarakat semakin mampu berdiri, berkembang, dan menyelesaikan persoalannya sendiri.
Pentahelix dapat menjadi salah satu jalan untuk mencapai tujuan tersebut.
Ketika perguruan tinggi mulai mengurangi pendampingan, pemerintah tetap dapat memberikan dukungan kebijakan.
Ketika pendanaan PKM berakhir, dunia usaha dapat membuka akses pasar atau pembiayaan.
Ketika masyarakat membutuhkan promosi, media dapat membantu memperluas jangkauan.
Dan masyarakat sendiri tetap menjadi pelaku utama yang menjalankan kegiatan.
Dengan demikian, keberlanjutan tidak bergantung kepada satu institusi.
Keberlanjutan dibangun melalui ekosistem.
Mengukur Dampak, Bukan Sekadar Menghitung Kegiatan
Pentahelix akan kehilangan makna jika kita tidak mengetahui apakah kolaborasi tersebut benar-benar menghasilkan perubahan.
Karena itu, PKM juga menghadapi tantangan penting lainnya:
mengukur dampak.
Kita sering mudah menghitung output:
Kita perlu melihat lebih jauh.
Output
Apa yang dilakukan?
Pelatihan terlaksana, aplikasi dibuat, produk dihasilkan.
Outcome
Apa yang berubah?
Masyarakat mampu menggunakan teknologi, keterampilan meningkat, pencatatan keuangan menjadi lebih baik, pemasaran berkembang.
Impact
Apa perubahan yang bertahan?
Pendapatan meningkat, produktivitas bertambah, lapangan kerja muncul, usaha berkembang, aset lokal semakin bernilai, dan ketergantungan terhadap bantuan eksternal berkurang.
Maka:
Jumlah kegiatan bukan ukuran utama keberhasilan PKM. Ukuran terpenting adalah perubahan yang terjadi pada masyarakat.
Kalau kita tidak mengukur dampak, kita tidak pernah benar-benar tahu apakah PKM kita sedang melakukan pemberdayaan atau hanya menyelesaikan kegiatan.
Strategi Keluar Harus Dirancang Sejak Awal
Ada satu hal yang menurut saya sering terlambat dipikirkan dalam PKM:
bagaimana perguruan tinggi keluar dari program tersebut?
Biasanya strategi keberlanjutan baru dibicarakan ketika program hampir selesai.
Menurut saya, seharusnya justru sebaliknya.
Strategi keluar harus dirancang sejak awal.
Ketika sebuah aplikasi dibuat, sejak awal harus sudah ditentukan siapa operator lokalnya.
Ketika sebuah usaha dikembangkan, sejak awal harus dipikirkan siapa yang akan mengelolanya.
Ketika teknologi diperkenalkan, sejak awal harus dipikirkan bagaimana pemeliharaannya.
Ketika sebuah kelompok dibentuk, sejak awal harus dipikirkan kaderisasi dan regenerasinya.
Ketika sebuah kegiatan menghasilkan pendapatan, sejak awal harus dipikirkan bagaimana kegiatan tersebut dapat membiayai dirinya sendiri.
Dengan kata lain:
Jangan merancang PKM hanya untuk saat kampus hadir. Rancanglah PKM untuk saat kampus sudah tidak hadir.
Dari Mendampingi Menuju Melepaskan
perguruan tinggi seharusnya memiliki keberanian untuk secara bertahap mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap dirinya.
Pada tahap awal:
Kampus banyak membantu.
Kemudian:
Kampus membantu masyarakat membantu dirinya sendiri.
Selanjutnya:
Masyarakat semakin mampu menjalankan program sendiri.
Dan akhirnya:
Masyarakat mampu mengembangkan program tanpa harus menunggu kampus.
Inilah proses yang dapat kita sebut:
Mendampingi → Menguatkan → Memandirikan → Melepaskan.
Dan perlu ditegaskan:
Melepaskan bukan berarti meninggalkan masyarakat.
Melepaskan berarti perguruan tinggi telah berhasil membangun kapasitas masyarakat sehingga masyarakat memiliki kemampuan untuk melanjutkan proses tersebut secara mandiri.
Bahkan keberhasilan yang lebih tinggi terjadi ketika masyarakat tidak hanya mampu melanjutkan program, tetapi mulai menciptakan inovasi baru berdasarkan pengalaman mereka sendiri.
Pada titik itu, masyarakat bukan lagi penerima program.
Masyarakat telah menjadi penggerak perubahan.
Ukuran Keberhasilan PKM yang Sesungguhnya
Maka mungkin kita perlu mengubah cara melihat keberhasilan PKM.
Bukan:
"Berapa banyak kegiatan yang telah kita lakukan?”
Tetapi:
"Berapa besar perubahan yang terjadi?”
Bukan:
"Berapa banyak masyarakat yang mengikuti program?”
Tetapi:
"Berapa banyak masyarakat yang menjadi lebih mampu?”
Bukan:
"Apakah masyarakat masih membutuhkan kita?”
Tetapi:
"Apakah masyarakat sudah mampu berjalan tanpa kita?”
Dan mungkin inilah ukuran keberhasilan PKM yang paling jujur:
Ukuran keberhasilan PKM bukan seberapa lama masyarakat membutuhkan kampus, tetapi seberapa mampu masyarakat berjalan setelah kampus tidak lagi berada di garis depan.
Pada akhirnya, perguruan tinggi bukan ingin menciptakan masyarakat yang selalu membutuhkan pendampingan.
perguruan tinggi ingin menciptakan masyarakat yang memiliki kemampuan, percaya diri, memiliki aset yang kuat, mempunyai jaringan, mampu berkolaborasi, mampu memecahkan masalah, dan mampu mengembangkan kehidupannya sendiri.
Karena itu:
PKM tidak boleh menciptakan ketergantungan baru. PKM harus menciptakan kemandirian baru.
Dan Pentahelix menjadi salah satu fondasi penting untuk mewujudkan kemandirian tersebut.
Tantangan terbesar PKM sebenarnya bukan hanya bagaimana program dapat dilaksanakan, tetapi bagaimana memastikan perubahan yang dibangun dapat terus hidup setelah perguruan tinggi selesai melakukan pendampingan.
perguruan tinggi tidak mungkin selamanya berada di tengah masyarakat.
dosen akan kembali ke kampus.
Mahasiswa akan berganti.
Program akan berakhir.
Anggaran akan selesai.
Karena itu, PKM yang baik tidak boleh dirancang hanya untuk menjawab pertanyaan:
"Apa yang dapat kita lakukan untuk masyarakat?”
Tetapi harus berkembang menjadi pertanyaan:
"Bagaimana membangun ekosistem agar masyarakat mampu terus berkembang meskipun perguruan tinggi tidak lagi menjadi pendamping utama?”
Di sinilah konsep Pentahelix menjadi sangat penting.
Pentahelix sebagai Ekosistem Pemberdayaan
pemberdayaan masyarakat tidak mungkin dibebankan hanya kepada perguruan tinggi.
Ada lima unsur penting yang perlu dibangun dalam sebuah ekosistem Pentahelix:
- Academia -- perguruan tinggi sebagai sumber ilmu pengetahuan, riset, teknologi, inovasi, dan pendampingan.
- Government -- pemerintah sebagai pembuat kebijakan, regulator, fasilitator, sekaligus penyedia dukungan program dan infrastruktur.
- Business -- dunia usaha sebagai mitra dalam akses pasar, rantai pasok, investasi, pembiayaan, dan pengembangan ekonomi.
- Community -- masyarakat sebagai subjek, pelaku, sekaligus pemilik perubahan.
- Media -- media sebagai sarana komunikasi, edukasi, promosi, publikasi, dan penyebarluasan praktik baik.
Pentahelix harus menjadi ekosistem yang bekerja bersama.
perguruan tinggi tidak mengambil alih peran masyarakat.
Pemerintah tidak menggantikan peran perguruan tinggi.
Dunia usaha tidak sekadar menjadi sponsor.
Media tidak hanya memberitakan kegiatan.
Dan masyarakat tidak hanya menjadi peserta.
Masing-masing harus mempunyai peran yang jelas dalam menciptakan perubahan.
Dengan pendekatan seperti ini, hubungan PKM tidak lagi hanya:
perguruan tinggi → Masyarakat
tetapi menjadi:
perguruan tinggi + Pemerintah + Dunia Usaha + Masyarakat + Media → Ekosistem Pemberdayaan.
Inilah yang membuat keberlanjutan menjadi lebih memungkinkan.
Dari Ketergantungan Menuju Ekosistem
Bayangkan sebuah PKM yang berhasil meningkatkan kemampuan sebuah kelompok usaha masyarakat.
Pada tahap awal, perguruan tinggi mungkin memberikan pelatihan, membantu memperbaiki produk, membuat sistem pencatatan keuangan, atau membantu membangun pemasaran digital.
Tetapi apa yang terjadi setelah program selesai?
Jika masyarakat tetap harus menunggu dosen untuk memperbaiki aplikasi, menunggu mahasiswa untuk membuat konten, menunggu kampus untuk melakukan pemasaran, atau menunggu program PKM berikutnya untuk mendapatkan pendampingan, maka kita harus bertanya:
Apakah kita benar-benar sedang memberdayakan masyarakat?
Jangan sampai PKM justru menciptakan bentuk ketergantungan baru.
Karena itu:
Tujuan pengabdian bukan membuat masyarakat semakin tergantung kepada perguruan tinggi, tetapi membuat masyarakat semakin mampu berdiri, berkembang, dan menyelesaikan persoalannya sendiri.
Pentahelix dapat menjadi salah satu jalan untuk mencapai tujuan tersebut.
Ketika perguruan tinggi mulai mengurangi pendampingan, pemerintah tetap dapat memberikan dukungan kebijakan.
Ketika pendanaan PKM berakhir, dunia usaha dapat membuka akses pasar atau pembiayaan.
Ketika masyarakat membutuhkan promosi, media dapat membantu memperluas jangkauan.
Dan masyarakat sendiri tetap menjadi pelaku utama yang menjalankan kegiatan.
Dengan demikian, keberlanjutan tidak bergantung kepada satu institusi.
Keberlanjutan dibangun melalui ekosistem.
Mengukur Dampak, Bukan Sekadar Menghitung Kegiatan
Pentahelix akan kehilangan makna jika kita tidak mengetahui apakah kolaborasi tersebut benar-benar menghasilkan perubahan.
Karena itu, PKM juga menghadapi tantangan penting lainnya:
mengukur dampak.
Kita sering mudah menghitung output:
- berapa kali pelatihan dilakukan;
- berapa orang mengikuti kegiatan;
- berapa produk dibuat;
- berapa aplikasi dikembangkan;
- berapa kelompok mendapatkan pendampingan.
Kita perlu melihat lebih jauh.
Output
Apa yang dilakukan?
Pelatihan terlaksana, aplikasi dibuat, produk dihasilkan.
Outcome
Apa yang berubah?
Masyarakat mampu menggunakan teknologi, keterampilan meningkat, pencatatan keuangan menjadi lebih baik, pemasaran berkembang.
Impact
Apa perubahan yang bertahan?
Pendapatan meningkat, produktivitas bertambah, lapangan kerja muncul, usaha berkembang, aset lokal semakin bernilai, dan ketergantungan terhadap bantuan eksternal berkurang.
Maka:
Jumlah kegiatan bukan ukuran utama keberhasilan PKM. Ukuran terpenting adalah perubahan yang terjadi pada masyarakat.
Kalau kita tidak mengukur dampak, kita tidak pernah benar-benar tahu apakah PKM kita sedang melakukan pemberdayaan atau hanya menyelesaikan kegiatan.
Strategi Keluar Harus Dirancang Sejak Awal
Ada satu hal yang menurut saya sering terlambat dipikirkan dalam PKM:
bagaimana perguruan tinggi keluar dari program tersebut?
Biasanya strategi keberlanjutan baru dibicarakan ketika program hampir selesai.
Menurut saya, seharusnya justru sebaliknya.
Strategi keluar harus dirancang sejak awal.
Ketika sebuah aplikasi dibuat, sejak awal harus sudah ditentukan siapa operator lokalnya.
Ketika sebuah usaha dikembangkan, sejak awal harus dipikirkan siapa yang akan mengelolanya.
Ketika teknologi diperkenalkan, sejak awal harus dipikirkan bagaimana pemeliharaannya.
Ketika sebuah kelompok dibentuk, sejak awal harus dipikirkan kaderisasi dan regenerasinya.
Ketika sebuah kegiatan menghasilkan pendapatan, sejak awal harus dipikirkan bagaimana kegiatan tersebut dapat membiayai dirinya sendiri.
Dengan kata lain:
Jangan merancang PKM hanya untuk saat kampus hadir. Rancanglah PKM untuk saat kampus sudah tidak hadir.
Dari Mendampingi Menuju Melepaskan
perguruan tinggi seharusnya memiliki keberanian untuk secara bertahap mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap dirinya.
Pada tahap awal:
Kampus banyak membantu.
Kemudian:
Kampus membantu masyarakat membantu dirinya sendiri.
Selanjutnya:
Masyarakat semakin mampu menjalankan program sendiri.
Dan akhirnya:
Masyarakat mampu mengembangkan program tanpa harus menunggu kampus.
Inilah proses yang dapat kita sebut:
Mendampingi → Menguatkan → Memandirikan → Melepaskan.
Dan perlu ditegaskan:
Melepaskan bukan berarti meninggalkan masyarakat.
Melepaskan berarti perguruan tinggi telah berhasil membangun kapasitas masyarakat sehingga masyarakat memiliki kemampuan untuk melanjutkan proses tersebut secara mandiri.
Bahkan keberhasilan yang lebih tinggi terjadi ketika masyarakat tidak hanya mampu melanjutkan program, tetapi mulai menciptakan inovasi baru berdasarkan pengalaman mereka sendiri.
Pada titik itu, masyarakat bukan lagi penerima program.
Masyarakat telah menjadi penggerak perubahan.
Ukuran Keberhasilan PKM yang Sesungguhnya
Maka mungkin kita perlu mengubah cara melihat keberhasilan PKM.
Bukan:
"Berapa banyak kegiatan yang telah kita lakukan?”
Tetapi:
"Berapa besar perubahan yang terjadi?”
Bukan:
"Berapa banyak masyarakat yang mengikuti program?”
Tetapi:
"Berapa banyak masyarakat yang menjadi lebih mampu?”
Bukan:
"Apakah masyarakat masih membutuhkan kita?”
Tetapi:
"Apakah masyarakat sudah mampu berjalan tanpa kita?”
Dan mungkin inilah ukuran keberhasilan PKM yang paling jujur:
Ukuran keberhasilan PKM bukan seberapa lama masyarakat membutuhkan kampus, tetapi seberapa mampu masyarakat berjalan setelah kampus tidak lagi berada di garis depan.
Pada akhirnya, perguruan tinggi bukan ingin menciptakan masyarakat yang selalu membutuhkan pendampingan.
perguruan tinggi ingin menciptakan masyarakat yang memiliki kemampuan, percaya diri, memiliki aset yang kuat, mempunyai jaringan, mampu berkolaborasi, mampu memecahkan masalah, dan mampu mengembangkan kehidupannya sendiri.
Karena itu:
PKM tidak boleh menciptakan ketergantungan baru. PKM harus menciptakan kemandirian baru.
Dan Pentahelix menjadi salah satu fondasi penting untuk mewujudkan kemandirian tersebut.
CATATAN INI SAYA BUAT SETELAH MENGIKUTI ACARA MELALUI ZOOM
Sosialisasi & Launching mandaya awards 2026
Kementerian Koordinator Bidang pemberdayaan masyarakat
Selasa, 8 September 2026
Setelah mengikuti dan mendengarkan penjelasan, khususnya dari Prof. Eduart, ada beberapa pemikiran yang kemudian saya catat dan refleksikan, terutama terkait dengan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di perguruan tinggi.
Sosialisasi & Launching mandaya awards 2026
Kementerian Koordinator Bidang pemberdayaan masyarakat
Selasa, 8 September 2026
Setelah mengikuti dan mendengarkan penjelasan, khususnya dari Prof. Eduart, ada beberapa pemikiran yang kemudian saya catat dan refleksikan, terutama terkait dengan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di perguruan tinggi.
Dokumen Paparan Narasumber
https://drive.google.com/drive/folders/1dpKbu5vYrgVaPWLRTGaTD-gRyXuFBtMD
3 Tantangan PKM Perguruan Tinggi: Dari Kegiatan Menuju Pemberdayaan
NEXT:
YouTube 2026: Ketika AI Menilai AI, Kreator Kehilangan Kendali? | 10 Kesalahan YouTuber Pemula
PREV:
