Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
  • Home
  • Opini
  • Kuliah
    • Semua Materi Kuliah
  • Publikasi
    • Semua Publikasi
    • SINTA
    • Google Scholar
  • About Me
  • Labuhan Batu
  • Login
/
Share:
👁 View: 108 kali.
Home > Opinion   Kategori: Gibran dan KDM
Minggu, 27 September 2026

Gibran + KDM: Duet 2029 atau Sekadar Wacana Politik?

Gibran dan KDM mulai dikaitkan dalam wacana Pilpres 2029
Gibran dan KDM mulai dikaitkan dalam wacana Pilpres 2029

Oleh: Murdan Sianturi
Nama Gibran Rakabuming Raka dan Dedi Mulyadi atau KDM mulai muncul dalam pembicaraan politik menuju Pemilihan Presiden 2029.

Wacana yang berkembang adalah kemungkinan keduanya berada dalam satu pasangan. Namun sampai September 2026, belum ada pernyataan resmi bahwa Gibran dan Dedi Mulyadi akan maju bersama. Bahkan KDM sendiri menyatakan bahwa dirinya masih fokus menjalankan tugas sebagai Gubernur Jawa Barat dan belum memikirkan pilpres 2029.

Jadi, untuk saat ini, Gibran + KDM lebih tepat disebut sebagai wacana politik daripada pasangan politik yang sudah terbentuk.

Gibran dan Modal Politik Pilpres 2024

Untuk memahami mengapa nama Gibran kembali diperbincangkan, kita tidak bisa mengabaikan hasil Pilpres 2024.

Komisi Pemilihan Umum menetapkan pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka sebagai pasangan presiden dan wakil presiden terpilih dengan 96.214.691 suara atau 58,59% dari suara sah nasional. Pasangan tersebut juga memenuhi ketentuan perolehan suara di seluruh 38 provinsi.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pasangan Prabowo-Gibran memperoleh dukungan elektoral yang sangat besar dalam Pilpres 2024.

Tetapi ada satu hal yang perlu dibedakan.

58,59% tersebut adalah suara untuk pasangan Prabowo-Gibran, bukan suara yang dapat secara terpisah diklaim sebagai dukungan masyarakat kepada Gibran.

Namun secara politik, kemenangan tersebut tetap menjadi bagian penting dari latar belakang Gibran sebagai Wakil Presiden periode 2024-2029.

Artinya, Gibran memasuki pemerintahan nasional dengan pengalaman politik yang relatif baru tetapi dengan posisi sebagai bagian dari pasangan yang memenangkan Pilpres 2024.

Pertanyaannya kemudian: apakah modal politik tersebut masih dapat dipertahankan sampai 2029?

Jawabannya tentu belum dapat diketahui sekarang.

KDM Muncul sebagai Fenomena Politik Baru

Di sisi lain, Dedi Mulyadi memiliki cerita politik yang berbeda.

KDM memperoleh perhatian nasional terutama melalui aktivitasnya sebagai Gubernur Jawa Barat dan penggunaan media sosial yang sangat intensif.

Sejumlah survei pada 2026 juga mulai menempatkan nama Dedi Mulyadi dalam pembicaraan mengenai kandidat potensial pilpres 2029.

Dalam survei SMRC yang dilakukan 5'"19 Juli 2026, misalnya, Dedi Mulyadi memperoleh 35% dalam simulasi semi-terbuka 20 nama. Dalam survei yang sama, Prabowo memperoleh 14,5%, Anies Baswedan 8,2%, dan Gibran 7,7%. Survei Median pada 21 Juli'"2 Agustus 2026 juga mencatat Dedi Mulyadi dalam posisi yang cukup menonjol dalam simulasi mereka.

Angka-angka survei tersebut tentu harus dibaca sebagai potret opini publik pada waktu survei dilakukan, bukan sebagai hasil pilpres 2029.

Politik masih sangat panjang.

Konfigurasi partai, kinerja pemerintah, kondisi ekonomi, popularitas tokoh, isu nasional, dan pilihan masyarakat masih dapat berubah.

Mengapa Gibran + KDM Menarik?

Jika hanya dilihat sebagai wacana politik, kombinasi Gibran dan KDM memang memiliki sejumlah hal yang menarik untuk dibicarakan.

Gibran berada di pemerintahan pusat sebagai Wakil Presiden.

KDM memimpin Jawa Barat, salah satu provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia.

Dengan demikian, muncul gambaran mengenai kombinasi pengalaman pemerintahan pusat dan pemerintahan daerah.

Namun, politik tidak sesederhana menggabungkan dua nama yang populer.

Pasangan calon presiden dan wakil presiden membutuhkan dukungan politik dan konfigurasi partai yang memungkinkan. Pengamat politik Universitas Padjadjaran Caroline Paskarina juga menilai bahwa munculnya nama Gibran-KDM belum otomatis berarti pasangan tersebut akan terbentuk. Peta politik menuju 2029 masih sangat cair.

Ada pula persoalan representasi kewilayahan.

Gibran dan KDM sama-sama berasal dari Pulau Jawa. Karena itu, jika suatu saat benar-benar menjadi pasangan, persoalan representasi Jawa dan luar Jawa juga dapat menjadi bagian dari pembahasan politik nasional.

Tetapi KDM Sendiri Mengatakan Belum Ada

Bagian paling menarik justru datang dari KDM sendiri.

Pada September 2026, ketika ditanya mengenai isu dirinya akan berpasangan dengan Gibran, Dedi Mulyadi mengatakan bahwa dirinya sedang fokus menjalankan tugas sebagai Gubernur Jawa Barat.

Ia bahkan menegaskan belum memikirkan agenda politik 2029 dan mengatakan bahwa belum ada arah politik menuju pasangan tersebut.

Pernyataan ini penting.

Sebab dalam politik, wacana publik tidak sama dengan keputusan politik resmi.

Nama dua tokoh dapat muncul dalam survei, media sosial, pemberitaan dan diskusi pengamat. Tetapi pencalonan resmi membutuhkan proses politik yang berbeda.

Karena itu, masyarakat sebaiknya membedakan antara survei, spekulasi, wacana politik, komunikasi politik dan pencalonan resmi.

Apakah Gibran + KDM Bisa Terjadi?

Kemungkinan politik pada 2029 masih terbuka luas.

Bisa saja wacana Gibran-KDM berkembang menjadi pembicaraan serius.

Bisa pula wacana tersebut berhenti sebagai diskusi media dan media sosial.

Bahkan sangat mungkin konfigurasi politik 2029 menghasilkan pasangan yang sama sekali berbeda.

Pengamat Unpad yang dikutip detikJabar juga menekankan bahwa posisi para tokoh saat ini belum final karena preferensi publik masih dapat berubah dan dukungan partai politik untuk pilpres 2029 belum terbentuk.

Karena itu, terlalu dini apabila Gibran + KDM sudah dianggap sebagai pasangan pilpres 2029.

Yang dapat dikatakan sekarang adalah keduanya sedang berada dalam radar pembicaraan politik nasional dengan latar belakang yang berbeda.

Gibran memiliki pengalaman sebagai bagian dari pasangan pemenang Pilpres 2024 dan kini berada di pemerintahan pusat.

KDM memiliki basis pemerintahan daerah di Jawa Barat dan namanya mengalami peningkatan perhatian dalam sejumlah survei 2026.

Dua modal politik tersebut membuat nama mereka menarik untuk diperbincangkan.

Politik 2029 Masih Panjang

pilpres 2029 masih memiliki perjalanan yang panjang.

Kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran akan menjadi salah satu faktor yang diamati masyarakat.

Kinerja Dedi Mulyadi sebagai Gubernur Jawa Barat juga akan terus menjadi perhatian.

Begitu pula perkembangan ekonomi, lapangan pekerjaan, daya beli masyarakat, pendidikan, kesehatan, keamanan, teknologi, serta berbagai persoalan sosial lainnya.

Pada akhirnya, masyarakat bukan hanya akan melihat siapa yang populer di media sosial atau siapa yang sering muncul dalam survei.

Masyarakat akan menilai apa yang dilakukan para pemimpin selama menjalankan tanggung jawabnya.

Karena itu, Gibran + KDM hari ini masih merupakan sebuah tanda tanya.

Apakah akan menjadi duet nyata pada 2029?

Atau hanya menjadi salah satu dari sekian banyak wacana politik yang muncul sebelum pertarungan politik nasional dimulai?

Waktu yang akan menjawabnya.

Untuk sekarang, satu hal yang pasti: pilpres 2029 sudah mulai dibicarakan, tetapi peta politiknya belum terbentuk.

Dan justru karena belum terbentuk itulah, masyarakat masih memiliki kesempatan untuk mengamati rekam jejak, kinerja, gagasan, dan kebijakan setiap tokoh sebelum menentukan pilihan politiknya.


Gibran + KDM: Duet 2029 atau Sekadar Wacana Politik?








NEXT:

Sidang Pembuktian: Pengadu Bisa Berbalik Jadi Tersangka?


PREV:

Narkoba Erat Kaitannya dengan Judi Online

NEXT:

Sidang Pembuktian: Pengadu Bisa Berbalik Jadi Tersangka?


PREV:

Narkoba Erat Kaitannya dengan Judi Online



Gibran dan KDM :
  • Gibran + KDM: Duet 2029 atau Sekadar Wacana Politik?

(c) 2010 www.murdansianturi.com | Privacy Policy | About Me | Kirim Email | Login