Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
☰
  • Home
  • Opini
  • Kuliah ▼
  • Publikasi ▼
  • SINTA
  • Scholar
  • About Me
  • Labuhan Batu
  • Login

View : 177 kali.

Bagikan:
Home > Opinion   Kategori: UU Perampasan Asset
Selasa, 25 Agustus 2026

Harta yang Tak Lagi Bisa Bersembunyi (Cerpen Fiksi)

Ilustrasi Hendra koruptor ketakutan setelah Undang-Undang Perampasan Aset disahkan dan harta hasil kejahatannya mulai ditelusuri
Ilustrasi Hendra koruptor ketakutan setelah Undang-Undang Perampasan Aset disahkan dan harta hasil kejahatannya mulai ditelusuri

oleh Murdan Sianturi
Malam itu, Hendra tidak bisa tidur.

Jam di dinding menunjukkan pukul 02.17.

Hujan turun perlahan di luar rumah. Air mengalir di kaca jendela kamar, sementara lampu-lampu taman memantulkan bayangan pagar tinggi yang mengelilingi rumahnya.

Rumah itu dibangun seperti benteng.

Pagar besi setinggi tiga meter. Kamera pengawas di setiap sudut. Petugas keamanan berjaga sepanjang malam. Dua ekor anjing penjaga berada di halaman belakang. Pintu utama terbuat dari baja tebal.

Hendra pernah berkata kepada seorang teman:

"Di rumah ini, saya bisa tidur dengan tenang. Tidak ada yang bisa masuk."

Malam itu, justru ia merasa tidak ada tempat untuk bersembunyi.

Di atas meja kerjanya tergeletak sebuah berita.

RUU PERAMPASAN ASET RESMI DISAHKAN.


Hendra membaca judul itu sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Kemudian ia tertawa kecil.

"Undang-undang lagi," katanya.

Ia mengambil gelas dan menuangkan air.

"Besok juga orang lupa."

Tetapi tangannya tidak setenang suaranya.


Selama hampir dua puluh tahun, Hendra hidup dengan satu keyakinan:
Selama tidak tertangkap, berarti aman.

Ia tahu bagaimana permainan itu bekerja.
Ia tahu kapan harus diam.
Ia tahu siapa yang harus diberi hadiah.
Ia tahu siapa yang harus diajak makan malam.
Ia tahu siapa yang harus ditemui di hotel dan siapa yang cukup dikirimi amplop.

Hendra bukan orang bodoh.

Justru karena itulah ia merasa dirinya sulit disentuh.

Uang hasil proyek yang seharusnya untuk rakyat tidak pernah ia simpan di satu tempat.

Sebagian menjadi rumah.
Sebagian menjadi tanah.
Sebagian menjadi saham.
Sebagian menjadi emas.
Sebagian berubah menjadi mobil mewah.
Sebagian lagi masuk ke perusahaan yang menggunakan nama orang lain.
Ia bahkan pernah membeli sebuah vila dengan nama seseorang yang hampir tidak dikenal publik.

"Kalau suatu hari saya jatuh," katanya sambil tertawa kepada sahabatnya bertahun-tahun lalu, "yang jatuh cuma nama saya. Harta saya sudah ke mana-mana."

Sahabatnya tertawa.

Mereka menganggapnya cerdas.

Mereka menganggap Hendra telah menemukan cara mengalahkan sistem.

Mereka tidak tahu bahwa suatu hari, kalimat itulah yang akan menghantuinya.


SURAT

Tiga hari setelah undang-undang itu berlaku, sebuah surat datang.

Bukan surat biasa.

Amplopnya sederhana.

Tidak ada kata-kata yang menakutkan di bagian luar.

Namun ketika Hendra membukanya, wajahnya berubah.

Di halaman pertama tertulis:
PEMBERITAHUAN PENELUSURAN DAN PEMERIKSAAN ASET

Hendra membaca perlahan.

Rumah di Jakarta.
Vila di Puncak.
Tanah di pinggir kota.
Rekening.
Perusahaan.
Saham.
Kendaraan.

Dan beberapa aset yang selama bertahun-tahun ia yakini tidak akan pernah diketahui siapa pun.

Nafas Hendra tertahan.

"Bagaimana mungkin?"

Ia membalik halaman berikutnya.

Ada rincian transaksi.
Tanggal.
Nilai.
Nama perusahaan.
Hubungan kepemilikan.
Jejak perpindahan uang.

Semakin banyak halaman yang dibuka, semakin pucat wajahnya.

Tangannya mulai dingin.

Ia meraih telepon.

Nomor pertama.
Tidak aktif.

Nomor kedua.
Tidak diangkat.

Nomor ketiga akhirnya tersambung.

"Pak..."
Suara di ujung telepon terdengar pelan.

"Saya butuh bantuan."
Hening.

"Pak?"
"Untuk sementara, jangan hubungi saya lagi."

"Kenapa?"
"Situasinya berubah."

Telepon terputus.

Hendra menatap layar.

Ia mencoba nomor lain.

Orang itu menjawab.

Tetapi kalimatnya sama.

"Pak Hendra, saya rasa kita sebaiknya tidak saling mengenal untuk sementara."
Telepon ditutup.

Hendra berdiri sendirian di ruang kerjanya.

Baru saat itulah ia menyadari sesuatu:
Orang-orang yang selama ini berada di sekelilingnya bukanlah teman.

Mereka hanya berdiri di dekat uangnya.


UANG YANG BERUBAH BENTUK

Seminggu kemudian, Hendra mencoba menjual salah satu aset.

Gagal.

Ia mencoba memindahkan sejumlah dana.

Tidak berhasil.

Ia meminta seseorang mengurus perusahaan yang selama ini menggunakan nama orang lain.

Orang itu tidak datang.

Hendra mulai panik.

Akhirnya ia memanggil pengacaranya.

Pria itu datang sore hari.

Duduk di ruang tamu yang luas.

Tidak seperti biasanya, ia tidak banyak bicara.
Ia membuka berkas.

"Pak Hendra."

"Ya?"

"Ini sudah berbeda."

"Dulu juga pernah ada pemeriksaan."

"Ini bukan soal pemeriksaan biasa."

Hendra menatapnya.
"Jelaskan."

Pengacara itu menarik napas.
"Dulu pertanyaannya adalah: apakah Bapak bisa diseret ke perkara?"

Hendra diam.

"Sekarang pertanyaannya menjadi: dari mana semua aset itu berasal?"

Hendra tidak menjawab.

"Kalau sebuah rumah dibeli dengan uang yang berasal dari kejahatan, rumah itu tidak menjadi bersih hanya karena sertifikatnya memakai nama orang lain."

Hendra menelan ludah.

"Kalau uang berpindah dari rekening A ke B, kemudian menjadi saham, kemudian menjadi perusahaan, lalu perusahaan membeli tanah..."

Pengacara itu berhenti.
"Jejaknya tetap ada."

Gelas di tangan Hendra terlepas.

Prang!

Pecahannya berserakan di lantai.

Anehnya, suara kecil itu terdengar seperti ledakan di ruang tamu yang sangat besar.


SATU KALIMAT YANG KEMBALI

Malam itu Hendra tidak tidur.

Ia membuka lemari.

Di bagian paling bawah terdapat beberapa dokumen lama.

Ia mengambil satu.
Kemudian satu lagi.
Dan satu lagi.

Setiap dokumen mengingatkannya pada sesuatu.

Sebuah proyek.
Sebuah tanda tangan.
Sebuah pertemuan.
Sebuah transfer.
Sebuah keputusan.

Tiba-tiba ingatannya kembali kepada dua puluh tahun lalu.

Sebuah sekolah kecil di daerah terpencil.
Bangunannya hampir roboh.
Seorang kepala sekolah pernah datang menemuinya.
"Pak, anggaran itu untuk memperbaiki sekolah."

Hendra masih ingat wajah pria itu.

"Anak-anak sudah belajar dalam kondisi seperti itu."

Hendra waktu itu bahkan tidak mengangkat wajah dari teleponnya.

"Nanti saja."

"Tapi, Pak..."

"Saya bilang nanti."

Hendra mengambil uang proyek itu.

Tidak semuanya.

Hanya sebagian.

Menurutnya, jumlahnya kecil.

Hanya beberapa ratus juta.

Apa artinya dibandingkan anggaran negara yang begitu besar?

Saat itu ia tidak memikirkan anak-anak.
Tidak memikirkan sekolah.
Tidak memikirkan orang tua mereka.

Ia hanya berpikir:
Kalau bisa diambil, kenapa tidak?

Kini, dua puluh tahun kemudian, kalimat kepala sekolah itu kembali.
"Pak, anggaran itu untuk sekolah."

Hendra menutup mata.

Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat uang.

Ia melihat wajah anak-anak.
Ia melihat ruang kelas.
Ia melihat atap yang bocor.
Dan ia melihat dirinya sendiri.

Seorang lelaki yang dulu menganggap beberapa ratus juta sebagai angka kecil.


KETIKA SEMUA PINTU TERASA MENUTUP

Hari-hari berikutnya menjadi mimpi buruk.

Setiap suara mobil membuat Hendra berdiri.
Setiap telepon membuat jantungnya berdebar.
Setiap ketukan pintu membuatnya bertanya:

"Siapa?"

Suatu pagi sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Hendra langsung berdiri dari meja makan.

Ia berjalan cepat menuju jendela.

Dua orang turun.

Wajahnya pucat.

"Mereka datang."

Istrinya menatapnya.

"Siapa?"

Hendra tidak menjawab.

Ia berdiri di balik tirai.

Dua orang itu berjalan menuju pintu.

Jantung Hendra berdegup semakin cepat.

Ketukan terdengar.

Tok.
Tok.
Tok.

Hendra mundur.

Kemudian terdengar suara:
"Pak, paket."

Hendra membeku.

Beberapa detik kemudian ia mengembuskan napas.

Hanya kurir.

Tetapi ketakutan itu sudah tinggal di dalam dirinya.

Ia tidak lagi takut kepada suara ketukan.

Ia takut kepada apa yang mungkin datang setelah ketukan itu.


ORANG TERAKHIR YANG DIPERCAYA

Suatu malam Hendra mencoba menelepon sahabat lamanya.

Orang yang dulu tertawa bersamanya ketika ia berkata bahwa harta miliknya tidak mungkin ditemukan.

Telepon tersambung.

"Bro..."
Tidak ada jawaban.

"Kita harus bicara."
Hening.

"Ada sesuatu yang harus saya urus."

Akhirnya terdengar suara dari seberang.
"Maaf, Pak Hendra."

"Kenapa?"

"Saya sudah bicara dengan penyidik."

Hendra berdiri.

"Apa?"

"Saya memberikan dokumen yang saya punya."

Hendra merasa lantai di bawah kakinya bergeser.

"Kamu?"

"Saya tidak punya pilihan."

"Kamu tahu berapa banyak yang saya bantu?"

"Justru itu masalahnya."

Hening.

"Saya terlalu lama diam."

Telepon ditutup.

Hendra menatap layar.

Tidak ada lagi orang yang bisa ia hubungi.
Tidak ada lagi pintu belakang.
Tidak ada lagi telepon rahasia.
Tidak ada lagi makan malam untuk menyelesaikan masalah.

Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, Hendra sendirian.


HARTA YANG TIDAK BISA BERSEMBUNYI

Malam itu ia kembali membuka dokumen-dokumen lama.

Satu per satu.

Ia mulai melihat semuanya secara berbeda.

Uang yang dahulu ia anggap telah menjadi miliknya ternyata hanya berpindah bentuk.

Uang menjadi rumah.
Rumah menjadi tanah.
Tanah menjadi perusahaan.
Perusahaan menjadi saham.
Saham menjadi kendaraan.
Kendaraan menjadi aset lain.

Nama orang berubah.
Rekening berubah.
Perusahaan berubah.

Tetapi satu hal tidak pernah berubah:
asal-usulnya.

Jejak itu tidak pernah benar-benar hilang.

Hendra menatap tumpukan dokumen di lantai.

Ia tiba-tiba memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah dipikirkannya.
Ia bukan sedang kehilangan harta.

Ia sedang kehilangan kemampuan untuk menyembunyikan masa lalunya.


PAGI YANG BERBEDA

Pagi itu Hendra bangun sebelum matahari terbit.

Ia mandi.

Mengenakan kemeja putih sederhana.

Tidak memakai jam mahal.
Tidak membawa tas bermerek.
Tidak membawa pengawal.

Ia hanya membawa sebuah map berisi dokumen.

Istrinya melihatnya dari ruang makan.
"Mau ke mana?"

Hendra diam beberapa saat.

Kemudian menjawab:
"Saya mau menyelesaikan semuanya."

Istrinya menatap wajahnya.

Untuk pertama kalinya, ia melihat seorang lelaki yang tidak sedang berusaha terlihat kuat.

Hendra keluar rumah.

Pagar terbuka.

Mobil tidak digunakan.

Ia berjalan beberapa langkah sebelum akhirnya naik kendaraan biasa.

Tidak ada musik.
Tidak ada telepon.
Tidak ada percakapan.

Untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba melarikan diri.


MENYERAHKAN DIRI

Gedung itu tidak terlihat istimewa.

Tidak ada karpet merah.
Tidak ada kamera televisi.
Tidak ada orang yang menunggunya.

Seorang petugas berdiri di dekat pintu.

"Pak, bisa saya bantu?"

Hendra berhenti.

Ia menarik napas panjang.

"Saya..."

Suaranya hampir tidak terdengar.

Ia menunduk.

Kemudian berkata lagi:
"Saya datang untuk menyerahkan diri."

Petugas itu memandangnya.

Hendra menyerahkan map yang dibawanya.

"Di dalam ini ada dokumen aset saya."

Ia berhenti.

"Sebagian besar tidak bisa saya jelaskan."

Petugas itu menerima map tersebut.

Hendra menatap lantai.

"Saya ingin bekerja sama."

Kemudian ia mengucapkan kalimat yang selama dua puluh tahun tidak pernah sanggup ia katakan:

"Saya sudah terlalu lama lari."


BEBERAPA BULAN KEMUDIAN

Proses hukum berjalan.
Tidak semua aset otomatis dirampas.
Tidak semua harta yang pernah dimiliki Hendra terbukti berasal dari kejahatan.
Tetapi aset yang terbukti berkaitan dengan tindak pidana diproses sesuai hukum.
Rumah-rumah mewah itu tidak lagi menjadi miliknya.
Mobil-mobil mahal tidak lagi berada di garasinya.
Perusahaan yang dibangun dari uang haram mulai kehilangan nilainya.

Dan sebagian harta yang berhasil dipulihkan kembali kepada negara melalui mekanisme hukum yang berlaku.

Suatu hari Hendra melihat berita dari televisi di dalam sel.

Berita itu menampilkan sebuah sekolah.

Bangunan baru.
Ruang kelas yang lebih layak.
Anak-anak duduk belajar.

Seorang guru tersenyum di depan kamera.

Hendra menatap layar cukup lama.

Kemudian ia mengenali nama daerah itu.

Daerah yang sama.
Sekolah yang sama.

Sekolah yang dahulu pernah datang kepadanya.

Ia terdiam.

Ingatan lama kembali.

"Pak, anggaran itu untuk sekolah."

Hendra menundukkan kepala.

Kini ia tahu.

Yang paling menyakitkan bukan kehilangan rumah.

Bukan kehilangan mobil.
Bukan kehilangan rekening.
Bukan kehilangan jabatan.

Yang paling menyakitkan adalah menyadari bahwa selama bertahun-tahun ia menikmati sesuatu yang seharusnya menjadi milik orang lain.

Televisi masih menyala.

Anak-anak itu tertawa.

Hendra akhirnya mematikannya.

Ruangan kembali sunyi.

Ia duduk sendirian.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak punya apa pun untuk dibeli.

Tidak ada orang untuk disuap.
Tidak ada pintu belakang.
Tidak ada nama orang lain untuk digunakan.
Tidak ada rekening rahasia.
Tidak ada tempat untuk bersembunyi.

Yang tersisa hanyalah dirinya sendiri.

Dan semua yang pernah ia lakukan.

Saat itulah Hendra memahami sesuatu yang paling sederhana:

Harta bisa disembunyikan dari manusia.

Tetapi jejaknya tidak selalu bisa disembunyikan dari hukum.


Dan yang lebih mengerikan lagi?"

kadang seseorang tidak takut kehilangan hartanya.

Ia takut ketika harta itulah yang akhirnya membuka semua rahasia hidupnya.


Malam kembali datang.

Di balik dinding yang dingin, Hendra berbaring.

Tidak ada rumah mewah.
Tidak ada pagar tinggi.
Tidak ada kamera.
Tidak ada anjing penjaga.

Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia bisa tidur.

Bukan karena ia sudah bebas.

Melainkan karena untuk pertama kalinya ia berhenti melarikan diri.

Di luar sana, harta yang dulu ia sembunyikan mulai kembali kepada tempat yang semestinya.

Dan di dalam dirinya, sebuah kesadaran akhirnya tumbuh:

Tidak ada harta yang benar-benar aman jika dibangun di atas penderitaan orang lain.

Sebab cepat atau lambat, harta itu akan menemukan jalan untuk menceritakan dari mana ia berasal.

TAMAT




Harta yang Tak Lagi Bisa Bersembunyi (Cerpen Fiksi)








NEXT:

Tips Menghadapi Musim Penghujan: Waspada Banjir dan Cuaca Ekstrem Beberapa Hari ke Depan


PREV:

Jika UU Perampasan Aset Disahkan 15 Desember 2026: Efek Domino yang Harus Dipahami Masyarakat

NEXT:

Tips Menghadapi Musim Penghujan: Waspada Banjir dan Cuaca Ekstrem Beberapa Hari ke Depan


PREV:

Jika UU Perampasan Aset Disahkan 15 Desember 2026: Efek Domino yang Harus Dipahami Masyarakat

Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom., adalah dosen dan penulis opini yang mengajar Bisnis Digital dan Akuntansi di STIE Mulia Pratama Bekasi. Ia aktif menulis tentang teknologi, perubahan sosial, geopolitik, dan refleksi iman di tengah dinamika dunia modern.
About me selengkapnya...




UU Perampasan Asset :
  • Harta yang Tak Lagi Bisa Bersembunyi (Cerpen Fiksi)
  • Sampai di Mana RUU Perampasan Aset? Seberapa Serius DPR dan Pemerintah Menuntaskannya?

Pencarian E-DDC 23
Electronic Dewey Decimal Classification untuk Perpustakaan