View : 51 kali.
Home >
Opinion
Kategori: Cuaca Ekstrem
Selasa, 01 September 2026

Opini oleh Murdan SianturiMemasuki periode dengan dinamika cuaca yang cukup aktif, masyarakat Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap hujan lebat, petir, angin kencang, hingga potensi banjir dan longsor.
Pada 1 September 2026, BMKG mengingatkan adanya potensi hujan lebat yang dapat disertai petir di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan hujan terpantau membentang dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua.
Artinya, meskipun tidak semua wilayah sedang memasuki puncak musim hujan, hujan dengan intensitas tinggi tetap bisa terjadi secara lokal dan dalam waktu relatif singkat.
Mengapa hujan lebat Perlu Diwaspadai?
Hujan deras bukan hanya persoalan basahnya jalan dan halaman rumah. Bila berlangsung cukup lama atau turun dengan intensitas sangat tinggi, air dapat dengan cepat memenuhi saluran drainase.
Risiko yang perlu diperhatikan antara lain:
banjir perkotaan;
genangan di jalan;
pohon tumbang;
tanah longsor di daerah perbukitan;
gangguan lalu lintas;
pemadaman listrik;
kerusakan rumah dan fasilitas umum;
serta meningkatnya risiko kecelakaan ketika berkendara.
BMKG juga masih mengeluarkan peringatan terkait potensi banjir rob di sejumlah wilayah pesisir hingga 4 September 2026, sehingga masyarakat yang tinggal di kawasan pantai perlu memperhatikan informasi pasang-surut dan peringatan setempat.
1. Bersihkan Selokan di Sekitar Rumah
Jangan menunggu air mulai naik baru mencari penyebabnya.
Sampah, daun, lumpur dan material lainnya yang menyumbat selokan dapat membuat air hujan tidak mengalir dengan baik.
Sebelum hujan deras datang, periksa:
selokan;
gorong-gorong;
talang air;
saluran pembuangan;
dan halaman yang berpotensi menjadi tempat berkumpulnya air.
Selokan kecil yang tersumbat bisa menjadi masalah besar ketika hujan turun berjam-jam.
2. Jangan Membuang Sampah ke Sungai
Ini terdengar sederhana, tetapi dampaknya sangat besar.
Sungai bukan tempat sampah raksasa.
Ketika hujan deras turun, sampah yang menumpuk dapat menghambat aliran air dan memperbesar risiko banjir.
Karena itu, menghadapi musim hujan bukan hanya tugas pemerintah. Masyarakat juga mempunyai peran besar dalam menjaga lingkungan.
3. Waspadai Pohon dan Tiang di Sekitar Rumah
angin kencang yang menyertai hujan dapat membuat pohon tua atau dahan besar patah.
Periksa pohon yang:
sudah tua;
batangnya keropos;
akarnya terlihat;
terlalu dekat dengan rumah;
atau berada di dekat jaringan listrik.
Jika terlihat berbahaya, segera laporkan kepada pihak yang berwenang.
4. Jangan Memaksakan Berkendara Saat Hujan Sangat Lebat
Ini penting bagi pengendara sepeda motor.
Kalau jarak pandang sudah sangat terbatas, jangan merasa hebat dengan berkata:
"Ah, tinggal sedikit lagi."
Justru "tinggal sedikit lagi" kadang menjadi alasan seseorang mengambil risiko terlalu besar.
Lebih baik berhenti sementara di tempat yang aman daripada memaksakan perjalanan ketika hujan disertai petir, angin kencang atau banjir.
Hindari berteduh di bawah pohon besar dan jangan berhenti sembarangan di lokasi yang berpotensi terkena longsoran atau genangan.
5. Simpan Barang Penting di Tempat Aman
Bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir, beberapa barang sebaiknya ditempatkan lebih tinggi.
Misalnya:
dokumen penting;
ijazah;
sertifikat;
perangkat elektronik;
obat-obatan;
pakaian;
makanan;
dan dokumen identitas.
Sediakan juga tas darurat sederhana yang mudah dibawa apabila sewaktu-waktu harus meninggalkan rumah.
6. Pantau Informasi Cuaca Resmi
Jangan hanya mengandalkan informasi dari grup WhatsApp.
Informasi cuaca dapat berubah dengan cepat. Karena itu, masyarakat sebaiknya memantau informasi resmi BMKG dan pemerintah daerah.
Apalagi saat BMKG sudah mengeluarkan peringatan dini, masyarakat sebaiknya tidak menganggapnya sebagai informasi biasa.
Pada kondisi terbaru, BMKG memang meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat dan petir di sejumlah wilayah Indonesia.
7. Kenali Jalur Evakuasi
Masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir atau longsor sebaiknya sudah mengetahui:
Kalau air naik, saya harus pergi ke mana?
Jangan baru memikirkan jawabannya ketika air sudah masuk rumah.
Kenali lokasi:
tempat pengungsian;
gedung yang relatif aman;
jalan alternatif;
fasilitas kesehatan;
serta nomor kontak darurat pemerintah setempat.
Jangan Panik, tetapi Jangan Meremehkan
cuaca ekstrem tidak selalu berarti bencana.
Namun, bencana sering menjadi lebih parah ketika masyarakat tidak siap.
Hujan deras mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Tetapi jika drainase buruk, sungai meluap, tanah sudah jenuh air dan masyarakat tidak memiliki kesiapsiagaan, dampaknya bisa jauh lebih besar.
Karena itu prinsipnya sederhana:
Tidak perlu panik menghadapi hujan, tetapi jangan pernah meremehkan peringatan cuaca.
Dan satu hal lagi: musim hujan bukan waktunya mencari siapa yang paling berani menerobos banjir.
Kalau air sudah tinggi, motor sudah mulai mogok, dan pengendara masih berkata, "Saya tahu jalannya, Bro..." -- biasanya air tidak peduli dia tahu jalan atau tidak. 😄
Penutup
Beberapa hari ke depan, masyarakat di berbagai wilayah Indonesia perlu tetap mengikuti perkembangan cuaca karena kondisi atmosfer dapat berubah dengan cepat. Peringatan BMKG pada awal September menunjukkan bahwa hujan lebat disertai petir masih berpotensi terjadi di sejumlah daerah.
Kesiapsiagaan tidak harus dimulai ketika banjir sudah datang.
Bersihkan saluran air, amankan barang penting, periksa lingkungan sekitar rumah, hindari perjalanan saat cuaca sangat buruk, dan selalu pantau informasi resmi.
Sebab menghadapi cuaca ekstrem bukan hanya soal bagaimana kita menyelamatkan diri ketika bencana terjadi, tetapi juga bagaimana kita mencegah risiko sebelum bencana datang.
Tips Menghadapi Musim Penghujan: Waspada Banjir dan Cuaca Ekstrem Beberapa Hari ke Depan
Selasa, 01 September 2026
Tips Menghadapi Musim Penghujan: Waspada Banjir dan Cuaca Ekstrem Beberapa Hari ke Depan

Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan menghadapi hujan lebat, banjir dan cuaca ekstrem.
Opini oleh Murdan SianturiMemasuki periode dengan dinamika cuaca yang cukup aktif, masyarakat Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap hujan lebat, petir, angin kencang, hingga potensi banjir dan longsor.
Pada 1 September 2026, BMKG mengingatkan adanya potensi hujan lebat yang dapat disertai petir di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan hujan terpantau membentang dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua.
Artinya, meskipun tidak semua wilayah sedang memasuki puncak musim hujan, hujan dengan intensitas tinggi tetap bisa terjadi secara lokal dan dalam waktu relatif singkat.
Mengapa hujan lebat Perlu Diwaspadai?
Hujan deras bukan hanya persoalan basahnya jalan dan halaman rumah. Bila berlangsung cukup lama atau turun dengan intensitas sangat tinggi, air dapat dengan cepat memenuhi saluran drainase.
Risiko yang perlu diperhatikan antara lain:
banjir perkotaan;
genangan di jalan;
pohon tumbang;
tanah longsor di daerah perbukitan;
gangguan lalu lintas;
pemadaman listrik;
kerusakan rumah dan fasilitas umum;
serta meningkatnya risiko kecelakaan ketika berkendara.
BMKG juga masih mengeluarkan peringatan terkait potensi banjir rob di sejumlah wilayah pesisir hingga 4 September 2026, sehingga masyarakat yang tinggal di kawasan pantai perlu memperhatikan informasi pasang-surut dan peringatan setempat.
7 Tips Menghadapi hujan lebat dan cuaca ekstrem
1. Bersihkan Selokan di Sekitar Rumah
Jangan menunggu air mulai naik baru mencari penyebabnya.
Sampah, daun, lumpur dan material lainnya yang menyumbat selokan dapat membuat air hujan tidak mengalir dengan baik.
Sebelum hujan deras datang, periksa:
selokan;
gorong-gorong;
talang air;
saluran pembuangan;
dan halaman yang berpotensi menjadi tempat berkumpulnya air.
Selokan kecil yang tersumbat bisa menjadi masalah besar ketika hujan turun berjam-jam.
2. Jangan Membuang Sampah ke Sungai
Ini terdengar sederhana, tetapi dampaknya sangat besar.
Sungai bukan tempat sampah raksasa.
Ketika hujan deras turun, sampah yang menumpuk dapat menghambat aliran air dan memperbesar risiko banjir.
Karena itu, menghadapi musim hujan bukan hanya tugas pemerintah. Masyarakat juga mempunyai peran besar dalam menjaga lingkungan.
3. Waspadai Pohon dan Tiang di Sekitar Rumah
angin kencang yang menyertai hujan dapat membuat pohon tua atau dahan besar patah.
Periksa pohon yang:
sudah tua;
batangnya keropos;
akarnya terlihat;
terlalu dekat dengan rumah;
atau berada di dekat jaringan listrik.
Jika terlihat berbahaya, segera laporkan kepada pihak yang berwenang.
4. Jangan Memaksakan Berkendara Saat Hujan Sangat Lebat
Ini penting bagi pengendara sepeda motor.
Kalau jarak pandang sudah sangat terbatas, jangan merasa hebat dengan berkata:
"Ah, tinggal sedikit lagi."
Justru "tinggal sedikit lagi" kadang menjadi alasan seseorang mengambil risiko terlalu besar.
Lebih baik berhenti sementara di tempat yang aman daripada memaksakan perjalanan ketika hujan disertai petir, angin kencang atau banjir.
Hindari berteduh di bawah pohon besar dan jangan berhenti sembarangan di lokasi yang berpotensi terkena longsoran atau genangan.
5. Simpan Barang Penting di Tempat Aman
Bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir, beberapa barang sebaiknya ditempatkan lebih tinggi.
Misalnya:
dokumen penting;
ijazah;
sertifikat;
perangkat elektronik;
obat-obatan;
pakaian;
makanan;
dan dokumen identitas.
Sediakan juga tas darurat sederhana yang mudah dibawa apabila sewaktu-waktu harus meninggalkan rumah.
6. Pantau Informasi Cuaca Resmi
Jangan hanya mengandalkan informasi dari grup WhatsApp.
Informasi cuaca dapat berubah dengan cepat. Karena itu, masyarakat sebaiknya memantau informasi resmi BMKG dan pemerintah daerah.
Apalagi saat BMKG sudah mengeluarkan peringatan dini, masyarakat sebaiknya tidak menganggapnya sebagai informasi biasa.
Pada kondisi terbaru, BMKG memang meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat dan petir di sejumlah wilayah Indonesia.
7. Kenali Jalur Evakuasi
Masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir atau longsor sebaiknya sudah mengetahui:
Kalau air naik, saya harus pergi ke mana?
Jangan baru memikirkan jawabannya ketika air sudah masuk rumah.
Kenali lokasi:
tempat pengungsian;
gedung yang relatif aman;
jalan alternatif;
fasilitas kesehatan;
serta nomor kontak darurat pemerintah setempat.
Jangan Panik, tetapi Jangan Meremehkan
cuaca ekstrem tidak selalu berarti bencana.
Namun, bencana sering menjadi lebih parah ketika masyarakat tidak siap.
Hujan deras mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Tetapi jika drainase buruk, sungai meluap, tanah sudah jenuh air dan masyarakat tidak memiliki kesiapsiagaan, dampaknya bisa jauh lebih besar.
Karena itu prinsipnya sederhana:
Tidak perlu panik menghadapi hujan, tetapi jangan pernah meremehkan peringatan cuaca.
Dan satu hal lagi: musim hujan bukan waktunya mencari siapa yang paling berani menerobos banjir.
Kalau air sudah tinggi, motor sudah mulai mogok, dan pengendara masih berkata, "Saya tahu jalannya, Bro..." -- biasanya air tidak peduli dia tahu jalan atau tidak. 😄
Penutup
Beberapa hari ke depan, masyarakat di berbagai wilayah Indonesia perlu tetap mengikuti perkembangan cuaca karena kondisi atmosfer dapat berubah dengan cepat. Peringatan BMKG pada awal September menunjukkan bahwa hujan lebat disertai petir masih berpotensi terjadi di sejumlah daerah.
Kesiapsiagaan tidak harus dimulai ketika banjir sudah datang.
Bersihkan saluran air, amankan barang penting, periksa lingkungan sekitar rumah, hindari perjalanan saat cuaca sangat buruk, dan selalu pantau informasi resmi.
Sebab menghadapi cuaca ekstrem bukan hanya soal bagaimana kita menyelamatkan diri ketika bencana terjadi, tetapi juga bagaimana kita mencegah risiko sebelum bencana datang.
Waspada bukan berarti takut. Waspada berarti siap.
Tips Menghadapi Musim Penghujan: Waspada Banjir dan Cuaca Ekstrem Beberapa Hari ke Depan
NEXT:
Kebebasan Bicara Bukan Kebebasan Berkata Kotor: Pelajaran dari Kasus Polda Sitanggang
PREV:
