View : 8 kali.
Home >
Opinion
Kategori: Karhutla
Rabu, 09 September 2026
Oleh: Murdan SianturiAda saat ketika kebakaran hutan dan lahan tidak lagi bisa dipandang sebagai persoalan daerah.
Ketika api terus bergerak di Sumatera dan Kalimantan, asap menutup langit, kualitas udara memburuk, lahan gambut terbakar dan titik api semakin sulit dijangkau dari darat, maka persoalannya berubah menjadi masalah nasional.
Kini Indonesia mendapatkan bantuan dari Jepang.
Tiga helikopter ch-47 chinook Jepang bersama personelnya dikirim ke Indonesia untuk membantu operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. Helikopter tersebut akan ditempatkan di Pontianak, Kalimantan Barat, salah satu wilayah yang paling terdampak karhutla. Setelah proses persiapan dan uji terbang, operasi dijadwalkan berlangsung pada 12—19 September 2026.
Ini bukan sekadar berita tentang kedatangan tiga helikopter.
Ini adalah tanda bahwa perang melawan karhutla Indonesia memasuki fase baru: perang dari udara.
Mengapa harus dari udara?
Pertanyaan sederhananya begini:
Kalau api berada di tengah hutan, kawasan gambut, perkebunan, semak belukar atau lokasi yang sulit dijangkau kendaraan, bagaimana petugas pemadam bisa sampai ke sana?
Jawabannya tidak selalu mudah.
Jalan darat bisa jauh. Tanah gambut bisa sulit dilalui. Api bisa berubah arah karena angin. Dan ketika petugas berhasil mencapai lokasi, api mungkin sudah berpindah ke tempat lain.
Karena itu, operasi udara mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki pasukan darat.
Helikopter dapat bergerak cepat.
Dapat mengangkut personel.
Dapat melakukan pengamatan dari udara.
Dan yang paling penting, dapat membawa air langsung menuju lokasi kebakaran melalui operasi water bombing.
Namun jangan salah.
Helikopter bukan tongkat sihir.
Satu kali menjatuhkan air tidak otomatis membuat kebakaran selesai.
Apalagi jika api sudah masuk jauh ke dalam lahan gambut.
Air memang dapat memadamkan api di permukaan, tetapi titik panas di bawah permukaan masih dapat bertahan dan kembali menyala.
Di sinilah operasi udara harus dikombinasikan dengan operasi darat.
Tiga Chinook bukan sekadar tambahan alat
Kehadiran tiga ch-47 chinook Jepang memiliki arti strategis.
Indonesia sebenarnya sudah mengerahkan puluhan pesawat dan helikopter untuk operasi pemadaman dan modifikasi cuaca. Reuters melaporkan lebih dari 50 pesawat telah digunakan dalam berbagai operasi water bombing dan penyemaian awan.
Artinya, persoalan Indonesia bukan semata-mata kekurangan pesawat.
Persoalannya jauh lebih kompleks.
Api terlalu banyak, wilayah terlalu luas, medan terlalu sulit, sumber air terbatas dan cuaca terlalu kering.
Bahkan BNPB menyebut pencarian sumber air menjadi salah satu tantangan dalam operasi pemadaman. Pemerintah sampai melakukan pengeboran sumber air di sejumlah lokasi untuk mendukung operasi pemadaman.
Jadi, kedatangan Chinook Jepang harus dilihat sebagai bagian dari sebuah sistem.
Bukan sebagai solusi tunggal.
Angka karhutla seharusnya membuat kita berhenti sejenak
BNPB menetapkan enam provinsi sebagai prioritas penanganan karhutla, yaitu:
Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Barat
Di Riau saja, luas lahan yang terbakar sejak 1 Januari hingga 4 September 2026 telah mencapai sekitar 18.882 hektare.
BNPB masih mengoperasikan dukungan udara berupa helikopter patroli, pesawat patroli sekaligus untuk operasi modifikasi cuaca, serta lima helikopter water bombing di wilayah tersebut.
Di Jambi, pemerintah juga memperkuat satgas darat dan udara menjelang puncak risiko karhutla pada September. Strateginya bukan hanya pemadaman, tetapi juga membuat sekat bakar dan melakukan pendinginan di lahan gambut.
Angka-angka ini memberikan satu pesan penting:
Indonesia tidak sedang menghadapi kebakaran biasa.
Kita sedang menghadapi persoalan ekologis yang membutuhkan operasi berskala nasional.
Bahaya terbesar bukan hanya api
Masyarakat sering melihat karhutla dari gambar kobaran api.
Padahal dampaknya jauh lebih panjang.
Api menghasilkan asap.
Asap menghasilkan polusi udara.
Polusi udara dapat mengganggu kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, lansia dan orang yang memiliki masalah pernapasan.
Kemudian aktivitas sekolah terganggu.
Penerbangan bisa terdampak.
Transportasi terganggu.
Produktivitas masyarakat turun.
Dan jika asap melintasi batas negara, persoalannya berubah menjadi isu regional.
Reuters melaporkan kebakaran tahun ini telah menyebabkan kabut asap dan peningkatan polusi udara yang juga menimbulkan perhatian di Singapura dan Malaysia.
Jadi, karhutla bukan hanya persoalan kehutanan.
Ia adalah persoalan kesehatan, ekonomi, transportasi, lingkungan, keamanan dan hubungan antarnegara.
Jangan sampai kita bangga karena berhasil memadamkan api, tetapi gagal mencegahnya
Ini bagian yang menurut saya paling penting.
Kita sering sangat bangga ketika melihat helikopter menjatuhkan ribuan liter air.
Video water bombing memang spektakuler.
Helikopter datang.
Air dijatuhkan.
Asap mengepul.
Api berkurang.
Tetapi pertanyaan berikutnya harus lebih serius:
Mengapa api bisa muncul sejak awal?
Kalau jawabannya karena pembukaan lahan dengan cara membakar, maka pencegahan harus diperkuat.
Kalau penyebabnya kelalaian, maka pengawasan harus diperketat.
Kalau ada unsur kesengajaan, maka penegakan hukum harus berjalan.
Kalau kawasan gambut terlalu kering, tata kelola air harus diperbaiki.
Kalau perusahaan atau pemegang konsesi memiliki kewajiban perlindungan lahan, maka kewajiban tersebut harus benar-benar diawasi.
Karena kalau penyebabnya tidak diselesaikan, maka setiap tahun kita hanya akan mengulang cerita yang sama.
Api datang → helikopter datang → hujan buatan dilakukan → asap hilang → musim hujan tiba → semua lupa → tahun berikutnya api kembali.
Siklus seperti ini tidak boleh menjadi normal baru Indonesia.
Chinook Jepang harus menjadi momentum evaluasi nasional
Menurut saya, bantuan Jepang harus kita sambut dengan apresiasi.
Tetapi sekaligus harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi.
Indonesia adalah negara tropis dengan hutan yang sangat luas.
Kita tidak mungkin setiap tahun menunggu bantuan internasional ketika musim kebakaran tiba.
Bantuan Jepang sangat penting untuk kondisi darurat.
Tetapi dalam jangka panjang Indonesia harus mempunyai arsitektur penanganan karhutla sendiri yang jauh lebih kuat.
Mulai dari sistem deteksi dini, satelit, patroli udara, drone, sumber air permanen, kesiapan helikopter, pasukan darat, pengelolaan gambut, sampai penegakan hukum.
Teknologi juga harus dimanfaatkan.
Bayangkan kalau seluruh data titik panas, arah angin, kelembapan tanah, kondisi gambut, sumber air dan pergerakan api dimasukkan ke dalam satu sistem kecerdasan buatan.
Maka petugas tidak lagi hanya bertanya:
"Di mana api?”
Tetapi sistem dapat membantu menjawab:
"Ke mana api kemungkinan bergerak tiga jam lagi?”
Itulah masa depan penanganan karhutla.
Bukan hanya memadamkan.
Tetapi memprediksi.
Perang udara harus didukung perang di darat
Ada satu prinsip yang tidak boleh dilupakan:
Helikopter memadamkan api. Manusia menghentikan penyebabnya.
Operasi udara sangat penting.
Tetapi pasukan darat tetap menjadi ujung tombak.
BNPB sendiri masih menjalankan kombinasi operasi darat, patroli udara, water bombing, pendinginan dan operasi modifikasi cuaca.
Ini pendekatan yang benar.
Karena api yang terlihat dari udara hanyalah bagian dari persoalan.
Petugas darat harus mencari titik panas.
Harus melakukan pendinginan.
Harus membuat sekat bakar.
Harus melindungi permukiman.
Harus memastikan api tidak kembali menyala.
Dan yang paling penting, harus mencari penyebab kebakaran.
Ada pelajaran penting dari bantuan Jepang
Bantuan Jepang memberikan pelajaran lain yang sering luput.
Ketika bencana menjadi besar, kerja sama internasional bukan tanda kelemahan.
Justru menunjukkan bahwa bencana lingkungan modern membutuhkan kerja sama lintas negara.
Jepang memiliki pengalaman panjang dalam penanganan bencana.
Indonesia memiliki pengalaman menghadapi karakter hutan tropis, lahan gambut dan kondisi geografis kepulauan.
Keduanya dapat saling melengkapi.
Tetapi kerja sama seperti ini sebaiknya tidak berhenti pada pemadaman.
Indonesia dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkuat:
transfer teknologi, pelatihan personel, manajemen operasi udara, pemetaan titik panas dan sistem penanganan kebakaran skala besar.
Dengan demikian, bantuan hari ini dapat menjadi investasi pengetahuan untuk masa depan.
Jangan tunggu asap menjadi berita utama baru kita bergerak
Masalah terbesar karhutla sebenarnya bukan ketika televisi sudah menampilkan hutan terbakar.
Masalah terbesar terjadi jauh sebelumnya.
Ketika tanah mulai mengering.
Ketika kanal gambut tidak dikelola dengan baik.
Ketika titik panas pertama muncul.
Ketika patroli tidak menemukan api dengan cepat.
Ketika masyarakat membuka lahan tanpa pengawasan.
Dan ketika sistem peringatan dini tidak segera diterjemahkan menjadi tindakan.
Karena itu, keberhasilan penanganan karhutla seharusnya tidak diukur dari berapa banyak helikopter yang dikerahkan.
Tetapi dari:
berapa banyak kebakaran yang berhasil dicegah, berapa cepat titik api ditemukan, berapa luas lahan yang berhasil diselamatkan, dan apakah kebakaran yang sama terjadi lagi tahun depan.
Itulah ukuran keberhasilan yang sebenarnya.
Tiga helikopter, satu pesan besar
Kedatangan tiga ch-47 chinook Jepang ke Indonesia pada momentum krisis karhutla 2026 harus dibaca sebagai pesan serius.
Bukan hanya pesan bahwa Jepang datang membantu Indonesia.
Tetapi juga pesan bahwa karhutla Indonesia sudah membutuhkan kemampuan operasi yang semakin besar, cepat dan terintegrasi.
Kita membutuhkan langit untuk memadamkan api.
Kita membutuhkan darat untuk mengendalikan api.
Kita membutuhkan teknologi untuk menemukan api.
Kita membutuhkan hukum untuk mencegah api yang disengaja.
Dan kita membutuhkan kebijakan lingkungan untuk memastikan kondisi yang memungkinkan api menyebar tidak terus berulang.
Jadi, ketika Chinook Jepang mulai terbang di atas langit Kalimantan, jangan hanya melihat tiga helikopter.
Lihatlah sebagai simbol bahwa perang melawan karhutla telah memasuki babak baru.
Perang dari udara memang dimulai.
Tetapi kemenangan sesungguhnya hanya akan terjadi jika perang itu dilanjutkan di darat—dengan pencegahan, pengawasan, teknologi, penegakan hukum dan keberanian memperbaiki tata kelola hutan dan lahan.
Sebab pada akhirnya, Indonesia tidak boleh menjadi negara yang paling hebat memadamkan kebakaran, tetapi gagal menjadi negara yang paling hebat mencegah kebakaran.
3 Helikopter Jepang Tiba di Indonesia 10 September: Perang Melawan Karhutla Dimulai dari Udara
Rabu, 09 September 2026
3 Helikopter Jepang Tiba di Indonesia 10 September: Perang Melawan Karhutla Dimulai dari Udara
Ketika api terus bergerak di Sumatera dan Kalimantan, asap menutup langit, kualitas udara memburuk, lahan gambut terbakar dan titik api semakin sulit dijangkau dari darat, maka persoalannya berubah menjadi masalah nasional.
Kini Indonesia mendapatkan bantuan dari Jepang.
Tiga helikopter ch-47 chinook Jepang bersama personelnya dikirim ke Indonesia untuk membantu operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. Helikopter tersebut akan ditempatkan di Pontianak, Kalimantan Barat, salah satu wilayah yang paling terdampak karhutla. Setelah proses persiapan dan uji terbang, operasi dijadwalkan berlangsung pada 12—19 September 2026.
Ini bukan sekadar berita tentang kedatangan tiga helikopter.
Ini adalah tanda bahwa perang melawan karhutla Indonesia memasuki fase baru: perang dari udara.
Mengapa harus dari udara?
Pertanyaan sederhananya begini:
Kalau api berada di tengah hutan, kawasan gambut, perkebunan, semak belukar atau lokasi yang sulit dijangkau kendaraan, bagaimana petugas pemadam bisa sampai ke sana?
Jawabannya tidak selalu mudah.
Jalan darat bisa jauh. Tanah gambut bisa sulit dilalui. Api bisa berubah arah karena angin. Dan ketika petugas berhasil mencapai lokasi, api mungkin sudah berpindah ke tempat lain.
Karena itu, operasi udara mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki pasukan darat.
Helikopter dapat bergerak cepat.
Dapat mengangkut personel.
Dapat melakukan pengamatan dari udara.
Dan yang paling penting, dapat membawa air langsung menuju lokasi kebakaran melalui operasi water bombing.
Namun jangan salah.
Helikopter bukan tongkat sihir.
Satu kali menjatuhkan air tidak otomatis membuat kebakaran selesai.
Apalagi jika api sudah masuk jauh ke dalam lahan gambut.
Air memang dapat memadamkan api di permukaan, tetapi titik panas di bawah permukaan masih dapat bertahan dan kembali menyala.
Di sinilah operasi udara harus dikombinasikan dengan operasi darat.
Tiga Chinook bukan sekadar tambahan alat
Kehadiran tiga ch-47 chinook Jepang memiliki arti strategis.
Indonesia sebenarnya sudah mengerahkan puluhan pesawat dan helikopter untuk operasi pemadaman dan modifikasi cuaca. Reuters melaporkan lebih dari 50 pesawat telah digunakan dalam berbagai operasi water bombing dan penyemaian awan.
Artinya, persoalan Indonesia bukan semata-mata kekurangan pesawat.
Persoalannya jauh lebih kompleks.
Api terlalu banyak, wilayah terlalu luas, medan terlalu sulit, sumber air terbatas dan cuaca terlalu kering.
Bahkan BNPB menyebut pencarian sumber air menjadi salah satu tantangan dalam operasi pemadaman. Pemerintah sampai melakukan pengeboran sumber air di sejumlah lokasi untuk mendukung operasi pemadaman.
Jadi, kedatangan Chinook Jepang harus dilihat sebagai bagian dari sebuah sistem.
Bukan sebagai solusi tunggal.
Angka karhutla seharusnya membuat kita berhenti sejenak
BNPB menetapkan enam provinsi sebagai prioritas penanganan karhutla, yaitu:
Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Barat
Di Riau saja, luas lahan yang terbakar sejak 1 Januari hingga 4 September 2026 telah mencapai sekitar 18.882 hektare.
BNPB masih mengoperasikan dukungan udara berupa helikopter patroli, pesawat patroli sekaligus untuk operasi modifikasi cuaca, serta lima helikopter water bombing di wilayah tersebut.
Di Jambi, pemerintah juga memperkuat satgas darat dan udara menjelang puncak risiko karhutla pada September. Strateginya bukan hanya pemadaman, tetapi juga membuat sekat bakar dan melakukan pendinginan di lahan gambut.
Angka-angka ini memberikan satu pesan penting:
Indonesia tidak sedang menghadapi kebakaran biasa.
Kita sedang menghadapi persoalan ekologis yang membutuhkan operasi berskala nasional.
Bahaya terbesar bukan hanya api
Masyarakat sering melihat karhutla dari gambar kobaran api.
Padahal dampaknya jauh lebih panjang.
Api menghasilkan asap.
Asap menghasilkan polusi udara.
Polusi udara dapat mengganggu kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, lansia dan orang yang memiliki masalah pernapasan.
Kemudian aktivitas sekolah terganggu.
Penerbangan bisa terdampak.
Transportasi terganggu.
Produktivitas masyarakat turun.
Dan jika asap melintasi batas negara, persoalannya berubah menjadi isu regional.
Reuters melaporkan kebakaran tahun ini telah menyebabkan kabut asap dan peningkatan polusi udara yang juga menimbulkan perhatian di Singapura dan Malaysia.
Jadi, karhutla bukan hanya persoalan kehutanan.
Ia adalah persoalan kesehatan, ekonomi, transportasi, lingkungan, keamanan dan hubungan antarnegara.
Jangan sampai kita bangga karena berhasil memadamkan api, tetapi gagal mencegahnya
Ini bagian yang menurut saya paling penting.
Kita sering sangat bangga ketika melihat helikopter menjatuhkan ribuan liter air.
Video water bombing memang spektakuler.
Helikopter datang.
Air dijatuhkan.
Asap mengepul.
Api berkurang.
Tetapi pertanyaan berikutnya harus lebih serius:
Mengapa api bisa muncul sejak awal?
Kalau jawabannya karena pembukaan lahan dengan cara membakar, maka pencegahan harus diperkuat.
Kalau penyebabnya kelalaian, maka pengawasan harus diperketat.
Kalau ada unsur kesengajaan, maka penegakan hukum harus berjalan.
Kalau kawasan gambut terlalu kering, tata kelola air harus diperbaiki.
Kalau perusahaan atau pemegang konsesi memiliki kewajiban perlindungan lahan, maka kewajiban tersebut harus benar-benar diawasi.
Karena kalau penyebabnya tidak diselesaikan, maka setiap tahun kita hanya akan mengulang cerita yang sama.
Api datang → helikopter datang → hujan buatan dilakukan → asap hilang → musim hujan tiba → semua lupa → tahun berikutnya api kembali.
Siklus seperti ini tidak boleh menjadi normal baru Indonesia.
Chinook Jepang harus menjadi momentum evaluasi nasional
Menurut saya, bantuan Jepang harus kita sambut dengan apresiasi.
Tetapi sekaligus harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi.
Indonesia adalah negara tropis dengan hutan yang sangat luas.
Kita tidak mungkin setiap tahun menunggu bantuan internasional ketika musim kebakaran tiba.
Bantuan Jepang sangat penting untuk kondisi darurat.
Tetapi dalam jangka panjang Indonesia harus mempunyai arsitektur penanganan karhutla sendiri yang jauh lebih kuat.
Mulai dari sistem deteksi dini, satelit, patroli udara, drone, sumber air permanen, kesiapan helikopter, pasukan darat, pengelolaan gambut, sampai penegakan hukum.
Teknologi juga harus dimanfaatkan.
Bayangkan kalau seluruh data titik panas, arah angin, kelembapan tanah, kondisi gambut, sumber air dan pergerakan api dimasukkan ke dalam satu sistem kecerdasan buatan.
Maka petugas tidak lagi hanya bertanya:
"Di mana api?”
Tetapi sistem dapat membantu menjawab:
"Ke mana api kemungkinan bergerak tiga jam lagi?”
Itulah masa depan penanganan karhutla.
Bukan hanya memadamkan.
Tetapi memprediksi.
Perang udara harus didukung perang di darat
Ada satu prinsip yang tidak boleh dilupakan:
Helikopter memadamkan api. Manusia menghentikan penyebabnya.
Operasi udara sangat penting.
Tetapi pasukan darat tetap menjadi ujung tombak.
BNPB sendiri masih menjalankan kombinasi operasi darat, patroli udara, water bombing, pendinginan dan operasi modifikasi cuaca.
Ini pendekatan yang benar.
Karena api yang terlihat dari udara hanyalah bagian dari persoalan.
Petugas darat harus mencari titik panas.
Harus melakukan pendinginan.
Harus membuat sekat bakar.
Harus melindungi permukiman.
Harus memastikan api tidak kembali menyala.
Dan yang paling penting, harus mencari penyebab kebakaran.
Ada pelajaran penting dari bantuan Jepang
Bantuan Jepang memberikan pelajaran lain yang sering luput.
Ketika bencana menjadi besar, kerja sama internasional bukan tanda kelemahan.
Justru menunjukkan bahwa bencana lingkungan modern membutuhkan kerja sama lintas negara.
Jepang memiliki pengalaman panjang dalam penanganan bencana.
Indonesia memiliki pengalaman menghadapi karakter hutan tropis, lahan gambut dan kondisi geografis kepulauan.
Keduanya dapat saling melengkapi.
Tetapi kerja sama seperti ini sebaiknya tidak berhenti pada pemadaman.
Indonesia dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkuat:
transfer teknologi, pelatihan personel, manajemen operasi udara, pemetaan titik panas dan sistem penanganan kebakaran skala besar.
Dengan demikian, bantuan hari ini dapat menjadi investasi pengetahuan untuk masa depan.
Jangan tunggu asap menjadi berita utama baru kita bergerak
Masalah terbesar karhutla sebenarnya bukan ketika televisi sudah menampilkan hutan terbakar.
Masalah terbesar terjadi jauh sebelumnya.
Ketika tanah mulai mengering.
Ketika kanal gambut tidak dikelola dengan baik.
Ketika titik panas pertama muncul.
Ketika patroli tidak menemukan api dengan cepat.
Ketika masyarakat membuka lahan tanpa pengawasan.
Dan ketika sistem peringatan dini tidak segera diterjemahkan menjadi tindakan.
Karena itu, keberhasilan penanganan karhutla seharusnya tidak diukur dari berapa banyak helikopter yang dikerahkan.
Tetapi dari:
berapa banyak kebakaran yang berhasil dicegah, berapa cepat titik api ditemukan, berapa luas lahan yang berhasil diselamatkan, dan apakah kebakaran yang sama terjadi lagi tahun depan.
Itulah ukuran keberhasilan yang sebenarnya.
Tiga helikopter, satu pesan besar
Kedatangan tiga ch-47 chinook Jepang ke Indonesia pada momentum krisis karhutla 2026 harus dibaca sebagai pesan serius.
Bukan hanya pesan bahwa Jepang datang membantu Indonesia.
Tetapi juga pesan bahwa karhutla Indonesia sudah membutuhkan kemampuan operasi yang semakin besar, cepat dan terintegrasi.
Kita membutuhkan langit untuk memadamkan api.
Kita membutuhkan darat untuk mengendalikan api.
Kita membutuhkan teknologi untuk menemukan api.
Kita membutuhkan hukum untuk mencegah api yang disengaja.
Dan kita membutuhkan kebijakan lingkungan untuk memastikan kondisi yang memungkinkan api menyebar tidak terus berulang.
Jadi, ketika Chinook Jepang mulai terbang di atas langit Kalimantan, jangan hanya melihat tiga helikopter.
Lihatlah sebagai simbol bahwa perang melawan karhutla telah memasuki babak baru.
Perang dari udara memang dimulai.
Tetapi kemenangan sesungguhnya hanya akan terjadi jika perang itu dilanjutkan di darat—dengan pencegahan, pengawasan, teknologi, penegakan hukum dan keberanian memperbaiki tata kelola hutan dan lahan.
Sebab pada akhirnya, Indonesia tidak boleh menjadi negara yang paling hebat memadamkan kebakaran, tetapi gagal menjadi negara yang paling hebat mencegah kebakaran.
3 Helikopter Jepang Tiba di Indonesia 10 September: Perang Melawan Karhutla Dimulai dari Udara
NEXT:
Dapur MBG Dihentikan. Ini Alasannya
PREV:
