View : 40 kali.
Home >
Opinion
Kategori: Gempa
Jumat, 24 Juli 2026

oleh Murdan Sianturi
Aktivitas gempa bumi kembali mengguncang sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir. Setelah Aceh diguncang gempa pada 22 Juli, hari ini Jumat (24/7), dua wilayah lainnya, yakni Ternate, Maluku Utara, dan Tolitoli, Sulawesi Tengah, juga mengalami gempa tektonik.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa ketiga gempa tersebut tidak saling memicu secara langsung, melainkan berasal dari aktivitas tektonik yang berbeda sesuai karakter geologi masing-masing wilayah. Indonesia sendiri berada di pertemuan beberapa lempeng tektonik besar dunia sehingga menjadi salah satu negara dengan tingkat aktivitas seismik tertinggi.
gempa Ternate Dipicu subduksi lempeng Laut Maluku
Gempa berkekuatan Magnitudo 5,7 yang terjadi di wilayah Ternate pada Jumat (24/7) dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng Laut Maluku.
Menurut analisis BMKG, gempa berasal dari deformasi batuan di dalam lempeng yang menunjukan mekanisme sesar naik (thrust fault). Mekanisme ini umum terjadi pada zona pertemuan lempeng yang saling menekan.
Meski cukup kuat dirasakan masyarakat, hingga laporan ini disusun belum terdapat informasi mengenai potensi tsunami.
gempa Tolitoli Berasal dari sesar aktif Lokal
Pada hari yang sama, wilayah Tolitoli, Sulawesi Tengah, juga diguncang gempa berkekuatan Magnitudo 4,4.
Berbeda dengan Ternate, gempa ini dipicu oleh aktivitas sesar aktif lokal di daratan Sulawesi Tengah. Karena merupakan gempa dangkal, guncangannya dapat terasa lebih kuat di permukaan meskipun magnitudonya lebih kecil.
Sulawesi Tengah memang dikenal memiliki sejumlah sesar aktif yang secara berkala melepaskan energi dalam bentuk gempa bumi.
Aceh Masih Mengalami Gempa Susulan
Sementara itu, masyarakat Gayo Lues, Aceh, masih diminta meningkatkan kewaspadaan menyusul rangkaian gempa susulan pascagempa Magnitudo 5,6 yang terjadi pada 22 Juli 2026.
BMKG menyebutkan gempa tersebut dipicu oleh aktivitas Sesar Besar Sumatra, khususnya pada segmen Tripa atau segmen terdekat di kawasan Gayo Lues.
Karena merupakan gempa darat dangkal, peristiwa tersebut diikuti sejumlah gempa susulan (aftershocks) yang merupakan proses alamiah ketika kerak bumi menyesuaikan diri setelah pelepasan energi utama.
Indonesia Berada di Jalur Cincin Api Dunia
Fenomena gempa yang terjadi hampir bersamaan di beberapa wilayah Indonesia bukanlah hal yang luar biasa secara ilmiah.
Indonesia berada di kawasan Ring of Fire (Cincin Api Pasifik) yang merupakan pertemuan beberapa lempeng tektonik besar, yaitu Lempeng Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina. Kondisi inilah yang menyebabkan aktivitas gempa bumi dan gunung api di Indonesia tergolong sangat tinggi.
Para ahli menegaskan bahwa setiap gempa memiliki sumber penyebab yang berbeda sehingga masyarakat tidak perlu langsung mengaitkan satu kejadian dengan kejadian lainnya tanpa dasar ilmiah.
BMKG Imbau Masyarakat Tetap Tenang dan Waspada
BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap tenang, tidak panik, namun selalu siap menghadapi kemungkinan gempa susulan.
Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain:
Dengan meningkatnya aktivitas kegempaan dalam beberapa hari terakhir, masyarakat di wilayah rawan gempa diharapkan tetap waspada tanpa menimbulkan kepanikan, serta selalu mengutamakan informasi resmi sebagai acuan dalam mengambil tindakan.
Indonesia Kembali Diguncang Gempa Beruntun, Haruskah Kita Khawatir?
Jumat, 24 Juli 2026
Indonesia Kembali Diguncang Gempa Beruntun, Haruskah Kita Khawatir?

Peta Indonesia yang menunjukkan lokasi gempa di Aceh, Ternate, dan Tolitoli pada 24 Juli 2026 akibat aktivitas sesar aktif dan subduksi lempeng tektonik.
oleh Murdan Sianturi
Dalam dua hari terakhir, masyarakat dibuat cemas karena gempa terjadi hampir bersamaan di Aceh, Ternate, dan Tolitoli. Banyak yang bertanya, apakah Indonesia sedang memasuki fase gempa besar?
Jawabannya belum tentu. Menurut penjelasan BMKG, ketiga gempa tersebut berasal dari sumber tektonik yang berbeda, sehingga tidak dapat disimpulkan saling memicu secara langsung. Indonesia memang berada di pertemuan beberapa lempeng tektonik aktif sehingga kejadian gempa di lokasi yang berbeda dalam waktu berdekatan masih merupakan fenomena yang dapat dijelaskan secara ilmiah.
Jawabannya belum tentu. Menurut penjelasan BMKG, ketiga gempa tersebut berasal dari sumber tektonik yang berbeda, sehingga tidak dapat disimpulkan saling memicu secara langsung. Indonesia memang berada di pertemuan beberapa lempeng tektonik aktif sehingga kejadian gempa di lokasi yang berbeda dalam waktu berdekatan masih merupakan fenomena yang dapat dijelaskan secara ilmiah.
Aktivitas gempa bumi kembali mengguncang sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir. Setelah Aceh diguncang gempa pada 22 Juli, hari ini Jumat (24/7), dua wilayah lainnya, yakni Ternate, Maluku Utara, dan Tolitoli, Sulawesi Tengah, juga mengalami gempa tektonik.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa ketiga gempa tersebut tidak saling memicu secara langsung, melainkan berasal dari aktivitas tektonik yang berbeda sesuai karakter geologi masing-masing wilayah. Indonesia sendiri berada di pertemuan beberapa lempeng tektonik besar dunia sehingga menjadi salah satu negara dengan tingkat aktivitas seismik tertinggi.
gempa Ternate Dipicu subduksi lempeng Laut Maluku
Gempa berkekuatan Magnitudo 5,7 yang terjadi di wilayah Ternate pada Jumat (24/7) dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng Laut Maluku.
Menurut analisis BMKG, gempa berasal dari deformasi batuan di dalam lempeng yang menunjukan mekanisme sesar naik (thrust fault). Mekanisme ini umum terjadi pada zona pertemuan lempeng yang saling menekan.
Meski cukup kuat dirasakan masyarakat, hingga laporan ini disusun belum terdapat informasi mengenai potensi tsunami.
gempa Tolitoli Berasal dari sesar aktif Lokal
Pada hari yang sama, wilayah Tolitoli, Sulawesi Tengah, juga diguncang gempa berkekuatan Magnitudo 4,4.
Berbeda dengan Ternate, gempa ini dipicu oleh aktivitas sesar aktif lokal di daratan Sulawesi Tengah. Karena merupakan gempa dangkal, guncangannya dapat terasa lebih kuat di permukaan meskipun magnitudonya lebih kecil.
Sulawesi Tengah memang dikenal memiliki sejumlah sesar aktif yang secara berkala melepaskan energi dalam bentuk gempa bumi.
Aceh Masih Mengalami Gempa Susulan
Sementara itu, masyarakat Gayo Lues, Aceh, masih diminta meningkatkan kewaspadaan menyusul rangkaian gempa susulan pascagempa Magnitudo 5,6 yang terjadi pada 22 Juli 2026.
BMKG menyebutkan gempa tersebut dipicu oleh aktivitas Sesar Besar Sumatra, khususnya pada segmen Tripa atau segmen terdekat di kawasan Gayo Lues.
Karena merupakan gempa darat dangkal, peristiwa tersebut diikuti sejumlah gempa susulan (aftershocks) yang merupakan proses alamiah ketika kerak bumi menyesuaikan diri setelah pelepasan energi utama.
Indonesia Berada di Jalur Cincin Api Dunia
Fenomena gempa yang terjadi hampir bersamaan di beberapa wilayah Indonesia bukanlah hal yang luar biasa secara ilmiah.
Indonesia berada di kawasan Ring of Fire (Cincin Api Pasifik) yang merupakan pertemuan beberapa lempeng tektonik besar, yaitu Lempeng Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina. Kondisi inilah yang menyebabkan aktivitas gempa bumi dan gunung api di Indonesia tergolong sangat tinggi.
Para ahli menegaskan bahwa setiap gempa memiliki sumber penyebab yang berbeda sehingga masyarakat tidak perlu langsung mengaitkan satu kejadian dengan kejadian lainnya tanpa dasar ilmiah.
BMKG Imbau Masyarakat Tetap Tenang dan Waspada
BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap tenang, tidak panik, namun selalu siap menghadapi kemungkinan gempa susulan.
Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain:
- Hindari memasuki bangunan yang mengalami retak atau kerusakan sebelum dinyatakan aman.
- Periksa kondisi rumah dan pastikan struktur bangunan masih layak ditempati.
- Kenali jalur evakuasi serta siapkan tas siaga bencana yang berisi kebutuhan darurat.
- Ikuti informasi resmi dari BMKG dan instansi pemerintah terkait.
- Jangan mudah percaya pada isu tsunami, ramalan gempa, atau informasi yang tidak memiliki dasar ilmiah.
Dengan meningkatnya aktivitas kegempaan dalam beberapa hari terakhir, masyarakat di wilayah rawan gempa diharapkan tetap waspada tanpa menimbulkan kepanikan, serta selalu mengutamakan informasi resmi sebagai acuan dalam mengambil tindakan.
Yang perlu dikhawatirkan bukanlah banyaknya informasi mengenai gempa, melainkan rendahnya kesiapsiagaan masyarakat. Gempa tidak dapat dicegah, tetapi korban jiwa dan kerugian dapat diminimalkan melalui bangunan yang tahan gempa, jalur evakuasi yang jelas, latihan kebencanaan, serta kebiasaan memperoleh informasi hanya dari sumber resmi seperti BMKG. Di era media sosial, melawan hoaks sama pentingnya dengan menghadapi bencana itu sendiri.
Indonesia Kembali Diguncang Gempa Beruntun, Haruskah Kita Khawatir?
NEXT:
Sayembara Tangkap Begal: Solusi Berani atau Alarm Kegagalan Keamanan?
PREV:
