View : 306 kali.
Home >
Opinion
Kategori: Demo
Jumat, 07 Agustus 2026

Pagi itu, Jakarta terasa agak aneh.
Bukan karena macetnya berkurang. Itu terlalu mustahil.
Bukan pula karena harga cabai tiba-tiba murah. Itu lebih mustahil lagi.
Jakarta terasa aneh karena sejak beberapa hari terakhir semua orang sedang membicarakan satu hal:
Demo Agustus.
Di warung kopi, di kampus, di kantor, di halte, bahkan di grup WhatsApp keluarga, topiknya hampir sama.
"Katanya demo besar.”
"Katanya jutaan orang turun.”
"Katanya mahasiswa ikut.”
"Katanya buruh ikut.”
"Katanya ojol ikut.”
"Katanya tukang bakso juga ikut.”
Yang terakhir membuat Pak RT mengerutkan dahi.
"Kalau tukang bakso ikut, nanti siapa yang jual bakso?”
Tidak ada yang menjawab.
Memang begitulah berita di zaman sekarang.
Kalau sudah diawali dengan kata "katanya”, informasi tidak lagi membutuhkan sumber.
Cukup membutuhkan penerusan.
Pesan dari Grup WhatsApp
Pukul 06.15 pagi, Pak RT sedang menikmati kopi ketika HP-nya berbunyi.
Ting!
Sebuah pesan masuk.
Pak RT membaca pesan itu dua kali.
Lalu tiga kali.
Istrinya yang sedang menggoreng telur bertanya,
"Kenapa, Pak?”
"Demo.”
"Terus?”
"Katanya besar.”
"Sebesar apa?”
Pak RT melihat layar HP.
"Tidak tahu.”
Istrinya tertawa.
"Kalau tidak tahu, kenapa panik?”
Pak RT mengangkat bahu.
"Ya namanya juga informasi WhatsApp.”
Lima menit kemudian pesan itu diteruskan ke grup RT.
Sepuluh menit kemudian masuk ke grup keluarga.
Dua puluh menit kemudian muncul versi baru.
Lalu lima menit kemudian muncul versi yang lebih dramatis:
Grup WhatsApp langsung sunyi.
Bahkan Bu Minah yang biasanya selalu mengirim ucapan "Selamat pagi, semoga harimu indah” mendadak tidak mengirim apa-apa.
Situasi memang sudah gawat.
Budi Mulai Galau
Budi sebenarnya sudah berniat ikut demo.
Kaos hitam sudah disiapkan.
Sepatu sudah dicuci.
Power bank sudah penuh.
Kartu identitas sudah dimasukkan ke dompet.
Bahkan ibunya sudah menyiapkan nasi bungkus.
"Bud,” kata ibunya, "kamu yakin mau ikut?”
"Yakin, Bu.”
"Katanya ada perintah tembak di tempat.”
Budi berhenti memakai sepatu.
"Siapa bilang?”
"WhatsApp.”
"Siapa yang bilang di WhatsApp?”
"Bu Minah.”
"Bu Minah tahu dari mana?”
"Katanya dari Bu Susi.”
"Bu Susi tahu dari siapa?”
"Keponakannya.”
"Keponakannya tahu dari siapa?”
Ibunya berpikir.
"Tidak tahu.”
Budi perlahan melepas sepatunya.
"Kalau begitu saya tidak jadi.”
Ibunya tersenyum.
"Takut?”
"Bukan, Bu.”
"Lalu?”
"Saya tidak mau mengambil risiko besar berdasarkan informasi yang sumber terakhirnya Bu Minah.”
Ibunya mengangguk.
"Masuk akal.”
Budi kemudian memakan nasi bungkus yang tadinya untuk bekal.
Panitia Mulai Panik
Sementara itu, di sebuah lokasi yang direncanakan menjadi titik kumpul demonstran, panitia sudah bersiap.
Pukul 08.00.
Sepuluh orang datang.
Pukul 09.00.
Lima orang.
Pukul 10.00.
Tiga orang.
Pukul 11.00.
Tinggal dua orang.
Ketua panitia mulai gelisah.
"Mana massa?”
"Belum datang, Pak.”
"Kenapa?”
"Takut.”
"Takut apa?”
"Katanya ada perintah tembak di tempat.”
Ketua panitia langsung berdiri.
"Siapa yang bilang?”
"Tidak tahu.”
"Mana buktinya?”
"Tidak ada.”
"Lalu kalian percaya?”
Kedua orang itu saling pandang.
Salah satunya menjawab pelan,
"Karena pesannya ditulis pakai huruf kapital semua, Pak.”
Ketua panitia menutup wajah dengan kedua tangan.
Rapat Darurat
Pukul 12.00 dilakukan rapat darurat.
Ketua panitia bertanya,
"Bagaimana?”
Seorang koordinator menjawab,
"Sebagian besar tidak jadi datang.”
"Kenapa?”
"Takut.”
"Yang takut berapa orang?”
"Semua.”
"Yang tidak takut?”
"Tidak ada.”
Ketua panitia menarik napas panjang.
"Kalau begitu demo kita batalkan.”
Semua mengangguk.
Seorang peserta bertanya,
"Apakah karena aparat?”
"Bukan.”
"Karena pemerintah?”
"Bukan.”
"Karena situasi keamanan?”
Ketua panitia diam sebentar.
"Karena grup WhatsApp.”
DEMO YANG TIDAK PERNAH DIMULAI (Cerpen Satire)
Jumat, 07 Agustus 2026
DEMO YANG TIDAK PERNAH DIMULAI (Cerpen Satire)

Cerpen satire Demo Agustus tentang rumor WhatsApp dan budaya katanya
Pagi itu, Jakarta terasa agak aneh.
Bukan karena macetnya berkurang. Itu terlalu mustahil.
Bukan pula karena harga cabai tiba-tiba murah. Itu lebih mustahil lagi.
Jakarta terasa aneh karena sejak beberapa hari terakhir semua orang sedang membicarakan satu hal:
Demo Agustus.
Di warung kopi, di kampus, di kantor, di halte, bahkan di grup WhatsApp keluarga, topiknya hampir sama.
"Katanya demo besar.”
"Katanya jutaan orang turun.”
"Katanya mahasiswa ikut.”
"Katanya buruh ikut.”
"Katanya ojol ikut.”
"Katanya tukang bakso juga ikut.”
Yang terakhir membuat Pak RT mengerutkan dahi.
"Kalau tukang bakso ikut, nanti siapa yang jual bakso?”
Tidak ada yang menjawab.
Memang begitulah berita di zaman sekarang.
Kalau sudah diawali dengan kata "katanya”, informasi tidak lagi membutuhkan sumber.
Cukup membutuhkan penerusan.
Pukul 06.15 pagi, Pak RT sedang menikmati kopi ketika HP-nya berbunyi.
Ting!
Sebuah pesan masuk.
INFO PENTING!!!
Besok akan ada demo besar.
Hindari pusat kota.
Aparat sudah siaga.
Jangan keluar rumah kalau tidak penting.
Besok akan ada demo besar.
Hindari pusat kota.
Aparat sudah siaga.
Jangan keluar rumah kalau tidak penting.
SEBARKAN!!!
Pak RT membaca pesan itu dua kali.
Lalu tiga kali.
Istrinya yang sedang menggoreng telur bertanya,
"Kenapa, Pak?”
"Demo.”
"Terus?”
"Katanya besar.”
"Sebesar apa?”
Pak RT melihat layar HP.
"Tidak tahu.”
Istrinya tertawa.
"Kalau tidak tahu, kenapa panik?”
Pak RT mengangkat bahu.
"Ya namanya juga informasi WhatsApp.”
Lima menit kemudian pesan itu diteruskan ke grup RT.
Sepuluh menit kemudian masuk ke grup keluarga.
Dua puluh menit kemudian muncul versi baru.
INFO TERBARU!!!
Demo Agustus kemungkinan batal.
Beredar kabar akan ada tindakan sangat tegas terhadap perusuh.
Demo Agustus kemungkinan batal.
Beredar kabar akan ada tindakan sangat tegas terhadap perusuh.
Lalu lima menit kemudian muncul versi yang lebih dramatis:
HATI-HATI!!!
Katanya sudah ada perintah "tembak di tempat” bagi perusuh!!!
Grup WhatsApp langsung sunyi.
Bahkan Bu Minah yang biasanya selalu mengirim ucapan "Selamat pagi, semoga harimu indah” mendadak tidak mengirim apa-apa.
Situasi memang sudah gawat.
Budi sebenarnya sudah berniat ikut demo.
Kaos hitam sudah disiapkan.
Sepatu sudah dicuci.
Power bank sudah penuh.
Kartu identitas sudah dimasukkan ke dompet.
Bahkan ibunya sudah menyiapkan nasi bungkus.
"Bud,” kata ibunya, "kamu yakin mau ikut?”
"Yakin, Bu.”
"Katanya ada perintah tembak di tempat.”
Budi berhenti memakai sepatu.
"Siapa bilang?”
"WhatsApp.”
"Siapa yang bilang di WhatsApp?”
"Bu Minah.”
"Bu Minah tahu dari mana?”
"Katanya dari Bu Susi.”
"Bu Susi tahu dari siapa?”
"Keponakannya.”
"Keponakannya tahu dari siapa?”
Ibunya berpikir.
"Tidak tahu.”
Budi perlahan melepas sepatunya.
"Kalau begitu saya tidak jadi.”
Ibunya tersenyum.
"Takut?”
"Bukan, Bu.”
"Lalu?”
"Saya tidak mau mengambil risiko besar berdasarkan informasi yang sumber terakhirnya Bu Minah.”
Ibunya mengangguk.
"Masuk akal.”
Budi kemudian memakan nasi bungkus yang tadinya untuk bekal.
Sementara itu, di sebuah lokasi yang direncanakan menjadi titik kumpul demonstran, panitia sudah bersiap.
Pukul 08.00.
Sepuluh orang datang.
Pukul 09.00.
Lima orang.
Pukul 10.00.
Tiga orang.
Pukul 11.00.
Tinggal dua orang.
Ketua panitia mulai gelisah.
"Mana massa?”
"Belum datang, Pak.”
"Kenapa?”
"Takut.”
"Takut apa?”
"Katanya ada perintah tembak di tempat.”
Ketua panitia langsung berdiri.
"Siapa yang bilang?”
"Tidak tahu.”
"Mana buktinya?”
"Tidak ada.”
"Lalu kalian percaya?”
Kedua orang itu saling pandang.
Salah satunya menjawab pelan,
"Karena pesannya ditulis pakai huruf kapital semua, Pak.”
Ketua panitia menutup wajah dengan kedua tangan.
Pukul 12.00 dilakukan rapat darurat.
Ketua panitia bertanya,
"Bagaimana?”
Seorang koordinator menjawab,
"Sebagian besar tidak jadi datang.”
"Kenapa?”
"Takut.”
"Yang takut berapa orang?”
"Semua.”
"Yang tidak takut?”
"Tidak ada.”
Ketua panitia menarik napas panjang.
"Kalau begitu demo kita batalkan.”
Semua mengangguk.
Seorang peserta bertanya,
"Apakah karena aparat?”
"Bukan.”
"Karena pemerintah?”
"Bukan.”
"Karena situasi keamanan?”
Ketua panitia diam sebentar.
"Karena grup WhatsApp.”
TAMAT
DEMO YANG TIDAK PERNAH DIMULAI (Cerpen Satire)
NEXT:
satu data pendidikan tinggi
PREV:
