View : 19 kali.
Home >
Opinion
Kategori: Geopolitik Dunia
Jumat, 19 Juni 2026
Oleh: Murdan SianturiAda satu hal yang menarik dari perkembangan terbaru konflik AS-Iran.
Semakin banyak berita tentang "perdamaian", justru semakin terlihat bahwa tidak ada pihak yang benar-benar merasa damai.
Secara resmi, Washington dan Teheran telah menandatangani kerangka kesepakatan perdamaian. Selat Hormuz mulai dibuka kembali, kapal tanker minyak kembali bergerak, dan pasar dunia menyambutnya dengan penurunan harga minyak.
Namun ketika debu perang mulai turun, yang muncul bukan rasa percaya, melainkan rasa curiga.
Iran curiga Amerika akan mengingkari janji.
Amerika curiga Iran akan memanfaatkan waktu untuk membangun kembali kekuatannya.
Israel curiga keduanya sedang membuat kesepakatan yang pada akhirnya merugikan Tel Aviv.
Inilah sebabnya mengapa saya melihat bahwa yang lahir hari ini bukanlah perdamaian sejati.
Yang lahir adalah jeda strategis.
Semua Pihak Sedang Membeli Waktu
Banyak orang mengira perang berakhir karena salah satu pihak menang.
Saya justru melihat sebaliknya.
Perang berhenti karena semua pihak lelah.
AS mengeluarkan biaya perang yang sangat besar.
Iran mengalami kerusakan ekonomi dan infrastruktur yang tidak ringan.
Israel menghadapi tekanan keamanan yang terus meningkat di berbagai front.
Maka yang terjadi adalah semua pihak mengambil napas sejenak sambil menghitung ulang langkah berikutnya.
Dalam bahasa catur, ini bukan "checkmate".
Ini hanya "pause".
Mengapa Israel Tampak Paling Tidak Puas?
Menurut saya, Israel adalah pihak yang paling gelisah saat ini.
Alasannya sederhana.
Tujuan utama Israel sejak awal adalah memastikan Iran tidak lagi menjadi ancaman jangka panjang.
Tetapi banyak kalangan di Israel menilai kesepakatan ini belum menyelesaikan masalah rudal, jaringan proksi regional, maupun seluruh aspek program nuklir Iran.
Akibatnya, di mata sebagian elite Israel, perang berhenti sebelum tujuan strategis benar-benar tercapai.
Karena itu saya tidak heran jika isu Lebanon kembali menjadi sumber ketegangan baru.
Mengapa Iran Menunda Langkah Berikutnya?
Perkembangan paling menarik justru datang dari Teheran.
Pembicaraan lanjutan di Swiss yang seharusnya menjadi langkah berikutnya ternyata tertunda. Iran ingin melihat implementasi janji terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh.
Ini menunjukkan bahwa Iran tidak ingin mengulangi pengalaman masa lalu.
Mereka ingin bukti, bukan sekadar tanda tangan.
Bagi Teheran, perdamaian yang tidak menghasilkan manfaat nyata hanyalah kertas kosong.
Dan Amerika?
Amerika Serikat berada pada posisi yang unik.
Presiden Trump dapat mengklaim bahwa ia berhasil menghentikan perang dan membuka kembali jalur energi dunia.
Namun pada saat yang sama, Washington juga tidak bisa terlihat lemah.
Karena itu AS tetap mempertahankan tekanan dan kesiapan militernya sambil mendorong negosiasi berjalan.
Ini adalah diplomasi dengan tangan kanan menawarkan perdamaian, sementara tangan kiri tetap memegang tongkat.
Kesimpulan
Saya melihat situasi Timur Tengah saat ini seperti gunung berapi yang berhenti meletus.
Asapnya masih keluar.
Lava di dalamnya masih panas.
Hanya ledakannya yang berhenti sementara.
Perdamaian AS-Iran belum gagal.
Tetapi juga belum berhasil.
Ujian sesungguhnya justru dimulai sekarang.
Jika dalam 60 hari ke depan implementasi kesepakatan berjalan baik, dunia mungkin menyaksikan lahirnya era baru di Timur Tengah.
Tetapi jika Israel, Iran, atau Amerika merasa ada pihak yang berkhianat terhadap semangat kesepakatan itu, maka sejarah bisa berputar kembali.
Dan dunia akan menyadari bahwa apa yang disebut "perdamaian" selama ini hanyalah waktu istirahat di antara dua babak konflik yang lebih besar.
Perdamaian AS-Iran: Damai di Atas Kertas, Perang di Dalam Pikiran
Jumat, 19 Juni 2026
Perdamaian AS-Iran: Damai di Atas Kertas, Perang di Dalam Pikiran
Semakin banyak berita tentang "perdamaian", justru semakin terlihat bahwa tidak ada pihak yang benar-benar merasa damai.
Secara resmi, Washington dan Teheran telah menandatangani kerangka kesepakatan perdamaian. Selat Hormuz mulai dibuka kembali, kapal tanker minyak kembali bergerak, dan pasar dunia menyambutnya dengan penurunan harga minyak.
Namun ketika debu perang mulai turun, yang muncul bukan rasa percaya, melainkan rasa curiga.
Iran curiga Amerika akan mengingkari janji.
Amerika curiga Iran akan memanfaatkan waktu untuk membangun kembali kekuatannya.
Israel curiga keduanya sedang membuat kesepakatan yang pada akhirnya merugikan Tel Aviv.
Inilah sebabnya mengapa saya melihat bahwa yang lahir hari ini bukanlah perdamaian sejati.
Yang lahir adalah jeda strategis.
Semua Pihak Sedang Membeli Waktu
Banyak orang mengira perang berakhir karena salah satu pihak menang.
Saya justru melihat sebaliknya.
Perang berhenti karena semua pihak lelah.
AS mengeluarkan biaya perang yang sangat besar.
Iran mengalami kerusakan ekonomi dan infrastruktur yang tidak ringan.
Israel menghadapi tekanan keamanan yang terus meningkat di berbagai front.
Maka yang terjadi adalah semua pihak mengambil napas sejenak sambil menghitung ulang langkah berikutnya.
Dalam bahasa catur, ini bukan "checkmate".
Ini hanya "pause".
Mengapa Israel Tampak Paling Tidak Puas?
Menurut saya, Israel adalah pihak yang paling gelisah saat ini.
Alasannya sederhana.
Tujuan utama Israel sejak awal adalah memastikan Iran tidak lagi menjadi ancaman jangka panjang.
Tetapi banyak kalangan di Israel menilai kesepakatan ini belum menyelesaikan masalah rudal, jaringan proksi regional, maupun seluruh aspek program nuklir Iran.
Akibatnya, di mata sebagian elite Israel, perang berhenti sebelum tujuan strategis benar-benar tercapai.
Karena itu saya tidak heran jika isu Lebanon kembali menjadi sumber ketegangan baru.
Mengapa Iran Menunda Langkah Berikutnya?
Perkembangan paling menarik justru datang dari Teheran.
Pembicaraan lanjutan di Swiss yang seharusnya menjadi langkah berikutnya ternyata tertunda. Iran ingin melihat implementasi janji terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh.
Ini menunjukkan bahwa Iran tidak ingin mengulangi pengalaman masa lalu.
Mereka ingin bukti, bukan sekadar tanda tangan.
Bagi Teheran, perdamaian yang tidak menghasilkan manfaat nyata hanyalah kertas kosong.
Dan Amerika?
Amerika Serikat berada pada posisi yang unik.
Presiden Trump dapat mengklaim bahwa ia berhasil menghentikan perang dan membuka kembali jalur energi dunia.
Namun pada saat yang sama, Washington juga tidak bisa terlihat lemah.
Karena itu AS tetap mempertahankan tekanan dan kesiapan militernya sambil mendorong negosiasi berjalan.
Ini adalah diplomasi dengan tangan kanan menawarkan perdamaian, sementara tangan kiri tetap memegang tongkat.
Kesimpulan
Saya melihat situasi Timur Tengah saat ini seperti gunung berapi yang berhenti meletus.
Asapnya masih keluar.
Lava di dalamnya masih panas.
Hanya ledakannya yang berhenti sementara.
Perdamaian AS-Iran belum gagal.
Tetapi juga belum berhasil.
Ujian sesungguhnya justru dimulai sekarang.
Jika dalam 60 hari ke depan implementasi kesepakatan berjalan baik, dunia mungkin menyaksikan lahirnya era baru di Timur Tengah.
Tetapi jika Israel, Iran, atau Amerika merasa ada pihak yang berkhianat terhadap semangat kesepakatan itu, maka sejarah bisa berputar kembali.
Dan dunia akan menyadari bahwa apa yang disebut "perdamaian" selama ini hanyalah waktu istirahat di antara dua babak konflik yang lebih besar.
Perdamaian AS-Iran: Damai di Atas Kertas, Perang di Dalam Pikiran
NEXT:
Amerika Serikat Menggila! Paraguay Dibantai 4-1, Sinyal Bahaya untuk Pesaing Piala Dunia 2026
PREV:
