Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
☰
  • Home
  • Opini
  • Kuliah ▼
  • Publikasi ▼
  • SINTA
  • Scholar
  • About Me
  • Labuhan Batu
  • Login

View : 19 kali.

Bagikan:
Home > Opinion   Kategori: Geopolitik Dunia
Jumat, 19 Juni 2026

Perdamaian AS-Iran: Damai di Atas Kertas, Perang di Dalam Pikiran

Oleh: Murdan Sianturi
Ada satu hal yang menarik dari perkembangan terbaru konflik AS-Iran.

Semakin banyak berita tentang "perdamaian", justru semakin terlihat bahwa tidak ada pihak yang benar-benar merasa damai.

Secara resmi, Washington dan Teheran telah menandatangani kerangka kesepakatan perdamaian. Selat Hormuz mulai dibuka kembali, kapal tanker minyak kembali bergerak, dan pasar dunia menyambutnya dengan penurunan harga minyak.

Namun ketika debu perang mulai turun, yang muncul bukan rasa percaya, melainkan rasa curiga.

Iran curiga Amerika akan mengingkari janji.


Amerika curiga Iran akan memanfaatkan waktu untuk membangun kembali kekuatannya.

Israel curiga keduanya sedang membuat kesepakatan yang pada akhirnya merugikan Tel Aviv.

Inilah sebabnya mengapa saya melihat bahwa yang lahir hari ini bukanlah perdamaian sejati.

Yang lahir adalah jeda strategis.

Semua Pihak Sedang Membeli Waktu

Banyak orang mengira perang berakhir karena salah satu pihak menang.

Saya justru melihat sebaliknya.

Perang berhenti karena semua pihak lelah.

AS mengeluarkan biaya perang yang sangat besar.

Iran mengalami kerusakan ekonomi dan infrastruktur yang tidak ringan.

Israel menghadapi tekanan keamanan yang terus meningkat di berbagai front.

Maka yang terjadi adalah semua pihak mengambil napas sejenak sambil menghitung ulang langkah berikutnya.

Dalam bahasa catur, ini bukan "checkmate".

Ini hanya "pause".

Mengapa Israel Tampak Paling Tidak Puas?

Menurut saya, Israel adalah pihak yang paling gelisah saat ini.

Alasannya sederhana.

Tujuan utama Israel sejak awal adalah memastikan Iran tidak lagi menjadi ancaman jangka panjang.

Tetapi banyak kalangan di Israel menilai kesepakatan ini belum menyelesaikan masalah rudal, jaringan proksi regional, maupun seluruh aspek program nuklir Iran.

Akibatnya, di mata sebagian elite Israel, perang berhenti sebelum tujuan strategis benar-benar tercapai.

Karena itu saya tidak heran jika isu Lebanon kembali menjadi sumber ketegangan baru.

Mengapa Iran Menunda Langkah Berikutnya?


Perkembangan paling menarik justru datang dari Teheran.

Pembicaraan lanjutan di Swiss yang seharusnya menjadi langkah berikutnya ternyata tertunda. Iran ingin melihat implementasi janji terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh.

Ini menunjukkan bahwa Iran tidak ingin mengulangi pengalaman masa lalu.

Mereka ingin bukti, bukan sekadar tanda tangan.

Bagi Teheran, perdamaian yang tidak menghasilkan manfaat nyata hanyalah kertas kosong.

Dan Amerika?

Amerika Serikat berada pada posisi yang unik.

Presiden Trump dapat mengklaim bahwa ia berhasil menghentikan perang dan membuka kembali jalur energi dunia.

Namun pada saat yang sama, Washington juga tidak bisa terlihat lemah.

Karena itu AS tetap mempertahankan tekanan dan kesiapan militernya sambil mendorong negosiasi berjalan.

Ini adalah diplomasi dengan tangan kanan menawarkan perdamaian, sementara tangan kiri tetap memegang tongkat.

Kesimpulan

Saya melihat situasi Timur Tengah saat ini seperti gunung berapi yang berhenti meletus.

Asapnya masih keluar.

Lava di dalamnya masih panas.

Hanya ledakannya yang berhenti sementara.

Perdamaian AS-Iran belum gagal.

Tetapi juga belum berhasil.

Ujian sesungguhnya justru dimulai sekarang.

Jika dalam 60 hari ke depan implementasi kesepakatan berjalan baik, dunia mungkin menyaksikan lahirnya era baru di Timur Tengah.

Tetapi jika Israel, Iran, atau Amerika merasa ada pihak yang berkhianat terhadap semangat kesepakatan itu, maka sejarah bisa berputar kembali.

Dan dunia akan menyadari bahwa apa yang disebut "perdamaian" selama ini hanyalah waktu istirahat di antara dua babak konflik yang lebih besar.




Perdamaian AS-Iran: Damai di Atas Kertas, Perang di Dalam Pikiran








NEXT:

Amerika Serikat Menggila! Paraguay Dibantai 4-1, Sinyal Bahaya untuk Pesaing Piala Dunia 2026


PREV:

Batam, Magnet Baru BRICS di Asia Tenggara dan Jalan Indonesia Menuju Raksasa Perdagangan Dunia

NEXT:

Amerika Serikat Menggila! Paraguay Dibantai 4-1, Sinyal Bahaya untuk Pesaing Piala Dunia 2026


PREV:

Batam, Magnet Baru BRICS di Asia Tenggara dan Jalan Indonesia Menuju Raksasa Perdagangan Dunia

Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom., adalah dosen dan penulis opini yang mengajar Bisnis Digital dan Akuntansi di STIE Mulia Pratama Bekasi. Ia aktif menulis tentang teknologi, perubahan sosial, geopolitik, dan refleksi iman di tengah dinamika dunia modern.
About me selengkapnya...




Geopolitik Dunia :
  • Perdamaian AS-Iran: Damai di Atas Kertas, Perang di Dalam Pikiran
  • Rencana Damai Amerika-Iran: Perdamaian Sejati
  • Taiwan sebagai Warisan Politik Besar Xi
  • 2026-2028: Dunia Sedang Berubah Arah
  • Eropa Mulai Panas: Jerman Bangun Otot, atau Dunia Mulai Masuk Fase Early Pre-war Economic Behavior
  • Drone Rp5 Juta Hancurkan Tank Rp50 Miliar: Inilah Wajah Perang Baru
  • Blokade Selat Hormuz. Ini Bukan Sekadar Perang. Tetapi Perebutan Kendali atas Jalur Energi Global
  • Perang Panjang Ekonomi Global: Saat Yuan Mulai Menantang Dolar
  • Jika Perang Berlarut, Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?
  • Kenapa Suku Bunga Belum Turun? Jawabannya Ada di Iran
  • SELAT HORMUZ: BOM WAKTU DUNIA ATAU SEKADAR DRAMA GEOPOLITIK?
  • Israel Kembali Berdiri Setelah 2.000 Tahun: Kebetulan Sejarah atau Nubuat yang Tergenapi?
  • Hoax Besar! Benarkah Indonesia Dipaksa Gabung Israel oleh Trump? Ini Faktanya
  • Elam Akan Dipulihkan: Harapan Tuhan Bagi Bangsa-Bangsa
  • Elam, Iran, dan Cara Membaca Gejolak Dunia
  • Dunia Lelah Berperang, Tapi Tak Berhenti Bertikai
  • Penutupan Selat Hormuz: Skenenario Terburuk vs Skenario Realistis
  • The latest news updates from the United States as of January 31, 2025
  • The latest news updates from the United States as of January 29, 2025
  • Trump Asks OPEC to Lower Oil Prices. Will it be approved by OPEC?
  • Donald Trump Tells Saudi Arabia to drop oil prices to end Russia-Ukraine War
  • What did Trump seek to annex Greenland?

Pencarian E-DDC 23
Electronic Dewey Decimal Classification untuk Perpustakaan