Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
☰
  • Home
  • Opini
  • Kuliah ▼
  • Publikasi ▼
  • SINTA
  • Scholar
  • About Me
  • Labuhan Batu
  • Login

View : 22 kali.

Bagikan:
Home > Opinion   Kategori: Geopolitik Dunia
Minggu, 17 Mei 2026

Taiwan sebagai Warisan Politik Besar Xi

Xi Jinping dan ketegangan geopolitik China Taiwan di Selat Taiwan
Xi Jinping dan ketegangan geopolitik China Taiwan di Selat Taiwan

Taiwan bukan sekadar pulau kecil di Asia Timur.
Bagi Xi Jinping, Taiwan adalah simbol harga diri bangsa China, luka sejarah yang belum selesai, dan mungkin warisan politik terbesar yang ingin ia tinggalkan sebelum meninggalkan kekuasaan.
Di tengah persaingan global yang semakin tajam antara China dan United States, satu isu tetap menjadi titik paling sensitif dalam politik Asia Timur: Taiwan. Bagi banyak negara, Taiwan mungkin dipandang sebagai pusat industri semikonduktor dunia atau wilayah demokratis yang maju secara ekonomi. Namun bagi Xi Jinping, Taiwan memiliki makna yang jauh lebih dalam --simbol sejarah, kehormatan nasional, dan kemungkinan besar menjadi warisan politik terbesarnya.

Xi Jinping tidak hanya memimpin China sebagai administrator negara modern. Ia membangun dirinya sebagai pemimpin yang membawa "kebangkitan besar bangsa China” setelah berabad-abad dianggap mengalami penghinaan kolonial, perang saudara, dan keterbelakangan. Dalam narasi besar itu, Taiwan menjadi bagian yang belum selesai.

Taiwan dan Luka Sejarah China

Bagi Beijing, persoalan Taiwan bukan sekadar konflik geopolitik biasa. Pemerintah China memandang Taiwan sebagai wilayah yang terpisah akibat perang saudara tahun 1949. Ketika Partai Komunis memenangkan perang dan mendirikan Republik Rakyat China di daratan utama, pemerintahan lama Republik China mundur ke Taiwan.

Sejak saat itu lahirlah dua pemerintahan:
  • Beijing di daratan China,
  • Taipei di Taiwan.
Namun pemerintah China tidak pernah menganggap Taiwan sebagai negara yang benar-benar terpisah. Dalam pandangan resmi Beijing, Taiwan adalah bagian dari "satu China”.

Karena itu, isu Taiwan menyentuh psikologi nasional China. Penyatuan Taiwan dipandang sebagai simbol bahwa era perpecahan bangsa telah berakhir.

Xi Jinping dan Politik Nasionalisme

Di era Xi Jinping, nasionalisme menjadi fondasi penting kekuatan politik China. Xi membangun citra sebagai pemimpin kuat yang:
  • memodernisasi militer,
  • memperluas pengaruh ekonomi global,
  • memperkuat teknologi nasional,
  • dan mengembalikan kebanggaan China di dunia internasional.
Dalam konteks itu, Taiwan bukan sekadar pulau kecil di Asia Timur. Taiwan menjadi simbol apakah China benar-benar telah bangkit sebagai kekuatan besar dunia.

Karena itulah Xi sangat keras terhadap setiap bentuk dukungan asing kepada Taiwan. Ketika Amerika menjual senjata atau meningkatkan hubungan diplomatik dengan Taiwan, Beijing melihatnya bukan sekadar urusan luar negeri, melainkan tantangan terhadap kedaulatan dan kehormatan nasional China.

Taiwan dan Perebutan Masa Depan Teknologi

Taiwan juga memiliki nilai strategis luar biasa dalam ekonomi global. Kehadiran TSMC menjadikan Taiwan pusat produksi chip paling canggih di dunia.

Chip modern menjadi "otak” bagi:
  • kecerdasan buatan,
  • smartphone,
  • mobil listrik,
  • pusat data,
  • hingga sistem militer modern.
Dalam abad digital, kekuatan chip dapat menentukan kekuatan ekonomi dan militer suatu negara. Karena itu, Taiwan bukan hanya simbol politik, tetapi juga simpul penting dalam perebutan dominasi teknologi dunia.

Mengapa Dunia Khawatir?

Dunia khawatir karena Taiwan berada di titik pertemuan tiga kekuatan besar:
  • nasionalisme China,
  • kepentingan strategis Amerika,
  • ekonomi teknologi global.
Jika konflik besar terjadi di Selat Taiwan:
  • perdagangan dunia bisa terganggu,
  • rantai pasok chip global dapat lumpuh,
  • ekonomi internasional berpotensi mengalami guncangan besar.
Karena itu, setiap latihan militer China di sekitar Taiwan selalu mendapat perhatian dunia.

Warisan Politik Xi Jinping

Banyak pengamat melihat bahwa Xi Jinping ingin dikenang bukan hanya sebagai pemimpin ekonomi, tetapi sebagai tokoh yang menyelesaikan "misi sejarah” China.

Dalam sejarah politik China modern:
  • Mao Zedong dikenang sebagai pendiri China modern,
  • Deng Xiaoping dikenang sebagai arsitek reformasi ekonomi,
  • sementara Xi Jinping tampaknya ingin dikenang sebagai pemimpin yang membawa China menuju kebangkitan penuh.
Dan dalam narasi itu, Taiwan menjadi bagian yang sangat penting.

Apakah Xi benar-benar akan melakukan langkah besar terhadap Taiwan? Tidak ada yang tahu pasti. China memahami bahwa perang akan membawa risiko ekonomi dan geopolitik yang sangat besar. Namun satu hal jelas: selama Xi Jinping memimpin, isu Taiwan akan tetap menjadi prioritas utama dalam politik China.

Taiwan bukan hanya persoalan wilayah. Bagi Xi Jinping, Taiwan adalah simbol sejarah, harga diri bangsa, dan kemungkinan besar warisan politik terbesar yang ingin ia tinggalkan bagi China.



Taiwan sebagai Warisan Politik Besar Xi








NEXT:

Verifikasi Independen Mayat UFO: Antara Rasa Penasaran Manusia dan Standar Ilmiah


PREV:

Jika Jembatan Selat Sunda Benar-Benar Dibangun, Dampaknya Bisa Sangat Besar bagi Indonesia

NEXT:

Verifikasi Independen Mayat UFO: Antara Rasa Penasaran Manusia dan Standar Ilmiah


PREV:

Jika Jembatan Selat Sunda Benar-Benar Dibangun, Dampaknya Bisa Sangat Besar bagi Indonesia

Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom., adalah dosen dan penulis opini yang mengajar Bisnis Digital dan Akuntansi di STIE Mulia Pratama Bekasi. Ia aktif menulis tentang teknologi, perubahan sosial, geopolitik, dan refleksi iman di tengah dinamika dunia modern.
About me selengkapnya...




Geopolitik Dunia :
  • Perdamaian AS-Iran: Damai di Atas Kertas, Perang di Dalam Pikiran
  • Rencana Damai Amerika-Iran: Perdamaian Sejati
  • Taiwan sebagai Warisan Politik Besar Xi
  • 2026-2028: Dunia Sedang Berubah Arah
  • Eropa Mulai Panas: Jerman Bangun Otot, atau Dunia Mulai Masuk Fase Early Pre-war Economic Behavior
  • Drone Rp5 Juta Hancurkan Tank Rp50 Miliar: Inilah Wajah Perang Baru
  • Blokade Selat Hormuz. Ini Bukan Sekadar Perang. Tetapi Perebutan Kendali atas Jalur Energi Global
  • Perang Panjang Ekonomi Global: Saat Yuan Mulai Menantang Dolar
  • Jika Perang Berlarut, Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?
  • Kenapa Suku Bunga Belum Turun? Jawabannya Ada di Iran
  • SELAT HORMUZ: BOM WAKTU DUNIA ATAU SEKADAR DRAMA GEOPOLITIK?
  • Israel Kembali Berdiri Setelah 2.000 Tahun: Kebetulan Sejarah atau Nubuat yang Tergenapi?
  • Hoax Besar! Benarkah Indonesia Dipaksa Gabung Israel oleh Trump? Ini Faktanya
  • Elam Akan Dipulihkan: Harapan Tuhan Bagi Bangsa-Bangsa
  • Elam, Iran, dan Cara Membaca Gejolak Dunia
  • Dunia Lelah Berperang, Tapi Tak Berhenti Bertikai
  • Penutupan Selat Hormuz: Skenenario Terburuk vs Skenario Realistis
  • The latest news updates from the United States as of January 31, 2025
  • The latest news updates from the United States as of January 29, 2025
  • Trump Asks OPEC to Lower Oil Prices. Will it be approved by OPEC?
  • Donald Trump Tells Saudi Arabia to drop oil prices to end Russia-Ukraine War
  • What did Trump seek to annex Greenland?

Pencarian E-DDC 23
Electronic Dewey Decimal Classification untuk Perpustakaan