View : 151 kali.
Home >
Opinion
Kategori: Cerpen
Minggu, 23 Maret 2025

Modus Operandi
Pertama, AH mencetak kuitansi palsu. Tapi karena printer desanya rusak, dia malah pakai buku kasbon warung Bu Siti. Akibatnya, ada pengeluaran fiktif berbunyi:
"Beli 500 ekor ayam kampung - Rp250 juta" (Padahal ayam di desa cuma ada tiga, itupun milik Pak RT).
"Sewa mobil mewah untuk kunjungan kerja - Rp100 juta" (Padahal dia naik motor bebek yang starter-nya harus digoyang dulu).
Lalu, agar terlihat seperti orang yang jujur, AH mengembalikan sisa anggaran alias Silpa. Tapi karena malas menghitung, dia asal tulis angka yang kira-kira enak dilihat. Hasilnya? Silpa desanya lebih besar dari APBN negara tetangga!
Tak puas dengan itu, AH pun melakukan "penyesuaian proyek". Misalnya, jembatan desa yang harusnya dibangun 10 meter, dia potong jadi 2 meter saja. Warga yang mau menyeberang pun harus melompat seperti atlet lompat jauh.
Tersesat ke Dunia Malam
Setelah berhasil mengumpulkan "tabungan", AH mulai menikmati hidup. Dia pergi ke tempat hiburan malam dan memesan minuman mahal. Namun, karena tak biasa dengan gaya hidup borjuis, dia malah bertanya ke pelayan:
"Mas, ada es teh manis nggak? Tapi yang gelasnya bisa nyala-nyala kayak minuman sebelah!"
Tak lupa, AH juga membeli jam tangan mewah. Tapi karena tangannya kebiasaan pakai jam pasar malam, setiap pakai jam mahal, dia malah merasa gatal-gatal.
Karma Datang
Kehidupan AH yang penuh kemewahan akhirnya terendus polisi. Saat ditangkap, dia masih sempat bertanya:
"Bapak yakin saya salah? Coba cek lagi di Google, siapa tahu ada pasal yang memperbolehkan kepala desa investasi pribadi pakai apbdes!"
Namun, polisi tetap memborgolnya. Saat masuk ke mobil tahanan, ia mendengar salah satu warga berteriak:
"Pak Kades, jembatan dua meter itu mau diapain? Warga sudah mulai lomba renang tiap pagi!"
Dari kisah ini, kita belajar bahwa:
- Jangan pakai buku kasbon warung untuk korupsi, karena Bu Siti pasti ingat siapa yang utang.
- Kalau mau korupsi, pastikan jembatan tetap bisa dilewati biar nggak ketahuan.
- Karma itu nyata. Hari ini menikmati jam tangan mahal, besok menikmati baju oranye seragam tahanan.
Begitulah kisah tragis AH, mantan kepala desa yang mencoba bermain dengan angka tapi akhirnya dikalahkan oleh kalkulator hukum.
AH dan Uang Desa yang Tersesat
Minggu, 23 Maret 2025
AH dan Uang Desa yang Tersesat

Ketika uang desa mulai tersesat, berbagai alasan pun bermunculan. Kisah AH menjadi cerita satire yang menggelitik tentang anggaran desa, proyek, kuitansi, dan godaan menggunakan uang yang bukan milik sendiri.
Di sebuah desa kecil yang damai di Tangerang, hiduplah seorang kepala desa bernama AH. Warga desa mengenalnya sebagai pria yang selalu tersenyum, terutama ketika melihat angka-angka besar di rekening desa. AH bukan hanya pintar berpidato, tetapi juga lihai dalam seni "menghilangkan angka".
Suatu hari, AH mendapatkan ide cemerlang: "Kalau uang desa ini aku simpan sendiri, siapa yang tahu? Kan, aku sendiri yang bikin laporannya!" Maka dimulailah petualangan AH dalam dunia hitam per-akuntansian.
Suatu hari, AH mendapatkan ide cemerlang: "Kalau uang desa ini aku simpan sendiri, siapa yang tahu? Kan, aku sendiri yang bikin laporannya!" Maka dimulailah petualangan AH dalam dunia hitam per-akuntansian.
Modus Operandi
Pertama, AH mencetak kuitansi palsu. Tapi karena printer desanya rusak, dia malah pakai buku kasbon warung Bu Siti. Akibatnya, ada pengeluaran fiktif berbunyi:
"Beli 500 ekor ayam kampung - Rp250 juta" (Padahal ayam di desa cuma ada tiga, itupun milik Pak RT).
"Sewa mobil mewah untuk kunjungan kerja - Rp100 juta" (Padahal dia naik motor bebek yang starter-nya harus digoyang dulu).
Lalu, agar terlihat seperti orang yang jujur, AH mengembalikan sisa anggaran alias Silpa. Tapi karena malas menghitung, dia asal tulis angka yang kira-kira enak dilihat. Hasilnya? Silpa desanya lebih besar dari APBN negara tetangga!
Tak puas dengan itu, AH pun melakukan "penyesuaian proyek". Misalnya, jembatan desa yang harusnya dibangun 10 meter, dia potong jadi 2 meter saja. Warga yang mau menyeberang pun harus melompat seperti atlet lompat jauh.
Tersesat ke Dunia Malam
Setelah berhasil mengumpulkan "tabungan", AH mulai menikmati hidup. Dia pergi ke tempat hiburan malam dan memesan minuman mahal. Namun, karena tak biasa dengan gaya hidup borjuis, dia malah bertanya ke pelayan:
"Mas, ada es teh manis nggak? Tapi yang gelasnya bisa nyala-nyala kayak minuman sebelah!"
Tak lupa, AH juga membeli jam tangan mewah. Tapi karena tangannya kebiasaan pakai jam pasar malam, setiap pakai jam mahal, dia malah merasa gatal-gatal.
Karma Datang
Kehidupan AH yang penuh kemewahan akhirnya terendus polisi. Saat ditangkap, dia masih sempat bertanya:
"Bapak yakin saya salah? Coba cek lagi di Google, siapa tahu ada pasal yang memperbolehkan kepala desa investasi pribadi pakai apbdes!"
Namun, polisi tetap memborgolnya. Saat masuk ke mobil tahanan, ia mendengar salah satu warga berteriak:
"Pak Kades, jembatan dua meter itu mau diapain? Warga sudah mulai lomba renang tiap pagi!"
Dari kisah ini, kita belajar bahwa:
- Jangan pakai buku kasbon warung untuk korupsi, karena Bu Siti pasti ingat siapa yang utang.
- Kalau mau korupsi, pastikan jembatan tetap bisa dilewati biar nggak ketahuan.
- Karma itu nyata. Hari ini menikmati jam tangan mahal, besok menikmati baju oranye seragam tahanan.
Begitulah kisah tragis AH, mantan kepala desa yang mencoba bermain dengan angka tapi akhirnya dikalahkan oleh kalkulator hukum.
AH dan Uang Desa yang Tersesat
NEXT:
2030: Bekasi Tanpa Banjir Kiriman, Upaya Nyata KDM dan Para Kepala Daerah
PREV:
